Pagi Yang Membingungkan

2156 Words
Matahari masuk lewat celah gorden yang tidak rapat. Garis-garis emas melukis lantai kayu apartemen Maya, merayap pelan ke kaki sofa, ke tumpukan selimut yang jatuh, ke dua pasang sepatu yang tergeletak tidak beraturan di depan pintu. Rendra membuka matanya. Langit-langit apartemen Maya tidak asing lagi. Dia sudah beberapa kali ke sini, tapi tidak pernah begini. Tidak pernah bangun tidur di sini. Tidak pernah merasakan linen sofa yang lembut di bawah punggung telanjangnya, tidak pernah mendengar suara kicau burung dari jendela yang sedikit terbuka, tidak pernah mencium aroma kopi yang seharusnya belum dibuat karena Maya masih— Maya masih di sampingnya. Dia tidur meringkuk di sisi sofa yang sempit, kepalanya bersandar di bahu Rendra, rambutnya berantakan dan sebagian menutupi wajah. Napasnya pelan dan teratur. Satu tangannya melingkar di perut Rendra, yang lain menggenggam ujung selimut yang sudah setengah jatuh ke lantai. Rendra tidak berani bergerak. Dia hanya memandangi langit-langit, mencoba mencerna fakta bahwa dia—Rendra, pemilik kamar kos 3x3 meter dengan pengharum ruangan murahan dan koleksi celana dalam kartun—berhasil bangun pagi di sofa apartemen seorang wanita yang seminggu lalu masih asing baginya, dengan wanita itu tidur nyenyak di pelukannya. Bagaimana ini bisa terjadi? Dia mencoba mengingat urutan kejadian semalam. Film. Ciuman. Panda Krim jatuh. Resleting lancar. Lalu— Tiba-tiba napas di bahunya berubah ritme. “Kamu udah bangun dari kapan?” Suara Maya masih serak, berat dengan sisa-sisa mimpi. Dia tidak membuka mata. “Baru,” bisik Rendra. “Beberapa menit.” “Kenapa nggak gerak?” “Nggak mau ganggu.” Diam. Lalu Maya tersenyum—Rendra tahu karena dia bisa merasakan pipinya yang tertekuk di bahunya. “Kamu aneh.” “Iya.” Dia membuka matanya perlahan. Cahaya matahari membuatnya menyipit, tapi dia tidak beranjak. Matanya menatap Rendra dari jarak sangat dekat. Warna cokelatnya terlihat lebih terang di pagi hari. “Selamat pagi,” katanya. “Selamat pagi.” Mereka saling memandang. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Hanya napas yang perlahan menyelaraskan ritme, dan detak jantung yang mulai terasa di d**a masing-masing. Lalu Maya tertawa kecil. “Ini aneh.” “Aneh kenapa?” “Kita bangun pagi bareng. Di sofaku. Dengan...” Dia melirik ke bawah selimut, lalu kembali ke wajah Rendra. Wajahnya memerah. “Dengan pakaian yang... tidak lengkap.” Rendra melihat ke bawah. Celananya masih ada. Syukurlah. Tapi kemejanya sudah tidak tahu di mana. Maya masih mengenali dress birunya, tapi tali sebelah kiri melorot, dan sebagian besar punggungnya terbuka. “Ini salahku,” kata Rendra. “Aku harusnya pulang.” “Kenapa?” “Karena... ini terlalu cepat? Atau kita nggak rencanain? Atau aku nggak bawa sikat gigi?” Maya tertawa lagi. Kali ini lebih keras. “Kamu lucu.” “Aku serius.” “Aku juga.” Dia mengangkat kepalanya dari bahu Rendra, lalu duduk perlahan. Selimut jatuh, memperlihatkan atasan tipis yang dia kenakan di balik dress—untungnya masih ada. “Tapi aku nggak menyesal.” Rendra menatapnya. “Aku nggak menyesal kamu di sini,” lanjut Maya. “Aku nggak menyesal semalam terjadi. Aku cuma...” Dia menggaruk rambutnya yang semakin berantakan. “Aku nggak tahu harus ngapain sekarang. Harusnya aku buat kopi. Tapi aku nggak mau ninggalin kamu.” “Kamu buat kopi. Aku di sini. Nggak ke mana-mana.” Maya tersenyum. Lalu dia mengecup bibir Rendra—cepat, ringan, seperti tanda tangan di akhir surat. “Oke.” Dia bangkit dari sofa. Gerakannya kaku—mungkin karena semalaman tidur di posisi yang tidak ergonomis, mungkin karena dia sadar Rendra melihatnya dari belakang. Dia merapikan rambutnya dengan jari, lalu berjalan ke dapur dengan dress yang masih setengah terbuka. Rendra memalingkan muka. Sopan santun, Rendra. Sopan santun. Tapi matanya tetap mencuri pandang. --- “Krim atau gula?” Suara Maya dari dapur terdengar santai. Rendra sudah duduk di sofa, mencoba merapikan diri dengan selimut yang dia lilitkan di pinggang. Panda Krim sudah dikembalikan ke kursi—dia memungutnya dari lantai tadi pagi, dan boneka itu sekarang duduk manis dengan sweater merah yang sedikit miring. “Hitam aja.” “Kamu nggak suka manis?” “Suka. Tapi kopi hitam dulu. Biar sadar.” Maya muncul dari dapur dengan dua cangkir. Rambutnya sudah diikat asal dengan karet gelang, beberapa helai terlepas dan membingkai wajahnya. Dress biru sudah dirapikan, tali kembalinya ke posisi semula. Dia duduk di samping Rendra, menyodorkan satu cangkir. “Ini kopi termahal yang aku punya. Dari temen yang baru balik dari Italia. Katanya bagus. Aku sih nggak ngerti.” Rendra menyesap. “Pahit.” “Iya. Tapi katanya complex.” “Complex atau pahit?” Maya menyesap kopinya. Wajahnya mengernyit. “Pahit.” Mereka tertawa bersama. --- Sarapan adalah urusan yang lebih rumit. “Aku cuma punya telur. Dan roti tawar yang mungkin udah kedaluwarsa dua hari lalu.” Maya membuka kulkas, memeriksa isinya dengan ekspresi bersalah. “Dan saus sambal. Dan acar. Dan... ini apel? Udah keriput.” “Telur aja cukup.” “Tapi aku harus masak.” “Kamu bisa masak?” Maya menoleh. Tatapannya tajam. “Itu pertanyaan menjebak.” “Pertanyaan biasa.” “Kalau aku bilang bisa, nanti ekspektasimu tinggi. Lalu kamu kecewa. Kalau aku bilang nggak bisa, kamu akan menawariku masak, dan aku jadi keliatan tidak mandiri.” Rendra mengangkat kedua tangannya. “Aku cuma nanya.” Maya mendengus. “Aku bisa masak. Sedikit. Telur dadar. Kadang gosong.” “Aku masak aja.” “Tapi ini dapurku.” “Pinjam dulu.” Maya memandanginya dengan curiga. “Kamu yakin?” “Aku punya pengalaman. Setiap Minggu pagi aku masak mie inston di kosan.” “Mie inston bukan masak. Itu merebus.” “Tetep pengalaman.” Maya menyerah. Dia menyerahkan wajan dan spatula dengan sikap dramatis, seperti kapten kapal yang menyerahkan komando di tengah badai. “Ini dapurku. Jangan rusak.” Rendra berdiri. Selimut yang melilit di pinggangnya hampir jatuh. Dia menahannya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang wajan. “Aku butuh celana.” Maya menatapnya. Lalu matanya beralih ke selimut. Lalu kembali ke wajahnya. Pipinya merona. “Oke. Aku ambilkan.” Dia berjalan ke kamar tidur, meninggalkan Rendra di dapur dengan wajan dan telur dan perasaan aneh yang tidak bisa dia jelaskan. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan sepasang celana olahraga abu-abu. “Ini punyaku. Kebesaran buat aku. Mungkin muat.” Rendra menerimanya. Celana itu memang kebesaran untuk Maya, tapi untuknya pas—sedikit longgar di pinggang, tapi cukup layak. Dia memakainya di balik selimut dengan gerakan canggung yang membuat Maya terkikik. “Jangan ketawa.” “Maaf. Kamu lucu.” “Udah. Sekarang masak.” --- Proses memasak berlangsung dalam keheningan yang anehnya intim. Rendra memecahkan telur di pinggir wajan. Satu kuningnya pecah sebelum waktunya. Maya mengambil tisu dan membersihkan cangkang yang jatuh di meja. Rendra mengocok telur dengan garpu. Maya menyiapkan piring. Rendra menuang telur ke wajan yang sudah panas. Maya mencium bau minyak. “Kebanyakan minyak,” katanya. “Harus banyak biar nggak lengket.” “Tapi ini kayak goreng rendang.” “Telur dadar versi rendang. Inovasi.” Maya tertawa. Rendra tersenyum puas. Telur itu akhirnya matang—sedikit gosong di tepi, sedikit pucat di tengah, tapi secara keseluruhan masih bisa dikenali sebagai telur dadar. Rendra membaginya menjadi dua, meletakkan masing-masing di piring yang sudah disiapkan Maya. “Roti?” tanya Maya. “Roti yang udah kedaluwarsa?” “Kedaluwarsa dua hari. Masih aman. Mungkin.” Maya mengeluarkan roti tawar dari lemari. Dia membukanya, mengendus, lalu mengernyit. “Baunya... aneh.” “Aneh bagaimana?” “Kayak roti yang nyadar kalo dia udah kedaluwarsa.” Rendra mengambil roti itu, memeriksanya sebentar, lalu mengambil keputusan. “Panggang aja. Nanti baunya hilang.” Dia memasukkan dua lembar roti ke pemanggang. Maya berdiri di sampingnya, menunggu. Jarak mereka kurang dari setengah meter. Cukup dekat untuk mencium aroma sampo di rambutnya—bukan sampo tadi pagi, tapi sampo kemarin yang masih tersisa. “Rendra.” “Hm?” “Ini pertama kalinya ada cowok masakin aku sarapan.” Rendra menoleh. Maya menatap pemanggang roti dengan serius, seperti roti itu adalah objek paling menarik di dunia. “Serius?” “Iya. Dulu dengan Dimas, aku yang selalu masak. Atau kami pesan. Dia nggak pernah... ya, nggak pernah kayak gini.” Rendra diam. Roti di pemanggang mulai kecokelatan. “Mungkin ini nggak penting buat orang lain,” lanjut Maya. “Masak telur, panggang roti. Hal biasa. Tapi buat aku...” Dia berhenti. Mencari kata. “Ini kayak... kamu mau repot-repot. Buat aku. Hal kecil. Tapi kamu lakuin.” Roti itu melompat dari pemanggang. Maya mengambilnya, meletakkan di piring. “Makasih,” katanya pelan. Rendra mengambil piring itu. “Sama-sama.” Mereka sarapan di meja kecil. Roti hangat dengan telur dadar setengah gosong dan kopi pahit yang terlalu complex. Panda Krim duduk di kursi ketiga, sweater merahnya sudah dirapikan, mengawasi mereka dengan mata manik-manik hitam. “Ini enak,” kata Maya. “Ini gosong.” “Tapi enak.” Dia makan dengan lahap. Rendra memperhatikannya, lupa dengan telurnya sendiri. --- Setelah sarapan, mereka duduk di sofa lagi. Piring sudah dicuci, kopi sudah habis, dan kesadaran perlahan kembali. Hari Sabtu. Tidak ada kerja. Tidak ada kejar-kejaran. Tidak ada rencana. “Kita ngapain sekarang?” tanya Maya. Rendra berpikir. “Nonton film?” “Udah nonton tadi malam. Nggak ada yang nonton.” “Makan siang?” “Jam sembilan pagi.” “Jalan-jalan?” Maya melirik ke luar jendela. Langit cerah. “Mungkin. Tapi—” Dia tidak melanjutkan. Rendra tahu. Dia juga merasakannya. Ini masih baru. Masih canggung. Mereka belum tahu cara menjadi “kita” di luar situasi darurat. Di luar kejar-kejaran, di luar penyamaran, di luar hotel dan mie instan dan panda curian. “Atau,” kata Rendra pelan, “kita nggak ngapa-ngapain.” Maya menoleh. “Maksudku, kita di sini aja. Ngobrol. Atau diem. Atau...” Dia menggaruk tengkuknya. “Aku nggak tahu. Tapi aku nggak keberatan.” Maya tersenyum. “Aku juga.” Mereka duduk diam. Tidak ada TV, tidak ada musik. Hanya suara AC yang berputar pelan dan suara lalu lintas dari jauh. Kadang Maya menyandarkan kepalanya di bahu Rendra. Kadang Rendra menggenggam tangannya. Kadang mereka tidak melakukan apa-apa selain bernapas bersamaan. “Rendra.” “Hm?” “Semalam itu... penting buat aku.” Rendra menunggu. “Bukan cuma karena fisiknya. Tapi karena setelah sekian lama, aku bisa merasa aman dengan seseorang. Aman buat nggak sempurna. Aman buat canggung. Aman buat nggak tahu harus ngapain.” Dia menunduk. “Dan itu menakutkan.” “Menakutkan?” “Iya. Karena kalau aku udah merasa aman, aku takut kehilangan.” Rendra tidak langsung menjawab. Dia memegang tangan Maya, merasakan jari-jari yang dingin dan sedikit gemetar. “Aku juga takut,” katanya akhirnya. “Aku takut ini cuma kebetulan. Takut suatu hari kamu sadar aku cuma orang biasa yang kamar kosnya berantakan dan koleksi celana dalamnya kacau. Tapi—” Dia berhenti. “Tapi?” “Tapi aku lebih takut kalau nggak coba.” Maya menatapnya. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak sedih. Bukan air mata yang ingin jatuh, tapi yang ingin dirayakan. “Kita payah, ya,” bisiknya. “Payah banget.” “Nggak bisa romantis kayak di film.” “Kita udah coba. Gagal mulu.” Maya tertawa. Air mata yang tadi mengambang di sudut matanya akhirnya jatuh, tapi dia masih tersenyum. Rendra mengusapnya dengan ibu jari. “Tapi aku suka,” kata Maya. “Cara kita.” “Aku juga.” --- Sore harinya, Rendra pulang. Bukan karena dia mau pergi, tapi karena dia sadar dia sudah menghabiskan hampir 24 jam di apartemen Maya dan celana olahraga abu-abu itu mulai terasa terlalu nyaman. Di depan pintu, Maya memeluknya. Lama. “Besok ketemu?” tanyanya. “Besok.” “Janji?” “Janji.” Maya melepaskan pelukannya. Lalu dia berdiri di ambang pintu, menonton Rendra berjalan ke lift. Rambutnya masih diikat asal, dress biru sudah diganti dengan kaus longgar, dan kakinya tidak beralas. Dia melambai. Rendra melambai balik. Pintu lift tertutup. Di dalam lift, Rendra berdiri sendiri, menatap bayangannya di cermin. Kemejanya kusut. Celana olahraga abu-abu yang terlalu besar masih melingkar di pinggangnya. Rambutnya acak-acakan. Matanya sedikit sembab. Dia tersenyum seperti orang bodoh. Ini baru hari ketujuh. Dia mengeluarkan ponsel. Mengetik pesan cepat. Rendra (17.23): Sampai kosan nanti kabarin. Rendra (17.23): Panda Krim jangan lupa diselimutin. Rendra (17.24): Makasih buat hari ini. Balasan datang beberapa detik kemudian. Maya (17.25): Iya, ibu panda. Maya (17.25): Makasih juga. Maya (17.26): Kamu bawa pulang celanaku. Itu celana favorit. Rendra melihat celana abu-abu di pinggangnya. Rendra (17.27): Oops. Maya (17.27): Simpen dulu. Buat jaminan. Maya (17.28): Kayak baju Hawaii kamu. Rendra (17.28): Deal. Dia menyimpan ponsel, masih tersenyum. Lift terbuka di lobi. Dunia menunggu di luar—dengan preman yang mungkin masih berkeliaran, bos yang mungkin masih galak, dan masa lalu yang mungkin belum selesai. Tapi itu urusan nanti. Sekarang, dia hanya perlu pulang, mencuci muka, dan memikirkan alasan untuk bertemu Maya lagi besok. Tidak sulit, sebenarnya. Dia masih punya celana abu-abu yang harus dikembalikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD