Satu minggu berlalu dalam ritme yang anehnya menyenangkan.
Pagi: Rendra bangun, mandi, memilih baju dengan sedikit lebih hati-hati dari biasanya. Sarapan mie instan sambil membalas pesan Maya. Berangkat kerja dengan langkah yang tidak terburu-buru.
Siang: Makan siang sendiri di kantin sambil chat-an. Kadang Maya mengirim foto makanannya—salad dengan dressing terpisah. Rendra membalas dengan foto nasi padangnya yang penuh sambal. Maya membalas dengan emoji jijik.
Sore: Pulang kerja, saling bertanya apakah lelah. Kadang bertemu untuk makan malam singkat. Kadang hanya video call sebentar sebelum tidur. Panda Krim selalu muncul di layar, duduk di pangkuan Maya dengan setia.
Malam: Tidur sendiri di kamar masing-masing, tapi dengan ponsel di bantal dan senyum yang tidak mau hilang.
Ini bukan hubungan yang dramatis. Tidak ada kejar-kejaran, tidak ada penyamaran, tidak ada resleting macet. Hanya dua orang yang sedang belajar menjadi “kita” di antara jeda kesibukan.
Rendra mulai terbiasa dengan nama “Maya” yang muncul di notifikasi ponselnya. Maya mulai terbiasa dengan sapaan “selamat pagi” yang selalu datang lebih dulu dari Rendra.
Semuanya berjalan lancar.
Dan seperti biasa, kelancaran selalu mencurigakan.
---
Kamis, 19.47.
Rendra sedang dalam perjalanan pulang dari kantor ketika ponselnya bergetar. Bukan notifikasi biasa. Getaran panjang, panggilan masuk.
Maya.
Dia menjawab sambil menepi ke pinggir trotoar.
“Halo?”
“Rendra.”
Suara Maya berbeda. Tidak seperti biasanya. Tidak ada nada bercanda, tidak ada sapaan ringan. Hanya namanya, diucapkan dengan berat.
“Ada apa?”
Diam. Lalu napas panjang.
“Dimas menghubungiku.”
Rendra berhenti di tengah trotoar. Seorang bapak-bapak dengan tas belanja hampir menabraknya, mendelik, lalu lewat sambil menggerutu. Rendra tidak peduli.
“Dia hubungi kamu buat apa?”
“Minta ketemu. Katanya penting.” Dia berhenti. “Dia bilang dia mau minta maaf. Mau jelasin semuanya. Katanya tiga tahun ini dia nyesel dan nggak bisa move on.”
Rendra diam.
“Aku bilang aku akan pikir dulu.”
Dia tidak tahu harus berkata apa. Bagian dari dirinya ingin bilang jangan pergi. Bagian lain ingin bilang terserah kamu. Bagian yang paling jujur hanya diam, karena takut salah bicara.
“Rendra?”
“Iya. Aku dengar.”
“Kamu... marah?”
“Nggak.” Dia menghela napas. “Nggak marah. Cuma...”
“Cuma?”
“Cuma nggak tahu harus ngomong apa.” Dia duduk di tangga pertokoan terdekat. Orang-orang berlalu lalang, tidak peduli dengan laki-laki berkemeja kusut yang sedang berusaha menyusun kata. “Ini masa lalumu. Bukan urusanku.”
“Tapi ini jadi urusan kita kalau aku putuskan sesuatu.”
Rendra diam. Dia ingin bilang aku nggak mau kamu ketemu dia. Tapi itu terdengar posesif. Insecure. Cemburu buta. Dia benci semua kata itu.
“Kamu mau ketemu dia?” tanyanya akhirnya.
Diam di seberang. Panjang.
“Aku nggak tahu.”
---
Jumat, 08.33.
Rendra duduk di mejanya dengan laptop terbuka dan spreadsheet yang tidak pernah bergulir. Tiga puluh menit terakhir dia hanya menatap kolom angka tanpa benar-benar melihat.
Ponselnya diam. Tidak ada notifikasi baru.
Dia sudah membaca chat terakhir dengan Maya—dari tadi malam—berulang kali.
Maya (22.14): Aku ketemu dia besok. Sore. Di kafe dekat kantornya.
Maya (22.15): Cuma dengerin dulu. Janji.
Rendra (22.16): Oke.
Maya (22.17): Marah?
Rendra (22.18): Nggak. Capek aja.
Maya (22.19): Aku kabarin abis itu. Janji.
Rendra (22.20): Iya. Selamat malem.
Maya (22.21): Selamat malem.
Itu saja. Tidak ada emoji. Tidak ada panda. Tidak ada “aku sayang kamu” karena mereka memang belum pernah mengucapkannya.
Rendra meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
“Rendra.”
Dia menoleh. Bu Yetty berdiri di samping mejanya, tangan bertumpu di pinggul, alis terangkat tinggi.
“Spreadsheet itu sudah kamu tatap selama setengah jam. Apa isinya berubah jadi lukisan Monalisa?”
“Maaf, Bu. Saya lagi...”
“Lagi apa?”
Dia tidak bisa bilang lagi galau karena pacar ketemu mantan.
“Lagi kurang fokus.”
Bu Yetty memandanginya dengan tatapan tajam yang biasa digunakan untuk menginterogasi vendor yang telat kirim barang. Lalu dia menarik kursi kosong di samping Rendra dan duduk.
“Cerita.”
“Bu?”
“Kamu anak baik. Kerja keras. Tapi seminggu ini kamu kayak orang lagi jatuh cinta. Atau lagi patah hati. Mana?”
Rendra membuka mulut. Menutup lagi. Membuka lagi.
“Jatuh cinta, Bu. Tapi mungkin sebentar lagi patah hati.”
Bu Yetty menghela napas. Bukan napas kesal—napas yang lebih mirip... pengertian? Tidak mungkin. Bu Yetty dikenal di kantor sebagai robot berkepala dua yang tidak punya perasaan.
“Dia selingkuh?”
“Bukan. Dia ketemu mantannya.”
“Mantan yang mana?”
“Yang pacaran tiga tahun.”
Bu Yetty mendengus. “Mantan tiga tahun datang lagi. Biasanya dua kemungkinan: dia nggak dapet yang lebih baik, atau dia butuh sesuatu.” Dia menatap Rendra. “Kamu tahu pacarmu mau pilih yang mana?”
Rendra menggeleng.
“Dia sendiri yang harus jawab. Bukan kamu.” Bu Yetty berdiri, merapikan blazernya. “Tapi kalau dia pilih mantan, itu bukan kehilangan. Itu selamat.”
Dia berbalik, lalu berhenti.
“Oh ya. Laporan keuangan Q2 harus selesai hari Senin. Jangan lupa.”
Rendra menatap punggung Bu Yetty yang menjauh. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun bekerja di sini, dia merasa bosnya tidak sepenuhnya mengerikan.
---
Jumat, 17.56.
Rendra berdiri di halte bus, menatap layar ponsel yang kosong. Maya bilang dia akan kabarin setelah pertemuan dengan Dimas. Itu sudah dua jam lalu.
Dia mencoba tidak berpikir yang aneh-aneh. Mungkin mereka masih ngobrol. Mungkin Dimas banyak bicara. Mungkin Maya butuh waktu mencerna.
Atau mungkin—
Ponselnya bergetar.
Maya (17.57): Aku udah selesai.
Maya (17.57): Bisa telpon?
Rendra menekan tombol panggil sebelum sempat berpikir.
“Halo.”
“Halo.” Suara Maya terdengar lelah. Bukan lelah fisik—lelah yang lebih dalam. “Maaf baru kabar. Obrolannya... panjang.”
“Nggak apa-apa.” Dia menelan ludah. “Jadi... gimana?”
Diam.
“Dia minta maaf.”
Rendra menunggu.
“Dia bilang selama tiga tahun ini dia sadar udah bikin kesalahan besar. Katanya hubungan baru nggak ada yang bisa ngalahin aku. Katanya dia nyesel dan mau balikan.”
Dia berhenti. Suaranya bergetar sedikit.
“Dia nangis, Rendra. Laki-laki yang dulu dingin dan perfect itu nangis di depanku.”
Rendra memegang ponsel lebih erat.
“Terus?” Suaranya serak. Tidak sengaja.
“Terus aku diam. Aku lihat dia nangis. Dan aku ngerasa... nggak ada apa-apa.”
Napas Maya terdengar jelas di seberang.
“Dulu aku bermimpi dia akan balik dan minta maaf. Aku pikir kalau itu terjadi, aku akan menangis bahagia. Atau marah. Atau sesuatu. Tapi tadi, waktu dia duduk di depanku dan nangis, aku cuma ngerasa... hampa.”
Rendra tidak berani bernapas.
“Bukan hampa yang sakit. Hampa yang kosong. Seperti hubungan itu sudah benar-benar mati, dan yang tersisa cuma kenangan yang nggak berarti lagi.” Dia berhenti. “Dan aku sadar. Ternyata aku nggak cinta dia lagi.”
Angin sore Jakarta berhembus, membawa debu dan polusi. Tapi Rendra merasa udaranya tiba-tiba lebih ringan.
“Aku bilang ke dia: ‘Maaf, Dim. Tapi aku udah nggak cinta kamu. Mungkin sejak lama. Mungkin sejak kamu memilih dia.’ Dan dia nangis lebih keras.”
“Maya...”
“Terus dia tanya, ‘Ada orang lain?’”
Diam.
“Aku bilang iya.”
Rendra menutup matanya.
“Dia tanya siapa. Aku bilang namamu.”
Dia tidak bisa berkata apa-apa. Ribuan kata mengambang di kepalanya, tapi tidak ada satu pun yang berani keluar.
“Aku bilang, ‘Dia nggak perfect. Dia canggung, kikuk, kadang ngomong nggak jelas, koleksi bajunya berantakan, dan dia pernah pakai celana dalam kartun ke kantor.’”
Rendra hampir tersedak. “Kamu cerita soal celana dalam kartun?”
Maya tertawa. Tawa pertama yang dia dengar sejak telepon dimulai. “Iya. Karena itu yang membuatnya nyata. Bukan perfect, tapi nyata.”
“Terus dia bilang apa?”
“Dia diam. Lalu bilang, ‘Semoga kamu bahagia.’ Aku bilang, ‘Iya. Aku bahagia.’”
Diam panjang.
“Rendra.”
“Iya.”
“Aku bahagia.”
Rendra berdiri di halte bus yang ramai. Orang-orang datang dan pergi, naik dan turun kendaraan. Iklan sabun cuci piring di baliho menatapnya dengan tatapan kosong. Tapi dia tidak melihat apa-apa selain layar ponsel dan suara di seberang.
“Aku juga bahagia,” katanya.
“Kamu mau ketemu?”
“Mau.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
---
Jumat, 19.13.
Rendra tiba di apartemen Maya dengan napas tersengal. Dia hampir berlari dari halte, naik taksi online, lalu berlari lagi dari lobi ke lift. Celananya—bukan celana olahraga abu-abu, punyanya sendiri—sedikit kebesaran di pinggang karena ikat pinggangnya lupa dipasang.
Maya membuka pintu.
Rambutnya diikat asal, seperti biasa. Kaus longgar dengan gambar panda lusuh. Tidak ada riasan. Matanya sembab—mungkin habis nangis, mungkin habis capek.
Dia tersenyum. Senyum yang lelah, lega, dan hangat.
“Kamu lari?”
“Iya.”
“Celana kamu melorot.”
Rendra menunduk. Iya, celananya memang sedikit melorot. Dia menariknya ke atas dengan canggung.
“Maaf. Buru-buru.”
Maya tertawa. Lalu dia menarik Rendra masuk, menutup pintu, dan memeluknya erat.
Pelukan ini berbeda dari yang sebelumnya. Bukan pelukan darurat di tengah kejar-kejaran. Bukan pelukan canggung di depan lift. Bukan pelukan setengah sadar di pagi hari.
Ini pelukan yang mengatakan aku memilih kamu.
Rendra membalasnya. Sama erat.
“Kamu nggak tanya apa aku pilih dia atau kamu,” bisik Maya di dadanya.
“Kamu udah jawab.”
“Belum. Aku cuma bilang aku bahagia.”
“Itu jawabannya.”
Maya mendongak. Matanya bertemu dengan mata Rendra. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
“Aku nggak pernah tahu bagaimana rasanya jadi prioritas seseorang,” katanya pelan. “Dulu dengan Dimas, aku selalu merasa harus berusaha lebih. Harus lebih sabar, lebih pengertian, lebih rendah hati. Aku pikir cinta memang seperti itu—kerja keras tanpa henti.”
Dia menghela napas.
“Tapi dengan kamu, aku nggak perlu berusaha. Aku cuma... menjadi diriku sendiri. Yang suka panda, yang cerewet soal kopi, yang nggak bisa masak. Dan kamu tetap di sini.”
Rendra mengusap rambutnya. “Kamu nggak perlu jadi versi terbaik dirimu buat aku. Versi sekarang aja udah cukup.”
“Itu baris dari film murahan,” kata Maya, tersenyum.
“Iya. Tapi aku serius.”
Dia tertawa kecil. Lalu diam.
“Rendra.”
“Hm?”
“Aku cinta kamu.”
Tiga kata itu melayang di antara mereka. Sederhana. Tanpa embel-embel. Tanpa persiapan. Maya mengucapkannya seperti dia mengucapkan aku mau kopi atau besok ketemu jam berapa—biasa saja, tapi beratnya luar biasa.
Rendra tidak langsung menjawab. Bukan karena ragu. Tapi karena tenggorokannya tiba-tiba terasa sempit, dan dia takut kalau bicara, suaranya akan pecah.
Dia menunduk. Menempelkan dahinya di dahi Maya.
“Aku juga,” bisiknya. “Sejak kapan, aku nggak tahu. Mungkin sejak kamu tertawa waktu resletingmu macet di pasar loak. Atau sejak kamu bilang donat hancurku enak. Atau sejak kamu tidur di bahuku di hotel dan nggak ngiler.”
Maya memukul dadanya pelan. “Aku nggak ngiler.”
“Sedikit.”
“Nggak.”
“Oke, nggak.”
Maya tersenyum. Lalu dia bangkit sedikit, dan mencium Rendra.
Ciuman ini bukan pertanyaan. Bukan eksperimen. Bukan canggung-canggung ragu.
Ini jawaban.
---
Jumat, 21.45.
Mereka duduk di sofa, seperti malam-malam sebelumnya. Panda Krim di pangkuan Maya. Film di TV. Tapi tidak ada yang nonton.
“Kita belum bahas sesuatu,” kata Maya tiba-tiba.
“Apa?”
“Ini. Hubungan kita.” Dia menatap Panda Krim, jarinya sibuk memilin telinga boneka itu. “Kita belum definisikan apa-apa.”
“Harus didefinisikan?”
“Nggak harus. Tapi biasanya orang...” Dia berhenti. “Aku nggak tahu. Aku belum pernah kayak gini.”
“Kayak gini bagaimana?”
“Kayak... ngalir aja. Tanpa rencana. Tanpa target.” Dia menatap Rendra. “Dulu dengan Dimas, semuanya direncanakan. Kapan pacaran, kapan tunangan, kapan nikah. Ada timeline-nya. Targetnya. Seperti proyek.”
Rendra mengambil tangannya.
“Kalau ini proyek, kita sudah gagal dari awal,” katanya. “Kita bertemu karena dikejar orang. Kita pertama kali ngobrol di gudang kafe yang bau kopi. Kencan pertama kita diakhiri di UGD. Kita hampir melakukan sesuatu di hotel tapi malah ketemu kondom kedaluwarsa.”
Maya tertawa.
“Ini bukan proyek yang bagus,” lanjut Rendra. “Deadline kita lewat, timeline kita berantakan, dan kliennya galak semua. Tapi entah kenapa, aku nggak mau ganti project manager.”
Maya menatapnya lama. Lalu dia menyandarkan kepala di bahu Rendra.
“Aku juga,” bisiknya. “Aku nggak mau ganti.”
Film di TV bergulir tanpa penonton. Panda Krim duduk di pangkuan mereka, sweater merahnya sedikit miring. Di luar apartemen, Jakarta malam terus berdenyut dengan segala hiruk-pikuknya—macet, polusi, dan ribuan orang yang pulang ke rumah masing-masing.
Tapi di sini, di sofa abu-abu dengan bantal pastel, tidak ada yang perlu dikejar.
Tidak ada preman. Tidak ada bodyguard. Tidak ada bos galak.
Hanya dua orang yang baru saja mengakui apa yang sebenarnya sudah mereka tahu sejak lama.
Besok masih ada kerja. Masih ada Bu Yetty dan spreadsheet Q2. Masih ada laporan dan rapat dan tekanan hidup yang biasa.
Tapi itu urusan besok.
Malam ini, Rendra hanya perlu duduk di sini, dengan Maya di bahunya, dan merasa bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, semuanya berada di tempat yang tepat.
---
Sabtu, 00.13.
Rendra pulang larut malam. Maya mengantarnya ke lift lagi, seperti biasa. Tapi kali ini dia tidak melepaskan tangannya sampai pintu lift terbuka.
“Besok ketemu?” tanyanya.
“Besok.”
“Janji?”
“Janji.”
Pintu lift tertutup. Rendra berdiri di dalam, menatap bayangannya di cermin.
Kemejanya kusut. Celananya masih sedikit melorot. Rambutnya acak-acakan karena diusap Maya tadi. Matanya sembab karena kurang tidur—atau mungkin karena kebahagiaan, dia tidak tahu.
Dia tersenyum pada bayangannya sendiri.
Ponselnya bergetar.
Maya (00.15): Jangan lupa. Besok Minggu.
Maya (00.15): Janji masakin aku sarapan lagi.
Maya (00.16): Telur dadar gosong. Versi rendang.
Rendra mengetik balasan sambil tersenyum.
Rendra (00.17): Deal.
Rendra (00.17): Tapi beli roti baru. Yang kedaluwarsa kemarin udah dimakan.
Maya (00.18): Roti itu sebenarnya masih enak.
Rendra (00.18): Roti itu pahit.
Maya (00.19): Complex.
Rendra (00.19): Pahit.
Lift terbuka di lobi. Rendra keluar, melangkah ke malam Jakarta yang masih hangat.
Di lantai 8, Maya berdiri di jendela apartemennya, memeluk Panda Krim, dan tersenyum melihat lampu-lampu kota.
Maya (00.21): Rendra.
Rendra (00.21): Hm?
Maya (00.22): Besok bawain sambal.
Rendra tertawa di tengah lobi yang sepi.
Rendra (00.23): Siap, Bos.