Dua Belas

1361 Words
Komen yang banyak supaya besok UP ya!! ... “Nun, beneran kamu enggak bakalan datang?” Sarah bertanya pada Ainun melalui telepon. Hari ini diadakan pensi di sekolah mereka, dan Sarah bersama Deeva sudah berada di sekolah sejak siang tadi. Untuk siang hingga sore acara eskul dan beberapa performance untuk unjuk bakat sementara malam adalah puncak acaranya karena sekolah mereka mengundang bintang tamu yang sedang terkenal yaitu ‘rindu band’ yang sangat digemari oleh para perempuan karena vokalisnya yang memiliki wajah tampan.             “Enggak Rah, kalian senang-senang di sana.”             “Yah Nun, enggak seru banget sih! Gue jemput ya Nun sekarang.”             “Enggak usah, aku juga lagi enggak enak badan. Mau istirahat di rumah.”             “Beneran?”             “Iya, kalian bersenang-senang ya, jangan pulang terlalu malam dan jangan lupa sholat.”             Sarah terkekeh. “Yaudah deh, cepat sembuh ya Nun,”             “Iya, assalamualaikum.”             “Waalaikumsalam.”             Mematikan telepon, Ainun menyimpan HPnya di atas meja. Gadis yang kini menggerai rambutnya itu, mengambil buku yang mau dibacanya dan berbaring di tempat tidur. Lagu “Aisyah istri Rasulullah” mengalun lembut dari music play yang dinyalakan Ainun.             Ainun paling menyukai nuansa yang tenang, di mana ia  bisa membaca buku kesayangan karya sibel eraslan, mendengarkan music lembut dan murotal qur-an atau menonton youtube yang membahas tentang resep masakan. Meski sederhana, tetapi itu membuat Ainun bahagia.             Dalam dua bulan ia akan menjadi murid kelas XII SMA dan itu artinya semakin dekat dengan kelulusan sekolah. Ia sudah merencanakan mimpinya untuk berwirausaha dan menunda kuliah yah walaupun itu masih menjadi pertimbangan mengingat Abi ingin Ainun kuliah dulu.             Selain itu mimpinya adalah menikah muda.             Mata Ainun melirik sebuah tulisan yang ia pajang di meja belajarnya. Rangkaian hidupnya yang satu persatu sudah terwujud. Di antara tulisan bertinta itu hanya satu yang ia tulis menggunakan tinta merah, yaitu ‘menikah’.             Jantung Ainun berdetak cepat, ia segera menundukkan kepalanya dan memejamkan mata. Berharap ia bisa menenangkan diri dari rasa yang hadir tanpa bisa ia control. Memohon ampun kepada Allah karena rasa ini sulit ia hilangkan sepenuhnya.             Ya Allah, maha pemberi cinta… tumbuhkan rasa ini jika dalam keadaan tanpa dosa yang membuatku tak berpaling dari-Mu. Hilangkanlah rasa ini dan hadirkanlah ketika di waktu yang terbaik menurut-Mu. Aturlah hidupku, sebagaimana aku percaya bahwa Engkah maha pengatur terbaik hamba-Mu. …             “Lo mau ke mana?” tanya Sarah ketika Deeva akan meninggalkannya bersama Ario.             “Ee.. gue..”             “Kita mau ke stan makanan kok,” sela Ario menarik tangan Deeva.             “Ke stan makanan kok gue enggak di ajak? Helow gue segede gini enggak kelihatan hah?” sewot Sarah memelototi Ario.             “Rah, jangan lebay deh!” tegur Deeva.             Ario melirik Bobby yang sedang asyik melihat performance anak cheerleaders, seakan tahu sahabatnya memberi kode, Bobby merangkul pundak Sarah dan tersenyum lebar.             “Lo sama gue aja, Nenek.”             Sarah menepis rangkulan Bobby. “Hiyy ngapain gue sama lo ceking?”             Melihat perdebatan Sarah dan Bobby, Ario menarik tangan Deeva dan membawa gadis yang kini memakai jilbab berwarna salem itu menjauh.             “Sarah gimana?” tanya Deeva khawatir.             “Ada Bobby kok, kita lihat-lihat stan yuk. Kamu mau makan apa? Aku yang traktir kamu,”             Deeva tersenyum malu-malu, mata gadis itu menemukan salah satu stan yang menjual sosis bakar. “Aku mau sosis bakar, boleh?”             “Boleh, yuk!” Ario menggandeng tangan Deeva dan mengajak gadis manis itu menuju stan sosis bakar yang cukup ramai.             Sementara Bobby dan Sarah masih saja berdebat tanpa mereka menyadari bahwa Deeva dan Ario sedang berjalan-jalan tanpa mereka.             “Badan gue udah gendutan, Nenek! Lo kagak lihat lemak di tangan gue?”             Sarah mendelik dan tanpa izin mencubit tangan Bobby, membuat pria itu kesakitan.             “Lo ngapain nyubit gue? Astaghfirullah, sakit nih! Merah!” protes Bobby mengusap lengannya yang tadi dicubit Sarah.             Bukannya memintan jahat, Sarah menyeringai. “Sakit kan? Itu bukti kalau lo kagak gendutan!”             Bobby merasa kesal, pria itu menarik tangan Sarah membuat Sarah bingung.             “Mau ajak gue ke mana?”             “Kamar mandi, lo kudu lihat badan gue semua!”             Sarah melotot. “Lo gila?”             “Kagak,” jawab Bobby santai, menikmati respon panik Sarah.             Kesal pada Bobby, Sarah menginjak kaki pria itu sehingga pegangan mereka lepas dan Sarah meninggalkan Bobby yang kesakitan.             “Makanya jangan usil,”             Bobby menoleh ke belakang dan mendapati sahabat satunya, Kahfi menatapnya datar.             “Tumben datang pas pensi,” ucap Bobby.             “Lagi bosen aja,” jawab Kahfi. Sebenarnya ia datang karena sudah berjanji pada Jian Li.             Bobby yang mengenal sahabatnya, mengangkat sebelah alisnya tidak percaya pada pernyataan Kahfi.             Tepat ketika Bobby akan mengatakan sesuatu, Jian Li datang menghampiri mereka. Gadis Chinese itu memakai baju terusan panjang berwarna putih selutut lalu rambut yang diikat satu memperlihatkan leher mulis Jian Li. Sungguh cantik sehingga membuat Bobby dan Kahfi sempat terpukau.             “Sudah datang ya, aku padahal nunggu di dekat pos satpam.” Ujar Jian Li membuat Bobby yang berdiri di sebelah Kahfi terkejut.             Kahfi melirik sebentar Bobby lalu menatap Jian Li dan memberi kode pada gadis itu melalui matanya yang langsung dimengerti Jian Li.             “E.. aku mau beli minuman dulu ya,” ucap Jian Li lalu pergi.             “Lo dekat sama Jian Li? Seriusan bro?” tanya Bobby kaget.             “Kita cuma teman,” elak Kahfi tanpa menatap Bobby.             “Gue kenal lo enggak setahun dua tahun, kita udah sobatan lama bro. lo beneran suka eh bukan naksir si Jian Li?”             Kahfi hanya terdiam, ia tahu jika ia mengelak tentu saja Bobby akan mengetahuinya.             Bobby menghela nafas keras, tidak menyangka dengan sahabatnya yang dikenal alim, soleh dan selalu menjaga diri dari lawan jenis.             Bobby memegang pundak Kahfi dengan sebelah tangannya, berbisik pelan namun bisa di dengar jelas oleh Kahfi. “Dia berbeda, Fi.”             Kahfi melirik Jian Li yang sepertinya menunggunya, gadis itu terlihat memandangnya khawatir. “Gue tahu,” lirih Kahfi.             “Terus? Ini cuma perasaan sesaat aja Fi, gue tahu hati lo ke mana.”             “Ini bukan urusan lo, By.”             Bobby melepaskan pundak Kahfi dan menatap kecewa sahabatnya. “Ini memang bukan urusan gue, tapi seenggaknya sebagai sahabat lo gue udah meringatin lo. Lo sering bilang kalau perasaan manusia itu adalah tipuan agar manusia lebih mencintai dunia daripada Tuhannya. Sekarang gue tanya, lo.. lo sendiri gimana?. Gue enggak apa-apa kalau lo suka sama cewek, gue malah bakal bantu. Tapi masalahnya, cewek yang lo suka itu berbeda bro!”             Kahfi tidak sanggup membalas perkataan Bobby karena ia tahu jika semua perkataan sahabatnya itu benar.             “Gue tahu lo sukanya sama dia kan? Gue enggak bisa ditipu bro,”             Kahfi hanya menatap sendu Bobby, pria itu menatap Jian Li yang masih menunggunya. “Gue pergi sebentar, kasihan dia udah nunggu.”             “Lo enggak tahu Fi, kalau lo lagi menipu diri lo yang kelak lo bakalan menyakiti hati Jian Li.” Gumam Bobby menatap Jian Li.             “Bobby kenapa?” tanya Jian Li ketika Kahfi menghampirinya. Wajah Jian merona melihat penampilan Kahfi yang menggunakan t-shirt merah dan jaket hitam serta celana jeans dongker. Sangat tampan!             “Enggak apa-apa,”             “Kamu udah makan?”             Kahfi mengangguk dan Jian Li terlihat sedikit kecewa. “Kamu?”             “Aku belum sih,”             “Yasudah saya temani kamu makan.”             Jian Li tersenyum lebar dan mereka memilih untuk makan di kantin, karena stan pensi sangatlah ramai.             Kahfi mengamati Jian Li yang menangkupkan kedua tangannya di depan d**a dan memejamkan mata untuk berdoa.             “Kamu yakin enggak mau makan?” tanya Jian Li sambil menyuap mie basonya ke dalam mulut.             Kahfi menggeleng dan meminum jus jeruk.             “Pensi di sini seru banget ya! Kalau di aku biasanya cuma ngadain stan setiap kelas aja. Enggak ada undang bintang tamu kayak gini. Oh iya kalau tahun kemarin ngundang siapa?”             Kahfi mencoba mengingat. “Siapa ya? Saya enggak tahu,”             “Kok enggak tahu, emangnya tahun kemarin kamu enggak datang?” tebak Jian Li.             “Ya, saya enggak datang.” Jawab Kahfi datar. “Saya jarang ikut acara seperti ini,”             Wajah Jian Li berbinar. “Berarti ini pertama kali kamu dong!”             Kahfi mengangguk. Ini pertamakalinya ia datang ke acara pensi dan pertama kalinya juga ia menemani seorang perempuan makan.              
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD