5 : Wedding with you

430 Words
Semakin lama Fanya mulai mengerti semuanya karena Arya menceritakan semua kisahnya pada Fanya dan bersamaan dengan itu Fanya semakin lama semakin suka dan cinta pada Arya, ia seakan tak bisa hidup tanpa hadirnya duda beranak satu itu. Entah mengapa Fanya sangat nyaman, ia juga perlahan menganggap Safira seperti anaknya sendiri dan malam ini ke dua keluarga akan berkumpul untuk melakukan lamaran bersamaan dengan penentuan tanggal pernikahan. Ayah Fanya nyatanya menerima lamaran tersebut, baginya kebahagiaan putrinya diatas segalanya. "Bagaimana jika tanggal pernikahan ditentukan oleh calon pengantin saja." Semuanya mengangguk atas usulan Gibran ayahnya Fanya. "Kalian ingin tanggal berapa?" Tanya mereka pada Arya dan Fanya. "Kalau Fanya sih terserah Arya pah." Fanya tersipu, matanya melirik pada Arya kemudian ia menunduk malu. "Arya, kamu mau tanggal berapa nak?" Tanya Wiliam. "Tanggal 24 yah." Ucap Arya tanpa ragu, semuanya mengangguk setuju. Tanggal telah ditetapkan dan pernikahan akan segera dilaksanakan. Tanggal 24 Juni akan menjadi hari yang membahagiakan bagi mereka berdua. ****** Rabu, 24 Juni 20_ Semua sudah siap dimulai dari dekorasi sampai makanan semua sudah tersedia dan tersusun rapih, undanganpun telah disebar. Fanya saat ini sudah cantik dengan balutan gaun pengantin, hatinya dag dig dug tak karuan antara senang dan gelisah karena ini pernikahan pertamanya dan semoga selamanya. Mereka belum lama dekat namun sudah memutuskan untuk menikah. Sementara itu Arya dibuat kesal karena Nara terus menerus menelponnya, Arya menghela nafas sebal dan akhirnya dia menjawab telepon tersebut. "Arya. hiks. kamu beneran mau nikah? Ini bohong kan? Kamu bohong kan sama nara?" Isakan Nara terdengar ssngat jelas ditelinganya, sekali lagi ia menghela nafas lelah. "Nara dimana?" Tanya Arya pelan. "Nara didepan gedung nikahnya hiks." Nara menutup teleponnya secara sepihak. Arya keluar dari dalam gedung, mencari-cari Nara, Ia terdiam saat melihat wanita itu terisak sambil menatapnya dengan mata yang penuh dengan air mata. Nara menghampiri Arya dengan tergesah-gesah, melihat Arya dengan pakaian seperti itu membuat hatinya sangat terluka. 'Plak' Nara menampar laki-laki itu dengan sangat kencang, tamparan yang menjelaskan semuanya setelah itu Nara pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu kata pun. Arya masih terdiam ditempat, ia tau ia salah dan Arya berhak mendapatkan tamparan itu. Salahnya telah memberikan harapan semu pada gadis baik seperti Nara. Acara pernikahan dimulai dengan hikmat tanpa hambatan apapun hanya saja mood Arya hancur karena kejadian tadi, ia merasa sangat bersalah namun ia berusaha menyembunyikan semuanya. Setelah ikrar dan pemasangan cincin selesai kini Fanya sepenuhnya milik Arya begitupun sebaliknya dan Safira mendapat ibu baru. "Untuk pengantin pria silahkan mencium istrinya." Ucap MC Arya menggenggam tangan Fanya, mereka saling berhadapan dengan senyum yang mengembang satu sama lain. Dengan lembut Arya mencium bibir Fanya untuk pertama kalinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD