Figur Ayah

1264 Words
Suasana hening yang menyelimuti ruang tamu antara pria dewasa dan satu orang anak kecil membuat siapa saja pasti terheran. Raka anak kecil yang begitu menggemaskan itu, terlihat menatap lurus kearah tiga set kotak mainan diatas meja ruang tamu dengan tatapan dalam seolah ia sedang berpikir keras. Sedangkan Andre cowok yang duduk disebelah bocah tersebut mengerutkan kening melihat tingkah Raka, setelah memeluknya tadi hingga sekarang bocah itu hanya diam memandang lurus mainan pemberiannya tanpa ada niat sedikitpun untuk membuka kotak yang berdominasi warna biru tersebut. Ia berdehem pelan sebelum bertanya, “Raka kenapa?” Si bocah membalas menatapnya dengan tatapan bingung dan sedikit takut. “Kenapa Sayang. Raka nggak suka. Mau Om belikan yang lain?” tanyanya saat melihat raut wajah anak wanita yang ia cintai itu. Raka menggelengkan kepala pelan, lalu menunduk menautkan jemari kecilnya satu sama lain. “Takut lusak Om.” gumamnya masih terdengar. Deg.  Mendengar hal itu Andre tergelak, ketika anak-anak lain mendapat mainan baru mereka pasti akan senang dan bahkan langsung berebut membuka mainan yang didapat. Tapi, anak ini justru hanya diam seperti memiliki ketakutan akan merusakkan mainan darinya hanya karena ia buka dari dalam kotaknya. Ya Tuhan. Batinnya miris. Andre mengelus surai hitam yang terpotong rapih milik bocah tersebut lembut, membuat anak itu mendongak menatapnya. Lelaki itu mengulas senyum tipis.  “Raka jangan takut. Om belikan mainan itu memang khusus buat Raka. Jadi Raka tidak usah takut buat memainkannya. Ya sayang.” “Tapi Om--” ucapnya menggantung seperti bimbang bahkan ia diam-diam melirik mainan yang ada diatas meja lewat ekor matanya.  “Kita main sama-sama mau?" ajak Andre.  Sungguh Raka benar-benar terlihat takut dan enggan membuka mainan yang baru pertama kali ia dapatkan. “Gimana?” ulangnya mencoba mengajak Raka kembali. “Kalo lusak gimana Om. Laka nggak mau. Kan sayang.” ujarnya polos menatap sayang kearah kotak-kotak tersebut. “Raka tenang aja. Om jamin mainannya nggak akan rusak. Kita main berdua mau.” Andre terlihat berusaha membujuk anak itu terus. Raka terdiam sejenak sebelum mengangguk membalas ajakan pria disampingnya. Akhirnya keduanya pun bermain bersama. Mereka hanya membuka satu kotak set mainan saja itu pun atas permintaan Raka membuat Andre hanya bisa pasrah dan menemaninya bermain. **** “Cla Sayang ... kamu mau Mama kenalkan dengan anak temen mama?” ucap Sari hati-hati menyuarakan keinginannya kepada anak angkat perempuannya yang kini sudah terlihat lebih dewasa sejak pertama kali ia dan suami menemukannya. Kekehan pelan terdengar, Clarissa membalas ucapan wanita paruh baya yang sudah ia anggap ibunya dengan guyonan berharap wanita disampingnya mengerti jika dalam hidupnya hanya akan ada Raka seorang. Ia tidak mau membuka hati untuk laki-laki yang belum tentu mau menerima putranya. “Mama kaya apa aja. Sekarang kan bukan jamannya Siti Nurbaya Ma.” ujarnya sambil terkekeh dan geleng kepala. Ia kemudian membawa wadah berisi sup ceker ayam kemeja makan diikuti wanita paruh baya itu dibelakangnya, membawa menu lainnya seperti ikan balado hijau dan tahu tempe goreng. “Mama cuma mau ada yang jagain kamu sama Raka Nak.” ungkap beliau serius. Clarissa tersenyum memaklumi kekhawatiran wanita paruh baya tersebut kepadanya. Mengingat ia adalah seorang single parent. “Ma aku tidak apa-apa. Mama tenang aja ya. Jangan khawatir aku bisa jaga diri aku sama Raka.” balasnya pelan tidak ingin menyakiti hati wanita yang memiliki niat baik untuknya dan putranya itu. “Ya Mama tahu kamu bisa jaga diri kamu sendiri. Kamu sudah dewasa sekarang. Mama cuma mau kamu juga merasakan hidup layaknya wanita pada umumnya Nak. Dan Raka juga butuh figur ayah sayang.” paparnya hati-hati. “Ma aku sama Raka nggak perlu semua itu. Cukup bersama terus sama Mama dan Papa saja itu sudah cukup buat kami.” “Lagi pula siapa yang mau menikah dengan wanita seperti aku. Aku bukan wanita sempurna untuk mereka Ma.” lanjutnya pelan seperti bergumam, ia merunduk menyusun peralatan makan mereka. Sari tertegun mendengarnya, ia menyesal sudah membahas hal ini dengan Clarissa putrinya. “Maaf Nak.” lirih beliau menyesal. Clarissa menggeleng cepat, ia menghampiri dan memegang tangan wanita itu seraya mengelusnya pelan mencoba menenangkan perasaan bersalah wanita yang sudah merawat dan memberinya kasih sayang luar biasa. “Mama nggak salah apa-apa. Maaf Cla sudah buat Mama sedih.”  “Bukan salah putri Mama. Putri mama sudah dewasa dan Mama bangga sama kamu Sayang.” Sari menarik putri angkatnya kedalam pelukan hangat. Pelukan dari seorang ibu yang sudah lama Clarissa rindukan.  Mama Papa. Batinnya. **** Suara tawa yang berasal dari ruang tamu membuat Clarissa penasaran, ia berjalan ke sumber suara untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang berbeda usia itu di ruang tamu. Dan matanya terpaku di tembok pembatas ruang, melihat putranya yang sedang tertawa lepas dengan sebuah mainan seperti mobil polisi di tangannya. Sedangkan laki-laki dewasa yang menemaninya terlihat sedang menunduk dengan tangan yang menjulur kebawah sofa seperti sedang mencoba mengambil sesuatu dibawah sana. Clarissa memutuskan mendekati keduanya, berdiri tepat disebelah Andre yang masih merunduk. “Ngapain kak?”.  Brak. “AWW.” jeritnya meringis dan terduduk langsung.  “Eh, maaf kak. Cla nggak bermaksud.” ucapnya cepat melihat Andre yang sekarang meringis sambil mengelus pinggangnya yang baru saja terantuk ujung meja terbuat dari kaca tersebut. “Ah iya. Tidak apa-apa Cla.” selaknya buru-buru memasang wajah stay cool seolah tidak terjadi apa-apa. Clarissa mengulum senyumnya menatap Andre.  “Om, nggak apa-apa.” suara anak kecil disekitar mereka membuat keduanya tersadar jika ada Raka yang sedang melihat mereka. “Om nggak apa-apa kok sayang. Om kan kuat.” balas Andre santai mengangkat tangannya dan menunjukkan otot lengannya seakan ia seorang super. “Raka juga harus kuat kaya Om. Oke.” lanjutnya mantap. Anak itu mengangguk seraya berucap, “Kuat kaya Spedelmen ya Om.”  “Ya betul.” Andre balas mengangguk kuat. Kini ketiganya sudah kembali duduk disofa, dengan Raka yangg duduk diatas pangkuan Andre setelah mereka merapikan mainan yang berserakan tadi. Ia sempat memarahi kakak angkatnya itu karena terlalu banyak membelikan mainan untuk putranya dan dibalas senyuman menawan lelaki itu hingga membuatnya hanya bisa menghela nafas pasrah. Clarissa masih memandang laki-laki yang menaruh hati padanya dalam diam.  “Kenapa Cla?” Wanita itu tersentak dari lamunannya, ia mengerjapkan mata dua kali menatap lagi lelaki tampan dihadapannya yang sedang menaikkan alis matanya memandang dirinya. “Nggak apa-apa Kak.”  Andre hanya mengangguk dan bergurau kembali dengan bocah dipangkuannya. Hingga langkah derap kaki terdengar mendekati mereka. “Ayo kita makan.” ucap Sari yang sudah datang memanggil.  “Raka Sayang ayo makan. Nenek sudah masak ceker buat cucu nenek yang paling ganteng.” “YEY.” pekik girang Raka menyahut. Ia langsung berlari kemeja makan membuat semuanya terkekeh geli melihat tingkahnya. “Ayo Kak.” Ajak Clarissa pada kakak angkatnya. Mereka berdua berjalan beriringan ke meja makan, Raka dan Sari sudah duduk dikursi mereka masing-masing, Clarissa tertawa kecil melihat putranya begitu antusias melihat ceker ayam, entah dari siapa hobi kesukaannya itu di dapat. Sebab, Clarissa justru tidak suka ceker ayam atau hobi itu dari dia. Clarissa menggeleng cepat. **** Sedangkan diwaktu yang sama seorang lelaki berpostur tubuh tinggi, gagah, lengkap dengan jas formal berwarna abu-abu yang masih melekat ditubuhnya berjalan memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Ia baru sampai setelah penat bekerja seharian. Bangunan berlantai dua dengan aksen corak keemasan memenuhi pandangan laki-laki itu. Suasana hening menyambutnya ketika membuka rumah mewah ini. Dia Arkan Pramudya Angkasa CEO muda yang kini sedang melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ia memijat pelipisnya pelan berdiri tepat didepan pintu kamar berwarna putih miliknya, membuka kenop pintu dan mendapati ruang yang hanya kosong tanpa dia.  Arkan menghela napas pendek, mengabaikan suasana yang sempat menyambutnya. Ia melangkahkan kakinya kearah walk in closet, mengambil baju ganti dan segera masuk kedalam kamar mandi. Arkan sepertinya memerlukan mandi air dingin untuk meredam kekesalan di hatinya saat ini. Selang berapa menit lelaki itu keluar dari kamar mandi dengan rambut yang setengah basah, serta baju berlengan pendek berwarna biru dan celana training panjang berwarna cream. Ia terlihat berjalan kearah balkon kamar menatap lampu-lampu bangunan dan kendaraan yang berlalu lalang. Mengenadahkan kepala menatap awan yang mulai menggelap, seperti akan turun hujan. Getaran disaku celananya membuat dirinya tersentak, mendesah berat sebelim menerima telepon tersebut. “Halo.” ucapnya menyahut. Terdengar suara sambutan diseberang sana. “Ngapain kamu kesana?” geramnya menjeda, “Lalu kamu meninggalkan kewajiban kamu disini.” geramnya lagi setengah menggertak sang lawan bicara. “Terserah.” balasnya dingin kepada orang itu.  Tut. Arkan memutuskan untuk menutup telepon yang terhubung sepihak, ia mencengkeram pembatas balkon kuat. Dasar b******k. Umpatnya. ___ Tbc>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD