siap ketemu dengan dedek galau satu ini?
sabar.. sabar.. ini masih awal banget, belum ketemu sama manis-mansinya.
maklumlah masa SMA itu masa galau gesss
...
“Lho, tumben ada Kahfi ikut pensi?”
Kahfi yang masih menemani Jian Li makan, tersentak mendapati Deeva dan Ario yang baru saja memasuki kantin yang cukup sepi.
Kahfi mengangguk sekali sebagai sapa kepada Deeva, lalu dirinya menatap Ario yang sama responnya dengan Bobby.
“Hai Deeva, mau makan bareng kita?” ajak Jian Li ramai.
Ario melirik Deeva dan gadis itu hanya menggeleng pelan. Entahlah, sejak awal Deeva tidak terlalu menyukai Jian Li, padahal mereka jarang sekali mengobrol.
“Kalau gitu kita makan di meja depan ya,” ujar Ario sambil menarik tangan Deeva, mata pria itu melirik Kahfi sebentar.
“Yo, Kahfi pacaran sama Jian Li?” tanya Deeva begitu mereka duduk di tempat mereka.
“Aku enggak tahu,”
Deeva melipat kedua tangannya di depan d**a. “Aku enggak setuju kalau Kahfi dekat sama Jian Li,”
“Cemburu?”
“Bukan gitu ih!” sewot Deeva.
Ario terkikik melihat wajah cemberut Deeva, lalu diam-diam ia melirik Kahfi yang tersenyum mendengarkan Jian Li entah berbicara apa.
Apa Kahfi menyukai Jian Li?
Entah mengapa Ario merasa ragu. Ia mengenal Kahfi sama seperti Bobby sejak mereka SMP karena rumah mereka yang satu komplek. Ia juga tahu jika Kahfi jarang atau bahkan tidak bergaul dengan perempuan. Bukan karena ia tidak suka perempuan, tetapi karena prinsip dan imannya yang tentu saja membuat Ario dan Bobby kagum kepada Kahfi.
Meskipun, Ario dan Bobby diam-diam menyadari jika Kahfi menyukai satu perempuan begitu masuk SMA yang mana membuat Ario yang menyukai gadis itu memilih maju untuk menyatakan perasaannya dan berakhir dengan penolakan.
Namun, Ario yang beberapa kali memancing Kahfi dengan menyebut nama gadis itu, sama sekali tidak direspon Kahfi.
Tapi Ario dan Bobby tahu jika arah pandang Kahfi selalu mengarah pada gadis itu, Ainun si cantik bermata biru yang menjadi idaman para siswa.
Sekali lagi Ario melirik Kahfi yang masih tersenyum, memang Kahfi terlihat tersenyum lembut pada Jian Li. Namun Ario meragukan jika Kahfi jatuh cinta pada gadis itu.
“Lo di mana?” suara Deeva membuyarkan lamunan Ario. Ketika Ario menatap Deeva, gadis itu sedang menelpon seseorang. “Gue di kantin sama Ario. Hehe sorry-sorry lo ke sini aja gue males ke sana, panas tahu! Oke sip.”
“Siapa?” tanya Ario begitu Deeva menyimpan HPnya.
“Sarah, dia nelpon 10 kali, hehehe kayak anak hilang emaknya aja.”
Ario tersenyum walaupun lebih terlihat seperti meringis. Buru-buru lelaki itu mengambil HPnya di saku celana dan menchat Bobby untuk segera datang.
Tidak lama Sarah datang dengan Bobby yang berjalan di belakangnya. Wajah Sarah terlihat kesal sementara Bobby di belakang hanya tersenyum seakan menahan tawanya.
“Lo tuh kalau pacaran lihat tempat dong! Gue kok ditinggalin?!” kesal Sarah sambil mengambil minuman di atas meja.
“Itu punya gue,” protes Ario karena Sarah seenaknya mengambil minumannya.
“Enggak usah pedit deh lo,” ujar Sarah sambil melotot.
Bobby duduk di sebelah Ario, pria itu berkeringat dan dengan seenaknya mengambil minuman milik Deeva yang langsung diambil oleh Ario. “Ngapain lo?”
“Minum,” jawab Bobby polos.
“Sana beli sendiri! Enak aja minum punya Deeva.” Ario memberikan minuman kepada Deeva. “Kamu habisin Va, takut diambil lagi.”
Bobby mendengus dan merebut gelas Ario yang sedang diminum Sarah. “Minta Nek,”
Malas berdebat, Sarah memilih duduk di sebelah Deeva. Matanya tanpa sengaja melihat Kahfi yang sedang duduk. “Eh kok Kahfi…”
Deeva mengangguk, mengerti apa yang dikatakan Sarah.
Bobby yang mengikuti arah yang dilihat Sarah, mengangkat tangannya dan memanggil Kahfi. Menyuruh Kahfi dan Jian Li untuk duduk bersama mereka bersama.
“Ngapain sih lo panggil-panggil?” bisik Sarah jengkel.
“Biar rame, Nek.”
Kahfi dan Jian Li menghampiri dan duduk bersama mereka.
“Tumben Fi, datang pas pensi.” Ucap Sarah memberikan senyum manis kepada Kahfi.
Kahfi berdeham dan menjawab. “Ya, mumpung lagi enggak ada kegiatan.”
“Ainun mana?” tanya Jian Li menyadari tidak lengkapnya trio Sarah saat ini.
“Ainun jarang ikut acara kayak gini,” jawab Deeva.
“Oh, pantasan enggak kelihatan.” Ujar Jian Li tersenyum lebar.
“Ainun tuh kayak Kahfi kan, jarang ikut acara beginian,” ucap Bobby sambil melirik Kahfi yang hanya diam.
Jian Li merasa tidak suka mendengar Bobby menyamakan Ainun dan Kahfi. Ia merasa kesal sendiri karena membahas Ainun.
“Oh iya, kalian sampai puncak acara?” tanya Jian Li lagi.
“Kayaknya sih, kalau enggak bosen.” Jawab Sarah. “Kamu?”
Jian Li melirik Kahfi. “Aku ngikut Kahfi aja,”
Deeva mengernyitkan alis, begitu pun Sarah sementara Bobby dan Ario saling melirik curiga.
“Kalian pacaran?” ceplos Sarah yang langsung disikut Deeva.
“Saya enggak pacaran,” jawab Kahfi cepat dan tegas tanpa menatap wajah Jian Li yang sudah cemberut. “Jian Li, saya mau pulang aja.”
“Kok gitu?” tanya Jian Li dengan nada manja.
Mengabaikan pertanyaan Jian Li, Kahfi segera berdiri. “Assalamualaikum,”
“Aku duluan ya,” ucap Jian Li mengejar Kahfi.
“Ih apaan sih? Sok imut banget!” cetus Sarah jengkel. “Kalian tahu kalau mereka pacaran?
“Kan tadi Kahfi jawab enggak pacaran,” elak Ario merasa tenggorokan kering namun sialnya minumannya habis oleh Sarah dan Bobby.
Sementara Jian Li sedikit kesulitan harus mengejar Kahfi. Karena banyaknya orang yang sedang menonton di sepanjang lapang sekolah membuat gerak gadis itu terbatas. “Kahfi! Kahfi! Tungguin!” teriak Jian Li, namun Kahfi terus saja berjalan seakan tidak mendengar teriakan Jian Li.
BUGH!
Jian Li terjatuh karena menabrak seseorang di depannya. Bukan hanya itu saja, pakaiannya juga basah karena minuman yang ditabraknya tumpah dan mengenainya.
Jian Li sedikit linglung dan rasanya ia ingin menangis. Padahal ia sudah menanti hari ini, ia bahkan harus membeli pakaian di butik favorit Maminya untuk memberikan penampilan yang terbaik. Namun, ternyata semua tidak sesuai harapannya. Kahfi pergi meninggalkannya bahkan mengabaikannya.
Jian Li meresakan tangan yang membantunya berdiri, ketika ia mendongak ternyata Kahfi yang membantunya. Pria itu juga memberikan jaket kepadanya dan menutupi pakaian depannya yang basah.
Jantung Jian Li berdebar cepat apalagi melihat pergelangan tangannya di pegang Kahfi. Ya meskipun pria itu tidak menggenggam telapak tangannya, namun entah mengapa membuat Jian Li merasa semakin tergila-gila kepada Kahfi. Kahfi berjalan membawanya menjauhi keramaian, hingga akhirnya ia menghentikan langkahnya di depan gerbang sekolah.
“Astaghfirullah, maaf saya.. enggak sengaja.” Ucap Kahfi pada Jian Li.
“Enggak apa-apa kok, malah aku yang harusnya minta maaf,”
“Mau saya antar pulang? atau kamu masih mau di sini?”
Jian Li menggelengkan kepala. Ia tidak semangat jika tidak ada Kahfi di dekatnya. “Aku mau pulang aja,”
Kahfi mengangguk dan mereka berjalan menuju rumah Jian Li seakan sudah terbiasa.
Begitu sampai di depan rumah Jian Li, Jian Li hendak membuka jaket Kahfi dan memberikannya pada pria itu. “Makasih ya Fi,”
Kahfi mengangguk dan mengambil jaketnya yang kini harum aroma Jian Li.
“Masuk gih, sudah mau maghrib.”
Jian Li menggigit bibirnya, ragu-ragu ingin berbicara. “Fi,”
“Hmm?”
“Kita ini apa?” tanya Jian Li pelan.
Kahfi terdiam. Ia tahu seharusnya ia mengakhiri ini sebelum semuanya adalah kesalahan. Seharusnya ia bisa menggerakkan bibirnya dan mengatakan bahwa mereka hanyalah teman. Tetapi, melihat wajah Jian Li yang begitu mengharapkannya membuat Kahfi merasa bingung.
Apakah ia memang menyukai Jian Li?
Atau hanyalah rasa sesaat yang menggodanya? Menghancurkan prinsip hidupnya?
Ataukan rasa frustasi karena diabaikan oleh ‘dia’?
Ya Allah, Kahfi merasa tidak seperti dirinya sendiri. Ia merasa sulit mengontrol dan memahami perasaannya.
Ia harus bagaimana?
Ia merasa nyaman bersama Jian Li, gadis itu periang dan suka berbicara. Ia merasa menemukan pengalaman yang baru bersama Jian Li.
Keingintahuan gadis itu, mata sipitnya yang terlihat menarik entah mengapa membuat Kahfi memikirkan gadis itu lebih dari seharusnya.
Ya Allah, ia harus bagaimana?