gesss.... hayu ah kita galau bersama wkwkwk
....
Ainun baru saja masuk kelas. Ia tahu jika hari ini hanya akan ada sedikit siswa yang masuk ke sekolah, karena sebagian siswa memilih izin datang disebabkan acara pensi hingga malam. Guru pun pasti banyak yang tidak masuk atau hanya sekedar memberi PR saja karena mereka sama lelahnya mengikuti acara.
Ainun akhirnya memutuskan untuk membersihkan kelas walaupun ini bukanlah jadwal piketnya, namun melihat sampah berserakan dan meja yang berantakan membuat Ainun tidak kuat melihat sekelilingnya tidak teratur.
Baru saja Ainun menyapu sebagian ruangan, Kahfi datang ke kelas.
“Assalamualaikum,” sapa Kahfi dengan suara pelan dan segera ke bangkunya.
“Waalaikumsalam,”
Kahfi mengacak rambutnya, matanya terasa berat karena ia hampir tidak tidur semalaman. Dini hari ia melakukan shalat tahajud dan berdzikir, memohon kepada Allah untuk menguatkan hati dan imannya.
Semalam ia harus melihat Jian Li menangis karena dirinya.
Ia tahu ini keputusan yang benar untuk menolak perasaan Jian Li namun entah mengapa ia merasa bersalah dan tidak tega.
Kahfi bahkan sempat mencoba menchat gadis itu, namun hanya ceklis satu.
PRANG!!
Kahfi tersentak dan menatap ke depan, ternyata vas bunga pecah. Dirinya lalu melihat Ainun yang cepat-cepat membersihkan bekas pecahan vas. Kahfi berdiri menghampiri, membantu Ainun.
“Hati-hati kena pecahannya,” ucap Kahfi sambil berjongkok dan memunguti pecahan.
Ainun mengambil kertas yang tidak terpakai dan menyimpan pecahan kaca itu di dalam kertas agar nanti yang mengambilnya tidak terkena pecahan kacanya.
“Maaf, tadi kesenggol lengan saya.” Ujar Ainun.
Setelah membuang bekas pecahan vas, Kahfi dan Ainun menyuci tangan mereka di wastafel depan kelas.
Setelah membereskan kelas, Kahfi dan Ainun memutuskan kembali duduk di tempat masing-masing dan menulis entah apa dicatatan mereka masing-masing.
Padahal sudah jam delapan lebih namun belum ada tanda teman-teman datang. Bahkan ketika Kahfi mengecek HPnya, chat grup kelas dipenuhi teman-temannya yang minta izin tidak masuk kelas karena baru bangun atau kelelahan.
Astaga… apakah mereka kompak?
Mata Kahfi menjelajahi satu per satu kontak temannya dan menemukan kontak Jian Li. Membuka chat, ia melihat keterangan online pada kontak Jian Li. Apakah gadis itu tidak masuk karena kelelahan?
Ataukah karena dirinya?
Suara gesekan bangku terdengar di belakan Kahfi. Ainun berdiri dan menatapnya sekilas. “Saya izin dhuha ya,” ucap gadis itu dan berjalan keluar.
Kahfi menghela nafas. Ia juga ingin dhuha lalu ke kantor guru untuk bertanya mengenai kegiata belajar hari ini. Jika tidak ada tugas dan diizinkan pulang, ia lebih baik pulang saja.
Masjid begitu sepi, Kahfi dan Ainun menjalan shalat dhuha dan berdoa penuh dengan khusyu. Kahfi dan Ainun sendiri, sebisa mungkin selalu menjaga shalat sunahnya jika memungkinkan.
Rasulullah SAW pernah berkata melalui HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad jika sholat dhuha ditunaikan di tiap harinya akan mendapat banyak keuntungan, " Siapa saja yang menjaga sholat dhuha, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan"
Hal itu sangat melekat kuat di ingat Ainun, karena itu Ainun selalu menjalankan sunnahnya yang ia mampu, kecuali jika dirinya sedang berhalangan. Ia memahami bahwa manusia adalah tumpuan dosa, maka Allah begitu mencintai hamba-Nya dengan memberikan banyak kesempatan untuk bertaubat dengan cara yang begitu mudah.
Kahfi dan Ainun kembali berpapasan begitu mereka keluar dari mushola. Tanpa saling menyapa atau berbicara, mereka kembali berjalan menuju kelas dengan Ainun memilih berjalan di belakang Kahfi. Kahfi sendiri tidak merasa tidak nyaman, karena memang lebih baik pria berjalan di depan perempuan. Ia teringat kisah yang pernah diceritakan kembali oleh Abi ketika mereka sedang memancing di balong keluarga mereka.
“Lebih baik kita pria berjalan di belakang perempuan daripada perempuan di belakang kita,” ujar Abi ketika mereka sedang memancing ikan.
“Kenapa Abi? Bukannya kalau kita berjalan di belakang wanita itu artinya kita menjaga mereka?
Dalam satu riwayat adalah saat Musa muda berjalan di belakang perempuan cantik nan menawan, dia merasa ada sesuatu yang bisa membuat mata. pikiran dan hatinya ’tidak karuan’. Akhirnya dia meminta dua dara itu untuk berjalan di belakangnya saja dan memberi isyarat jalan yang harus dilewati, karena memang saat itu belum tahu rute yang harus ditempuhnya.
Begitu mereka kembali ke kelas, Kahfi terkejut karena Jian Li sudah ada di kelas dengan pandangan menatap tajam ke arah dirinya dan Ainun berulang kali. Berbeda dengan Ainun yang kembali duduk di kursinya dengan santai dan sempat menyunggingkan senyum pada Jian Li, Jian Li menggigit bibirnya seakan menahan sesuatu, wajah putihnya memerah.
Dengan sedikit kasar, Jian Li pergi dari kelas dan Kahfi entah dorongan apa mengejar Jian Li.
“JIAN LI!” Teriak Kahfi namun Jian Li terus berlari menuju gedung belakang. Kahfi mempercepat langkahnya dan setelah ia hanya selangkah dari Jian Li, Kahfi menarik pergelangan tangan Jian Li sehingga Jian Li berbalik tubuh ke arahnya.
Mata Kahfi membesar melihat Jian Li sudah berlinang air mata.
“Aku tahu, Ainun kan? Kalian sebenarnya pacaran!!” tuduh Jian Li emosi.
“Astagfirullah?! Kenapa kamu bilang begitu, Jian Li?” tanya Kahfi terkejut. Dirinya dan Ainun? Bagaimana bisa, mereka berbicara bisa dihitung setahun berapa kali?
“Aku bisa lihat kalian itu… kalian itu… punya hubungan kan?
“Hubungan apa? Apa pernah kamu lihat saya sama Ainun berbicara? Mengantar Ainun pulang? atau menemaninya untuk menonton pensi?”
Jian Li terdiam.
“Yang pernah saya temani, berbicara dan melakukan sesuatu diluar kebiasaan saya, hanya bersama kamu Jian Li.” Lirih Kahfi.
“Tapi kamu nolak aku, Kahfi.”
“Kamu harus mengerti karena kita berbeda Jian Li, sebesar apapun saya juga menyukai kamu.”
Jian Li terdiam dan menundukkan kepala. Ia memandang gelang salib miliknya dan mengelusnya lembut.
“Ayo kembali ke kelas,” ajak Kahfi.
“Kahfi,” panggil Jian Li membuat Kahfi menatapnya.
“Kenapa?”
Jian terlihat gugup. Mata Kahfi melirik tangan Jian Li yang masih mengelus gelang salibnya. “Kalau… kalau aku belajar agama Islam, kita bisa bersama enggak?”
“Apa kamu bilang?”
Jian Li menghela nafas berat. “Kalau aku belajar Islam, bisa kita bersama?”
“Kamu mau belajar agama Islam?”
Jian Li mengangguk pelan. “Kalau dengan itu, enggak ada penghalang untuk kita bersama kan?”
…
Ainun menatap jam dinding yang sudah menunjukkan ke arah 10.00, ia menatap sekeliling yang masih sepi dan di luar pun hanya beberapa siswa masuk. Merasa tidak ada kegiatan pembelajaran hari ini, Ainun memutuskan untuk pulang ke rumah saja.
Mata Ainun melirik tas Jian Li dan Kahfi. Sepertinya mereka sedang keluar. Ainun sempat melihat Jian Li yang menatapnya emosi, walaupun Ainun berusaha untuk acuh toh ia tidak pernah bermasalah dengan Jian Li, mengobrol pun jarang.
Baru saja Ainun membereskan bukunya, Kahfi datang bersama Jian Li yang kini tersenyum kepadanya. Sedikit bingung Ainun membalas senyuman Jian Li dengan anggukan.
“Ainun mau pulang?” tanya Jian Li.
“Iya, enggak ada kegiatan belajar hari ini?” tanya Ainun pada Kahfi.
Kahfi menggeleng, aneh tapi Kahfi tidak menatap Ainun. “Sudah boleh pulang, tadi saya sudah tanya ke guru yang piket.”
Ainun memakai tasnya. “Kalau gitu saya pulang duluan. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,” jawab Kahfi.
Ketika Ainun sudah pergi, Jian Li menghampiri Kahfi di bangkunya. Pria itu sedang berkemas juga. “Mau langsung pulang?”
Kahfi mengangguk.
Jian Li cemberut. “Aku masih kangen sama kamu, kita main yuk!”
“Ke mana?”
“Nongkrong di café dekat rumah aku yuk! Di sana ada es krim campur oreo, enak deh! Yuk.” Ajak Jian Li bersemangat.
Kahfi terdiam. Ia tidak pernah menongkrong. Setiap pulang sekolah ia lebih memilih pulang menemani Umi di rumah. Apalagi Bobby dan Ario suka datang ke rumahnya.
“Kahfi ayo dong! Masa diajak nongkrong bentar enggak mau sih?!” rengek Jian Li.
“Sebentar saja ya,”
Jian Li tersenyum lebar. “Asyik!! Ayo berangkat sekarang,”
Berdampingan mereka berjalan keluar sekolah. Di pos satpam Kahfi melihat Ainun yang sedang menunggu. Ia tahu jika Ainun selalu diantar Ayahnya dan jarang pulang seorang diri.
Ainun yang merasa diperhatikan mendongak dan menemukan Kahfi yang sedang berjalan cukup rapat dengan Jian Li di sebelahnya.
Seperti biasa tidak ada ucapan, hanya lirikan sebentar dan mereka akan kembali sibuk dengan pikirannya.
Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan Ainun, begitu pun hati Kahfi. Namun yang pasti selalu ada dinding antara Kahfi dan Ainun.