Masih Dingin Ternyata

1271 Words
Laura berangkat terlalu pagi, ya tentu saja semua terpaksa dia lakukan karena perintah dari Dharma. Laki-laki itu tampak marah saat menelponnya dan mengatakan bahwa tepat pukul 6 pagi Laura harus ada di parkiran sekolah, menunggu Dominus datang. Meski enggan, nyatanya Laura harus menuruti kemauan anak pemilik sekolah itu. Ya, karena dirinya kemarin sedikit dibebaskan dari peran babu Dominus. Dan sepertinya hari ini peran itu akan dimulai kembali, yang pastinya lebih berat dari sebelumnya. Brak. Laura terkejut begitu Dharma meleparkan tas tepat di dadanya. Gadis itu segera berjongkok mengambil tas Dharma yang jatuh karena Laura tidak sempat menangkapnya. Belum juga dia berdiri, punggungnya harus merasa nyeri karena lemparan tas yang dilakukan Gama. Laki-laki itu bahkan menyeringai sinis saat Laura mendongak menatapnya. "Bawain ya, ba-bu." Laura hanya mampu mendengus menghadapi mereka. Apalagi lemparan tas itu terus terjadi sebanyak 6 kali. Entahlah dosa apa yang dia lakukan di masa lalu, sampai-sampai sekarang dia mendapatkan karma begitu menyedihkan. Hanya karena mendekati seorang Liam, dia harus menghadapi enam curut seperti mereka. "Cepetan!" Dharma berteriak kencang. Laura segera berdiri, membawa tujuh tas dan berjalan tergopoh-gopoh mengikuti enam orang pentolan Hario's School. Tentunya siswa yang sudah datang memperhatikan dirinya dengan penuh cemooh. Meski, ada juga yang menatapnya iba. Langkah mereka berhenti tepat di ruangan khusus milik Dominus yang beberapa hari lalu dia bersihkan. Begitu pintu dibuka, keenam laki laki itu sudah duduk dengan posisi nyamannya masing-masing. "Taruh mana? Gue mau ke kelas." Dharma yang menanggapi Laura pertama kali. "Siapa bilang lo boleh ke kelas?" Laura memelas. Bau-bau dia harus membolos demi menjalankan tugas. Sialnya, dia tidak akan bisa menatap Liam selama waktu yang tidak bisa dia duga. Dan lebih sialnya, dia harus menatap sosok menyebalkan sebanyak enam orang. "Gue harus masuk." "Terlalu baik. Lo–" "Katanya Dominus bukan anak berandalan, tapi suruh gue bolos?" Dharma berdiri dari duduknya. "Siapa bilang Dominus bakalan bolos?" Tanyanya dengan dingin. Kakinya melangkah mendekat, membuat Laura yang masih membawa tujuh tas itu mundur perlahan. "Lo bakalan cuma sama gue. Di sini. Dapet hukuman karena lo masih deketin Liam." "Apa salahnya deketin cowok ganteng?" Gerutuan Laura ucapkan begitu dirinya duduk di sofa ruangan milik Dominus. °•°•°•°•°•°•° Dia benar-benar dikunci di dalam ruangan ini bersama dengan Dharma. Laki-laki itu sedang bermain game jauh di sebelahnya. Tanpa sepengetahuan Laura, sebenarnya Dharma sesekali mencuri pandang kepada gadis itu. Entah, tapi sejak kejadian Laura memeluk Dharma, perasaan laki-laki anak pemilik sekolah ini menjadi campur aduk. Bahkan kemarin, dia sengaja membebaskan gadis itu hanya untuk menguji perasaan miliknya. Apakah dia merasakan sesuatu jika tidak bertemu. Dan kenyataan ini menampar dirinya, dia menyukai gadis itu. Gadis yang sangat blak-blakan mengucapkan rasa sukanya kepada Liam, mantan anggotanya, laki-laki terganteng diantara mereka. "Dharma, gue bosen." Dharma gelagapan, game yang dia mainkan pun sebenarnya tidak mendapatkan permainan yang baik karena ditinggal melamun oleh si pemain. "Gue males mau gerak," jawabnya sedingin mungkin. "Gue ke kelas aja, ya? Hati gue hampa nggak lihat Liam semenit aja " Tangan Dharma mengepal mendengar apa yang gadis itu katakan. Laki-laki itu mendekat, menggeser tubuhnya hingga tepat berada di sebelah Laura. "Lo–" ucapnya menggantung. Laura menoleh, menatapnya dengan wajah tanya. Dharma pun mengusap tengkuknya dengan kikuk. Dia sedikit gengsi ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya mulut Dharma berbicara juga. "Coba peluk gue, Laura." Sepertinya, Dharma benar-benar gila. °•°•°•°•°•° Tidak seperti hari sebelumnya. Hadir gadis itu di sekitarnya kini memberi pengaruh. Gara-gara kejadian semalam, Liam menjadikan gadis baru itu sebagai objek untuk dipertimbangkan. Kini, kekosongan kursi milik si gadis pengganggu sedikit mengusiknya. Rasanya ada yang kurang. Namun, Liam mencoba untuk biasa saja. Bukankah hanya gadis itu yang bergerak sudah membuat Dominus berulah? Jadi, jika dirinya yang ikut merespon apa yang gadis itu lakukan, bisa-bisa keberadaan gadis itu akan terancam. Bahkan lebih dari saat ini. "Gue tadi lihat si Laura baru sama Dominus." Tidak sengaja Liam mendengar dari dua gadis di depan mejanya. Kursi berjarak setengah meter dari mejanya, namun suara yang mereka keluarkan cukup keras. "Gila nggak sih? Cuma karena Liam, dia sampe kaya gitu?" Iya, menurut Liam, gadis itu memang sudah gila. Hanya demi rasa penasaran terhadap dirinya, gadis itu rela hidupnya diganggu oleh oleh Dominus yang sudah gila juga. "Gue malah bayangin kalau akhirnya Laura sama salah satu Dominus jadian." "Aneh, nggak mungkin sih!" "Bisa aja, lo sering lihat juga drama yang bully jatuh hati sama yang dibully, 'kan?" Percakapan dua gadis itu menyebalkan. Liam memilih menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan dan mulai menghidupkan musik di ponselnya. Earphone yang tadinya dipasang untuk menipu, kini benar-benar berfungsi sesuai takdirnya. °•°•°•°•°•°•°•°•°•° "Lo gila?" Laura nyaris menjerit saat menanyakan ini kepada Dharma. Anak pemilik sekolah barunya seperti kehilangan kewarasan karena mengucapkan kalimat bodoh yang jelas tidak mungkin Laura lakukan. Okey, memang kemarin Laura pernah memeluk laki-laki di depannya ini, tapi dalam konteks untuk membalas dendam karena dirinya basah kuyup. "Gue nggak mungkin mau!" Laura lagi-lagi berucap, pasalnya Dharma hanya diam saja sambil menatap dirinya. "Gue penasaran," ucap Dharma. Jelas Laura tidak bisa jika tidak melongo. Maksud dari penasaran yang Dharma ucapkan itu apa? Kenapa juga penasaran? "Gue nggak–" Hap. Laura menegang kaku. Kalimatnya terpotong karena Dharma tiba-tiba memeluk dirinya. Laki-laki itu bahkan mengeratkan pelukannya saat Laura sedikit bergerak. "Sialan, kenapa lo bikin gue nyaman?" Jantung Laura seperti lepas dari tubuhnya karena kalimat yang baru saja keluar dari kamar Dharma. Kenapa Dharma menjadi seperti ini? Laki-laki itu sangat kasar dan tidak berperasaan kepadanya. Sangat mustahil Dharma mengatakan ini kepadanya bukan? Laura hanya mimpi, 'kan? "Laura, gue punya penawaran bagus. Gimana kalau mulai hari ini kita pacaran dan lo bakalan bebas dari semua hinaan. Lupain Liam dan–" Bugh. Laura mendorong keras tubuh Dharma. Laki-laki itu sampai berbaring di sofa karena dorongan Laura yang lumayan kuat. "Lo itu kenapa? Main kotor cuma buat gue jauhin Liam? Lo pikir gue percaya sama omongan lo yang penuh omong kosong itu?!" Laura muak. mendengar kalimat yang Dharma keluarkan benar-benar membuat dirinya tidak suka. Jelas sekali laki-laki itu hanya menginginkan dirinya menjauh dari Liam Sejak awal, dia sadar betul Dominus tidak menyukai dirinya yang mendekati Liam. Makanya, mereka menjadikan dirinya babu. Tapi cara Dharma dengan sok manis kepadanya begini malah membuatnya semakin muak. Dia bahkan tidak sudi untuk menatap wajah Dharma lagi. Dharma pikir Laura ini sebuah mainan? "Buka, gue nggak sudi satu ruangan sama tukang omong kosong kaya lo!" Akhirnya, Dharma membuka pintu. Begitu Laura keluar dengan tasnya. Dharma menghela napas dengan begitu berat. Dirinya terluka karena tuduhan juga penolakan yang Laura lakukan. °•°•°•°•°•°•°•°•° "Pagi menjelang siang, Liam!" Laura menaruh sekotak s**u coklat di atas meja Liam. Gadis itu terduduk dengan tas masih menggantung di pundak kirinya. Tangan gadis itu memegang s**u strawberry yang sudah dia minum setengah. "Nyariin gue nggak?" Gadis itu menempelkan pipinya di atas meja. Menatap Liam yang terpejam dan menyandarkan kepalanya di dinding kelas. Telinganya juga tersumpal earphone yang entah menyala atau tidak. "Liam, denger nggak?" tanya gadis itu lagi. Namun, Liam tidak juga merespon. Karena hal itu, Laura mengambil satu earphone milik Liam, lalu menyumpalkan benda itu ke telinganya. Badannya lantas kaku saat mendengar lagi yang Liam dengarkan. Liriknya tepat pada bagian kata "i love you" yang membuat gadis itu tidak berkedip. Ternyata Liam meski dingin dan kaku tetaplah remaja yang masih mendengar lagu bertema romansa. "Liam, lagunya–" "Pergi. Lo bener-bener ganggu gue." °•°•°•°•°•°•°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD