Hari Keenam

1287 Words
Tidak terasa waktu Laura menjadi babu Dominus tinggal satu hari besok. Dia cukup takjub dengan dirinya sendiri yang masih bisa bertahan dengan berbagai macam tingkah Dominus yang begitu kejam kepadanya. Sayangnya, kekuatan Laura terasa turun karena kemarin Liam begitu dingin. Dia kira semakin hari Liam akan semakin mencair, tapi nyatanya bukannya mencair, Liam justru seperti es batu yang diletakkan di dalam freezer. Bukannya cair, yang ada malah es batunya semakin membentuk bunga es di sekitarnya. Pagi ini Laura sudah membelikan keenam Dominus itu s**u kotak dan juga roti tawar untuk sarapan. Selain itu, dia juga dibuat kerepotan karena isi tas Dharma menjadi seberat dosa laki-laki itu. Entah apa yang Dharma bawa, tapi yang jelas laki-laki itu ingin menyiksanya. Mungkinkah karena dirinya yang menolak tawaran Dharma? Tapi ... menerima tawarannya pun sama saja menerima jika dirinya akan dimakan singa. "Heh Babu!" Laura mendengus menatap Gama yang tampak begitu angkuh. Di sebelah Gama ada Haidar yang tersenyum miring seolah memberi sinyal jika Laura dalam masalah besar setelah ini. "Apa?" Wajah Gama tampak begitu tertarik menatapnya. "Masih punya nyali? Apa selama lima hari ini gue dan yang lain kurang kasar sama lo?" Laura diam saja, menjawab Gama hanya akan membuatnya semakin tampak menyebalkan. "Lo masih nggak mau nyerah deketin Liam?" Laura mengangguk mantap. Lagi pula dia memang memiliki misi untuk menaklukkan sosok Liam dan juga mengetahui kebenaran tentang siapa pembunuh keluarga Liam. Gama terkekeh. Laki-laki itu melirik Dharma dan juga tiga lainnya yang baru saja datang. "Lo yakin? Kemarin itu cuma peringatan kecil dari kita, Laura. kalau lo nggak nyerah ..." Gama mencengkeram dagunya. "Gue bisa bikin lo memohon ampun bahkan cium kaki gue!" Bukannya takut, Laura malah tersenyum. Wajahnya yang mendongak menatap Gama dengan paksa itu jelas menantang. Matanya apalagi, jangan tanyakan sorot berani tak kenal takut miliknya. "Gue mau taruhan sama lo, Gama." Haidar dan yang lain tertawa. "Lo kemarin udah kalah, masih punya nyali dan siap kalah lagi hah?" sahut Dharma. Suaranya kembali dingin setelah penolakan dari Laura kemarin. "Tentu," katanya dengan percaya diri. Dia bahkan menatap Gama dengan begitu sengit, membalas tatapan laki-laki itu yang tampak meremehkan dirinya. Gama menyeringai, semakin mengeratkan cengkeraman pada dagu Laura. "Lo mau taruhan apa? Siapa yang lebih dulu nyerah?" Laura lantas melepas paksa cengkeraman Gama. "Bukan." "Gue mau taruhan kalau Liam bisa gue taklukin dalam waktu tiga bulan, gue harap lo berenam berlutut minta maaf sama dia." Mendengarnya membuat Gama tertawa jenaka, sedangkan Dharma tampak diam menatap bagian belakang Laura dengan hati yang panas. Memangnya seberharga apa sosok Liam sampai-sampai Laura rela mempertaruhkan ketenangannya? Apakah hanya karena wajahnya? Jika iya, maka Laura adalah makhluk terbodoh di muka bumi. Bahkan laki-laki itu sangat geram karena Laura menolaknya hanya karena sosok pembunuh seperti Liam. "Kalau lo nggak berhasil, lo harus rela kalau terjadi apa-apa sama lo ataupun dia." °•°•°•°•°•°•° Laura memilih mengabaikan ucapan Dominus. Gadis itu tetap nekat mendudukkan diri di sebelah Liam yang lagi dan lagi menggunakan earphone di kedua telinganya dengan mata memejam dan bersandar pada tembok. Senyum Laura bahkan mengembang dengan lebar, seolah dia tidak pernah mendapatkan ancaman atau bully dari para anggota Dominus. Tangan Laura bahkan dengan lancang menyingkirkan rambut Liam yang menutupi dahi karena biasanya disiri penuh kebelakang itu. Senyum Laura semakin mengembangkan saat Liam tampak benar-benar tertidur lelap. Jam kelasnya memang sedang jam kosong, terlebih satu jam pelajaran lagi atau sekitar empat puluh lima menit bell istirahat kedua akan segera berbunyi. Hal ini membuat Laura bahagia, gadis itu seperti mendapatkan kesempatan untuk bersama Liam lebih lama. Meletakan kepalanya di atas lipatan tangan dengan wajah menatap Liam, Laura bergumam tentang betapa mengagumkan sosok di depannya itu. "Masa seganteng lo dituduh pembunuh, Li? Wajah lo setara sama wajah malaikat." Melihat ada pergerakan, Laura langsung tersenyum, menyambut Liam yang kini mengerjap menetralkan pandangannya. "Siang, Liam! Semalem jaga malem lagi, ya?" Liam terdiam, menatap sosok Laura yang dengan senyum lebar menyambutnya. Mata laki-laki itu menelisik, tidak sengaja menyadari jika pipi sebelah kanan Laura ada sedikit luka gores. Sangat kecil, bahkan mungkin si pemilik pipi tidak sadar dengan lukanya. "Liam, ntar malem gue free, boleh yah gue lihat lo kerja?" Sayangnya, Liam tetap diam saja. Earphone di telinganya bahkan masih melekat apik. "Tahu nggak, Li, besok itu last day gue buat jadi babu mereka! Abis itu gue bebas, bisa deketin lo kata biasa. Lo pasti kangen gue karena jarang gue samperin, 'kan?!" Nada antusias dari Laura mendadak hilang saat matanya tidak sengaja menatap tepat pada manik milik Liam. Laki-laki itu menatapnya tanpa ekspresi, tajam, dan mematikan. Sungguh, aura malaikat dan ketampanannya bisa tertutup, menjadikan sedikit rasa ngeri dalam hati. "Li, apa gue nggak boleh lihat lo nanti?" Liam mengalihkan wajahnya, menatap ke depan tepat pada papa tulis yang bertuliskan "TUGAS PPKN HAL 17-25". "Yah ... lo cuek lagi, gue kira kemarin cuma hormon lo lagi sensi makanya sinis ke gue." "Gue tuh cantik loh, Li. Kemarin aja ada abang-abang yang beli bakso manggil gue. Katanya, "Neng-neng, itu sandalnya punya saya!" Gitu loh, Li." Laura mendesah frustrasi. "Li, bilang apa kek biar kangen gue ke elo tuh sedikit reda. Gue beneran deh berat banget tiap–" "Bacot!" Setelah itu, Liam meninggalkan kelas yang memang sepi. Anak-anak kelasnya jelas tidak mungkin mengerjakan tugas karena tugas itu tidak dikumpulkan. Mereka memilih pergi ke kantin atau ke perpustakaan untuk menonton televisi. "Bangke! Gue dibilang bacot?" katanya dengan dumelan. Sakit hati sih, tapi Laura sendiri terdiam saat sadar kalau dia memang lebih banyak berbicara meski Liam tidak menganggapnya ada. Ets, jangan harap Laura akan menyerah secepat itu. Apalagi hanya karena dibilang bacot! Laura tetap akan mendekati Liam sampai akhirnya Laura bisa mengatakan kalau Liam juga banyak bacotnya. Laura's Mission, bikin Liam berubah jadi banyak bacot biar bisa balas dendam! °•°•°•°•°•°•° Jangan stres deh, La. Dominus nggak pernah main-main. Dia bahkan tega bikin Giantri sampe syok dan stres berat. Laura membacanya tanpa membalas. Selly kembali memperingatkan dirinya, tapi Laura malah kini sudah berdiri di depan mini market tempat Liam bekerja. Jangan pikir karena Liam mengucapkan kalimat kasar membuat Laura enggan bertatapan. Jangan pikir pula karena penolakan Liam, Laura akan berhenti. Ingat, Laura mukanya setebal tembok milik tetangga! Dia bahkan nekat ke sini meski tidak tahu Liam ada di shif apa. Dengan setelan santai, kaos putih dan celana panjang hitam juga sendal jepit dan sepeda tentunya, Laura menunggu di depan mini market dekat rumahnya. Dia menatap sosok laki-laki yang sepertinya teman Liam. Menunggu selama satu jam bukan perkara sulit untuk dirinya. Bahkan Laura sudah menghabiskan satu botol teh dan dua makanan ringan. Begitu dia tahu jam menunjukkan pukul 8, dia juga sadar jika ternyata orang di belakang meja kasih sudah berganti menjadi Liam. Senyumnya merekah, gadis itu segera berdiri menghampiri. Mumpung belum ada pelanggan. "Malam, Liam!" sapanya dengan senyum mengembang, seolah Liam tidak pernah berlaku kasar kepadanya. Liam yang sedang menatap minuman kaleng hanya melihatnya sekilas. Laura tersenyum, gadis itu mengambil merk minuman yang berbeda dari yang Liam tata, kemudian meletakkan minuman itu di rak atas yang masih tersisa beberapa jenis yang sama. "Gue mau tungguin lo sampe pulang, penasaran banget lo tinggal dimana." "Nggak usah." Senyum Laura mengembang. "Kenapa? Khawatir kalau gue kenapa-kenapa pas pulang?" Liam diam saja. "Jangan khawatir, bokap pasti bolehin kalau gue nginep. Rumah lo pasti kosong, gue bisa nemenin!" Liam berdecak. "Gila." Laura malah tertawa. Wajah Liam yang sedikit berekspresi membuatnya terlihat lebih tampan. "Gue gila gara-gara lo nggak respons terus, Li." Tidak seperti tadi, kini Liam mencekal tangannya yang hendak kembali meletakan kaleng di atas rak. Laura terkejut tentunya, wajah gadis itu segera menatap Liam yang juga menatapnya. "Tolong pergi sebelum hal buruk terjadi." °•°•°•°•°•°•°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD