Dua minggu setelah makan malam di rumah orang tua Rendra, hidup berjalan dalam ritme yang nyaman. Terlalu nyaman. Rendra sudah hafal cara Maya menyeduh kopi—tiga sendok bubuk, air panas, diamkan empat menit, lalu saring. Maya sudah hafal Rendra selalu lupa membawa bekal dan akhirnya membeli nasi bungkus di warteg dekat kantornya. Mereka sudah punya rutinitas Minggu pagi: sarapan telur gosong di apartemen Maya, lalu jalan kaki keliling kompleks sambil jajan es krim. Mereka sudah punya tempat duduk favorit di taman—bangku kayu di bawah pohon rindang, tempat mereka biasa menghabiskan sore sambil ngobrol atau diam-diam saling memandang. Semuanya terasa sempurna. Dan seperti biasa, kesempurnaan selalu mengundang masalah. --- Rabu, 19.45. Di warkop langganan. Maya baru saja tiba dari kanto

