Seminggu setelah Maya memutuskan untuk "jeda", hidup mereka berjalan di jalur masing-masing. Rendra sibuk dengan pekerjaannya—lebih sibuk dari sebelumnya, seolah ingin melupakan. Maya menjalani hari-hari dengan rutinitas yang hampa. Tidak ada telepon. Tidak ada chat. Hanya keheningan yang semakin lebar. --- Senin pagi, apartemen Maya. Maya bangun dengan mata bengkak. Dia sudah tidak nangis—air matanya habis. Tapi rasa hampa itu masih ada. Panda Krim dan Panda Pelangi di sampingnya. Kambing Kocak tidak ada—dia masih bersama Rendra. Dia berjalan ke dapur. Membuat kopi sendiri. Sarapan sendiri. Berangkat kerja sendiri. Di kantor, donat dari Cici sudah menanti. Seperti biasa. "Selamat Senin! Aku dengar lo lagi jeda. Semoga baik-baik aja. KPR tetap jalan. — Cici." Maya membaca kartu it

