Kehilangan Boneka Panda

1939 Words
Hari-H. Taman Kota. Pukul 15.00 WIB. Kami berdiri di tengah taman yang ramai dengan pengunjung. Maya memegang boneka panda raksasa—tingginya hampir sama dengannya. Aku memegang kardus donat yang ditata rapi, plus tas plastik berisi uang mainan. Penampilan kami sangat mencolok. Anak-anak kecil menunjuk boneka panda dengan heboh. Ibu-ibu berbisik, mungkin mengira kami pemain sirkus. "Kenapa boneka ini sebesar ini sih?" gerutu Maya, kepalanya nyaris tidak terlihat di balik kepala panda. "Aku bisa kepeleset." "Itu pilihanmu," kataku. "Kamu yang bilang 'semakin besar semakin menggemaskan'." "Aku kira kita bakal punya meja untuk naroh ini! Bukan berdiri di tengah taman seperti patung!" Sementara kami bertengkar kecil, target pertama datang. Dua preman receh—sebut saja Preman A (yang koper uangnya kutumpahkan) dan Preman B (teman yang lebih besar dan lebih pendiam). Mereka berjalan mendekat dengan gaya sok jagoan, Preman A mengunyah permen karet dengan suara nyaring. "Woi, lo!" teriak Preman A, jari telunjuknya mengarah ke arahku. "Gue pikir lo kabur ke luar kota! Ternyata lagi pacaran di taman!" "Kami tidak pacaran," jawabku defensif. "Ini... operasi militer." Preman B memandangiku dengan tatapan kosong. Lalu matanya beralih ke kardus donat di tanganku. "Itu donat?" tanyanya. Kesempatan! "Ya! Silakan, ambil! Ini donat premium, varian krim vanilla, cokelat, stroberi—" Preman A memukul bahu Preman B. "Lo jangan fokus ke donat! Fokus ke misi! Uang gue!" Aku segera mengeluarkan uang mainan. "Ini! Uang ganti rugi! Dua juta! Plus koin emas!" Preman A merebut uang itu, memeriksanya dengan seksama. Wajahnya berubah dari serius menjadi bingung, lalu marah. "Ini... UANG MAINAN! Kertas doang!" teriaknya. "Ini bukan uang beneran! Lo kira gue anak TK?!" Preman B, yang sudah mengambil satu donat stroberi, mengunyah pelan. "Enak," katanya datar. "DIAM LO! FOKUS!" bentak Preman A. Target kedua tiba. Dua staf keamanan korporat—sebut saja Bodyguard X (yang galak) dan Bodyguard Y (yang terlihat bosan). Mereka mendekat dengan langkah profesional, kemeja lengan panjang digulung rapi. "Flashdisk-nya," kata Bodyguard X tanpa basa-basi. Maya dengan panik mengeluarkan flashdisk panda palsu. "Ini! Fotonya sudah kami hapus! Tidak ada cadangan!" Bodyguard X memasukkan flashdisk ke tablet yang dibawanya. Membuka file. Wajahnya berubah. "Ini... foto alpukat. Dengan filter." "Itu yang kami hapus," jelas Maya gugup. "Foto asli sudah tidak ada. Ini... kenang-kenangan." Bodyguard X menatap Maya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Di sebelahnya, Bodyguard Y melihat Preman B yang sedang memakan donat kedua. "Donatnya dari mana?" tanya Bodyguard Y tiba-tiba. "Mereka bawa," jawab Preman B sambil menunjuk ke arahku. "Apa hubungannya?!" bentak Bodyguard X frustasi. "Kita bukan untuk donat!" Tapi Bodyguard Y sudah mengambil satu donat cokelat dari kardusku. "Terima kasih," katanya sopan. Kacau. Sudah kacau. Preman A menyadang tubuhku. "Denger, gue nggak peduli dengan donat, panda, atau alpukat! Yang gue mau UANG BENERAN! Atau gue bawa lo ke kantor polisi!" Bodyguard X ikut mendekati Maya. "Saya juga tidak peduli dengan uang mainan. Bos saya ingin kepastian bahwa tidak ada data tersisa. Anda harus datang ke kantor untuk pemeriksaan." Sekarang kami dikepung dari dua sisi. Boneka panda raksasa mulai miring karena Maya gemetar. Aku memegang kardus donat yang sudah berkurang tiga biji. Dan saat itulah, rencana cadangan—yang sebenarnya tidak pernah kami rencanakan—mulai berjalan dengan sendirinya. Seorang anak kecil laki-laki, sekitar 6 tahun, berlari mendekat dan menarik rok boneka panda. "Mbak, pinjaman pandasnya boleh? Aku mau foto!" Maya bingung. "Ehm... ini bukan untuk foto, Dek—" "TAPI AKU MAU FOTO!" teriak anak itu dengan volume yang mengagetkan semua orang. Ibunya datang tergopoh-gopoh. "Maaf, Mbak, Mas. Anak saya suka banget panda. Boleh sekali? Cepat, Nak, jangan ganggu." Sebelum Maya bisa menjawab, anak itu sudah merenggut boneka panda dari tangannya dan berpose. Ibunya mengambil foto dengan HP. Preman A masih memegang kerah bajuku. "JANGAN MAJU! INI SEDANG SERIUS!" Tapi anak kecil itu tidak peduli. Dia malah menarik boneka panda ke arah Preman A. "Paman, foto bareng! Senyum!" Preman A terkejut. "Apa? Ngapain? GUE LAGI MARAH!" "Senyum dulu, baru marah lagi," kata anak itu polos. Dan secara ajaib, Preman A—pria dewasa berseragam preman dengan tato lengan—tersenyum kaku untuk foto. Preman B, yang sudah memakan donat keempat, ikut masuk frame sambil melambai. Bodyguard X mendesah frustasi. "Ini sudah di luar kendali." Tapi kemudian, Bodyguard Y bergumam pelan. "Itu bos saya." Semua orang menoleh. Di seberang taman, berjalan dengan gagah, adalah Bapak pemilik perusahaan tempat Maya bekerja. Bos besar yang fotonya dengan masker alpukat sempat menjadi sumber masalah. Bersamanya, Bu Yetty—bosku yang galak—sedang berbincang serius. Mereka berjalan ke arah kami. Wajah Maya pucat pasi. "Oh tidak. OH TIDAK." "Kenapa?" tanyaku panik. "Itu bosku! Dan dia... dia kenal bos kamu?!" "Sepertinya mereka sedang meeting di luar kantor!" Preman A masih sibuk berfoto dengan boneka panda. Bodyguard X panik. "Cepat! Kita harus menyingkirkan boneka itu dan flashdisk! Bos tidak boleh tahu kita masih mengejar-ngejar orang!" "Aku sudah bilang dari awal ini pekerjaan konyol," gumam Bodyguard Y. Situasi semakin absurd. Sekarang kami memiliki: · Dua preman yang berfoto selfie dengan boneka panda · Dua bodyguard yang panik menyembunyikan tablet dan flashdisk · Satu anak kecil yang bersenang-senang · Dua orang utama yang ingin menghilang dari muka bumi · Dua bos yang semakin mendekat tanpa tahu kekacauan apa yang sedang terjadi Dan di tengah semua itu, aku berdiri dengan kardus donat setengah kosong, Maya bersembunyi di belakang boneka panda yang sekarang dipegang Preman A. "Rencana kita gagal total," bisik Maya. "Tidak," kataku, tiba-tiba mendapat ide gila. "Justru ini kesempatan." "Apa maksudmu?" Aku tidak menjawab. Aku berjalan mendekati para preman dan bodyguard yang sekarang saling memandang bingung. "Dengar," bisikku cepat. "Bos kita semua ada di sini. Mereka tidak tahu apa yang kalian lakukan, kan? Preman, kalian kerja bayaran dari siapa? Bodyguard, kalian disuruh diam-diam, kan? Kalau bos tahu kalian masih mengejar-ngejar orang di taman untuk masalah receh... apa kata mereka?" Preman A berhenti tersenyum untuk foto. Bodyguard X menelan ludah. Aku melanjutkan. "Aku punya tawaran. Kita akhiri ini sekarang, damai. Tidak ada yang perlu tahu. Kalung damai. " "Kalung damai?" ulang Preman B. Aku mengangkat kardus donat. "Donat. Untuk semua. Plus... ini." Aku mengeluarkan uang mainan—yang tersisa. "Simbolis. Bukan nominal, tapi niat baik." Preman A memandangi uang mainan, lalu donat, lalu bosnya yang semakin dekat. "Lo serius mau bayar pake duit mainan?" "Aku serius mau damai. Dan kalau lo setuju, lo bisa pergi sekarang sebelum bos lo liat lo lagi megang boneka panda." Preman A melihat boneka panda di tangannya. Preman B mengambil dua donat sekaligus. Mereka saling pandang. "Ini memalukan," gumam Preman A. "Iya," setuju Preman B. Lalu, tanpa berkata lagi, mereka berbalik dan berjalan cepat ke arah sebaliknya. Preman A masih membawa boneka panda. Preman B masih mengunyah donat. "BONEKA PANDANYA!" teriak Maya. "PINJAM DULU!" teriak balik Preman A. Anak kecil tadi menangis karena pandanya dibawa kabur. Ibunya buru-buru menenangkannya. Sekarang sisa dua bodyguard dan dua bos yang semakin dekat. Bodyguard X tegang. "Kita juga harus pergi." "Flashdisk palsu itu?" tanyaku. "Dibiarkan saja. Tapi kami akan laporkan pada bos bahwa kasus ini sudah selesai. Anda berdua... jangan bikin masalah lagi." "Siapa yang bikin masalah?" protes Maya. Tapi bodyguard itu sudah pergi, setengah berlari, menghindari pertemuan dengan bos mereka. Bodyguard Y sempat berbalik dan berkata, "Donatnya enak. Terima kasih." Dan tiba-tiba, hanya tinggal kami berdua, berdiri di tengah taman dengan kardus donat yang tersisa dua biji, tanpa boneka panda, tanpa flashdisk, tanpa preman, tanpa bodyguard. Dan dua bos yang sekarang sudah berada tepat di depan kami. Bu Yetty memandangiku dengan alis terangkat. "Rendra? Kamu di sini? Jam kerja?" "Bu Yetty... ini... makan siang... yang molor," jawabku terbata. Di sebelahnya, bos Maya—Pak Rudi, pria berusia 50an dengan kacamata tebal—menatap Maya dengan heran. "Maya? Saya kira kamu lagi sakit. Kenapa di taman?" Maya membuka mulut, tidak ada suara keluar. Aku melihatnya panik. Lalu, dengan refleks yang mungkin bodoh atau jenius, aku mengangkat kardus donat. "Donat, Pak? Bu? Ini... donat amal. Untuk yatim piatu. Kami sedang... fundraising." Bu Yetty memandangiku dengan tatapan 'apakah-kamu-bercanda'. Pak Rudi mengambil satu donat. "Enak," katanya. "Ini donat dari mana?" "Toko dekat sini, Pak," jawab Maya cepat. "Krim & Panda... rencana mau buka cabang." Aku menatap Maya. Dia menatapku. Kami sama-sama berbohong di depan bos dengan donat sisa dan kisah panti asuhan fiktif. Pak Rudi mengunyah donat dengan puas. "Bagus, Maya. Kamu peduli sosial. Saya suka karyawan yang punya kepedulian." Bu Yetty masih curiga, tapi tidak bisa berkata banyak karena atasan Maya sedang memuji anak buahnya. "Baiklah, Rendra. Kembali ke kantor setelah ini. Jangan molor lagi." "Ya, Bu. Siap, Bu." Kedua bos itu berlalu, membawa dua donat terakhir kami. Kami berdiri diam sampai mereka benar-benar hilang dari pandangan. Lalu Maya berbalik padaku. Matanya membelalak. "Kita... baru saja...?" "Berbohong pada bos kita?" aku menyelesaikan kalimatnya. "Ya." "Dengan donat sisa?" "Dan kisah panti asuhan fiktif." Kami terdiam. Lalu tawa itu datang. Bukan tawa kecil, tapi tawa lepas, tawa lega, tawa yang membuat perut sakit dan mata berkaca-kaca. Kami berpegangan satu sama lain agar tidak roboh. "Boneka panda kita dicuri preman!" teriak Maya sambil terbahak. "Uang mainan laku sebagai alat diplomasi!" balasku. "Bodyguard minta donat!" "Bos kita makan donat sisa dan memujinya!" Kami terus tertawa sampai seorang bapak-bapak lewat dan bertanya, "Mbak, Mas, donatnya masih ada? Saya lihat tadi bawa kardus." "Sudah habis, Pak," jawabku, masih tertawa. "Sudah dimakan bos." Bapak itu mengernyit aneh lalu pergi. Kami duduk di bangku taman, kelelahan. Taman kota yang tadi pagi kami rencanakan sebagai medan perang, kini sunyi. Para preman kabur membawa panda. Para bodyguard lari dari bos. Dua bos kami pergi dengan donat. Dan kami berdua, masih di sini, masih bersama, masih hidup. "Rencana kita... berhasil?" tanya Maya, masih tidak percaya. "Semua orang dapat yang mereka mau," jawabku. "Preman dapat panda. Bodyguard dapat donat. Bos dapat donat dan cerita amal. Kita dapat... selamat." "Dan kehilangan panda." "Aku belikan kamu panda baru. Yang lebih kecil. Yang tidak bisa diculik preman." Maya tersenyum. "Janji?" "Janji." Matahari sore mulai turun. Taman kota berubah warna keemasan. Untuk pertama kalinya sejak tiga hari yang luar biasa kacau ini, kami duduk diam tanpa ada yang dikejar, tanpa rencana, tanpa rasa takut. "Rendra," bisik Maya setelah beberapa saat. "Hm?" "Aku lapar. Donat kita habis." Aku tertawa. "Mau cari makan?" "Mau. Tapi tempat yang tidak ada preman, bodyguard, atau bos." "Rumah makan Padang dekat sini? Mereka buka 24 jam. Dan sambalnya... wah." "Sambal? Kamu tahu aku suka pedas." Tentu saja aku tahu. Aku ingat dia memesan mie instan dengan level pedas maksimal. Aku ingat dia tidak mengeluh meskipun bibirnya memerah. Aku ingat banyak hal kecil tentang Maya yang bahkan dia mungkin tidak sadar. "Ya, aku tahu," kataku pelan. Dia memandangku. Senyumnya lembut. Malam itu, di rumah makan Padang sederhana dengan lampu neon dan kursi plastik, kami makan dengan lahap. Tidak ada kemewahan, tidak ada romantisme klise. Hanya nasi, rendang, ayam pop, dan sambal hijau yang pedasnya bukan main. Kami tertawa saat Maya salah mengambil cabai rawit utuh dan mulutnya seperti terbakar. Aku memesan es teh manis dua gelas. "Kamu harus coba ini," kataku, menyodorkan sambal hijau. "Ini terlalu pedas!" protesnya, tapi tetap mengambilnya. Di luar, Jakarta malam berdenyut dengan segala hiruk-pikuknya. Mungkin di suatu tempat, dua preman sedang berfoto dengan boneka panda curian. Mungkin dua bodyguard sedang melapor pada bos dengan cerita yang diedit rapi. Mungkin Bu Yetty masih curiga, dan Pak Rudi masih menikmati donat. Tapi di sini, di meja sederhana ini, hanya ada kami. Dua orang yang bertemu karena dikejar, bertahan karena tertawa, dan sekarang duduk bersama karena memilih untuk tetap bersama. "Besok kita harus cari panda baru," kata Maya. "Besok. Tapi sekarang, tambah nasi?" Dia mengangguk. Aku memanggil pelayan. Satu babak lagi dari komedi kacau kami telah berakhir. Tapi ceritanya, seperti sambal hijau di mulut Maya, masih terasa pedas dan ingin terus dicicipi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD