Tiga bulan setelah pertemuan dengan Dimas, hidup Maya dan Rendra berjalan dalam ritme yang... sama. Setiap hari sama. Setiap minggu sama. Dan anehnya, mereka tidak pernah bosan. Mungkin karena "sama" bagi mereka bukan lagi rutinitas yang membosankan. Tapi stabilitas yang dulu tidak pernah mereka miliki. --- Senin pagi, apartemen mereka. Maya bangun lebih dulu. Rendra masih tidur dengan posisi superman—tangan terentang, satu kaki menjuntai keluar selimut. Pemandangan yang sama setiap pagi. Maya tersenyum. Dia bangun pelan, berjalan ke dapur, dan membuat sarapan. Telur dadar—sekarang tidak pernah gosong. Roti panggang. Kopi hitam untuknya, kopi s**u untuk Rendra. Rendra muncul sepuluh menit kemudian, masih dengan rambut acak-acakan dan mata setengah terbuka. "Pagi," bisiknya serak.

