Tiga hari setelah perang donat di taman, hidup mulai kembali normal. Atau setidaknya, normal versi baru kami.
Normal versi baru Rendra: bangun pagi tanpa dikejar preman, sarapan tanpa harus menyamar, berangkat kerja tanpa memindai lingkungan seperti agen rahasia, tapi tetap tidak bisa berhenti memikirkan Maya.
Normal versi baru Maya: masuk kantor lewat lobi utama, bodyguard yang dulu mengejarnya kini menyapa sopan setiap pagi, bosnya lebih ramah karena terkesan dengan “kegiatan amal” di taman, meja kerjanya sekarang dihiasi gantungan kunci panda kecil, tapi tetap tidak bisa berhenti memikirkan Rendra.
Dan hari ini, Sabtu, adalah hari yang mereka tunggu. Hari belanja panda baru.
---
Maya sudah datang lebih dulu. Rendra menemukannya berdiri di depan etalase toko mainan, wajahnya berbinar seperti anak kecil yang baru saja dijanjikan es krim.
“Rendra! Lihat!”
Dia menunjuk boneka panda ukuran medium. Tidak terlalu besar seperti yang diculik preman, tapi cukup menggemaskan. Matanya bulat dan hitam mengilap, hidungnya berbentuk hati, dan tangannya bisa digerakkan ke segala arah.
“Lucu,” Rendra mengakui. “Tapi jangan yang itu.”
“Kenapa? Kurang besar?”
“Bukan.” Rendra menunjuk boneka di sebelahnya. Panda dengan sweater merah bergambar hati putih di tengahnya. “Yang ini.”
Maya menoleh, lalu tersenyum lebar. Senyum yang membuat Rendra lupa bahwa dompetnya akan menangis sebentar lagi. “Kamu milih yang ada hatinya?”
“Ya, soalnya—” Rendra menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa hangat. “Panda kita kan panda cinta.”
Maya tidak berkata apa-apa. Hanya tersenyum. Lalu dia memanggil pramuniaga dengan suara ceria. “Kami ambil yang sweater merah ya, Mbak.”
Saat membayar, Rendra memang sempat mendengar dompetnya menjerit pelan. Tapi melihat Maya memeluk boneka itu dengan bahagia, duduk di bangku panjang depan toko sambil mengutak-atik sweater merah mungilnya, dia merasa itu investasi terbaik dalam hidupnya.
“Ini panda baru kita,” kata Maya di dalam lift. Perjalanan turun ke lantai dasar terasa lebih singkat karena dia sibuk memeluk dan menatap boneka itu dari berbagai sudut. “Harus dikasih nama.”
“Pandu?” usul Rendra. “Pandita? Pandini?”
Maya menatapnya dengan tatapan yang sangat jelas artinya: serius kamu nggak bisa kasih nama?
“Bagaimana kalau Krim?”
“Krim? Itu nama donat.”
“Iya. Krim dan Panda. Jadi lengkap.”
Rendra tersenyum. “Krim. Panda Krim. Aku suka.”
Maya memeluk Panda Krim erat. Lift penuh dengan orang-orang yang sibuk dengan ponsel masing-masing, tapi mereka berdua tersenyum seperti dua remaja yang baru saja mengumumkan nama anak pertama mereka.
---
Mereka memutuskan makan siang di kafe lantai dasar. Maya meletakkan Panda Krim di kursi sebelahnya, sesekali menoleh untuk memastikan boneka itu duduk dengan nyaman. Rendra memesan carbonara, Maya memesan salad Caesar.
“Ini hari yang sempurna,” kata Maya, mengunyah selada dengan lahap. “Tidak ada kejar-kejaran, tidak ada preman, tidak ada bodyguard. Hanya kita dan panda baru.”
“Jangan dulu,” Rendra memperingatkan, menyesap es tehnya. “Setiap kali kita bilang sempurna, sesuatu pasti terjadi.”
“Ah, kamu paranoid—”
“Maya?”
Sebuah suara dari belakang. Suara laki-laki. Familiar, setidaknya untuk Maya.
Rendra melihat wajahnya berubah. Dari ceria menjadi beku. Dari santai menjadi tegang. Sendoknya berhenti di atas mangkuk salad.
Dia berbalik perlahan.
Di belakang mereka berdiri seorang pria. Tinggi, tampan dalam cara yang terlalu rapi. Kemeja putih lengan panjang dimasukkan sempurna ke celana bahan abu-abu. Jam tangan logam mengilap di pergelangan. Senyum yang terlatih—tidak terlalu lebar, tidak terlalu tipis. Pas. Seperti iklan parfum.
Mantan.
Rendra tahu itu dari reaksi Maya. Dari cara dia menegakkan punggung. Dari cara dia menarik napas panjang, seperti orang yang bersiap menerima pukulan.
“Dimas,” sapanya. Nada suaranya datar. Bukan dingin. Lebih seperti mencoba mengingat kembali kosakata bahasa asing yang sudah lama tidak dipakai.
Dimas tersenyum. Senyum yang sama—tidak terlalu lebar, tidak terlalu tipis. “Lama tidak jumpa. Kamu kelihatan... segar.”
“Terima kasih.”
Nada suara Maya adalah undangan untuk segera pergi. Tapi Dimas tidak menangkapnya. Atau pura-pura tidak menangkap.
Dia melirik Rendra. Sekejap, matanya mengamati—kemeja flanel, celana chino, sepatu kanvas. Lalu matanya beralih ke boneka panda di kursi sebelah Maya. Senyumnya melebar. Bukan senyum ramah. Senyum orang yang merasa menemukan amunisi.
“Masih suka panda, ya? Dulu kita pernah beli yang sebesar itu, ingat? Saking besarnya sampai nggak muat di mobil. Harus sewa taksi tambahan.”
Rendra bisa merasakan kekakuan Maya dari jarak setengah meja. Jari-jarinya melingkar erat di gagang sendok. Tidak menjawab.
Dimas mengulurkan tangan ke arah Rendra. Gerakannya halus, profesional. “Dimas. Mantannya Maya. Dulu kami pacaran tiga tahun.”
Rendra menjabatnya. Cepat. Singkat. “Rendra. Temannya Maya. Sekarang.”
“Teman?” Dimas mengerutkan kening seolah baru pertama kali mendengar kata itu. Lalu tersenyum lagi. “Oh, teman. I see.”
Rendra tidak suka caranya bilang i see. Tidak suka caranya memandang Maya seperti sedang membaca buku lama yang sudah dia hafal isinya. Tidak suka caranya berdiri di sana dengan keyakinan penuh bahwa dia berhak berada di ruang ini.
Dimas mengeluarkan ponsel dari saku celana. Gerakannya lambat, sengaja. “Maya, kita harus ketemu sometime. Banyak yang perlu dibicarakan. Soal... waktu dulu. Ada yang belum selesai menurutku.”
Maya akhirnya bersuara. Suaranya dingin, tapi tidak pecah. “Menurutku semua sudah selesai, Dim. Tiga tahun lalu sudah selesai.”
“Kamu tahu maksudku bukan itu.”
Dia masih tersenyum. Rendra ingin menghapus senyum itu dari wajahnya. Tapi dia diam. Ini bukan waktunya.
“Aku kasih kabar nanti, ya.”
Dimas melambai kecil. Lambaian yang sopan, terkendali. Tidak ada kesan putus asa. Tidak ada kesan marah. Hanya keyakinan penuh bahwa Maya akan menghubunginya kembali. Bahwa ini hanya masalah waktu.
Dia pergi. Wangi parfumnya—sesuatu yang mahal, maskulin, tidak personal—masih tertinggal beberapa detik sebelum akhirnya lenyap ditelan aroma kopi dan gorengan dari dapur kafe.
Keheningan menggelinding di meja mereka. Berat. Lengket.
Carbonara Rendra sudah dingin. Minyaknya mengeras di pinggiran piring. Salad Maya tidak tersentuh. Daun seladanya mulai layu. Panda Krim diam di kursi, sweater merahnya terlihat terlalu ceria untuk suasana ini.
“He.” Rendra memecah keheningan. Suaranya pelan. “Kamu nggak apa-apa?”
Maya menghela napas. Panjang. Dalam. Seperti orang yang baru menahan napas selama tiga tahun.
“Maaf. Dia... tidak seharusnya muncul hari ini.”
“Siapa dia?”
Diam. Lalu Maya mulai bercerita.
Suaranya pelan, matanya menatap salad yang tidak lagi menarik. Kadang-kadang jarinya memainkan ujung serbet kertas, melipat dan membukanya lagi. Sesekali dia berhenti, seperti memastikan bahwa Rendra masih di sana, masih mendengarkan.
“Dimas. Pacarku waktu kuliah sampai awal kerja. Kami tiga tahun.”
Rendra diam. Membiarkan kata-kata itu mengalir.
“Kupikir dia... ya, kupikir dialah orangnya. Kami sudah bicara soal masa depan. Rumah seperti apa yang kami mau. Mau punya anak berapa. Nama anak laki-laki kalau nanti lahir di bulan Juni. Semua detail kecil yang kupikir berarti.”
Dia tertawa kecil. Tidak lucu.
“Ternyata dia berselingkuh dengan teman sekantorku. Selama setahun. Aku tahu dari orang lain. Saat kuhadapi, dia malah bilang aku terlalu sibuk dengan karier. Terlalu fokus pada diri sendiri. Dia bilang aku membuatnya kesepian.”
Tangannya meremas serbet kertas. Kuku jarinya memutih.
“Dan yang paling menyakitkan? Aku hampir percaya itu. Aku pikir memang salahku. Mungkin aku terlalu ambisius. Mungkin aku lupa meluangkan waktu. Mungkin aku bukan pacar yang baik. Butuh setahun lebih untuk sadar bahwa itu bukan aku yang salah.”
Dia mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak ada yang jatuh.
“Sekarang dia datang lagi. Bilang ‘ada yang belum selesai’. Mungkin dia bosan dengan pacar barunya. Atau mungkin dia cuma ingin memastikan aku masih menderita karenanya.”
Dia tertawa pahit.
“Ironis, ya. Hari ini aku benar-benar bahagia. Dan dia datang hanya untuk mengingatkan aku pada masa lalu yang ingin kulupakan.”
Rendra meletakkan sendoknya. Suaranya mengenai piring. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat Maya mengangkat wajah.
“Maya.”
Dia menunggu.
“Boleh aku ngomong sesuatu?”
Maya mengangguk.
“Aku tidak kenal Dimas. Aku tidak tahu siapa dia dulu atau sekarang. Tapi aku lihat reaksimu saat dia datang. Aku lihat bagaimana kamu langsung tegang. Langsung memasang tameng.”
Rendra berhenti. Memilih kata-kata yang tidak akan melukai.
“Dan aku mau kamu tahu satu hal. Dia yang salah. Bukan kamu. Waktu tiga tahun lalu, dan sekarang juga.”
Maya menatapnya. Kaca-kaca di matanya mulai membentuk genangan di sudut.
“Aku tidak tahu hubungan kalian dulu seperti apa. Tapi aku lihat kamu sekarang. Wanita yang kariernya bagus. Yang peduli sama orang lain. Yang bisa merencanakan operasi militer palsu pakai donat dan panda, dan entah bagaimana itu berhasil.”
Rendra tersenyum kecil.
“Kamu tidak terlalu sibuk. Kamu tidak egois. Kamu hanya tidak bersama orang yang tepat. Dan itu bukan salahmu.”
Diam. Meja mereka sunyi, tapi di sekeliling mereka kafe tetap ramai. Orang-orang datang dan pergi, memesan kopi, tertawa dengan teman-teman mereka. Dunia terus berputar, tidak tahu bahwa di sudut kafe ini, seseorang sedang menata kembali hatinya yang pernah pecah.
Maya tersenyum. Senyum kecil yang getir tapi hangat. Seperti matahari setelah hujan reda.
“Kamu selalu bisa membuatku merasa lebih baik, ya.”
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Kamu ada di sini. Itu sudah cukup.”
---
Malam harinya, Maya mengajak Rendra ke apartemennya.
Bukan untuk apa-apa, katanya. Hanya ingin ditemani. Hari ini terasa berat.
Apartemen Maya kecil tapi tertata rapi. Sofa abu-abu dengan dua bantal warna pastel. Meja kayu bundar dengan vas berisi bunga matahari plastik. Rak buku penuh dengan novel dan beberapa tanaman hias dalam pot mungil. Di dinding, ada bingkai foto hitam putih—Maya bersama teman-temannya di pantai, Maya dan seorang wanita paruh baya yang mirip dengannya, Maya dengan toga di hari wisuda.
Tidak ada foto Dimas. Tentu saja tidak.
Maya meletakkan Panda Krim di sofa, di antara mereka berdua. Boneka itu duduk tegak dengan sweater merahnya, seperti pengawal kecil yang setia.
“Film?” tanya Maya, mengambil remote.
“Apa saja.”
Dia memilih film romantis komedi yang sudah Rendra tonton tiga kali. Tapi tidak masalah. Matanya tidak benar-benar ke layar.
Sesekali Maya melirik ponselnya. Diletakkan di meja, lalu diambil lagi. Diletakkan di pangkuan, lalu di sofa. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan.
Rendra tahu dia sedang menunggu sesuatu. Atau takut menerima sesuatu.
Setelah setengah jam, Maya mematikan TV. Suaranya hilang, meninggalkan keheningan yang anehnya nyaman.
“Aku harus bilang sesuatu,” katanya.
Rendra menunggu.
“Waktu kita di hotel dulu...”
Dia berhenti. Jarinya sibuk memilin ujung baju Panda Krim.
“Aku senang. Senang banget. Bukan karena kita hampir melakukan sesuatu. Tapi karena kita gagal melakukannya. Dan kita malah tertawa.”
Dia tertawa kecil, mengingatnya.
“Itu... belum pernah aku alami sebelumnya.”
Dia memeluk Panda Krim erat. Boneka itu tenggelam dalam pelukannya, hanya kepala bundar dan telinga hitamnya yang muncul.
“Dulu dengan Dimas, semuanya harus sempurna. Harus sesuai rencana. Kalau ada yang salah, dia akan marah. Diam-diam, tapi aku tahu dia kecewa. Jadinya aku selalu tegang. Takut salah. Lama-lama hubungan itu terasa seperti pekerjaan. Bukan... ini.”
Dia menghela napas.
“Dan bersamamu, aku nggak pernah tegang. Maksunya, iya tegang sih. Jantungku berdebar terus. Tapi bukan tegang takut salah. Lebih ke... excited. Seperti mau lompat dari pesawat, tapi tahu parasutnya berfungsi.”
Dia menatap Rendra. Matanya jujur. Tidak ada topeng, tidak ada tameng.
“Aku nggak tahu ini akan ke mana. Aku nggak tahu kita ini apa. Tapi aku nggak mau memikirkan itu sekarang. Aku cuma mau menikmati ini. Menikmati kamu.”
Rendra meraih tangannya. Jari-jarinya dingin. Dia menggenggamnya erat.
“Aku juga.”
Suaranya serak. Lebih serak dari yang dia inginkan.
“Aku nggak tahu apa ini. Tapi aku tahu aku seneng setiap kali bareng kamu. Bahkan saat kita dikejar preman, saat donatku hancur, saat bajuku jadi korban sambal. Aku seneng.”
Maya tersenyum. Senyum yang tulus. Yang sampai ke matanya.
Dia mendekat. Perlahan. Memberi waktu bagi Rendra untuk mundur jika dia mau.
Rendra tidak mundur.
Ciuman pertama malam itu pelan. Hanya bibir bertemu bibir, tanpa tergesa-gesa. Seperti orang yang baru belajar menikmati anggur—diseruput kecil, bukan diteguk.
Tangannya meraba dadanya. Rendra bisa merasakan detak jantungnya melalui lapisan kemeja. Cepat. Tidak teratur. Tapi tidak karena takut.
Ciuman kedua lebih dalam. Lebih lama. Tangannya pindah ke tengkuk Rendra, menariknya lebih dekat. Rendra membalas dengan tangannya di pinggangnya, menarik tubuhnya mendekat.
Panda Krim jatuh ke lantai. Buk. Tidak ada yang peduli.
Dia melepas kemejanya. Tombol atas terbuka. Kedua. Ketiga. Maya membantu, jari-jarinya gemetar tapi tidak canggung. Bukan canggung takut salah. Canggung karena terburu-buru ingin merasakan lebih.
Rendra meraih resleting di punggung dress-nya. Dia menariknya pelan, turun perlahan. Resleting itu meluncur lancar tanpa perlawanan.
Maya tertawa kecil di sela ciuman. “Lancar.”
“Aku sudah latihan,” bisik Rendra. “Visualisasi. Di kamar kos.”
Dia tertawa. Lalu menciumnya lagi.
Dress biru itu melorot perlahan dari bahunya. Rendra mencium lehernya—lembut, hangat. Maya menarik napas, lalu menghembuskannya pelan. Tangannya meraba punggung Rendra, merasakan otot-otot yang menegang di bawah sentuhannya.
Malam di luar apartemen mungkin gelap dan dingin. Tapi di dalam, di sofa abu-abu dengan dua bantal warna pastel, dengan Panda Krim tergeletak di lantai dan film romantis komedi yang sudah dilupakan, ada kehangatan yang perlahan membangun rumah.
Tidak ada rencana. Tidak ada target. Tidak ada yang perlu dicapai.
Hanya dua orang yang saling menemukan di tengah kekacauan, dan kini belajar untuk tidak takut jatuh.