Seminggu setelah acara Imlek, Rendra dan Maya berdiri di depan rumah orang tua Rendra di kawasan Jakarta Timur. Rumah sederhana dengan pagar hijau tua, halaman sempit berisi pot-pot tanaman, dan teras yang selalu ada sandal jepit berserakan. Maya memegang tas kecil berisi buah tangan—jeruk impor yang katanya bagus untuk kesehatan. Dia memakai dress bahan katun warna biru muda, tidak terlalu formal tapi rapi. Rendra tahu dia sudah ganti baju tiga kali sebelum memutuskan ini. "Kamu siap?" tanya Rendra. Maya menarik napas panjang. "Enggak. Tapi ayo." Bel pintu berbunyi. Beberapa detik kemudian pintu terbuka. "RENDRA! MAYA! Ayo masuk, ayo masuk!" Ibu Rendra—Heni—langsung menarik Maya masuk. Dia memakai daster rumah tapi rambutnya sudah disisir rapi. Di dapur, aroma sop iga sudah tercium

