Hadiah

1419 Words
“Kamu. Mas yang tadi kan?” tanya Clarissa dengan detak jantung yang masih nyaris copot.  Ia pikir tadi sosok itu. Helaan napas terdengar pelan. “Hmm. Iya. Sorry, aku ngagetin kamu.” sahut lelaki itu menggaruk tengkuk belakangnya. Menggeleng, “Tidak apa-apa Mas.”  “Maaf ada apa ya? Mas panggil saya?” tanyanya sopan. Mau bagaimana pun lelaki tampan dihadapannya kini adalah tamu, yang artinya tamu adalah raja. Right. “Oh begini sebenarnya saya--” ucap orang itu menjeda matanya menatap Clarissa dengan raut aneh. Seketika wanita itu menjadi risih kembali. “Maaf Mas. Saya harus kembali bekerja.” seru Clarissa cepat.  “Eh! Tunggu dulu.” ujarnya menahan lengan Clarissa agar tidak beranjak dari sana. Clarissa menyentak sedikit kasar lengan itu refleks, ia tidak biasa dipegang laki-laki kecuali Raka putranya. “Maaf.”  “Tidak apa-apa Mas. Maaf saya yang salah," balas Clarissa mencoba sopan lagi. Lelaki di depannya mengangguk, “Begini Clarissa. Boleh saya minta nomor ponselnya Bella?" lanjutnya dengan nada sedikit gugup. Clarissa menaikkan alis matanya sebelah, “Kenapa tidak minta sendiri Mas?"  Dengan rasa heran Clarissa bertanya. Karena bukankah tadi Bella bilang ia berkenalan dengan pria-pria di meja itu. Lalu mengapa___. “Anu gimana ya. Saya tadi belum sempat minta nomor ponselnya.” balas orang ini membuat Clarissa mendesah pelan.  “Saya minta maaf Mas. Bukankah lebih baik kalau Mas minta sendiri sama yang bersangkutan saja.” tolaknya halus.  “Iya kamu benar. Tapi saya tidak melihat Bella sejak tadi.”  “Ohya.” “Hmm.” “Saya mohon Clarissa. Boleh ya.” melasnya. Clarissa menghela napas pelan, ia akhirnya mau memberikan nomor telepon sahabatnya itu untuk laki-laki yang tidak kenalnya ini. “Thanks. Clarissa.” “Ohya saya Bram. Bramantyo Hans." lanjutnya mengulurkan tangannya untuk berjabatan. “Clarissa.” balasnya singkat. Setelahnya, wanita itu pun beranjak meninggalkan lelaki bernama Bram tadi yang kini mengulas senyum miring menatap punggung yang mulai menjauh dari pandangan. Menarik. Batin Bram terkekeh geli. Satu kata itu selalu terukir ketika melihat reaksi perempuan bernama Clarissa tadi. Bram menatap layar ponselnya yang kini tertera nama Bella.  Ia menyeringai aneh. Waktu jam pulang untuk Clarissa dan beberapa pegawai yang melakukan shift pagi pun tiba. Kini ia dan Bella sedang berdiri di luar gedung kafe, mereka menoleh ke jalanan yang terlihat ramai kendaraan. Motor miliknya sedang di pinjam Adam sebentar. Dan lelaki itu berjanji akan mengembalikannya ke kontrakan. “Cla. Kamu mau langsung pulang?” “Oh nggak Bel, aku mau ketempat mama jemput Raka” jelasnya.  Bella mengangguk paham. Bella dan karyawan lainnya sudah tahu siapa Clarissa bagi si  pemilik kafe. Tapi wanita itu tetap bersikap layaknya karyawan biasa tidak mau membeda-bedakan agar tidak ada yang merasa terdiskriminasi atas fakta bahwa ia adalah anak angkat pemilik kafe tempat mereka bekerja.  “Aduh maaf ya Cla. Aku nggak bisa temenin kamu.”  “Astaga Bel. Kamu apaan sih. Nggak apa-apa Bel. Kaya mau kemana aja.”  “Ah ya. Aku hampir lupa. Tadi ada yang minta nomor ponsel kamu.” Lanjutnya membuat wanita berambut sebahu itu menoleh dengan cepat kearahnya.  “Siapa?” “Cowok yang namanya Bram. Kalau tidak salah, kamu ingat.”  Bella mengangguk antusias bahkan matanya berbinar mendengar ucapan sahabatnya.  “Makasih ya Cla.” seru Bella seraya memeluk Clarissa erat. Ia hanya terkekeh melihatnya. Tin tin tin. Bunyi klakson mobil terdengar, membuat dua wanita itu menoleh mendapati sebuah mobil berwarna hitam berhenti dihadapan mereka yang kebetulan masih berdiri di bahu jalan menunggu mobil jemputan masal alias angkutan umum. Tak lama berselang pintu mobil terbuka, menampilkan lelaki berpakaian santai dengan celana pendek selutut di lapisi kaos berlengan pendek abu-abu ketat memperlihatkan bisep lengannya muncul. “Hai Cla Bel baru pulang?”  Bella menggangguk semangat, sedangkan Clarissa hanya memandang Andre lelaki yang baru saja muncul lagi di depannya dalam diam. “Ya nih Kak baru banget. Ya kan Cla.”   “Ah! Iya Kak." “Eh aku duluan ya Cla tuh angkotnya sudah datang.” ucap Bella seraya menunjuk angkutan umum yang sudah terlihat. “Iya Bel. Hati-hati ya.” sahut Clarissa dibalas anggukan sahabatnya itu. Wanita yang sudah menjadi sahabatnya selama 2 tahun itu pun akhirnya melesat pergi meninggalkan dirinya dan Andre dalam atmosfer canggung.  “Kamu mau pulang kan Cla.” suara Andre memecah keheningan. “Hah. Oh iya Kak." balasnya kikuk. Clatrissa hanya belum terbiasa bertatap muka lagi dengan laki-laki yang menaruh hati padanya tersebut. “Tapi Cla mau ketempat mama Kak.” lanjutnya memberitahu. Andre mengangguk mengerti, ia kemudian berkata yang membuat perasaan Clarissa tiba-tiba di landa kesal.   “Yuk bareng. Kebetulan Mama tadi telepon aku buat jemput kamu.” Jleb. Tanpa berkomentar apa-apa lagi Clarissa langsung masuk kedalam mobil dengan ekspresi datar. Andre mengerenyit bingung di tempatnya melihat perubahan sikap wanita itu.  Mobil itupun melaju bergabung dengan pengendara lainnya. Hening. Tidak ada percakapan apapun membuat Andre gelisah di kursi kemudinya.  “Cla, kamu kenapa?” tanyanya tepat ketika mobil berhenti di lampu merah. “Tidak ada apa-apa Kak.” balas Clarissa dengan tatapan keluar jendela.  “Yakin?” sanski Andre masih tidak percaya. “Hmm. “Cla--” “Sudah hijau Kak.” potong Clarissa setengah meninggikan suara.  Andre menghela nafas pendek, kemudian melajukan mobilnya kembali. Hening pun kembali terjadi, sampai mereka tiba di tempat tujuan. Saat mobil sudah terparkir di halaman rumah sang mama yang cukup luas tersebut, wanita itu langsung turun dari mobil melangkah masuk kedalam rumah meninggalkan Andre yang terbengong sendirian di kursi kemudi. Clarissa kenapa sih?. Pikirnya bingung dalam hati. Andre pun akhirnya pasrah dan memilih mengikuti Clarissa yang sudah masuk lebih dulu. Melihat Clarissa yang sudah duduk disofa ruang tamu bersama mama dan Raka membuat Andre memutuskan untuk bergabung disana bersama orang-orang terpenting dalam hidupnya. Dan anehnya Clarissa terlihat tidak mau melihatnya. Andre tersenyum kaku saat Sari mengatakan mengapa berjalan belakangan. *** “Bunda tadi Laka dapet temen balu banyak.” antusias putranya yang kini sedang duduk dipangkuannya. Clarissa tersenyum senang lalu berkata, “Oh, ya.” dibalas anggukan kepala Raka cepat, semua yang berada disana terkekeh geli, Clarissa mengelus surai hitam sang putra lembut. “Terus tadi Raka belajar apa saja disana?” tanyanya lagi. Raka terlihat berpikir mengingat hari pertama ia bersekolah tadi. “Tadi disuluh kenalan sama bu gulu, nyanyi baleng-baleng, telus tadi kita main tebak-tebakkan Bun.” ucap bocah itu antusias bahkan senyum Raka tidak pernah luntur dari wajah tampannya. "Wah, pasti seru. Anak Bunda bisa tidak menebaknya.” “Nggak, Bun. Susah.” ucapnya sambil menggelengkan kepala bibirnya mengerucut. "Ya sudah tidak apa-apa sayang. Besok-besok Raka nya Bunda pasti bisa jawab,” hiburnya. Raka kembali mengangguk dengan wajah ceria. “Nenek Bunda, Om itu siapa?” tanyanya menunjuk kearah Andre yang sejak tadi hanya diam disofa single ruang tamu. Keduanya menoleh kearah lelaki yang kini tengah menatap  hangat kearah bocah itu. Ini kedua kalinya Raka bertemu Andre, terakhir saat Raka berusia satu tahun lalu Andre pindah kuliah keluar negeri. Apalagi tadi saat bocah itu pulang kerumah bersama sang nenek Andre ternyata sudah keluar rumah menuju kafe. Oleh sebab itu Sari langsung meneleponnya untuk menjemput ibu dari cucu nya itu sekalian, padahal tanpa disuruhpun lelaki itu pasti akan menjemput wanita tersebut. “Oh ini namanya Om Andre sayang,” jelas sang nenek alias ibu Sari. “Halo, Om aku Laka,” ucapnya sambil melambaikan tangannya pelan. Andre terkekeh melihatnya, “Halo juga sayang.” “Bunda, Laka nginep disini ya sama nenek.” ucapnya mendongak kearah Clarissa. “Tapi kan Raka kemarin sudah menginap di tempat Nenek,” jawabnya sambil menunduk melihat sang putra. “Tapi Bun, Laka--”.  “Biarin aja Raka menginap disini Cla. Nanti Mama yang antar Raka ke sekolah besok.” potong ibu Sari cepat, tidak tega melihat wajah sedih cucunya. “Boleh bunda?” tanya Raka kembali dengan raut penuh harap. Clarissa mengangguk mengiyakan permintaan sang putra, Raka tersenyum ceria mendengarnya ia bahkan memeluk sang bunda erat. “Cla, yuk temenin Mama masak. Biar Raka sama Andre dulu. Andre kamu jagain Raka dulu ya.” titah beliau melihat kearah Clarissa kemudian menatap Andre putranya. Keduanya mengangguk mengerti. “Raka Sayang, Bunda sama Nenek kedapur dulu ya Nak.” ujar setelah menurunkan dan mendudukkan putranya diatas sofa.  “Raka sayang mau makan apa?” tanya Sari kepada cucu tercintanya. “Cekel Nek.” ucapnya semangat. “Oke. Nenek buatin dulu ya.” balasnya membuat Raka meloncat-loncat saat duduk. “Yey! Iya Nek." *** Sepeninggal kedua wanita itu, Andre beranjak pindah ke sofa dimana Raka duduk. “Raka suka mainan apa?” tanyanya mengawali percakapan mereka. “Laka nggak suka mainan Om,” balas bocah itu membuat Andre menaikkan alis matanya sebelah. “Kok gitu Sayang?” tanyanya lagi tidak mengerti. “Laka enggak punya mainan Om, Laka juga enggak mau Bunda susah,” ucap Raka menunduk sambil menautkan jemari-jemari tangannya. “Hei Raka ganteng nnggak boleh sedih. Om bangga sama Raka.” ujarnya membuat Raka mengangkat kepalanya menatap lelaki di depannya kini. “Raka hebat, tandanya Raka sayang sama Bunda.” lanjutnya.  Mengangguk, “Laka sayang Bunda.” “Ya sayang. Bunda pasti juga sayang banget sama Raka.” ujarnya Raka mengangguk antusias setuju. “Raka tunggu disini ya sebentar.” ucap lelaki itu dan segera beranjak menuju lantai dua kamarnya. Selang berapa menit lelaki sudah kembali dengan kotak berwarna biru ditangannya. “Nah ini buat Raka.” ucapnya mengulurkan kotak biru tersebut kearah bocah didepannya. “Buka sayang.” ujarnya lagi, Raka pun membuka kotak yang lumayan besar tersebut, matanya melotot melihat isinya sedetik kemudian tatapan berubah berbinar-binar haru. “Ini buat Laka Om?” Andre mengangguk mantap, “Ya itu semua buat Raka. Raka suka?” “Suka Om, suka banget.” antusiasnya sambil memeluk mainan barunya. Setelah meletakkan mainan barunya diatas karpet berbulu ruang tamu, bocah tampan dan pintar itu memeluk lelaki tampan dihadapannya membuat Andre terkesiap kaget, apalagi mendengar suara lirih sang bocah membuatnya hatinya terenyuh. “Makasih, Om.” lirihnya di dalam pelukan, Andre membalas pelukan Raka sambil mengusap pucuk kepala sang bocah tampan tersebut lembut. Bersyukur itulah yang Andre ucapkan dalam hatinya ketika mendengar suara lirih Raka hanya karena mainan yang ia berikan. Terima kasih Ma Pa. Batinnya. ___ Tbc>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD