Bab 5

2773 Words
Seperti biasa, ruangan teater sekolah penuh sesak dengan siswa-siswi yang ingin melihat anak-anak teater yang keren-keren dan berbakat lagi berakting. Memang tidak biasanya seperti ini. Hanya pada saat-saat tertentu saja. Justru ini adalah kesempatan emas bagi anak-anak yang berbakat di bidang akting untuk menampilkan drama tahunan sekolah yang terbaik. Namanya akan selalu diingat para siswa. Yah...kalau bisa dibilang artis sekolah gitu, hehehehe. Dan katanya kalau pemain dramanya bagus dan ceritanya menarik akan diikutsertakan lomba drama antar sekolah memperebutkan kepopuleran,piala/penghargaan dan sejumlah uang. Tak terbayangkan bagi Hayi jika dia nanti bakal jadi seperti itu. Menggapai hal yang namanya cinta saja rasanya sulit bin sudah banget gitu lho! Hah! Gimana mau meraih yang lain? Pusing tujuh keliling deh mikirin hal seperti itu! Tapi...takdir dan nasib manusia? Hanya Tuhanlah yang tahu. Dan kayaknya hal yang tidak diduga-duga olehnya. Mengubah semua jalan hidupnya Hayi. Membuat mimpinya semakin mendekati kenyataan. "Hosh,hosh! Berat banget sih!",kata Hayi sambil meletakkan kardus yang penuh dengan barang-barang keperluan festival sekolah di kelasnya. "Hayi! Katanya kamu dipanggil Somi tuh!" Segera Hayi menoleh ke arah suara yang memanggilnya barusan. "Somi? Maksudmu Joen Somi? Dimana?",balas Hayi. "Iya, katanya kamu segera cepetan pergi ke ruangan teater. Ditunggu sekarang!" "Benarkah? Aduh, harus cepetan nih! Thanks ya! Sudah kasih tahu!" "Iya! Sudah cepat sana! Siapa tahu itu penting!" Hayi langsung bergegas pergi menuju ke ruangan teater walaupun tidak tahu ada hal yang mungkin bisa dibilang kejutan atau ujian buat dirinya. Tok! Tok! Tok! Terdengar suara pintu diketok dari luar ruangan teater. "Ya siapa? Masuk saja!",kata ketua klub teater. "Maaf kalau saya mengganggu. Tadi barusan katanya Somi memanggil saya kemari" "Memangnya dia ada perlu apa sama kamu?" "Tidak tahu sih! Tapi kayaknya penting!" "Tunggu dulu disini sebentar ya! Chungha,tolong panggilkan Somi! Ada yang mencarinya!",teriak ketua klub teater. "Ah,maaf merepotkan! Ohya nama saya Lee Hayi!" "Gak apa-apa! Namaku Lalisa ketua klub teater" Mereka lalu berjabat tangan. "Hebat ya Lalisa! Kamu bisa jadi ketua klub ini!",puji Hayi. "Eh gak juga! Aku biasa-biasa saja kok! Aku juga dulunya gak bisa akting,tapi karena aku punya niat untuk menggapainya dan terus berusaha serta berdoa. Akhirnya terwujud. Aku sebenarnya juga gak pernah terpikirkan dipilih menjadi ketua klub",jelas Lalisa panjang lebar. "Tapi menurutku kamu itu hebat sekali! Bisa terus berusaha,berdoa tanpa berpikir putus asa untuk menggapai apapun itu! Aku juga ingin bisa seperti kamu,terus berpikiran positif, dewasa untuk menghadapi masa kini dan masa depan",kata Hayi yang sepertinya bersedih. "Kamu gak boleh berpikiran pendek seperti itu! Aku yakin kamu juga bisa meraih apa yang kamu impikan. Aku mendukungmu sepenuhnya! Jangan menyerah ya! Berusahalah! Dan terima kasih kamu sudah memuji-muji aku seperti itu,padahal aku tidak sehebat itu kok!" Senyum manis mengembang di wajah Lalisa serta lesung pipinya muncul yang sedang berusah menyemangati Hayi dengan tulus ikhlas. "Terima kasih Lis! Aku akan terus berusaha dan berdoa tanpa merasa pesimis dan putus asa dalam hal apapun!",kata Hayi mencoba tegar. "Wah, wah! Kayaknya gue ganggu kalian nih!" Terdengar suara dari belakang mereka berdua. "Somi! Ohya katanya kamu ada perlu sama aku kan? Ada apa?",tanya Hayi semangat. "Sorry ya Lis! Kayaknya gue perlu ngomong berdua aja sama Hayi! Bukan gue ngusir lho!",kata Somi berusaha meyakinkan Lalisa. "Gak apa-apa. Aku juga masih ada kerjaan. Kalian bicaralah! Aku pergi kesana dulu ya!" Setelah Lalisa pergi, obrolan Hayi dan Somi dimulai. "Ok. Sekarang gue akan ngomong apa perlu gue sama elu. Gini, elu tau sendiri kan sekolah kita bentar lagi ngadain acara festival sekolah. Semua siswa-siswi sibuk dengan kelas masing-masing termasuk kami dari anggota klub teater sekolah. Setiap tahun klub teater akan bermain drama juga untuk tahun ini",jelas Somi. "Ah maaf aku menyela sebentar. Eng emang ada hubungannya apa aku sama klub teater ini?",tanya Hayi masih tidak mengerti apa maksudnya. "Langsung aja kalo gitu. Kami semua,anggota klub teater sekolah memilih elu jadi peran Juliet untuk drama festival tahun ini",ujar Somi yakin. Mendengar pernyataan Somi, matanya Hayi langsung terbelalak dan mulutnya otomatis menganga lebar, terkejut. Sangat terkejut. "Apa?! Kamu...gak salah ngomong kan Somi?",kata Hayi tidak yakin dan percaya. "Gak. Sama sekali gak salah. Gue gak pernah salah kalo ngomong. Apa perlu diulang? Kami pilih elu jadi peran Juliet untuk drama festival sekolah tahun ini. Mengerti?" Meski bunga sudah mengatakan dengan jelas-sejelasnya, Hayi masih tidak percaya. "Mimpi apa aku semalam ya? Kok gak yang enggak mungkin sekali untuk diraih oleh orang sepertiku malah terwujud dengan mudahnya? Orang-orang susah payah berusaha,aku malah dapat dengan mudah tanpa kerja keras bercucuran keringat. Aneh!",pikir Hayi dalam hatinya. "Kenapa? Masih enggak percaya? Seharusnya kamu senang kan bisa dapat peran yang selalu diimpikan ini?" "Bu...bukannya aku gak senang. Tapi apa kamu gak salah? Seriusan? Aku juga gak bisa akting kayak kamu dan teman-temanmu. Lagipula kenapa gak kamu aja ambil peran Julietnya?",tolak Hayi keras. "Memang semuanya disini bilang gue aja yang jadi Julietnya,tapi gue tolak. Gue ingin coba peran baru. Apa gak boleh? Gue juga merasa bosan!" "Cerita yang kamu dan teman-temanmu mainkan kan sama seperti dulu? Pastinya kamu sudah lebih tahu jalan ceritanya. Jadi, sebaiknya kamu aja deh yang main. Ambil peran Julietnya. Kutolak! Pokoknya aku gak mau! Gak bisa! Maaf ya!" "Hei tunggu!" Selesai bicara, Hayi langsung balik badan buat segera pergi, tetapi Somi langsung menahannya. "Hei jangan langsung pergi aja dong! Gue belum selesai ngomong!" "Ada apa lagi? Masih mau paksa aku main drama jadi Juliet? Sudah kubilang kan aku gak bisa main drama ini. Aku gak bisa akting!" "Dengerin gue ngomong dulu coba kenapa sih? Sorry nih kalo gue maksa tetapi gue udah bilang hal ini ke Lalisa dan dia setuju! Katanya supaya bisa mendapatkan bintang baru di klub teater ini" "Hah?! Mana mungkin! Kenal sama Lalisa aja barusan tadi kok malah jadi begini sih?" "Itu benar Hayi! Aku dan yang lainnya setuju dengan usulan Somi supaya drama tahun ini dimainkan oleh siswa-siswi yang belum pernah berakting. Kami bukan mau ngerjain atau menyulitkan kamu. Maaf, sebelumnya aku gak bicara dari awal",kata Lalisa yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. "Tapi...aku benar-benar gak bisa! Tolong jangan paksa!" "Sorry banget Hayi! Gue gak ada maksud apa-apa kok! Tapi kami minta tolong sama elu kali ini aja! Please...",bujuk Somi. Diminta dengan cara sangat serius seperti itu akhiy Hayi jadi berpikir,"Kalo kutolak gak enak, apalagi katanya Somi yang khusus minta ke ketua klub dan teman-temannya lagi. Tapi...kalo kuterima,aku kan gak bisa berakting dan malu banget deh sama teman-teman tahu nanti aku main drama. Gimana ya sebaiknya?" "Gimana? Jangan kelamaan mikirnya. Sudah gak ada waktu lagi bagi kami buat milih yang lainnya",kata Lalisa. Akhirnya Hayi menghela nafas panjang dan berkata,"Iya deh. Aku mau main drama kalian. Tapi buat tahun ini aja ya! Nyerah aku!" "Bagus kalo begitu. Ayo, sekarang mulai hafalin teksnya. Kita udah gak punya banyak waktu lagi buat bersantai-santai!",ucap Lalisa lega dan senang. "Nih Hayi! Teks drama yang harus elu hafalkan!",kata Somi menyerah setumpuk kertas ke Hayi. "Lho, katanya drama Romeo dan Juliet tapi kok judulnya "For Her"?" "Sudah gue bilang kan kalo gue mau peran lain dan beda. Ini cerita drama yang baru. Ceritanya berbeda dengan Romeo dan Juliet sebelumnya" "Beda? Kalo gitu kamu jadi apa?" "Gue jadi mantan kekasih Romeo yang muncul buat ganggu hubungan Romeo dan Juliet. Ohya, yang jadi Romeonya elu tau siapa kan?" "Gak, memangnya siapa?" "Kak Hanbin dadi kelas 2A yang dipilih Lalisa secara langsung " Deg! Hatinya Hayi tiba-tiba berdetak kencang mendengar nama kak Hanbin disebut. Dia malah jadi ingat miscallan usil di hpnya. Kalau dipikir memang ada hubungannya kak Hanbin dengan miscallan itu? Masa iya sih kak Hanbin yang selama ini jadi penganggum rahasianya Hayi? Kelihatan enggak mungkin banget. Mimpi yang terlalu jauh dan enggak akan oery terjadi. Kalau dipikir sih ada kemungkinan kak Hanbin yang miscall Hayi selama ini. Ah, kok jadi mikirin soal ini lagi sih? Ngawur banget loh! Tapi... takdir manusia enggak ada yang tahu "Woi! Kok elu makan melamun? Daritadi gue perhatiin. Ada apa?",tanya Somi yang tiba-tiba dan langsung menyadarkannya. "Gak...gak apa-apa kok! Sorry tadi kamu aku cuekin bentar!",jelas Hayi seakan tidak terjadi apa-apa. "Pokoknya ya Hayi, gue udah kasih elu teksnya. Ok? Jangan sampai lupa untuk dihafalkan dan besok kita udah mulai latihan disini! Awas ya kalo gak datang! Bye!" Sekarang pikiran Hati benar-benar pusing dan mumet. Dia agak menyesal menerima kalau dia harus menjadi Juliet di drama klub teater sekolah tahun ini. Mudahan dia bisa bermain bagus dan enggak grogi, gemeteran apalagi pingsan! Bikin malu aja deh! Semoga dia juga enggak malu-maluin di depan kak Hanbin. Ancur deh kalau sampai iya. Dreet! Dreet! Dreet! Dreet! Getaran hp di sakunya Hayi yang menandakan ada miscall atau telpon atau SMS masuk. Diambil hpnya lalu dia cek siapa yang miscallin dia barusan. "Sudah kuduga!",kata Hayi dalam hatinya. Segera dia kembali ke kelasnya. Menunggu dan penasaran akan ada hal apalagi yang membuat dia seperti Ratu yang minta ini itu diberikan. Lucu sekali kalau iya. Melamun yang tidak-tidak saja. Seperti anak kecil yang meminta permen. Hayi yang mengkhayal seperti itu jadi senyam-senyum sendiri tidak jelas. "Hah aku gak boleh kebanyakan mengkhayal gak jelas kayak gitu. Kenyataan lebih menyenangkan dari mimpi dan khayalan semata. Semangat!",kata Hayi sambil menepuk wajahnya supaya cepat tersadar. "Hayi! Elu lagi ngapain disitu?" Daripada melamun gak jelas cepat bantuin gue beresin barang-barang disini!",kata Suhyun dari kejauhan. "I.. iya! Sabar dikit kenapa!" Menjelang sore Hayi baru sampai rumah. Capek sekali. Badannya terasa sakit semua. Malamnya nanti harus ngapalin teks drama. Besok juga mesti bantu-bantu lagi. Dan harus latihan drama di ruangan teater sekolah. "Arrgh... kapan aku istirahat? Pusingnya!" Capek hafalin teks drama, Hayi mencoba melihat bintang-bintang yang ada dari balik jendela di langit malam yang gelap. "Bintang,coba aja aku bisa bersinar terang sepertimu tanpa harus merasa minder dan gak pede karena bentukmu yang kecil dan indah!" Esoknya... "Hayi! Kamu terlambat lima menit!",kata Somi tegas. "Maaf aku masih harus bantu-bantu kelasku",jelas Hayi. "Sudah, sudah! Gak apa-apa kok Hayi! Kami mengerti! Yang lain juga masih belum datang semuanya kok!",bela Lalisa. "Lho memangnya siapa yang belum datang?",tanya Hayi bingung dan tidak mengetahuinya. Bruk! Pandangan mereka lalu tertuju pada pintu ruangan teater yang dibuka kasar. "Hosh, hosh! Hosh! Ma.. maaf! Aku telat datang!" Deg! Hayi langsung terpaku begitu melihat orang yang barusan membuka pintu ruangan teater dengan kasar tadi. Hatinya berdebar kencang. Wajahnya mulai panas dan memerah. Salting berat. Mau pingsan rasanya. Kepala Hayi langsung menunduk. Takut terlihat bodoh dan kikuk. "Hanbin! Lama banget sih! Ngapain elu daritadi? Dikejar-kejar cewek lagi?",goda Lalisa. "Kak Hanbin! Darimana aja? Lama banget sih!",kata Somi mendekati Hanbin. "Kenapa aku gak seberani Somi? Bisa menyapa kak Hanbin dengan santainya?",pikir Hayi dalam hatinya yang merasa kecewa pada dirinya. "Ohya Hanbin ini kuperkenalkan cewek yang akan jadi Julietmu! Namanya Lee Hayi!",kata Lalisa memperkenalkan satu sama lain. "Aku sudah kenal sama Lee Hayi dari kelas 1 B!" "Eh? Sudah kenal ya? Wah bagus kalo begitu! Kalian harus bisa kerjasama lebih baik ya!",ucap Lalisa sambil memberikan semangat. "Aku gak nyangka dia masih mengingatku! Aku...senang rasanya! Banget!",pikir Yuki. "Wah...bagus deh! Kalo Hayi udah kenal kak Hanbin,sekarang kita mulai latihannya ya!",ujar Somi ikut semangat. "Hayi...kita berusaha bersama ya!",kata Hanbin sambil menatapnya. "I...iya! Aku akan berusaha keras!",balas Hayi malu-malu. "Jangan gugup ya!",kata Hanbin sambil menepuk pundak Hayi yang kecil. Deg! Aneh rasanya! Setelah diberikan semangat begitu apalagi sama orang yang kita sukai, perasaan gugup Hayi langsung lenyap. Ajaib! Hayi makin mantap memainkan perannya sebagai Juliet. "Aku gak boleh kalah! Aku bisa! Semangat!",ucapnya dalam hati. Hayi tidak menyadari bahwa ada satu hal yang dia tidak ketahui. Kenapa dia yang terpilih memerankan karakter Juliet padahal dia orang luar klub teater sekolah? "Oke! Adegan satu, mulai!",seru sutradara klub teater sekolah memulai latihan hari ini. "Oh, Romeo. Dimanakah engkau berada? Julietmu ini selalu merindukan hadirmu",kata Hayi memulai akting pertamanya.(bagian ini geli guys akunya yang nulis gak begitu ingat pernah sealay dan selebay ini wkwkwk). Agak terlihat masih canggung sih. Namanya juga baru pertama kali berakting. Tetapi, kesempatan emas seperti ini mana bisa dilepaskan begitu saja kan? "Ok take! Istirahat sepuluh menit ya!" "Haaah... Akhirnya selesai juga!",kata Hayi sambil menghela nafas panjang. "Bagus Hayi!" Terdengar suara Lalisa yang sedang berjalan mendekati dirinya. Wajahnya terangkat sambil menatap Lalisa yang barusan memujinya tadi. "Ah... ini tak bisa seperti yang kamu bayangkan Lalisa! Aku belum pantas dipuji. Hehehe!",balas Hayi sambil mengelus bagian belakang kepalanya. "Gak apa-apa! Gak usah memaksakan diri ya! Semangat! Kamu bisa!",kata Lalisa sambil tersenyum dan mengepalkan kedua tangannya tanda bahwa dia menyemangati Hayi. "Kalo dipikir-pikir aku ini apa betul bisa memerankan tokoh Juliet kali ini? Malu-maluin banget kalau sampai gagal!", pikirnya Hayi dalam hati. "Hayi! Ada apa? Apa kamu lagi gak enak badan?",tanya Hanbin yang tiba-tiba menepuk pundaknya. "Eh...gak apa-apa kok kak!", jawabnya Hayi agak terkejut dan suaranya jadi agak bergetar. "Yakin gak apa-apa nih? Soalnya kuperhatikan daritadi kamu melamun. Mungkin ada yang menjadi beban sampai-sampai jadi kepikiran?" Mendadak wajah Hayi terasa panas dan memerah. Dag! Dig! Dug! Betul-betul salting deh pokoknya! "Kira-kira kak Hanbin serius tadi gak ya? Gak sangka kak Hanbin diam-diam memperhatikanku! Senangnya!",seru Hayi dalam hati. "Ter... terima kasih kak! Aku baik-baik aja kok! Tenang! hehehehe" "Syukurlah kalo begitu! Aku senang ngelihat kamu ceria begitu!",kata Hanbin sambil tersenyum lega. "Aku...juga senang karena kakak diam-diam perhatikan aku!" Wajah Hayi sekarang beneran panas dan terus memerah karena malu. Salting berat pakai banget. Mau pingsan sekarang juga rasanya. "Woi! Waktu istirahat sudah selesai! Ayo, kita mulai lagi! Hayi ayo latihan lagi!",teriak pak sutradara dari panggung. "I...iya! Aku segera kesana ya! Maaf kak kalau aku ngerepotin banget!" "Gak apa-apa kok! Santai! Aku gak ngerasa direpotkan! Semangat ya!" "Iya! Aku akan berusaha keras kak! Kakak juga berusaha ya!",jawab Hayi dengan senyuman paling manis. Langkahnya terus menuju hari depan. Tetap berusaha dan berdoa. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Meski peluh memenuhi hari-hari menuju hari esok, Hayi tidak akan menyerah. Selalu bersemangat dan terus tersenyum menghadapi cobaan apapun itu. Semoga dramanya bisa berhasil dengan sukses besar dan menjadi kenangan terindah yang tidak terlupakan. "Hayi! Ada apa nih! Elu kelihatannya akhir-akhir ini jadi sibuk deh. Cerita-cerita dong ke gue kenapa kalau ada apa-apa! Gue kan sohib lu!",tegur Suhyun yang selama ini merasa dicuekin sama Hayi. "Oh...gak apa-apa sih Hyun! Kita kan lagi sibuk karena mau mempersiapkan festival sekolah kan? Ayo kita sudah yang lain lho!", balas Hayi dengan berusaha menutupi semuanya. Dia belum siap mau cerita. "Masa sih elu sibuk banget sampai kita jarang ketemu sekarang dan sering nyuekin gue kalau gue panggil elu? Hah? Seriusan? Ada apa sih sebenarnya?",kata Suhyun agak kesal dan hampir meledak dengan sikap Hayi padanya. "Bener kok! Gak ada apa-apa! Suwer deh!",kata Hayi sambil mengacungkan kedua jarinya. "Ohya? Kalo elu bohong coba tatap mata gue sekarang! Berani gak lu!",tantang Suhyun. "Eh? Buat apaan? Jadi kamu gak percaya nih sama temanmu sendiri ya?" "Sudahlah jangan banyak alasan Hayi! Gue ini teman elu dari kecil! Gue tahu banget gimana elu!" Lagi-lagi gagal usaha Hayi buat membohongi Suhyun. Dia sih gak bisa bohong. Alasan ini itu sudah dikeluarkan tetapi tidak mempan juga. Emang deh Suhyun kayak badak kulitnya(?)! "Duh...gimana ya? Bilang apa gak ya sama Suhyun soal ini? Tapi nanti dia langsung heboh dan teman-teman bisa tahu duluan! Kacau deh! Bilang gak! Bilang gak ya! Arrgh...bingung!",pikir Hayi dalam hatinya. "Lee Hayi! Woi! Elu kenapa jadi bengong gitu hah?" Suara teriakan Suhyun memang dahsyat banget. Hampir saja jantung Hayi mau copot karena terkejut dengar suara Suhyun seperti orang mau demo. "Hah? Iya...iya! Kenapa Suhyun?", jawab Hayi gelagapan. "Hayi,kita ini kan teman sejak kecil. Bukankah kita sudah janji untuk tidak main rahasia-rahasiaan biar sekecil apapun kan? Ayo cerita sama aku ada apa. Kamu masih anggap aku sahabatmu kan?" "Hyun, maaf bukan maksud aku untuk main rahasia-rahasiaan sama kamu. Aku cuman bingung dan enggak tahu harus ngomong sama kamu kayak mana caranya" "Jadi,kamu gak percaya nih sama sahabatmu ini? Iya kan? Ya sudah gak apa-apa kok! Aku gak maksa juga!",kata Suhyun mencoba tidak merasa kesal dengan Hayi dan tetap tersenyum. Padahal jelas dia kecewa. Merasa sedih akan sikap Hayi padanya. "Suhyun! Aku percaya sama kamu! Tapi...kamu janji gak akan bilang-bilang hal ini sama siapapun termasuk sama teman-teman kan?" "Hmm... Gimana ya? Gue bingung nih!",jawab Suhyun tidak serius. "Suhyun! Gak kukasih tahu lho kalo kamu begitu!" "Iya,iya! Gue janji! Janji deh! Beneran! Seriusan! Huh...gitu aja ngambek! Hahaha!" Karena mereka asyik bercanda dan merasa begitu bahagia,mereka tidak menyadari ada yang diam-diam memperhatikan. Seseorang yang sedari tadi mencuri dengar semua percakapan mereka. TBC Assalamu'alaikum Hai reader semua Apa kabar kalian? Sehat trus ya Semangat Jangan lupa tetap jaga kesehatan dan kebersihan kalian karena masih dalam pandemik covid19 Yang lulus sekolah Aku ucapkan selamat ya! Perjuangan kalian masih panjang Masih belum boleh menyerah Terimakasih sudah mampir ke ceritaku Jangan bosan mampir kemari Maaf kalo lama gak update Maaf kalo ada kesalahan dan kehilafan dalam tulisan ini. Kalo ada saran dan kritik boleh kalian tulis disini. Supaya saya tetap semangat nulisnya Kalo ada yang mau dibaca balik ceritanya komen aja ya Berlaku untuk yang serius aja Udah dulu ya Semoga kalian suka ceritanya See you next time Bye bye ️☀️❤️❣️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD