Dua minggu setelah pertemuan di taman, keadaan semakin runyam. Maya dan Rendra masih dalam masa jeda, tapi batas-batasnya mulai kabur. Rendra masih mengirim donat setiap Senin—tepat 500 donat tersisa, seperti janjinya. Maya masih menerimanya, tapi tidak pernah membalas. Tapi masalah baru mulai muncul. Bukan dari mereka berdua, tapi dari orang-orang di sekitar mereka. --- Senin pagi, kantor Maya. Maya datang dengan wajah datar. Di meja kerjanya, seperti biasa, donat dari Rendra. Tapi kali ini ada yang berbeda. Di samping donat itu, ada buket bunga mawar merah. Besar. Mencolok. Maya mengernyit. Dia buka kartunya. "Untuk Maya, dari seseorang yang selalu mengagumimu. — Kevin." Maya diam. Kevin? Dia sudah lama tidak mendengar nama itu. Rina mendekat dengan mata terbelalak. "MAY! ITU DA

