Airin membuka matanya dengan mengerjap, saat bunyi alarm di ponselnya memekik kencang. Sontak, ia pun terbangun untuk mematikan bunyi alarm tersebut. Namun, lengan besar milik Albima menindih tepat di atas perutnya. Ia pun mencoba menggeser lengan suaminya untuk turun dari atas perutnya. Setelah mematikan alarm yang memekik kencang itu pun, Airin hendak bangkit dari atas ranjangnya. Namun, tangan Albima malah menarik lengan Airin, hingga ia pun terduduk kembali di atas ranjangnya. Walau dengan mata terpejam, Albima melingkarkan tangannya di perut ramping Airin, sambil kepalanya ngedusel di ceruk leher Airin. “Yang…” gumam Albima sambil tersenyum dengan mata yang masih terus terpejam. “Uuuh…” Airin sedikit melenguh, ketika suaminya seperti sengaja tidak membuka matanya, dan membuat diri

