Dominus Berulah Lagi

1148 Words
Laura tetap tersenyum memasuki kelas yang sudah dimulai oleh Bu Rena. Dia meminta izin untuk masuk dengan nada sopan. "Jadi kamu dari toilet pagi-pagi begini?" Laura menyengir lebar. Gadis itu menggaruk sebelah kepalanya dengan begitu polos. "Abis tadi di rumah belum sempet, Bu. Jadi, ya gitu...." Bu Rena geleng-geleng kepala, wanita berusia 40 tahunan itu akhirnya mengizinkan Laura untuk duduk di tempatnya. Begitu Laura berjalan menuju mejanya, alis Bu Rena menukik menatap rok bagian belakang Laura yang seperti basah. Lagi-lagi Bu Rena geleng-geleng kepala. "Kita mulai lagi kalau begitu." "Sistem sirkulasi adalah sistem transportasi yang berfungsi untuk mengangkut berbagai zat di dalam tubuh." Laura mengeluarkan bukunya, gadis itu bergerak tidak nyaman dengan rok yang sedikit basah. Dia baru sadar kalau cairan yang digunakan Dominus mengenai ujung roknya. Gadis itu meringis, memutar badan menatap ke depan. Berusaha tetap fokus mendengarkan penjelasan Bu Rena tentang sistem peredaran darah. Untungnya, pelajaran berakhir cepat dan istirahat segera tiba. Ya, setidaknya Laura dapat mengembuskan napas lega. Ketika teman-temannya sudah keluar kelas, Laura segera mengecek roknya, gadis itu mendesah sebal begitu sadar sabun yang digunakan Dominus menempel sedikit lengket di rok belakangnya. "Nggak tahu malu." Tubuh Laura menegang kaku, dia tidak mengira kalau Liam akan kembali ke kelas secepat itu. Kalau tahu, dia tidak mungkin menarik rok ujung belakangnya ke depan hingga short-nya terlihat. Bak maling yang tertangkap basah, Laura sudah gemetar penuh keringat. Malu banget, sialan! Eh, tapi ... Liam ngomong! Astaga iya, dia ngomong tiga kata! Wajah malu Laura seketika berubah menjadi senyum cerah merekah. Gadis itu bahkan berjalan mendekati Liam yang sudah duduk anteng di tempatnya. "Ciee Liam ngomong sama cewe cantik!" godanya. Sayangnya, Laura kembali didiamkan. Laki-laki itu malah sibuk bermain game di ponselnya. Berhubung kelas sepi dan Laura memiliki segudang percaya diri, dia duduk di sebelah Liam. Menatap wajah laki-laki itu yang sialnya begitu tampan. Meski begitu, Laura tidak yakin Liam itu kaya soalnya dia naik motornya motor yang menurut Laura sudah butut, keluaran lama. Eh, tapi mah bodo amat. Yang penting Liam itu ganteng dan putih sksksk. "Liam, main apa?" Laura melongok mengintip game yang Liam mainkan. "Oh, game haram," gumam Laura. "Setahu gue game haram itu penuh bocil, Li." "Mana suka ngomong kasar lagi." Laura melirik Liam yang masih fokus. "Gue juga bisa main itu, mau nggak mabar?" Dih, Laura bohong. Dia bahkan tidak pernah mendownload game itu di ponselnya. Jangankan main, dia melihat orang lain yang main saja sudah bingung dan panik sendiri. "Ya udah, lo emang jual mahal banget sama cewek cantik, ya?" Laura pura-pura beranjak. Sayangnya, Liam bahkan tidak meliriknya, terpaksalah Laura kembali mendudukkan dirinya dengan muka tebal. "Lo bukan gay, 'kan, Li? Masa gue cantik bening begini lo nggak lirik?" "Li, gue tahu gue pendek, tinggi cuma 155, tapi gue cantik loh! Lo nggak lihat nih badan gue ideal? Nggak malu-maluin lah kalau diajak jalan. Mana gue juga putih walaupun masih putihan elo sih. Liam gimana kalau–" Brak. Liam berdiri dengan tangan menggebrak mejanya kasar. Mata laki-laki itu menatap Laura tajam, namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Kemudian terlihat jelas Liam melirik totebag yang Laura bawa tadi pagi. "Oh, mau makan?" tanya Laura. Entahlah, sepertinya tingkat ketidakpekaan Laura sudah mati. Padahal jelas sekali Liam marah dan tidak suka. Bodo amat sih, 'kan misi Laura memang menaklukkan Liam. "Makan aja, Li. Gue masih kenyang." Liam mendengus, dia kemudian melewati Laura, mungkin berencana pergi. Segera saja Laura mencekal tangan Liam yang em... hangat, nyaman, dan lembut. Ah, masa tangan cowok lembut?! Liam menatap Laura tajam. Ih, kalau saja Liam sudah bucin kepadanya, bisa dipastikan mata Liam yang melotot akan Laura colok dengan sepenuh hati! "Lo jangan pergi, gue mau duduk di sana lagi. Lo makan aja," ucap Laura tersenyum lebar. Kepaksa sih, daripada Liam pergi dan di kelas hanya ada dirinya sendiri. Akhirnya, Laura pun berdiri menarik Liam agar laki-laki itu duduk. Setelahnya, Laura segera pergi dan kembali ke tempatnya. *•*•*•*•*•* Bugh. Laura menganga tidak percaya ini. Dirinya yang keluar dari kelas di istirahat kedua berniat mencari makan justru tersiram air yang sialnya berbau pembersih lantai. Gadis itu masih memejamkan mata karena perih mulai menjalar di sekitar mata cantiknya. Tawa beberapa orang memenuhi telinganya, meski ada juga yang meringis dan kasihan kepadanya. Lebih menyebalkan lagi begitu tawa laki-laki terdengar jelas di telinganya. Ramai. "Waw, gimana hadiah dari kita? Ahahaha." Laura mengepalkan tangannya. "Pertunjukan bagus bukan? Abis ini masih ada empat jam pelajaran, sedang baju lo basah? Ahahaha." Laura kesal. Dia mengusap wajahnya kemudian juga mencoba membersihkan area matanya dari cairan yang dia yakini sebagai bekas pel OB tadi pagi. Matanya terbuka, terlihat jelas warna matanya sudah kemerahan karena perih. "Nyepak ya nyepak deh!" ejek Haikal disambut tawa dari mereka. Dia segera menunduk menatap seragamnya yang basah kuyup. Sialan. Dia hanya memakai tank top hitam dengan lengan yang tipis. Apalagi bajunya sudah menempel erat dan memperlihatkan lekuk tubuh. Badan Laura menggigil geram. Dia malu, sangat malu! Dia ingin menangis dan berlari meninggalkan kerumunan. Tapi, menjadi pecundang bukan pilihannya. Dia akan melawan Dominus yang sok ganteng dan sok pintar itu! "Udah puas ketawanya?" tanya Laura, suaranya jelas tidak bisa senormal biasanya. Perasaan gadis itu tidak bisa dibohongi. Dharma mendekat, laki-laki bermata sipit yang kini tersenyum sampai bola matanya tenggelam dan kelopak itu membentuk bulan sabit. "Tentu ... belum. Lo bakalan terima lebih dari rasa malu setelah ini." Mendengar ancaman Dharma membuat Laura mengeratkan rahang. Gadis itu bahkan dengan nekat memeluk Dharma erat-erat. Dharma yang ditubruk jelas menegang. Laki-laki itu hanya mampu menatap kosong ke dalam ruang kelas Laura. "Yah, lo ikutan basah," keluh Laura kemudian melepas pelukannya dengan Dharma. "Gimana pelukan gue? Dingin?" tanya Laura dengan senyum. Anak-anak Dominus di belakang sudah menatap Laura bak tersangka yang harus segera dimusnahkan. Namun, Laura tidak boleh takut. Gadis itu bahkan dengan santainya bergeser ke kiri untuk menatap para Dominus itu. "Kalian mau juga dipeluk?" Laura terkekeh. "Nggak boleh, tadi itu cuma khilaf. Yang boleh itu harusnya cuma Liam." Perkataan yang luar biasa. Anak-anak Hario's bahkan sudah memekik tidak percaya dengan Laura. Mereka jelas mengecap Laura sebagai gadis gila tidak berotak. Siapa pun yang ada di posisi gadis itu pasti memilih menyerah. "Nyali lo gede ya?" Gama melangkah. "Atau lo nggak punya malu?" Bukannya menanggapi Gama, Laura justru melirik Dharma yang masih diam. Gadis itu menepuk lengan Dharma karena penasaran. Dia takut kalau-kalau tindakannya tadi m*****i anak pemilik sekolah. "Kayanya temen lo syok deh," ucap Laura sambil tertawa kecil. "Dia belum pernah dipeluk cewek ya?" Mendengar itu, anggota Dominus segera menatap Dharma yang memang masih diam di posisi awal. "Kalau gitu gue pergi deh, lo urusin tuh temen lo!" Laura pun pergi meninggalkan anak-anak Dominus yang sudah mengerubuti Dharma, sedangkan siswa lain sudah dibubarkan bersamaan dengan kepergian Laura. Satu yang tidak mereka tahu, Liam menyaksikan semuanya dari jendela kelas. *•*•*•*•*•*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD