Dongeon tower 10
"Apa kau kenyang?"
"Lumayan, energi ini cukup untuk mengisi tenaga ku."
Alea mendengkus pelan, padahal core yang diberikan pada Augus terbilang besar dan lumayan mahal jika diuangkan. Dan apa tadi dia bilang, lumayan. Sasar benda tidak tahu diri!
Jika bukan karena dirinya membutuhkan kekuatan dari Augus, Alea jelas enggan melakukan hal itu, hanya saja, tanpa Augus dia bukanlah siapa-siapa, keberadaan ego membuat kekuatan dalam dirinya naik beberapa kali lipat dan bahkan bisa mengatasi sebuah Raid seorang diri.
"Bersyukur saja karena kita masih bisa mendapatkan inti core itu."
"Hem, setidaknya aku tidak sampai kelaparan."
"Perut saja yang kau pikirkan!"
"Kenapa tidak, kau sendiri mendapat bagian yang sepadan, kan? Terlebih jika aku bertambah kuat, kau juga akan mendapat keuntungan."
Dasar Augus, kenapa yang dia katakan selalu ada benarnya, Alea mendapat banyak sisik kelabang yang memilik harga sangat mahal, belum lagi beberapa item yang dia dapat saat melawan belalang sembah dan inti core kecil yang akan dia jual di pelelangan nanti. Akan banyak uang yang dia dapat untung membeli inti core yang cukup untuk memberi makan Augus. Demi bertambah kuat dirinya dan demi masa depan yang cerah.
"Kita akan sampai, kau kembalilah ke bentukmu."
"Kenapa harus?"
"Karena aku tidak mau kau menarik perhatian banyak orang, apalagi kita baru keluar dari hutan larangan."
"Ck!" Augus mendengkus pelan. "Atur sesuka hatimu saja!" Lalu setelahnya dia berubah menjadi bentuk cincin yang melingkar di jarinya.
"Aku merasakan energi yang kuat datang kearah kita, berhati-hati lah."
"Tenang saja." Alea tersenyum dia jelas tahu siapa sosok yang tengah berjalan kearahnya, tentu saja dia brain, orang yang mengatakan akan menjemput dirinya di depan hutan larangan. Tempat yang sudah di janjikan sebelumnya.
"Hey, Alea! Sebelah sini!" Alea terkekeh pelan seperti biasa brain akan bersikap berlebihan seperti itu. Bahkan dia tidak peduli dengan beberapa orang yang imut bersama dirinya.
Berteriak selayaknya anak kecil tanpa memikirkan posisinya sebagai wakil ketua serikat ternama di menara ini.
Alea segera menghampiri pria itu dan beberapa orang yang ikut bersamanya, sepertinya mer ia baru saja menyelesaikan perburuan mereka dan sengaja menunggunya di tempat ini.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya brain yang turun dari kudanya dan menatap kearah dirinya. Seolah memastikan sesuatu yang jelas tidak perlu di sana. "Kau baru saja masuk ke hutan larangan, bagaimana caramu keluar dari sana?"
"Ayolah, aku baru saja keluar dan kau sudah menyerang ku dengan banyak pertanyaan seperti itu."
"Ck, kau selalu saja menyembunyikan sesuatu yang penting dari ku!"
"Tidak semua bisa aku ceritakan dengan mudah. Kau tahu," Alea melirik kearah sekitar di mana para anggota serikat menatap aneh kearahnya. "Terlalu banyak orang di tempat ini."
"Hahaha, baiklah, sepetinya tuan Alea ini adalah orang yang pemalu!" Brain merangkul Alea seolah pria itu adalah teman lama yang sudah lama tak bertemu, lalu mereka berjalan beriringan diikuti para anggota guild di belakang.
"Ngomong-ngomong, apa yang sebenarnya kau lakukan di hutan larangan seorang diri? Apa kau ingin menguji keberuntungan atau apa?"
"Hanya berusaha lari dan sembunyi."
"Lari?" Brain mengerut kening saat mendengar jawaban dari Alea. "Memang apa yang sudah kau lakukan sampai harus lari seperti itu?"
"Ceritanya panjang, aku akan menjelaskannya nanti."
"Ck, kau tau? Kau selalu berhasil membuatku penasaran dengan semua yang raih."
"Jangan terlalu memuji, aku bahkan tidak akan sebanding dengan dirimu."
"Hoho, lucu sekali tuan Alea, kau selalu saja seperti itu, merendah untuk menutupi bakat yang tersembunyi dalam dirimu."
"Ck, ayolah kau sendiri bahkan tau aku level berapa dan hanya sebagai pemburu yang mendukung p*********n, bukan bagian dari tim inti seperti kalian."
"Tapi di p*********n terakhir, kau hampir mendapat kontribusi yang cukup banyak bukan?"
"Hanya sebuah keberuntungan."
"Dan seberapa banyak keberuntungan yang kau miliki?"
Alea terdiam sesaat, keberuntungan? Dan berapa banyak keberuntungan yang dia miliki, kenapa semua seolah dia benar-benar beruntung. Mendapat gelar yang tak pernah dia sangka sebelumnya, laku mendapat sebuah ego yang bisa membangkitkan dan membantu dirinya berkembang, belum lagi semua item dan material yang dia dapat dari Monster yang dia kalahkan, seolah semua yang terjadi hanya berlalu begitu cepat. Padahal dia sudah mengabiskan waktu banyak untuk menghadapi semua monster dan segala hal yang dia temui di gua itu.
"Entah, aku tidak terlalu mengerti dengan keberuntungan itu sendiri." Karena baginya kekuatan yang dia dapat, semata-mata bukan karena keberuntungan belaka, tapi ada usaha dan ikut campur sari pada dewa yang mengawasi menara ini.
"Terlalu banyak keberuntungan yang kau miliki hingga membuatku iri."
"Dan begitu banyak kekuatan dan kemampuan yang kau miliki hingga membuatku tak percaya diri berjalan di sebelah mu." Balas Alea sembari melirik Brain yang masih saja merangkul dirinya.
"Haha kau bisa saja, kau selalu saja pintar membalikkan perkataan setiap orang."
"Kau sendiri, terlalu pintar mengambil perasaan orang-orang hingga membuatku merinding tidak kali berada di dekat mu."
"Haha, ayolah, aku tidak seburuk kau kau pikirkan."
Tentu saja tidak seburuk itu, Alea bisa melihat sikap dan tingkah laku dari Brain selama mereka berada dalam satu kelompok p*********n. Pria ini bukan hanya pintar mengambil hati seseorang, tapi dia juga bisa diandalkan dan bisa menjadi tempat berlindung yang sangat baik, selain di balik punggung Felix si pemimpin serikat tentunya.
Mereka berdua, walau tampang dan tingkah yang terlihat menyeramkan, tapi mereka adalah dua orang baik yang akan menjadi tempat Alea meminta tolong. Bagaimana pun juga mereka sudah menawarkan tempat untuk dirinya, dan sebisa mungkin Alea akan memanfaatkan hal itu.
Dia bisa berharap banyak kepada Felix dan juga brain tanpa takut sesuatu terjadi padanya, terlebih setelah ini dia akan mendapat uang yang lumayan banyak dari hasil penjualan material yang dia dapatkan. Dan hanya pada Felix juga Brain dia bisa meminta tolong untuk kebaikannya sendiri.
"Aku tahu ada sesuatu yang terjadi denganmu." Brain tiba-tiba merendahkan suaranya sembari melirik kecil kearahnya. Alea tak terlalu yakin jika Brain bisa menebak apa yang sudah dia lalui selama ini. Hanya saja melihat bagaimana pria ini menatap dirinya, di agak merasa tidak nyaman dengan sorot itu.
"Kita akan membicarakan semua di tempat Felix, aku harap kau tidak menyembunyikannya."
"Tentu saja, aku akan menceritakan apa yang terjadi, dan aku juga akan meminta tolong padamu setelahnya."
"Apapun itu, aku akan berusaha menolong mu seperti yang sudah pernah kami katakan sebelumnya. Kau akan selalu diterima di tempat kami."
Yah, itulah yang Alea harapkan setelah ini, jika dulu dia terbiasa sendiri, melakukan apapun sendiri, kini dia yakin, tanpa orang yang kuat dan memiliki pengaruh besar di dalam menara ini, dia akan kesulitan dengan semua hal yang harus dia kerjakan jika hanya seorang diri. Terlebih, untuk menutupi sebuah identitas, dia jelas membutuhkan orang yang benar-benar sangat berpengaruh dalam hal itu.
Lalu dari sekian banyak orang yang dia kenal, hanya serikat flame red dragon yang benar-benar dia kenal. Bahkan saat dirinya tidak memiliki apa-apa mereka berusaha menarik dirinya untuk bergabung dan akan menyediakan tempat untuk pelatihan dirinya.
Mungkin dulu Alea terlalu naif dan berpikir akan merepotkan banyak orang, tapi sekarang, dia tidak akan senaif itu. Melakukan semua seorang diri akan benar-benar merepotkan dan dia butuh orang lain yang bisa dia percaya. Bukan karena kekuatannya, tapi karena memang sudah berusaha menerima dirinya tanpa memikirkan jika dia hanya sebuah beban atau seonggok sampah tidak berguna.
Mereka menganggap dirinya sama, sama seperti yang lain. Memiliki kesempatan yang sama. Dan orang seperti mereka tentu saja tidak akan pernah berniat buruk untuk hal yang tidak penting.
"Felix sudah menunggumu," ucap Brain tiba-tiba. Pria itu menoleh menatap Alea saat mereka sampai di pintu gerbang kota di lantai dua. "Dia orang yang paling panik saat mengetahui keberadaan mu. Bahkan dia bersikeras untuk menyusul kau setelah tahu jika kau berada di hutan larangan. Dia berpikir kau tidak akan selamat, tapi kali ini sepertinya aku akan memenangkan pertaruhan ini."
"Kalian bertaruh?"
"Tentu saja, tidak akan seru jika hal semacam ini dan haknya h membuat Felix gelisah tidak dimanfaatkan dengan baik."
"Dasar, kau pikir aku benda mati yang bisa dengan mudah kau pertaruhkan?"
"Setidaknya keselamatan mu di hargai dengan satuan inti stone berukuran dua kali lipat seperti biasanya."
Alea melilit Brain tak percaya, pria ini masih sempat mempertaruhkan sesuatu yang tidak mungkin dan martial semahal itu, sialan!
"Tapi setelah tahu kau selamat, dia orang pertama yang senang dan langsung pulang untuk menunggu berdatangan mu. Dia orang yang entah kenapa terlalu peduli dengan keadaanmu."
"Karena aku tampan?" Ujar Alea seketika yang membuat Brain langsung melirik tajam.
"Sejak kapan kau berubah menjadi senarsis ini? Seingatku kau orang yang pendiam dan tak banyak bicara." Brain melirik Alea sebentar.
"Apa kau terbentur sesuatu?" Tanya brain lagi.
"Ck, lagi pula ke apa harus berlebihan, aku bisa mengatasinya sendiri dan aku punya sesuatu untuk kalian nanti."
"Hadiah perpisahan?"
"Bukan! Oh ayolah, tak bisakah kau serius?"
"Kau terlalu mencurigakan untuk dianggap serius. Terlebih untuk seukuran orang yang baru saja keluar dari hutan terlarang dan masih sehat, aku tidak yakin jika kau tidak mengalami luka-luka, terlebih ada banyak sekali monster di sana." Brain terdiam sejenak.
Ada banyak orang yang nekat masuk kedalam hutan larangan, tapi sebagian dari mereka tak bisa kembali hidup-hidup, harus ada beberapa orang yang membantu pencarian untuk membawa mereka keluar dari tempat yang mengerikan itu.
Dan kini Alea keluar dari sana tanpa luka gores sedikitpun di tubuhnya.
"Atau kau mengalami luka dalam, sampai kau ngelantur dan berkata demikian karena kau akan mati?" Tanya Brain, dia perlahan mendorong pintu besar di hadapannya, mereka sudah sampai di ruangan Felix, dan Alea langsung melangkah masuk walau ragu-ragu.
Brain segera menyusul setelah menutup kembali pintu itu.
"Felix, lihatlah aku membawa anak kesayangan mu!"
"Diam lah kau bodoh, aku sudah tahu karena aku sudah melihatnya secara langsung!" Ucap Felix yang merasa kesal dengan tingkah Brain.
Dia berdiri dari tempatnya, lalu berjalan mendekat kearah Alea.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Felix begitu dirinya berdiri dihadapan Alea.
"Seperti yang kau lihat?"
"Tapi sepertinya dia terbentur sesuatu, dia berubah menjadi Alea yang lain." Sanggah Brain cepat. "Dia terlalu narsis untuk seorang Alea yang kita kenal."
"Kau yakin?" Tanya Felix, lalu menatap Alea lamat-lamat. "Tapi penampilannya masih sama seperti Alea yang dulu ku lihat. Apa ada perubahan lain di dalam dirinya?"
Brain menggeleng pelan. "Aku tidak yakin, dia terlihat biasa saja di sana. Masih sama seperti Alea yang dulu, walau sekarang dia lebih percaya diri, mungkin itu poin positifnya."
Alea terdiam sejak tadi mendengar ucapan dari para orang-orang ini, apakah mereka tidak malu saat membicarakan orang lain tepat di hadapannya sendiri, padahal, Alea jelas-jelas ada di hadapan mereka.
[Apa mereka semumpulsn orang i***t?] Augus tiba-tiba berkata di kepala Alea, dia sendiri merasa jengah dengan percakapan dua orang yang memiliki kekuatan besar, tapi bermulut lancang.
[Jangan seperti itu, mereka adalah orang yang bisa kita percaya untuk saat ini. Dari sekian banyak orang yang munafik, hanya mereka yang bisa membantu kita.]
[Terserah kau saja, aku akan kembali beristirahat untuk mencerna makanan ini.]
Alea mendengkus pelan, laku menatap Felix yang masih saja terus berdebat dan mengatai sisi buruk dan mengatakan jika dirinya lemah.
Memutar bola mata malas, Alea mengeluarkan semua item yang dia dapat beberapa hari kebelakang. "Terserah apa yang kalian katakan. Yang jelas aku yang sudah membunuh bis tersembunyi beberapa hari lalu, dan aku juga yang sudah membunuh black Apocalypse," ujar Alea dengan santai.
Tentu saja perkataan Alea membuat dua orang itu menoleh bersamaan dan menatap Alea dengan tatapan aneh untuk beberapa saat.
"Kau dengar sendiri bukan? Dia berubah aneh setelah keluar dari hutan larangan," ucap Brain setengah berbisik dan masih bisa didengar oleh Alea.
"Apa dia kemasukan roh jahat?"
"Entahlah, sepertinya begitu."
"Ck! Alea yang malang."
"Hey! Kalian membicarakan sesuatu yang tidak mungkin di depan muka orangnya langsung? Apa kalian gila?" Ucap Alea yang merasa jengah dengan kelakuan Felix dan juga Brain.
"Aku tidak membual ataupun kemasukan roh, aku berkata apa adanya, dan hanya kalian yang aku beritahu sejauh ini!"
"Baiklah aku percaya." Barin menoleh kearah Felix. "Bukankan begitu?"
Dari raut yang mereka perlihatkan tentu saja mereka tidak percaya dengan ucapan Alea yang terkesan membual itu. Tidak masalah, toh Alea sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, untuk itu dia membawa semua material yang dia dapat dari monster yang sudah dia kalahkan sebelumnya.
"Alasan aku menghubungi Brain karena aku ingin meminta tolong pada kalian." Lalu perlahan dia mengeluarkan kantung kecil dari ruang penyimpanannya. "Aku ingin meminta kalian menjualkan semua material yang aku dapat di pelelangan, karena hanya kalian yang bisa membantuku untuk saat ini." Alea mengeluarkan semua material yang dia dapatkan dari kantung itu. Dan seketika mereka terkejut.
"Ka-kau!" Brain yang pertama kali mengatakan itu, dia menatap Alea lekat seolah ada yang aneh dari anak ini. "Kau serius mengalahkan bos tersembunyi seorang diri."
"Ceritanya panjang, aku akan menceritakannya nanti." Lalu Alea menoleh pada Felix yang masih terpukau dengan apa yang sudah dia dapatkan.
"Aku juga memiliki hadiah untuk mu, hanya saja untuk kali ini tidak gratis."
"Apa itu? Apa yang akan mau minta sebagai imbalan?" Tanya Felix penasaran.
"Sabar sebentar, aku akan memberikan item ini dulu, baru aku akan meminta hadiahnya jika itu pantas," ucap Alea sembari mengeluarkan Snapdragon api abadi dari ruang penyimpanannya. "Aku tidak tahu apakah ini berguna untukmu atau tidak, tapi melihat atribut pada tumbuhan ini dan tidak ada yang menjual di pelelangan, aku kira barang ini langka, dan sepertinya atribut tumbuhan ini cocok untukmu."
Bukan hanya Felix, Narain yang melihat tumbuhan berwarna merah itu langsung menganga di tempatnya, material dengan harga seratus juta rum. Rum termasuk mata uang di dalam menara. di dapatkan oleh anak ini dengan sangat mudah.
Tunggu, tentu saja tidak mudah, sepertinya apa yang sudah dia lalui benar-benar luar biasa, buktinya Alea bisa mendapatkan Snapdragon dengan kualitas yang luar biasa dan pemurnian energi di tahap sembilan. Belum lagi, sisik black Apocalypse yang memiliki harga mahal dan dicari oleh banyak pemburu untuk membuat senjata yang luar biasa.
"Kau? Apa saja yang sudah kau lalui selama menghilang?" Tanya Brain tidak percaya. Bahkan jika dipikir satu anggota guild jika dikerahkan untuk mencari Snapdragon ataupun mencari sisik black Apocalypse belum tentu mendapatkannya.
Terlebih Snapdragon api abadi adalah material yang Felix cari selama ini.
"Anggap saja aku mendapat keberuntungan dan menemukan itu saat perjalanan pulang."
"Alasan kenapa kau masuk ke hutan larangan, hanya karena kau ingin menyembunyikan identitas mu?" Tebak Brain.
"Kurang lebih seperti itulah, aku tidak ingin setelah mencantumkan nama di papan peringkat, aku malah mendapat banyak orang munafik bermuka dan penjilat yang menjengkelkan."
Brain mengangguk pelan, sepertinya dia mengerti kenapa Alea ngotot untuk memberitahukan tentang semuanya di ruangan Felix, karena dia tidak ingin identitasnya terbongkar.
"Aku percaya pada kalian, itulah alasan kenapa aku datang ke tempat ini dan meminta bantuan pada kalian."
Bukankah ini sesuatu yang sangat menyentuh, di saat orang yang hampir kehilangan arah tiba-tiba menyerahkan kepercayaannya pada dirinya. Dan tentu saja Felix akan memegang kepercayaan itu dengan nyawanya sendiri, dia tidak akan mengecewakan hati Alea, setelah dirinya menaruh kepercayaan itu.
"Untuk semua item, biar aku yang urus. Aku akan mengirim semua uangnya ke rekening mu setelahnya pelelangan selesai."
"Terima kasih untuk itu, dan ada satu hal lagi yang ingin aku minta, bisakah kau membelikan ku beberapa inti core bos yang memiliki ukuran besar, atau langka sekalipun dengan uang itu?" Tanya Alea ragu. Dia jelas tidak mungkin jika harus membeli core dengan harga mahal seorang diri, orang jelas tidak akan percaya dengan penampilan yang terlhat buruk dan tidak meyakinkan itu.
"Inti core bos? Apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?" Tanya Felix kemudian, terlihat tangannya masih bergetar karena mendapat barang yang selama ini dia idamkan.
"Katakan saja untuk memperkuat kemampuanku."
"Berapa level mu sekarang?" Tanya Felix kemudian.
Sedangkan Alea terdiam, dia tidak yakin jika harus memberitahu pada Felix jika dirinya masih berada di level lima untuk sekarang.
"Maaf untuk sekarang aku tidak bisa memberi tahu kalian."
Felix mendengkus pelan, tapi dia mengerti, terlebih untuk level, sepertinya hal yang sensitif untuk Alea.
"Berapa banyak yang kau butuhkan?"
"Sebanyak uangku cukup untuk membeli benda itu."
Felix menghela napas panjang, dia menatap Alea sejenak, sepertinya dia lupa jika dia baru saja memberikan barang dengan harga jutaan rum padanya.
"Seratus inti core cukup?"
"Se-serstus?" Hilang sudah kepercayaan diri Alea tadi. Apalagi setelah mendengar seratus inti core boh, yang harganya lebih dari dua puluh juta.
"Apa kau serius?"
"Aku akan memberikan seratus inti core jika itu cukup, jika kau ingin lebih, aku akan memberikannya, hanya saja aku butuh waktu itu itu." Felix berubah menjadi serius, kesan konyol yang dia berikan tadi berubah menjadi Felix yang terkesan serius dan memiliki aura yang tak terbantahkan lagi.
"Seratus sudah lebih dari cukup, hanya saja apa uangku akan cukup untuk membayarnya?" Tanya Alea tak yakin.
Brain menoleh kearah Felix, begitupun juga pria itu. Yah, mereka berdua berpikir apakah Alea tidak mengerti berapa harga dari tumbuhan langka yang baru saja dia berikan pada Felix.
Felix menghela napas pelan lalu menatap Alea. "Dengar, bunga Snapdragon api abadi adalah tumbuhan yang sangat langka, bahkan mungkin hanya ada beberapa di lantai ini dan di setiap lantai belum tentu memiliki tumbuhan langka ini, jadi wajar, jika tumbuhan ini akan memiliki harga jual yang sangat mahal."
Alea mendengar dengan seksama penjelasan dari Felix. "Dan aku akan membayar dengan harga pasaran saat ini."
"Berapa yang akan kau beri?" Jujur, Alea hanya ingin memberi tumbuhan itu sebagai hadiah, dia tidak ingin menghargai sesuatu benda untuk orang yang sudah sangat rela memberikan bantuan kepada dirinya.
"150 juta, apa itu cukup?"
"A-apa!?" Apakah Alea baru saja salah mendengar, 150 juta, apakah itu tidak berlebihan?
"Seperti yang kau dengar, 150 juta untuk tumbuhan ini."
"Jangan bercanda!" Ucap Alea yang masih tak percaya. "Kau seolah membuatku senang hanya karena tumbuhan ini."
Felix menggeleng pelan. "Aku serius, aku akan memberimu harga itu untuk tumbuhan ini."
Dari raut yang Felix tunjukan dia seolah berkata dengan serius. Tapi 150 juta terlalu banyak, dan dia tidak butuh yang. Memang selama ini dia membutuhkan banyak yang untuk bertahan hidup, tapi kali ini, uang bukanlah segalanya.
Alea menghela napas pelan. "Maaf, uang sebanyak itu aku tidak akan menerimanya. Aku hanya akan mengambil seratus inti core yang kau janjikan tadi."
"Apa kau serius."
"Anggap saja aku memberimu hadiah karena kebaikanmu padaku, untuk saat ini uang bukanlah segalanya untukku, dengan uang sebanyak itu malah bisa mengancam keselamatan hidupku, jadi maaf jika aku menolak pemberianmu."
Felix tersenyum mendengar jawaban Alea, sepertinya dia bukan orang yang tamak hanya karena uang, dia jelas berpikir jauh kedepan sebelum melakukan sebuah kecerobohan dan bisa membahayakan dirinya sendiri.
"Tapi jika aku boleh meminta sesuatu, maka aku akan sengat senang jika kau menerima permintaanku ini."
Felix mengeri, Alea pasti akan meminta sesuatu yang mungkin hanya bisa di lakukan oleh dirinya dan petinggi serikat yang lain, hanya saja sepertinya Alea sudah sangat mempercayai dirinya bukan orang lain. Maka dengan rendah hati, Felix akan menerima semua permintaan Alea sebagai bukti jika dirinya bukan orang munafik atau hanya memanfaatkan keadaan yang ada.
Bagi Felix, Alea adalah teman, dan dirinya di masa lalu.