berkah dewa

2891 Words
Dongeon tower 9 "Sekarang kau percaya dengan perkataan ku?" Alea membelai tak percaya melihat monster besar menyerupai kelabang itu berdiri di hadapannya sekarang, sebuah monster gila yang siap menyerang siapa saja, bahkan monster biru menatap kearahnya seolah dirinya sebuah makanan. "Lari atau hadapi, semua terserah padamu." Alea mendengkus kasar, bahkan saat Augus mengatakan hal yang jelas tidak mungkin itu. "Apa kau bercanda. Menghadapi monster sebesar ini bagaimana caranya." "Kau punya aku, kenapa harus bingung?" "Dan membiarkanmu rusak karena melawan monster yang konon memiliki cangkang sekeras titanium emas? Jangan bercanda!" Augus terkekeh pelan karena hal itu. "Apa kau mulai menaruh rasa padaku?" "Jangan bodoh! lebih baik pikirkan saja caranya kita keluar dari tempat ini!" "Hanya itu, kabur atau hadapi!" "Sialan!" Alea melompat tinggi saat monster kelabang itu menyerang kearahnya, memberi sabetan ekor yang cukup kuat hinggah dirinya harus melompat jauh agar tidak terkena efek serangan. "Ah ... jangan sampai aku lupa mengingatkan, monster ini memiliki racun yang bisa melumpuhkan mu hanya dengan menghirup udara gas yang dia keluarkan." "Ck! Aku sudah tau skill itu, monster ini benar-benar makhluk gila yang langka!" Alea berpikir keras bagaimana cara mendapatkan monster ini dengan kekuatannya. Dia jelas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini, dengan semua material yang ada di tubuh monster itu, jelas bisa membuat dirinya kaya dan memperbaiki item yang dia miliki saat ini dia butuh uang dan material yang cukup untuk membuat armor dan juga lindung lengan. Dia butuh banyak uang, dan semua itu tengah berdiri kokoh di hadapannya. Bahkan hanya melihatnya saja, Alea tak berpikir untuk bisa mengalahkan makhluk besar ini. sungguh sial dan menyebalkan bukan. Di saat kau menginginkan sesuatu, kau hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat banyak. "Jika kau tahu, lebih baik menghindari sekarang, karena dia akan mengeluarkan gas beracun miliknya!" "Kau serius?!" "Percaya saja pada ku, dari pada kau menyesal nantinya!" Alea tak bisa Mengabaikan peringatan Augus begitu saja, dia yakin apa yang ego itu katakan benar adanya, terlebih dia juga yang menunjukkan kebenaran saat dirinya akan menerjang lubang itu. Alea memilih melompat dan menghindar sejauh mungkin, dan benar saja, baru dirinya melompat mundur, kelabang itu langsung menyemburkan gas beracun yang membuat udara sekitar berubah menjadi kabur hijau yang ganas. Bahkan gas itu bisa menyebabkan tumbuhan di sekitar mati dan kayu seketika. Jadi inilah alasan kenapa tumbuhan di sekitar Snapdragon api abadi benar-benar mati dan layu seolah tak ada makhluk hidupnya g bisa bertahan di tempat ini. Saat melihat bagaimana monster kelabang ini menyerang dia jadi yakin, jika semua ini karena perbuatan dari monster sialan ini. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" "Menunggu hujan turun." Jawab Augus dengan santai seolah tak terjadi apa-apa di sana. Sedangkan Alea masih berdiri dan bersiaga di sekitarnya, jangan sampai ada serangan dadakan yang membuat dirinya terkejut dan terpojok. "Jangan bercanda!" "Aku serius, jika tidak turun hujan maka racun ini akan sangat lama untuk hilang. Kecuali kau memiliki skill air yang bisa membantumu untuk menghilangkan racun dengan cepat!" Skill es, jangan bercanda, dia sendiri sama sekali tidak memiliki skill, dan hanya kemampuan dari Augus saja dirinya bisa bertahan sejauh ini. "Jangan meledekku, sialan!" "Aku tidak meledekmu, aku hanya mengatakan apa yang aku tahu." "Tapi kau jelas tahu kalau aku tidak memiliki skill seperti itu." "Hem ... Aku benar-benar melupakan itu." "Ck, dasar dari nadamu kau terlihat meledekku kan!" "Tidak! Oh ayolah aku tidak pernah meledekmu sama sekali." "Lupakan! Lebih baik berpikir bagaimana cara mengatasi masalah ini." Alea terdiam sesaat mencoba berpikir cara apa yang akan dia lakukan untuk setidaknya mengalahkan monster kelabang di depan sana. "Al, apa kau melupakan sesuatu?" "Hem? Apa itu?" "Kau memiliki gelar berkah dewa bukan, apa kau tidak membaca rincian skill itu?" Para menggeleng pelan, dia hanya membaca buku pesan sistem tanpa melihat secara jelas deskripsi tentang gelar itu sendiri. "Kenapa kau tidak membacanya sekarang?" "Untuk apa?" Tanya Alea dengan kening berkerut, bukankah sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal seperti itu. Ada hal yang harus dia selesaikan dari pada memikirkan masalah sepele dengan membaca sekarang ini. "Sudah lakukan saja, jika kau ingin keluar dari masalah ini dan menghadapi monster di depan sana, maka lakukan saja perintahku!" "Ck!" Alea berdecak kasat, Augus selalu saja memerintah dirinya dengan hal-hal yang sama sekali tidak berpikiran olehnya, entah apa yang dia pikirkan, hanya saja, dari pada harus berdebat lebih lama lagi. Alea mengikuti ucapan Augus, dia membuka sistem dan melihat gelar berkah dewa yang sudah dia dapatkan itu. Berkah yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri. Sesaat tidak ada yang penting dari deskripsi gelar itu, terlihat biasa saja, dan hanya beberapa menambah status stamina dan juga power yang dia miliki, selebihnya tidak ada yang serius, hingga di bagian paling bawah ada sebuah pesan tersembunyi di sana. [Sistem : dewa memberkati Anda dengan karunia yang tak terbatas. Anda salah satu urusan dewa, di mana Anda bisa meningkatkan kekebalan tubuh anda dengan pesat, anda bisa berkembang tanpa batas. Efek yang di berikan dari gelar ini, dapat menetralkan segala jenis racun, bertahan dari segala serangan apapun selama tiga detik setelah skill di aktifkan, saat HP turun hingga 15% maka skill kekebalan diri otomatis akan di aktifkan dan dapat bertahan hingga 30 menit dengan status yang meningkat 50% dari status normal.] [Sistem : dewa merasa prihatin karena keadaan anda dan memberikan berkah spesial kepada anda] "Tunggu, apakah ini nyata?" "Kenapa?" Tanya Augus saat melihat raut Alea yang tiba-tiba berubah. "Tidak, aku hanya tidak yakin dengan status gelar ini." "Apa ada yang sepesial?" "Bukan spesial, tapi malah lebih ke curang, aku berpikir ini kecurangan sistem." "Kenapa?" "Kau tahu, aku kebal racun, dan saat HPku turun menjadi 15% maka aku akan kebal terhadap serangan dan statusku akan naik 50% saat itu juga." "Woah. Bukankah itu berkah yang sesungguhnya?" Ujar Augus dengan suara pelan. "Gelar berkah dewa, bukankah sesuai dengan namanya, berkah yang artinya sebuah rezeki yang diberikan oleh dewa. Itu artinya kau salah satu orang yang beruntung bukan?" Alea terdiam sesaat, benar apa yang dikatakan boleh Augus, hanya saja apakah tidak berlebihan? Maksudnya berkah yang sebesar itu diberikan pada orang yang tidak berkembang selama ini, bahkan hidup saja harus mengais dari uang hasil dia berburu dengan kelompok lain, dan bahkan tidak mendapat apa-apa, tapi sekarang. Seperti harta karun tiba-tiba datang di hadapannya dan memberikan harapan baru yang tak akan dia sia-siakan kan. Berkah dewa yang kasihan melihat dirinya yang tak bisa berkembang selama ini. Anggap saja seperti itu "Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?" "Tentu saja mencobanya," jawab Augus dengan tenang. "Dan membuatku terbunuh?" "Belum tentu, kan kita hanya akan mencobanya." Alea terdiam, benar saja, ini hanya untuk mencoba apakah gelar yang dia dapatkan dan skill unik yang dia miliki benar-benar berfungsi sekarang. Terlebih monster yang dihadapi kali gue ni benar-benar luar biasa. "Kalau terpojok?" Tanya Alea tak sedikit tak yakin. "Gunakan langkah!" "Kabur?" "Tentu saja, kau kan memiliki skill pasif di mana saat hp di berada di angka 15% maka kau akan kebal terhadap segala serangan dan status bertambah 50% nah saat itulah kau bisa lari secepat yang kau bisa." "Kau anggap itu mudah, kabur dari monster sebesar itu tidak semudah yang kau bayangkan." "Tapi status kecepatanmu akan bertambah 50% saat kau mengapa hp di tingkat 15%." "Sialan. Kau pikir aku robot yang tidak memiliki rasa sakit, kau kira berapa luka yang harus aku terima agar bisa mencapai HP 15%?" "Setidaknya berusaha dulu, jangan mengeluh. Kau ingin mencoba kekuatanmu atau tidak, jika tidak lebih baik pergi dan tinggalkan saja kesempatan emas ini!" "Sialan!" Augus selalu mengatakan sesuatu yang berhasil menekan dirinya. Alea mendengkus pelan lalu berjalan mendekat kearah monster kelabang yang tengah menunggu dirinya untuk datang ke wilayah kekuasaannya, dia yakin, jika di mendekat maka monster itu akan menyerang dirinya di balik kabut hijau yang menyebar itu. [Sistem : racun mematikan terdeteksi, mengaktifkan skill kebal terhadap racun secara otomatis] Melihat itu Abigail tersenyum puas, setidaknya dia bisa bertahan dari kabut hijau ini dan berusaha menyusun rencana p*********n, jangan sampai dirinya melepas buruan yang begitu indah ini. Dia benar-benar menyesal jika hal itu terjadi. "Lebih baik kita tunjukkan kemampuan kita sekarang, Augus!" "Kapanpun kau siap!" Alea membuka telapak tangannya laku tersenyum dan mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang, dia akan memberi sedikit demi sedikit luka gores pada monster ini dan membiarkan dia merasakan apa itu rasa sakit yang sebenernya. "Jangan langsung incar bagian badan, cari titik total dan gunakan black shadow milikku!" "Tenang saja aku akan melakukannya sebentar lagi!" Alea sangat bersemangat sekarang, walau udara yang ia hidup memiliki bau yang sangat busuk, tapi dia yakin sebentar lagi baru busuk ini akan menjadi bau yang sangat nikmat, bergantian dengan yang dan segala hal yang dia inginkan sebentar lagi. Dia berlari mencari celah untuk naik ke atas tubuh kelabang itu, sayangnya, pergerakan dirinya terlihat dengan jelas oleh kelabang itu, dan alea langsung mendapat serangan yang cukup fatal di sana. Dia bahkan harus terpental kebelakang karena serangan yang cepat itu. "Jaga sekitar jangan sampai lengah!" "Aku tahu, tapi kecepatan itu benar-benar membuatku gila!" Bentak Alea yang berusaha berdiri, tapi sayangnya belum sempat dirinya berdiri, kelabang itu sudah menyerang dirinya lagi, dan lagi. Hingga membuat Alea harus berguling ke kiri untuk menghindari tiap serangan dari monster ini. Alea melirik bar Health poin miliknya yang hampir terkuras 30% saat terkena serangan dari monster sialan ini. "Gila!" Dengkus Alea berusaha untuk terus menghindar. "Kau tahu, satu serangan monster gila ini hampir menguras 30% HP ku!" "Tidak masalah, itu hanya sekedar HP, bukannya kau memang mengincar HP 15%? "Aku tidak bilang begitu sialan!" Alea memekik lalu melompat saat ada kesempatan, dia berlari di atas tubuh kelabang yang langsung meliuk dan mencoba membantuk dirinya, sungguh konyol, Alea tidak yakin akan sampai kapan dirinya bertahan, jika ini terus berlanjut. "Jangan terlalu membuka titik lemah mu, ayolah kau bisa bertahan sedikit lagi!" "Diam kau! Aku masih berusaha untuk tidak terkena serangan langsung dari monster ini!" Lalu saat monster kelabang itu akan membanting tubuhnya kebelakanga, Alea segera melompat untuk menghindari serangan fatal itu, dia melompat dan menunggu kesempatan saat monster kelabang itu menghantam tanah, dan saat itu bagian perut kelabang yang tak terlindungi eh sisik aja terlihat, kesempatan akan terbuka saat itu terjadi. Alea masih berada di udara saat kelabang itu membanting dirinya. Dan setelah bagian perut milik kelabang terlihat, dia segera menukik dan menghunuskan Augus kearah perut kelabang. Dia tersenyum puas, sepertinya serangannya akan berhasil kali ini, hanya saja. Apa yang dia kira tidak seindah yang dia bayangkan. Monster itu seolah mengerti Alea akan berusaha menyerangnya dia mengibaskan ekornya hingga mengenai tubuh Alea dan membuat dia terpental dan terhempas jauh ke depan dan tersungkur di atas tanah beberapa meter ke depan. "Sialan!" Pekik Alea saat rasa sakit itu menjalar di sekujur tubuhnya. Bahkan peringatan tentang health poin miliknya terus berkurang dan hanya tersisa 50% saja. "Aku akan mati jika seperti ini terus," ucap Alea dengan nada terengah, dia melirik keatas dan melihat kearah monster yang tengah menatap kearahnya. "Kapan ini akan berakhir!" "Jangan mengeluh, anggap saja ini latihan untuk mu, kau sebentar lagi akan berkembang, jadi bertahanlah sedikit lagi!" "Kau selalu saja mengoceh, padahal kau akan mendapatkan keuntungan setelah aku berhasil mengalahkan monster ini!" "Bukan hanya aku saja, kau juga akan mendapat keuntungan yang layak dari semua ini!" "Sialan, kau terlalu banyak membual!" Hanya saja apa yang dikatakan oleh Augus lagi-lagi selalu benar, dia tidak boleh menyerah sampai di sini. Membuat dirinya harus berusaha keras untuk bisa menyerang titik lelang dari monster ini. "Melompat!" Alea refleks melompat saat Augus memberi aba-aba pada dirinya. "Kau tahu monster ini memiliki pola serangan yang sedikit mudah untuk di tebak, beberapa kali mendapat serangan aku sedikit paham." Alea tak yakin, dia melirik Agus yang berkata demikian, padahal dia hanya sebuah pedang dan kesadaran yang terikat kontrak dengan diriny, tapi Augus seolah memiliki sesuatu yang benar-benar sepesial, pengalaman dan teknik yang sedikit membuat Alea bingung. Sebenarnya siapa sosok ini, kenapa dia terlihat begitu pengalaman dengan semua kejadian ini. "Awas Alea!" Bentak Augus, hanya saja kali ini Alea tak bisa menghindar, dia terlalu melamun hingga tak menyadari serangan dari monster di hadapannya ini. Tubuhnya ke Bali terhempas, rasa sakit kembali dia rasakan hingga membuat dia meringis kecil. "Kau ingin bunuh diri atau apa, hah! Melamun di saat bertarung. Kau benar-benar bodoh!" Sentak Augus membuat Alea terdiam. "Jangan lakukan itu lagi jika kau tak ingin mati!" "Ck! Aku tahu itu!" Alea berusaha untuk berdiri, tak ada waktu untuk merebahkan dirinya, karena Monster ini terus saja menyerangnya tanpa ampun, dia berada di kondisi yang tak di beri waktu untuk bernapas. Mengelak, menghindar dan menyerang, Alea terus saja melakukan itu, menerjang, menebas dan mencari celah, lalu kembali bertahan lagi. [Sistem : Skill pasif aktif, health poin berada di angka 15% kekebalan tubuh terhadap segala serangan aktif, status tambahan 50% aktif selama tiga puluh menit.] Bukankah ini berkah? Di saat dirinya berpikir akan terpojok, nyatanya dia malah mengaktifkan sebuah skill yang membuat dirinya mampu memberi serangan balik. "Apa ini? Kenapa aku merasa lebih kuat dari sebelumnya?" "Inilah yang ku maksud tadi, kita seperti berbuat curang saat skill pasif ini aktif." "Lalu tunggu apa lagi, sekarang tunjukan jika kau mampu!" "Tentu saja." Alea tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini musuh sekuat apapun dia akan bisa mengalahkan dengan mudah, walau rasa sakit ini menjadi bayarannya. Dia menyeringai, mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan. Lalu saat melihat Mana Poin yang terus terisi penuh, lagi-lagi dia tersenyum puas. Dia bergerak mundur mengambil ancang-ancang dan mulai mengaktifkan skill untuk memberi serangan pada monster kelabang itu. [Moonlight Splitter!] Alea mengayunkan Augus hingga ke ciptakan tiga tebasan berwarna hitam berturut-turut dan berhasil mengenai monster itu. Dia berlari ke samping dengan memegang Augus erat-erat. Memperhatikan dan mencari peluang yang cocok untuk mengaktifkan skill berikutnya. [Moon Blade dance!] Dia melompat, lalu membuat lima tebasan pedang berwarna hitam secara berturut-turut berbentuk diagonal, saat melihat monster itu membuka titik totalnya. Skill itu berhasil mengenai lawan hingga membuatnya terpukul mundur dan tersungkur di atas tanah, health poin milik monster itu masih sangat banyak, dan Alea harus bergerak cepat sebelum monster itu berada dalam kondisi mengamuk, yang mana kekuatan pada monster itu akan bertambah dua kali lipat dan membuat dirinya kerepotan. [CRESCENT CLEAVE!] Sebuah tebasan besar dengan tenaga yang luar biasa keluar dan menerjang titik lemah monster itu, Alea tersenyum saat melihat health poin berkurang banyak karena serangan itu. "Benar-benar gila!" "Aku pun berpikir demikian," ucap Alea yang juga tidak menyangka jika kekuatan dalam dirinya akan sekuat ini. Untuk petualang level lima dan rank F dia malah seperti berada di status petualang dengan rank A. Sungguh luar biasa bukan. Alea langsung melompat mundur, dan berlari ke samping kiri saat monster itu kembali menyerang, menerjang dan menabrakkan dirinya kearah Alea. Perlawanan yang membabi buta. Bahkan monster itu tak segan mengeluarkan skill area yang sangat kuat hingga membuat Alea harus menepis serangan monster itu dengan Augus. Waktunya tak banyak lagi, skill pasif akan segera berakhir dan Alea tak bisa memiliki kesempatan jika ini akan terus berlanjut. Dia menggenggam erat Augus, lalu mengambil ancang-ancang untuk mengaktifkan skill terkuat miliknya. Skill area yang bisa menyelesaikan monster kelabang ini. "Kau siap?" "Kapanpun kau siap!" Augus selalu saja mantap dengan keputusan Alea, tak ada keraguan dalam dirinya. [Infinite Edge!] Skill aktif, membuat Alea mengeluarkan energi yang sangat besar dan dia salurkan pada Augus. Lalu dia mengumpulkan energi itu beberapa saat sebelum membuat ledakan besar di area yang dia tentukan dengan energi itu. Kekuatan yang sungguh luar biasa kuat, bahkan saat melawan monster belalang sembah dia tidak perlu mengeluarkan skill sebesar itu. Sungguh, inilah kekuatan yang sesungguhnya. Kekuatan yang berhasil membuat monster kelabang itu ambruk tak bernyawa lagi. Dia berhasil, dengan health poin yang sekarat itu dia berhasil menjadi player kuat dalam seketika. [Sistem : anda telah mengalahkan black Apocalypse, reward akan dikirim ke mail anda] [Sebuah monster yang meresahkan hutan larangan, membuat monster dan pemburu takut untuk menyentuh tanah ini, anda satu-satunya yang berhasil mengalahkan monster yang hampir di takuti oleh seluruh pemburu.] [Anda orang pertama yang berhasil mengalahkan Balck Apocalypse, Apakah anda akan mencatat nama anda di papan pengumuman?] [Tidak.] [Nama anda tidak akan tercantum, dan sosok yang mengalahkan black Apocalypse akan selamanya menjadi sebuah misteri.] [Anda mendapat hadiah tambahan karena menyembunyikan identitas anda.] Inilah keuntungan menjadi orang pertama yang berhasil mengalahkan monster seorang diri. Ada banyak hadiah yang diberikan, dan semua item unik langka pun dia dapatkan. Pantas saja para player berbondong-bondong untuk menjadi yang terkuat dan berburu monster kuat. Alasannya karena mereka ingin hadiah, mereka ingin item, dan mereka ingin kekuatan. Jika terus seperti ini, Alea akan menjadi orang yang berjalan sendiri dengan kekuatannya, menyelesaikan lantai seorang diri, dan menjadi orang pertama yang akan memberikan tempat untuk orang-orang yang tidak mampu. Dia akan menjadi orang yang memiliki wilayah luas karena berhasil menaklukkan lantai seorang diri. Hanya saja, sebelum itu dia harus mengurus semua drop item dari monster kelabang ini, dan segera pergi setelah mengambil tanaman Snapdragon api keabadian. Bukankah keuntungan yang sangat besar dia dapatnya. Keberuntungan seolah berpihak pada dirinya, dia benar-benar tak menyangka jika akan mendapat sebuah Rahmat seperti ini. "Saatnya pergi sebelum mer ia datang," ucap Alea sembari berlalu pergi, dia yakin sebentar lagi akan banyak pemburu yang datang dan mencari dirinya. Tapi sebelum itu, Alea menghunuskan Augus kearah black Apocalypse. Menyerap energi monster itu untuk meningkatkan kekuatan Augus agar terus bertambah kuat dan bisa membantu dirinya. Setelah semuanya selesai, Alea segera beranjak pergi dan tak meninggalkan jejak pertarungannya sedikit pun. Berharap mereka tidak akan sadar dengan kondisi ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD