Hari mulai menggelap Arya harus mengantarkan Fanya pulang kerumahnya terlebih lagi Arya baru ingat bahwa ia meninggalkan anaknya seharian penuh, putrinya itu pasti sedang menangis saat ini.
"Ayo pulang, aku antar!!!" Ajak Arya.
"Tak terasa sudah mau malam, baiklah ayo."
Mereka berjalan ke parkiran mobil, Arya mengantar Gita pulang. Jalan yang mereka telusuri di iringi oleh lagu Photograph Ed shereen yang diputar oleh radio mobil yang sengaja dinyalakan.
"Emm. Arya" Panggil Fanya, Arya menjawab tanpa memalingkan pandangannya pada jalanan.
"Ya?" Sahut Arya, hening sebentar sebelum Fanya, melanjutkan kata-katanya.
"Sepertinya Arya telah mencuri sesuatu, bisakah kita memiliki hubungan lebih dari ini?" Fanya berkata pelan, ia menunduk malu namun Arya hanya menyinggungkan senyuman.
"Tentu saja nona, kita bisa memiliki hubungan yang lebih dari ini. Hanya saja jangan terlalu mudah memberikan hatimu yang berharga itu jika kau tak ingin terluka."
Arya tersenyum lembut sembari menatap wajah Fanya yang menyinggungkan senyuman yang sama dengannya. Tak terasa mereka telah sampai dirumah Fanya, rumah mewah berpagar tinggi.
"Makasih untuk harinya, sangat menyenangkan." Fanya menatap Arya dengan senyuman manis.
"Sama-sama." Jawab Arya, dengan tiba-tiba Fanya mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Arya setelah itu ia terburu-buru membuka pintu mobil.
"Hati-hati dijalan." Pipi Fanya merona malu, ia langsung masuk menuju rumahnya dengan sedikit melirik ke arah mobil Arya. Arya hanya terkekeh, ia tak menyangka akan dicium seperti itu.
***
Senin adalah hari sibuk, Arya masih dikantor untuk menyelesaikan tugas kantornya. Ia masih berkutat dengan laptop dan dokumen bersama sekertarisnya. Sesekali ia menghela nafas lelah sembari memijat pelipisnya, ini sudah larut malam dan waktu sudah mulai menunjukan jam 09.00 wib.
"Huftt.. aku ingin istirahat." Gerutu Arya, matanya masih menatap dokumen ditangannya.
Baru saja menggerutu Arya sudah menerima telepon dari seseorang yang sepertinya ingin menagih janji, tanpa babibu Arya mengangkat telpon itu dengan malas.
"Ya ayah?" Sahut Arya.
"CEPAT PULANG, TINGGALKAN PEKERJAANMU DAN BAWA CALON ISTRIMU SEKARANG JUGA"
"T-ttapi."
"GA ADA TAPI-TAPIAN, INI SUDAH HARI KE 30. KAU HARUS MENEPATI JANJI."
-tut-
Ayahnya itu terdengar sangat marah, Arya menatap langit-langit ruangannya pasrah. Pasalnya dia belum menemukan calon istrinya, apa ia harus membawa Fanya ke hadapan Ayahnya begitu saja? Bukankah itu gila, lagian ini sudah terlalu malam untuk membawa Fanya menuju rumah ayahnya.
"Ayo pulang, nanti kita lanjutkan lagi besok." Final Arya, mereka membereskan dokumen-dokumen, mematikan laptop dan keluar dari ruangan.
Arya memutuskan untuk pergi ke rumah Fanya meskipun ia ragu dan tau bahwa wanita itu akan kaget jika ia bilang semuanya.
"Semoga saja, semuanya sesuai dengar diinginkan." Arya menghela nafas, ia mengambil minumannya dan minum sambil menyetir mobilnya.
Arya sudah sampai di depan rumah Fanya, dengan ragu ia memencet bel rumah harap-harap kedatangannya itu tidak dianggap negatif oleh pemilik rumah.
"Maaf aku bertamu malam-malam ke rumah, jadi maksud kedatanganku itu buat ngajak kamu ke rumah ayah. Kamu mau kan jadi istriku?" Tanya Arya sambil melirik ke arah Fanya, katakan saja Arya gila karena berani berkata seperti itu disaat seperti ini.
Sangat tak romantis. Fanya senang namun bingung juga, ini terlalu cepat tapi Fanya enggan menolak. Ia mengangguk yakin, pipinya sudah merah merona menahan malu kali ini. Fanya dan Arya sudah sampai dirumah Wiliam, tanpa ragu Ares membawa Gita sambil bergandengan tangan. Membawa Fanya ke ruang tengah keluarga dan ternyata semuanya telah berkumpul disana.
"Oh.. ini calon mantu ayah?" Ucap Wiliam, raut bahagia terpancar jelas diwajahnya.
"Mari duduk nak." Wiliam mempersilahkan mereka untuk duduk, baru saja duduk Arya di instruksikan oleh ibunya untuk membersihkan diri lebih dulu.
Arya menghela nafas dan berlalu pergi menuju kamarnya, badannya memang sudah lengket sedari tadi tapi ia tahan karena ia ingin tau orang tuanya akan bertanya apa saja pada wanitanya. Arya mandi dengan tergesah-gesah, ia takut jika Fanya bilang yang sejujurnya bahwa mereka baru kenal kemarin. Setelah memakai handuk, Arya terburu-buru keluar dari kamar mandi.
"KYAAAA.." Teriak Fanya saat Arya baru saja muncul dari pintu kamar mandi didalam kamarnya.
"Lah. kok. kamu kenapa disini?" Tanya Arya sama terkejutnya dengan Fanya. Fanya mengedarkan pandangan berusaha menghindari kontak mata langsung dengan Arya.
"A-aku disuruh mamah buat nginep dan dia nunjukin kamar ini, mana aku tau ini kamar kamu." Fanya menundukkan kepalanya.
"Aih.. ibuku benar-benar." Arya berjalan menuju lemari dan mengambil baju untuk ia kenakan lalu kembali ke kamar mandi. Fanya hanya diam dan bingung, ia takut diapa-apakan oleh Arya walaupun Arya sudah melamarnya tadi dimobil. Sungguh lamaran yang tidak elit.
"Aku keluar aja kalau gitu." Gumam Fanya, ia berjalan ke arah pintu dan mencoba membuka pintu kamar itu.
Krek... krek...
Fanya mencoba membuka pintunya namun pintu itu sama sekali tak mau terbuka.
"Masa dikunci sih, ihh." Fanya mulai panik dan ditengah kepanikan itu Arya muncul secara tiba-tiba dibelakangnya.
"Ada apa?" Tanya nya santai. Bagaimana laki-laki ini santai disaat seperti ini?
Fanya sudah berpikiran yang bukan-bukan kali ini. Arya mencoba membuka pintunya, ya. pintu memang sengaja dikunci oleh keluarga tercintanya. Dengan tenang ia mencari kunci kamarnya yang asli dan memasukkannya kedalam gagang pintu namun kunci itu tak ingin masuk.
"Lupakan saja, mereka mengunci kita dan kunci itu masih tergantung diluar sana." Arya menyerah, ia berjalan ke tempat tidur dan tiduran di kasurnya.
"Arya. aku tak nyaman disiniii." Fanya merengek minta dibukakan pintu.
"Ihhh.. Arya." Fanya menghampiri Arya yang tengah mencoba untuk tidur, ia menggoyang-goyangkan badannya.
"Telpon saja orang rumah dengan telpon itu, tekan 01 untuk menyambungkan ke ruang tengah."
Arya masih memejamkan matanya, bukan ia tak peduli hanya saja harinya tadi benar-benar melelahkan. Entah berapa kali Fanya mencoba menghubungi seseorang di ruang tengah tetap saja hasilnya nihil dan tak ada yang mengangkatnya.
"Kau tidur saja denganku, aku tak akan macam-macam." Ucap Arya, Fanya hanya mengerucutkan bibirnya. Ia duduk ditepi ranjang dengan sesekali melirik ke arah Arya.
tak akan macam-macam?
"Tanyanya lagi untuk memastikan. Arya terbangun, ia memeluk pinggang Fanya dari belakang lalu membawanya tidur bersama.
"Percayalah padaku nona." Bisiknya ditelinga Fanya.
Darahnya berdesir akibat ulah Arya dan dengan kuat Fanya mendorong Arya untuk menjauh.
***
Pagi-pagi seperti ini sudah kebiasaan Safira datang ke kamar Arya untuk membangunkan laki-laki itu dari mimpi indahnya. Dengan ceria Safira membuka gagang pintu setinggi dirinya itu, Safira masuk tanpa ragu.
"Ayah!!" Ucapnya lirih, bibirnya mengerucut tak suka melihat ayahnya tidur dengan orang lain.
Safira naik ke kasur dan tidur ditengah sembari memeluk ayahnya erat. Arya menggeliat, tidurnya tidak terlalu nyenyak malam ini karena ia banyak berdebat dengan Fanya semalam.
"Ehh.. Safira udah bangun sayang." Arya menatap Safira sambil tersenyum manis, memberikan kecupan pada kening anak sematawayangnya itu.
"Ayah dia siapa?" Safira bertanya dengan mata sayu ingin menangis.
"Dia mamah Safira." Ucap Arya pasti.
"Wah. beneran? Ayah ga boong kan?" Mata Safira berbinar kali ini, ia sangat bahagia sampai-sampai mengalihkan pelukannya dan memeluk Fanya hingga ia terbangun.
"Eh." ucap Fanya bingung, matanya melirik Arya dan Safira bergantian.
"Mamah!!!" Panggil Safira sambil memeluk Fanya erat, sedangkan Arya hanya terkekeh.
"Safira, ayo siap-siap ke sekolah!! Nanti lagi kangen-kangenan sama mamahnya ya sayang. Sekarang Safira mandi biar ga telat ke sekolahnya." Arya mengusap-usap rambut Safira sayang, Safira mengangguk.
Arya menggendong Safira dan membawanya keluar kamar meninggalkan Fanya yang masih syok dengan apa yang ia lihat pagi ini. Arya kembali ke kamar setelah memberikan Safira pada pengasuhnya, ia terkekeh melihat ekspresi Fanya yang terlihat lugu.
"Hahaha. kau bingung?" Tanya Arya, tangannya sibuk memilih baju untuk ia kenakan ke kantor hari ini.
"Jadi kau ini DUDA?" Fanya mengencangkan kata 'duda' diakhir kalimat, ia membuat kesimpulan sendiri membuat Arya meliriknya dengan tajam.
"HEH..." teriak Arya merasa tak terima.
"Oh.. jadi itu anak pungutmu? Karena kamu udah tua dan belum menikah jadi kamu mengadopsi anak?"
"HEH. ENAK SAJA, ITU ANAK KANDUNGKU." Teriak Arya lagi, Fanya sedikit terkejut.
"Jadi kau ini duda." Ucap Fanya lagi.
Arya diam tak bicara apapun lagi, Ia pergi ke kamar mandi begitu saja sementara Fanya sibuk menertawakan Ke'duda'an Ares.