6 : Honeymoon

511 Words
Setelah acara selesai, Arya dan Fanya pulang tanpa Safira ke rumah yang baru mereka beli. Bukan keinginan mereka untuk menitipkan Safira dirumah kakeknya hanya saja Hera meminta Safira menginap beberapa hari lebih dulu dirumahnya untuk melepas rindu. "Arya" panggil Fanya, mereka sedang didalam kamar saat ini. "Ya? Kenapa?" Tanya Arya sambil melirik Gita yang tengah duduk disampingnya. Mereka tersenyum senang. Arya mendekat ke arah Fanya, mengikis jarak diantara mereka. Arya menciumnya lagi kali ini dengan lumatan dan hisapan sementara itu Fanya hanya melengkuh dengan tangan yang mengalung pada leher Arya, mereka memperdalam ciumannya hingga Fanya tiduran diatas ranjang. Arya melepaskan tautannya, mereka masih menggunakan pakaian pengantin. "Hmm." Fanya terlihat tak suka. "Sayang, ganti baju ayo!!" Arya bangun di ikuti oleh Fanya. Mereka mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, Arya terus memandang istrinya dari pantulan kaca sembari tersenyum manis dengan tangan yang sibuk melepas tudung sang istri. "Kau sangat cantik, sungguh." Bisik Arya pada telinga istrinya diakhiri kecupan dipipi sang istri. Fanya merona malu lagi, pipi yang sudah merona itu kian merona karena ulah suaminya itu. Arya duduk di ranjangnya dengan mata masih menatap sang istri yang tengah menghapus riasan wajahnya. Setelah menghapus riasan wajah dan mengganti baju, Fanya menghampiri Arya melingkarkan tangannya dan duduk dipaha Arya. "Nakalnya kkkkk......." Arya terkekeh, tangannya memeluk badan istrinya. Fanya hanya mengerucutkan bibirnya tak suka, dengan tiba-tiba Arya mengecup bibir istrinya lagi. Fanya tersenyum malu, ia menenggelamkan wajahnya di d**a Arya. "Morning luv!!!" Arya mencium dahi Fanya sementara Fanya hanya melengkuh sembari mengeratkan pelukan pada tubuh Arya dan menenggelamkan wajahnya pada d**a Arya. Malam tadi Arya membuat Fanya terbuai dengan sentuhan lembutnya, Fanya seakan melayang tinggi, darahnya berdesir dan jantungnya berdetak cepat. Dia telah memberikan semuanya malam itu, pengalaman pertama untuknya membuat ia merasa malu saat ini. "Hey!!!" Panggil Arya lagi, tanggannya bergerak mengelus rambut Fanya. "Malu ya? Cie malu cie kkkk.." Ares terkekeh, Fanya mencubit pinggang Arya masih dengan wajah yang tenggelam dalam d**a sang suami. Arya tersenyum senang, sudah lama ia tak melakukan ini. Dia sungguh merasa gila, bibir Fanya akan menjadi candunya mulai saat ini. ***** Pagi-pagi sekali Fanya menelpon Arya yang baru saja pergi ke kantor, mungkin karena rindu atau ada hal yang ia ingin. Fanya merasa jenuh dirumah sendirian, memang seharusnya Arya tak bekerja karena mengambil cuti menikah tapi clien nya datang untuk mengikat kontrak kerjasama, ya mau tak mau Ares harus pergi. "Arya!!" Panggil Fanya lewat setelah teleponnya tersambung dengan suaminya. "Ya sayang ada apa?" Tanya Arya, ia masih mengendarai mobilnya menuju kantor. "Papah ngirim sesuatu, aku belum buka isinya apa." Fanya memegang amplop agak tebal berwarna coklat sambil sedikit menyelidiki isinya. "Buka aja kalau kamu penasaran, bukannya itu buat kamu ya?" Tanya Arya, Fanya menurut dan membukanya tanpa menutup teleponnya. "Udah dibuka ay?" Tanya Arya penasaran. "Oh. papah ngasih paspor sama 2 tiket ke Jepang." Fanya tersenyum senang, ingin rasanya dia menunjukan ekspresi nya. "Wahh jepang kkk. kamu seneng banget ya ampe hebohnya kedenger sampe sini kkk." Arya terkekeh, sungguh ia mendengar kehebohan Fanya walaupun istrinya mati-matian meredam kehebohan. "Ehe. udah dulu ya suamiku, semoga kerjanya lancar. Bay bay" Fanya menutup teleponnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD