Laura lagi-lagi menjadikan UKS untuk tempatnya mencari baju ganti. Lagi pula dia memang tidak membawa seragam lain di dalam tasnya. Gadis itu sudah meneliti sisi UKS sejak awal dan tempat ini aman dari CCTV sekolah. Laura sudah mengunci pintu, sudah menutup semua jendela dan juga tirai, dan kini dengan pede-nya sudah mengenakan seragam kebesaran dan tidur di ranjang, dia sudah menitip absen di grup dan semoga saja ada orang baik yang mengizinkan dirinya kepada guru.
Baju basah dan seperangkat baju rangkap juga dalaman Laura sudah dia letakan di depan kipas angin, berharap baju-baju itu tidak terlalu basah ketika dia membawanya pulang.
Tangan Laura berselancar indah di atas layar. Bergerak naik turun atau kanan kiri demi mata cantiknya mendapat hiburan. Laura juga sesekali memicing begitu menemukan sesuatu aneh muncul di layar benda pipihnya.
Begitu dia selesai stalking akun Dominus dengan aku palsu, Laura menjerit kesenangan karena akun Liam muncul direkomendasikan. Astaga ... sepertinya malaikat memberinya cobaan dan rezeki di hari yang sama. Tanpa perlu repot mencari-cari dia malah diberi rekomendasi.
Jari telunjuknya segera menyentuh photo profil milik Liam. Dia terbelalak karena pengikut laki-laki itu cukup banyak dan laki-laki itu tidak mengikuti siapa pun. Postingan Liam mulai dibuka, pemandangan dan hanya siluet saja isinya. Tidak ada wajah sempurna Liam yang hadir di sana.
Laura jadi penasaran. Dia ingin mencoba membuka kolom komentar, namun sepertinya laki-laki itu menonaktifkan seluruh komentar di postingannya. Eh, tapi jangan salah, Laura tidak semudah itu menyerah. Dia tetap scroll sampai ke bawah-bawah dan menemukan postingan 6 bulan lalu. Siluet sepatu olahraga yang dibuat hitam putih bersanding dengan sepatu kets.
Komentarnya begitu banyak, dengan like yang juga banyak. Namun, bukan komentar positif yang menempati posisi teratas, melainkan komentar tentang Liam si pembunuh.
*•*•*•*•*•*
Laura memasukan seragamnya yang masih dingin itu ke dalam kantung kresek sedangkan dalamannya tetap dipakai walau masih rada-rada basah dan tidak nyaman. Kalau bukan karena dia menumpang abang ojek, Laura pasti tidak papa tidak menggunakan apapun dibalik seragamnya.
Jam pulang sudah berbunyi sekitar dua puluh menit lalu, dan tepat ketika sekolahnya terasa sepi Laura baru keluar dari UKS. Langkah Laura terhenti karena dirinya hampir menabrak Liam yang akan keluar kelas.
"Eh, Liam belum pulang," ucap Laura dengan senyum lebar.
Liam menatapnya datar, tapi Laura tahu kalau mata Liam sedang jelalatan menatap dirinya. Iya pokoknya pede aja dulu.
"Gue bolos tadi ada yang izinin nggak?" tanya Laura. Gadis itu sepertinya tidak sadar jika sudah menghalangi jalan keluar orang lain.
"Gue kepaksa harus pake baju kegedean kaya gini."
"Oiya, soal tadi ... Lo lihat nggak gue peluk Dharma?"
"Aduh ... jangan salah paham ya, Li?! Gue sukanya sama lo kok, tadi cuma kasih pelajaran aja sama Dharma, serius!"
"Liam lo nggak mau ngomong lagi?"
Liam tetap diam, meski nyatanya laki-laki itu menunduk menatapnya. Meski tidak saling bertemu manik mata, namun kini mereka sama-sama memperhatikan wajah lawan bicaranya.
"Gue cantik, ya? Lo pasti baru sadar," celetuk Laura. Kali ini benar-benar memalukan sih karena Liam langsung membuang muka.
"Minggir."
Bukannya tersinggung dengan ucapan tak bernada, dingin, dan datar dari Liam, Laura malah menjerit kegirangan.
"Astaga!!! Lo ngomong lagi!" hebohnya. "Hari ini lo ngobrol sama gue dua kali!"
"Ampun mimpi–"
Brak. Tubuh Laura membentur pintu yang tertutup. Posisi tubuhnya menjadi menyamping dan Liam sudah meninggalkan Laura sendirian.
"Anjir-anjir, lagi-lagi gue ditinggalin."
*•*•*•*•*•*
Laura merebahkan dirinya dengan perasaan lega. Setidaknya dia sudah mengganti baju dan dalamannya yang basah. Dia mengumpat sebenarnya, bahkan di sela-sela mandinya tadi, Laura terus saja mengutuk Dharma dan Dominus. Bisa-bisanya mereka sejahat itu hanya karena dirinya mendekati Liam!
Ah, tapi Laura tersenyum saat mengambil ponselnya. Dia sudah memfollow akun Liam dengan akun aslinya, sekarang dia akan men-dm laki-laki itu. Semoga saja dibalas.
Follback ya
Laura yang cantik❤️
Setelahnya, Laura memilih memejamkan mata. Dia cukup lelah, badannya juga sedikit hangat karena siraman air anak-anak Dominus tadi. Namun, niatnya untuk tidur gagal karena notifikasi berisik dari w******p-nya. Entah siapa yang menghubungi dirinya sampai men-spam chat seperti itu.
Meski kesal, dia tetap saja melihat isi pesannya. Ternyata dari Selly. Gadis itu mengirimkan beberapa foto juga pesan yang lumayan banyak.
(Pict dua pasang sepatu berwarna hitam putih. Satunya kets, satunya lagi sepatu futsal.)
Itu post Liam terakhir kali, tapi udah dihapus.
Dia ada cewek Laura.
Pliss mending lo stop.
Gue nggak tega lihat lo dibully habis-habisan sama Dominus.
(Pict Liam dan seorang gadis berambut sebahu. Mereka berfoto di depan lab kimia dengan Liam dan gadis berseragam putih abu-abu, namun si gadis menggunakan jas lab.)
Itu pacarnya. Itu buktinya.
Dia Giantri. Anak IPA 2.
Pliss jauhin Liam.
Namanya juga Laura, meski dia diberikan fakta oleh Selly, gadis itu tetap tidak mudah percaya. Lagi pula selama dia mendekati Liam, tidak ada gadis lain yang mendekati laki-laki itu. Tidak pernah juga dia melihat Liam mengobrol dengan gadis yang Selly maksud. Liam juga berangkat sendiri, pulang sendiri, persis seperti jomblo. Jadi, mana buktinya? Siapa tahu itu hanya foto Liam dengan fans-nya bukan?
*•*•*•*•*•*
"Pagi, Liam!"
Laura tersenyum cerah. Dia menyodorkan satu kotak bekal berwarna merah muda kepada Liam.
"Isinya nasi goreng. Gue nggak bikin sih, karena gue males masak. Tapi enak kok! Itu yang bikin bibi gue."
Gadis itu meletakan kotaknya di atas meja. Alasannya jelas karena Liam tidak menerima sodorannya.
"Di makan okey?" Kemudian Laura berbalik. Optimis aja bekal itu akan dimakan Liam seperti kemarin. Kotak makan yang kemarin juga sudah Laura minta kembali dan itu tadi, diisi ulang dengan makanan yang berbeda.
Kepercayaan diri tingkat akut milik Laura jelas memicu banyak perhatian teman-teman sekelasnya. Meski tidak secara terang-terangan mereka mengungkapkan, namun pandangan mereka yang mungkin terlihat sinis itu seiras dengan pandangan kagum.
Dalam sejarah Hario's High School, setelah enam bulan lalu, Laura jelas menjadi gadis dan orang pertama yang dekat dengan Liam dalam waktu yang cukup lama. Bahkan kebal dengan rundungan dan sikap Dominus.
*•*•*•*•*•*
"Mau kemana?"
"Kok sendirian sih? Liam-nya mana?"
"Oh, nggak dianggap? Kok ngejar terus?"
"Bodoh sih."
"Hahahaha!"
Tawa meledak memenuhi penjuru koridor. Siapa lagi kalau bukan Dominus. Laki-laki yang bergerombol hanya untuk mem-bully satu perempuan. Waw bukan?
Dharma yang biasanya maju lebih dulu daripada Gama kini terlihat di belakang ketua OSIS itu. Tatapannya tajam dan lurus menatap Laura yang berdiri dengan tangan terkepal. Gadis itu sangat pendek dibandingkan Dharma yang tingginya mencapai 178 cm.
"Bapak ketua OSIS yang terhormat beserta teman-temannya, ada urusan apa dengan saya?"
Gama yang berdiri langsung berhadapan dengan Laura mengangkat sebelah sudut bibir. "Masih kuat?"
"Kuat dong! Gimana kalau adu basket aja, but by one?"
Gama tertawa diikuti anggota Dominus yang lainnya.
"Lo ngayal? Pendek kaya lo mau main basket?!" ejek Gama. Dia tampak begitu menyepelekan Laura yang hanya setinggi bahu laki-laki itu.
"Gue bakalan menang tauk!"
"Kalau kalah?"
"Seminggu jadi kacung kalian juga nggak masalah."
*•*•*•*•*•*