Hari Terakhir!

1043 Words
Laura tidak habis pikir, setelah menolak mengganti uang Laura, Dharma juga menolak membukakan gerbang rumahnya. Entah hal gila apa lagi yang Dharma rencanakan hanya karena besok hari terakhirnya untuk menjadi babu Dharma. Meski dengan keterpaksaan, akhirnya Laura meminta kebaikan Dharma untuk memberinya tempat beristirahat malam ini. Untungnya sih dikasih. "Buatin sarapan, temen gue ke sini semua pagi ini." Laura mendengus, dia memang sudah bangun pagi-pagi sekali berharap gerbang dibuka dan bisa kabur sebentar dari Dharma. Dia butuh menelpon Liam. "Mau makan apa?" Dharma menatapnya, laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya dan mendekati Laura yang berdiri di depan kulkas. "Lo bisa masak apa? Gue bakalan terima apa pun itu." "Pagi gini enak makan em...." Laura menatap bahan makanan yang sangat lengkap di depannya. "Cumi?" °•°•°•°•°•°•° Dharma tersentak begitu Laura menatapnya. Buru-buru dia mengalihkan mata menjadi menatap isi kulkas. Posisinya yang ada di sebelah gadis itu benar-benar membuat Dharma merasa aneh. Dia sepertinya memang mulai tertarik dengan sosok Laura. "Cumi mau? Tapi pagi-pagi nggak boleh pedes sih harusnya, perut bisa sakit." Rasanya kepala Dharma membesar dan menjadi berat. Laura mengatakan pagi-pagi tidak boleh makan pedas itu memang fakta, tapi entah kenapa dia merasa itu seperti bentuk perhatian. "Sup jagung sama bayam enak kayanya, nanti gue masakin ayam goreng juga. Terus kalau mau pedes, gue bikinin sambel terpisah aja. Gimana?" Dharma mengerjap, laki-laki itu kembali dibuat takjub dengan sosok Laura. Gadis ini sangat baik dan kuat meski mulutnya tanpa filter. Bahkan setelah disiksa oleh teman-temannya, gadis itu tetap memikirkan menu terbaik untuk mereka. Ah, Dharma benar-benar jatuh– "Nggak usah natap gue kaya gitu. Menu sarapan gue buat enak dan aman karena gue ini punya asam lambung, nggak boleh makan pedes. Gue mikirin diri gue sendiri, bukan lo!" Tidak tahukah Laura jika Dharma malah semakin suka karena sikapnya? Meski nyatanya perhatian itu bukan untuk dirinya, tapi Dharma masa bodoh. Dia akan menganggap perhatian itu untuk dirinya. "Ya udah cepet masak, mereka keburu dateng." Mulai hari esok, misi Dharma tidak hanya membuat Laura meninggalkan Liam, tapi juga membuat Laura jatuh dan tidak bisa pergi dari dirinya. °•°•°•°•°•°•° "Dia sejak kapan di sini?" bisik Gama kepada Dharma. Ketua OSIS itu sangat penasaran karena masakan yang tersaji benar-benar cukup memuaskan perut di pagi hari. "Nginep," jawabnya cuek. Felix, Matt, Haidar, dan Frans juga terlihat sangat menikmati masakan Laura. Sedangkan gadis itu duduk di sebelah Dharma, menikmati sarapannya dengan begitu santai seolah tidak ada permusuhan di antara mereka. Wajah Gama terlihat syok berat mendengar jawaban dari Dharma. Nginep? Maksudnya tidur di rumah Dharma? "Lo seriusan?" Dharma mengangguk sambil memasukkan satu sendok nasi ke mulutnya. "Lo ada apa sama dia?" "Uhuk!" Dharma spontan tersedak, beberapa butir nasi yang baru masuk pun sampai keluar dari mulutnya hanya karena perkataan Gama. Laura yang melihat itu cukup melihat Gama yang memberikan minum kepada Dharma. Entah apa yang keduanya bicarakan sampai Dharma tersedak nasinya. "Pelan-pelan, Dhar, kita nggak akan abisin semua kok!" Felix berkata demikian sambil tertawa kecil. Dharma meliriknya sinis sambil menelan air minumnya. Mata laki-laki itu pun beralih menatap Laura yang tampak tidak peduli. Sialan. Dia merasa kesal. "Lo." Laura melirik Dharma yang memanggilnya. "Siapin handuk sama minuman dingin, gue sama yang lain mau berenang." "Abis ini–" "Sekarang!" °•°•°•°•°•°•° "Kenapa sih, Dhar?" "Apa?" Gama mendengus malas. Kedua tangannya dimasukan ke saku celana sambil memperhatikan Laura yang sibuk membersihkan kolam renang. "Lo kenapa monopoli dia? Dia harusnya kita kerjain bareng-bareng." Dharma terdiam. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia tertarik dengan sosok Laura. "Lo suka dia?" Entah harus menjawab apa, Dharma tidak tahu. "Lo tahu, gue masih ngerasa bersalah sama Giantri." "Kenapa?" Dharma menatapnya. Gama menaikkan kedua bahunya. "Dia hampir mati gara-gara kita. Lebih tepatnya, gara-gara lo." Ya, sebenarnya ide untuk menjauhkan semua orang dari Liam adalah usulannya. Tentu semua tidak akan berani menentang. "Gue cuma takut dia kenapa-kenapa kalau sama Liam." "Terus sekarang Laura?" Dharma membisu lagi. Gama, entah kenapa laki-laki itu begitu peka tentang apa yang Dharma rasakan. "Lo kenapa nggak perjuangin Giantri aja biar Laura sama Liam?" Kini kekehan miris yang keluar dari mulut Dharma. "Giantri? Buat ketemu gue aja dia ketakutan." "Minta maaf, Dhar, gue juga ngerasa bersalah sama dia. Bukan dia target kita, harusnya Liam yang menderita." °•°•°•°•°•°•° Sampai siang ini Liam belum juga mendapati Laura muncul dihadapannya. Jangankan muncul, gadis itu bahkan tidak mengirimkan pesan sejak semalam. Ah, apa dia merindukan, tidak-tidak, tidak boleh. "Kak, boleh minta nomor wa-nya nggak? Gue sering banget belanja ke sini loh!" Liam menatap gadis seusianya itu, dengan lihai Liam mulai menscan belanjaan sang gadis tanpa merespon lebih soal pertanyaan yang dia berikan. "Kakak cuek banget," kata gadis itu, wajahnya langsung meringis ngeri saat Liam meliriknya dengan tajam. "Maaf, nggak maksud ngejek, Kak." "Totalnya lima puluh empat lima ratus." Dengan senyum, gadis tadi memberikan uang berwarna biru dan kuning itu kepada Liam. "Ini, Kak, nggak usah kembalian, buat sedekah aja ke anak yatim." Liam pun mengangguk. Tangannya dengan cekatan mengotak-atik tombol kemudian mencetak nota. Krek. Kertas dirobek kemudian diberikan kepada sang gadis. "Terima kasih telah berbelanja." Dengan senyum manis, gadis itu pamit pergi. Begitu tubuhnya benar-benar keluar dari mini market, Liam langsung menghela napasnya dengan kasar. Sikap gadis tadi mengingatkan dirinya kepada Laura. Brengs*k, kemana gadis itu? Apakah Dhrama menahannya seharian? Liam merasa khawatir. °•°•°•°•°•°•°•° "Ini pahit." "Ini kemanisan." "Gue nggak suka, ini nggak enak." "Ganti lagi, gue mau mangga aja." Sudah lebih dari sepuluh kali Laura bolak-balik membuatkan minuman baru untuk Dharma yang sedang menikmati waktu. Teman-teman Dharma yang lain sih diam saja dan menerima es sirup buatannya yang pertama. Hanya Dharma yang membuatnya jengkel. Semua yang dia buat dinilai kurang pas oleh Dharma. "Ini mangga lo." Laura harap ini yang terakhir, dia harus membuat jus ini dengan penuh hati-hati apalagi perlu mengupas kulit mangga dulu. Dharma menerimanya, menyedot pelan jus yang dibuatnya. "Ini–" "Kalau masih ada yang kurang, bikin sendiri. Gue capek." °•°•°•°•°•°•°•°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD