Kira-kira Apa?

1141 Words
Hal buruk apa yang sedang Liam coba katakan kepada Laura? Apakah hal buruk tentang tindakan Dominus selama ini? Jika iya, maka terhitung sangat telat untuk Liam memperingatkan dirinya. Atau malah tentang ancaman Dominus tadi? Apa Liam mengetahuinya? "Gue nggak akan nyerah, gue bukan mantan lo yang pengecut, Liam." Kalimatnya penuh dengan tekanan. Wajahnya dengan berani menatap Liam yang juga menatapnya. "Dia nggak pengecut." Liam berkata dengan dingin. Ah, brengs*k, dia merasa sakit hati karena Liam lebih membela Giantri. "Dia emang tersiksa karena Dominus bener-bener ngasih dia hukuman yang lebih berat dari lo, Laura." Laura mendengus. Gadis itu lantas terduduk dengan pasrah di hadapan Liam. "Memang seberat apa?" Liam terdiam. Jika saja Liam berbicara banyak bukan karena membicarakan Giantri, Laura pasti sudah mesam-mesem sambil bergelayut mencoba peruntungan menggoda Liam. Tapi, karena yang membuat laki-laki itu berbicara adalah soal Giantri, mood Laura seketika menjadi anjlok. "Giantri nggak kaya lo, dia punya trauma, phobia yang jelas gampang banget buat dikerjain. Dia sama aja mempertaruhkan nyawa kalau nggak pergi dari gue." Laura mengerti. Setidaknya cerita Giantri beberapa hari lalu semakin diperkuat dengan cerita yang Liam berikan. "Lo udah putus berarti?" Liam kini kembali meletakan kalengnya, menyusun dengan telaten dan tidak menjawab pertanyaan Laura. "Liam, jawab gue. Kalau udah, harusnya nggak perlu tutup akses gue buat masuk pake tembok setebal ini. Gue bisa temenin lo yang kesepian. Gue bisa jadi matahari buat lo yang kedinginan. Gue–" "Gue belum putus." Bangk*. Brengs*k. Bangs*t. Pokoknya semua u*****n keluarkan di dalam hati. Ya karena tidak mungkin dia mengutarakan langsung untuk Liam. Bisa-bisa dia gagal menjadi kandidat pengantin Giantri yang sudah menyerahkan Liam kepadanya. Laura membenahi tatanan rambutnya. Gadis itu berdeham keras dengan mata melirik Liam yang datar-datar saja. "Tapi Giantri titipin lo ke gue, Li. Berarti gue tetep gas lo nggak papa, 'kan?" °•°•°•°•°•°•° Liam ingin mendengus keras mendengar kalimat yang baru saja Laura ucapkan. Gadis aneh dan keras kepala di sebelahnya itu benar-benar membuatnya heran tentang seberapa kuat mental dan batin yang dimiliki. Masalahnya, jika gadis lain yang dia perlakukan kasar, pasti sudah menyerah. Apalagi ada Dominus yang benar-benar membuat Laura kewalahan dengan berbagai macam penyiksaan. Haruskan dia memberikan pujian untuk Laura sekarang? "Liammm," rengekan itu membuat kupingnya sedikit memerah. Selama ini hanya Giantri yang berhasil membuatnya gemas ketika gadis itu memanggil namanya dengan nada kesal. Setidaknya sebelum enam bulan lalu mereka benar-benar putus kontak tanpa ada kata putus hubungan. "Liam, Liam! Gue nggak akan bahas masalah hubungan deh. Lo pasti syok karena gue blak-blakan. Gimana kalau kita bahas soal makanan favorit, film favorit, atau lagu favorit?" Sebenarnya, Liam ingin membungkam mulut Laura yang cerewet dan banyak ngomong. Tapi, jika dia merespon begitu, bisa-bisa Laura akan membuat dirinya semakin tersiksa. Direspon dingin dan ala kadarnya saja bisa membuat wajah gadis itu berseri-seri, lalu apa kabar kalau dia merespon dan terlihat gemas? "Liam gimana kalau–" Kalimat gadis itu terpotong. Wajahnya memelas saat tahu siapa yang menelpon dirinya di jam 9 malam. Laura meliriknya, jelas Liam langsung memalingkan wajah tidak ingin Laura tahu jika sedari tadi Liam memperhatikan gadis itu. "Liammm, masak Dharma telpon malem-malem minta beliin bakso." Tanpa sadar, Liam menggenggam kaleng yang baru saja dia letakan itu dengan erat. "Ganggu aja ih, padahal gue mau berduaan sama lo. Lewat deh acara nginep di rumah Liam!" katanya terlihat begitu kecewa. Meski dalam mode kesal, Liam tampak sedikit gemas karena gadis itu mengatakan sesuatu tanpa disaring. Bisa-bisanya dengan pede Laura membicarakan soal menginap di rumahnya seolah menawarkan diri untuk dibawa pulang. Mungkin kalau Liam ini playboy, Laura sudah dia bawa pulang sedari tadi menawarkan diri. "Liammm, gue duluan ya? Nanti kalau gue pulang dan lo masih di sini, gue bakalan jadi ikut. Jangan kecewa okey?" Setelah itu, Laura berdiri dengan tergesa. Gadis itu benar-benar keluar dari mini market dan mengendarai sepedanya. Liam tidak mengerti, kenapa dirinya harus memperhatikan gerakan Laura sampai akhirnya gadis itu tidak bisa dijangkau mata. Bahkan Liam juga tidak sadar jika tangannya juga masih mencengkeram dengan erat kaleng yang akan dia susun. Liam tidak boleh jatuh bukan? Nanti gadis itu bisa berakhir seperti Giantri atau bahkan lebih parah? °•°•°•°•°•°•° "Bangk*e lo! Gue harus muter-muter nggak jelas karena nyari tukang bakso yang masih buka!" Laura memang tidak punya takut. Gadis itu baru saja masuk menginjakkan kaki di depan Dharma yang berdiri menunggu dirinya di teras, tapi kemarahan juga makian langsung keluar tanpa saringan. Lagi pula, memang Laura punya hak untuk marah. "Mana?" Dharma meminta. Dengan rasa tidak suka, Laura menyerahkan kantung plastik berisi bakso kuah panas itu kepada Dharma. "Harganya dua porsi dua lima. Lo ganti duit gue sini!" "Ogah!" ucap Dharma sambil membalikkan badan. Laura berdecak. Gadis itu meraih ujung kerah bagian belakang baju Dharma dengan susah payah. "Bayar, Anj*ng! Duit gue bisa buat dua hari makan di kantin itu!" Dharma berbalik, membuat Laura cepat-cepat melepas tangannya. Takut jatuh, soalnya Dharma itu tinggi dan besar. "Terus? Lo itu babu gue." "Babu?" Laura berkacak pinggang. Biar saja, dia pokoknya mau membangkang dan semena-mena dengan Dominus. Hukumannya 'kan tinggal sehari besok. Ya meskipun besok itu hari libur. "Babu itu harusnya dapat gaji kali! Tuh, bibi gue dapet tiga juta satu bulan. Jadi, kalau gue babu lo, harusnya selama seminggu gue bisa dapet tujuh ratus lima puluh ribu!" Dharma menganga tidak percaya. Membasahi bibirnya dengan tampang kesal dan juga seringai sinis, Dharma membalas ucapan Laura. "Bayar? Bukannya pengabdian lo ini karena kalah taruhan?" Laura gelagapan. Bangsa*t emang. Dharma kok ngeselin banget setelah dia menolak tawaran laki-laki itu sih?! "Iya... iya beda dong!" "Itu tahu," balas Dharma santai. Laki-laki itu pun mengangkat plastik di tangannya. "Berarti gue nggak perlu nuker uang lo, 'kan?" "Itu beda! Gue itu–" "Kalau lo mau gue bayar, gue bisa kok," potong Dharma. "Coba sebut lo mau berapa? Bakalan gue kasih sesuai mau lo, asal lo mau jauhin Liam." °•°•°°•°•°•°•° Liam. Laki-laki itu sudah mengunci mini market begitu jam menunjukkan pukul 2 malam. Biasanya dia harus menyerahkan kunci itu kepada satpam kompleks karena paginya teman satu pekerjaannya yang akan membuka toko. Tapi, kali ini Liam membawa kunci itu pulang. Tentu saja alasannya karena besok adalah hari Minggu, khusus hari itu Liam akan berjaga pagi sampai siang sebelum akhirnya dia akan beristirahat di malam harinya. Gaji Liam dari bekerja paruh waktu memang tidak banyak. Hanya sekitar delapan ratus hingga satu juta saja. Meski begitu, Liam merasa semuanya cukup untuk membuatnya bisa hidup. Laki-laki itu bersenandung, dengan tangan asik melempar kunci minimarket, Liam juga sambil mencoba mengecek aplikasi i********: miliknya. Jujur, dia penasaran dengan Laura yang tidak menemui dirinya. Mungkinkah gadis itu menginap di rumah Dharma? Sialan. Kenapa Liam harus memikirkan Laura? °•°•°•°•°•°•°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD