Badai Reda

1544 Words

Seminggu setelah insiden di lobby apartemen, hidup kembali berjalan. Maya lebih sering di kantor—proyek baru menumpuk, client minta revisi terus. Rendra juga sibuk dengan laporan akhir bulan. Mereka bertemu hanya dua kali, itu pun di warkop langganan, makan malam cepat sebelum masing-masing pulang ke tempat tidur sendiri. Tapi pesan tetap mengalir. Pagi, siang, malam. Foto makanan, keluhan tentang client, meme kucing, dan kadang hanya "lagi apa?" yang dibalas "kangen". Malam Jumat, Rendra baru saja sampai di kosan ketika ponselnya berdering. Maya. Video call. Dia menjawab sambil merebahkan diri di kasur. "Capek banget mukamu," kata Maya dari layar. Dia sudah di apartemen, rambut diikat asal, kaus longgar. "Capek. Laporan nggak selesai-selesai." "Udah makan?" "Udah. Indomie." Maya m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD