Pagi ini Rafael sedang memantau proyek yang dijalankan dengan kolega bisnisnya. Perusahaan konstruksi yang di bangunnya maju pesat. Banyak orang yang ingin bekerja sama dengannya, tidak sia-sia usaha Rafael selama ini. Ia tersenyum puas merasakan keberhasilannya. Tiba-tiba ponsel Rafael bergetar, ia segera mengambil benda pipih berwarna hitam di saku celananya. Rafael mengerutkan dahinya, tidak biasanya Jelena menelponnya pagi-pagi jika tidak ada hal yang penting. Rafael segera mengangkat teleponnya. "Oh begitu, baiklah sayang. Aku tutup ya teleponnya," ucap Rafael dengan seseorang di seberang sana. Jelena mengatakan jika nanti malam pertemuan keluarga untuk membahas pernikahan. Rafael menaikkan satu alisnya, ia merasa sudah jelas semuanya jika dua bulan lagi akan menikah. Dan Rafael j

