Setelah memastikan Zahira baik-baik saja, Rafael pun pamit dan kembali ke rumahnya.
Rafael memasuki kawasan rumahnya yang tampak sepi. Asisten rumah tangganya sudah pulang dari sore. Hanya ada satpam yang berjaga malam.
Rafael menaiki anak tangga kemudian masuk ke kamar pribadinya. Kamar yang didominasi warna serba putih ini tampak elegan. Selain berkesan bersih, cantik dan simple, ruangan yang dilengkapi dengan jendela besar memberi kesan luas dan terang dengan beberapa lukisan di dinding yang mempermanis kamar.
Kamar Rafael sangat luas dengan kursi sofa dan meja, tak lupa lampu gantungnya yang mewah. Letak balkon tepat di sisi kamar Rafael juga sangat luas, balkon yang di bawahnya dengan kolam renang outdoor dan taman inilah yang membuat balkon menjadi tempat yang sangat tepat untuk bersantai melepas penat.
Rafael langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian Rafael keluar dengan pakaian lengkapnya untuk tidur sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
Dering ponsel yang Rafael letakkan di atas nakas berbunyi dan tertera nama Chelsea, dengan segera Rafael mengangkat panggilan itu.
"Halo, Chelsea."
"Bagaimana kabarmu kak?" tanya seseorang di seberang sana.
"Baik, kau sendiri bagaimana?"
"Aku baik, kau sedang apa kak?
"Ini habis mandi, baru pulang kerja."
"Kau tidak lupa kan dua hari lagi."
"Datang nggak ya?"
"Tidak perlu, lalu aku akan membencimu."
Rafael terkekeh geli mendengar ancaman Chelsea.
"Baiklah, baiklah, kenapa kau jadi tambah galak?"
"Lihat saja kalau tidak datang!"
"Iya, iya, pasti datang, tenang saja."
"Oke kak, aku hanya ingin mengatakan itu. Good night."
Rafael terkekeh kemudian menutup panggilan dari Chelsea.
Chelsea Benzema. Merupakan adik perempuan Rafael. Chelsea merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara.
Chelsea memberitahu Rafael jika dua hari lagi adalah ulang tahunnya yang ke 21 tahun. Chelsea meminta Rafael untuk pulang ke Pekanbaru merayakan hari ulang tahunnya.
Sebenarnya Rafael tidak lupa jika dua hari lagi ulang tahun adiknya tersayang. Ia juga sudah berencana pulang ke Pekanbaru. Baginya keluarga adalah segalanya. Sesibuk apapun Rafael, ia tetap meluangkan waktunya jika soal keluarga. Apalagi ini acara adiknya yang manja. Adik yang sangat ia sayangi dan selalu ingin ia lindungi.
Rafael kemudian naik ke atas ranjang dan duduk disana, masih dengan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sambil memainkan ponselnya Rafael membuka akun instagramnya. Postingan teratas di laman instagramnya adalah Jelena. Jelena mengunggah foto sexy dengan memakai deep v neck dress yang memperlihatkan belahan d**a dan punggung mulusnya. Jelena mengunggah foto tersebut dengan men tag akun i********: Rafael dengan caption 'I feel like flying in the sky when u look at me. I hope the wind will tell u how much i love u.'
Tanpa sadar bibir Rafael menyunggingkan senyum.
***
Siang ini Jelena datang ke kantor Rafael untuk mengantarkan makan siang. Rambut hitam panjangnya yang terurai, kulit putih, dan kaki jenjangnya ia melangkah dengan anggun sambil membawa rantang cantik berwarna ungu. Ketika sampai di lobi Jelena tersenyum ramah ke semua karyawan yang berpapasan dengannya. Banyak sekali karyawan yang balas tersenyum ke arahnya bahkan ada juga yang menundukkan kepalanya.
"Perhatian sekali, dia selalu membawakan makan siang untuk Pak Rafael."
Terdengar beberapa karyawan yang mulai bergosip.
"Sudah cantik, perhatian, ramah lagi. Paket komplit."
"Cocok sekali dengan Pak Rafael yang ramah."
Samar-samar Jelena mendengar para karyawan yang dilewatinya membicarakannya. Ia hanya tersenyum geli menanggapinya.
Jelena kemudian masuk ke lift khusus petinggi perusahaan. Setelah sampai ia segera masuk ke ruang pribadi Rafael.
Tanpa mengetuk Jelena langsung masuk ke dalam ruangan.
Benarkan? Jelena bisa menebak jika Rafael belum menyadari kehadirannya. Ia bahkan masih fokus dengan laptopnya.
"Sayang!"
Satu suara menginterupsi Rafael. Rafael mendongak mengalihkan tatapan dari laptopnya.
Rafael tersenyum lembut. Jelena melangkahkan kakinya mendekat ke Rafael.
"Bawa apa?" tanya Rafael.
"Biar kutebak. Kau pasti belum makan siang kan?"
Rafael tertawa kecil. "Setelah menyelesaikan pekerjaan ini aku akan segera makan."
Jelena kemudian duduk di pangkuan Rafael.
"Rafaku sayang, apa kau lupa jika baru saja sembuh? Kau harus jaga kesehatanmu, jangan sampai telat makan!" ucap Jelena lembut.
Rafael memang pria yang gila kerja, ia juga super sibuk sampai tidak mementingkan kesehatannya sendiri.
"Kau bawa apa?" Rafael mengalihkan pembicaraan.
"Hari ini aku bawa steak."
"Aku mau makan tapi di suapin."
"Dasar anak kecil mau makan aja harus di suapin," ucap Jelena terkekeh geli.
Kemudian Jelena segera membuka rantang cantik berisi steak. Lalu Jelena mengambil steak dan menyodorkan ke mulut Rafael berniat menyuapinya.
"Sayang, nanti sore antar aku ke bandara ya," pinta Jelena.
"Mahu apha?" tanya Rafael dengan mulut penuh makanan.
Jelena terkekeh. "Telan dulu sayang."
"Mau apa ke bandara?" ulangnya.
"Ke Dubai. Aku ada acara fashion show week di Dubai."
"Lagi?"
"Kemarin kan di New York sayang, sekarang di Dubai."
"Ini nggak semua model bisa ikutan fashion show di Dubai lho, dan aku beruntung karena bisa masuk," jelas Jelena.
"Begitu ya?"
"Iya, nggak apa-apa kan?"
"Ya, nggak apa-apa. Tapi aku sebenarnya mau mengajakmu pulang ke Pekanbaru. Sebentar lagi Chelsea ulang tahun."
"Astaga, aku lupa. Terus gimana baby?"
"Nanti malam rencananya aku mau mengajakmu membeli kado buat Chelsea."
"Tapi nggak apa-apa. Nanti aku sampein ke Chelsea kalau kau sedang ada acara di Dubai." ucap Rafael di sela-sela kunyahannya.
"Aku jadi nggak enak sama Chelsea, sama keluargamu juga."
"Mereka pasti ngertiin kok. Santai aja sayang," ucap Rafael menenangkan.
"Maaf baby, kau tahu kan cita-citaku dari kecil ingin menjadi model. Jadi ini benar-benar kesempatan emas buat karier aku."
"Iya, sayang, aku ngerti," ucap Rafael lembut.
Tanpa aba-aba Rafael memegang tengkuk Jelena kemudian merengkuh pinggangnya erat. Melumat bibir Jelena lembut. Jelena tersentak tapi kemudian membalas ciuman Rafael. Jelena melingkarkan tangannya pada tengkuk Rafael, kemudian jemarinya naik ke atas meremas-remas rambut belakang Rafael seiring lumatan mereka yang semakin dalam. Saling bertukar saliva, suara cecapan mereka memenuhi ruangan ini.
Ketika oksigen diantara keduanya menipis, Rafael dengan segera melepaskan ciumannya. Beberapa detik mata mereka berdua saling pandang, kemudian Rafael kembali melumat bibir Jelena.
***
Sesuai permintaan Jelena, sore ini Rafael mengantar Jelena ke bandara.
"Safe flight," ucap Rafael.
Jelena memeluk Rafael erat. Setelah cukup lama berpelukan Jelena melepaskan pelukannya.
"Thank you baby sudah mengantarku ke bandara."
Jelena kemudian mengecup lembut bibir Rafael, lalu melepaskan ciuman mereka dan menatap Rafael dengan sorot mata teduh.
"Aku akan kembali secepatnya," ucap Jelena.
"Kabari aku jika sudah sampai."
Jelena menganggukkan kepalanya pelan. "Pasti."
Jelena kemudian melambaikan tangannya sebelum masuk ke pesawat.
Rafael membalas lambaian tangan Jelena sambil tersenyum.
Rafael kemudian kembali masuk ke mobil audi berwarna hitam miliknya.
Rafael menatap kosong pandangan di hadapannya.
"Sial!" gumam Rafael.
Rafael menghela napas berat. Rafael merasa bersalah kepada Jelena. Bagaimana bisa ia berpikiran bahwa yang menciumnya adalah Zahira.
Perasaannya telah berubah. Entah kenapa dia selalu memikirkan cewek lain yang bukan siapa-siapanya. Seperti Zahira yang saat ini ada di pikiran Rafael.
Ada apa dengannya bahkan jika sehari saja tidak bertemu Zahira ia merasa khawatir dengannya. Tapi kenapa tidak dengan Jelena.
Rafael kemudian mengendarai mobilnya dengan santai. Malam ini ia meminta Zahira untuk menemani membeli kado Chelsea, adiknya.
Sebenarnya ia ingin membeli kado bersama Jelena dan pulang ke Pekanbaru merayakan hari ulang tahun adiknya. Berharap akan memperbaiki hubungan yang mulai renggang karena kesibukan masing-masing saat ini. Namun takdir berkata lain, Jelena lebih memilih pergi ke Dubai.
Rafael ingin menjaga jarak dengan Zahira. Rafael berusaha menghindari Zahira agar tidak memikirkannya lagi. Tapi semakin Rafael menghindari, semakin pula Rafael mengingat Zahira.
Kini Rafael hanya bisa berusaha menjalani hari-harinya dengan baik.
***
Zahira merias wajahnya menggunakan make up. Ia memakai lipstik berwarna merah maroon. Malam ini ia diajak Rafael untuk menemani membeli kado adiknya.
Zahira berdandan secantik mungkin, walau sebenarnya ia sudah cantik dengan wajahnya yang natural. Tetapi ia merasa minder jika di dekat Rafael karena pasti teman-teman Rafael kebanyakan dari kelas atas yang otomatis banyak yang cantik.
Sebenarnya Zahira ingin menolak ajakan Rafael, ia sadar diri jika Rafael sudah memiliki tunangan. Sebisa mungkin Zahira akan menjaga jarak dengan Rafael. Namun, setelah dipikir-pikir ia seharusnya bersikap biasa saja karena Rafael pun memintanya untuk berteman baik saja.
Dengan Zahira yang selalu menghindari akan membuat Rafael curiga jika ia menyukai Rafael. Maka dari itu Zahira bersikap layaknya seperti teman biasa.
Setelah cukup berdandan, ia memakai high heels dan mengambil tasnya. Lalu, melangkah keluar apartemen.
Ternyata mobil audi yang di kendarai Rafael sudah sampai. Dengan segera ia melangkah mendekat ke Rafael.
Rafael tersenyum hangat melihat Zahira datang. "Sudah siap?" tanya Rafael.
Zahira menganggukkan kepalanya. Rafael membukakan pintu mobil di samping kemudinya untuk Zahira. Kemudian Rafael berjalan memutar untuk duduk di kemudi.
Lalu ia memasang seatbelt Zahira. Zahira tertengun karena tiba-tiba Rafael mendahului memasang seatbelt untuk dirinya. Jarak antara Zahira dan Rafael sangat dekat. Bahkan hembusan nafas Rafael terdengar halus di depan wajah Zahira.
"Sudah." Rafael tersenyum. Kemudian ia memasang seatbelt untuk dirinya sendiri.
Zahira merasa canggung, kemudian ia memandang keluar kaca mobil.
Rafael mengendarai mobilnya dengan santai.
"Kau benar tidak mau ikut denganku ke pesta ulang tahun adikku?"
Zahira menggelengkan kepalanya. "Keputusanku sudah bulat."
Bahkan Rafael juga mengajaknya ke pesta ulang tahun adiknya, tapi dengan tegas Zahira menolak dan hanya ingin menemani membeli kadonya saja.
"Menurutmu kado apa yang cocok untuk adik perempuan?" tanya Rafael mencairkan suasana.
Zahira menoleh, kemudian menatap depan. Zahira tampak berpikir sejenak. "Boneka maybe?"
Rafael tertawa kecil mendengar jawaban Zahira. "Boneka ya?"
Zahira tersipu, apa jawaban dia salah? "Lebih baik kau tanyakan saja kepada adikmu, dia menginginkan apa," saran Zahira.
"Nanti tidak jadi surprise dong."
Zahira terkekeh. "Memangnya adikmu umur berapa?"
"Dua puluh satu tahun."
"Perhiasan mungkin?"
"Ide bagus! Kalau gitu kita ke toko perhiasan."
Beberapa menit kemudian Rafael sampai ke toko perhiasaan yang terkenal di Jakarta. Ia memilih-milih kalung dibantu dengan Zahira.
"Zahira yang ini bagus nggak menurutmu?"
"Bagus."
"Bagus semua ya. Kira-kira kau suka yang mana?"
Zahira bahkan bingung mau memilih yang mana karena sungguh kalung yang ada di depannya bagus semua.
"Bagus semua Raf, aku juga bingung. Tapi aku lebih suka yang ini, yang bertabur berlian." Tunjuk Zahira ke salah satu kalung yang ada di hadapannya.
Akhirnya Rafael memilih kalung yang Zahira pilih. Zahira tidak tahu bahwa kalung liontin bertabur berlian itu merupakan salah satu perhiasan yang dijual oleh salah satu brand ternama di dunia dan mengandung karat sebesar tiga puluh karat. Tak tanggung-tanggung Rafael bahkan membelinya dua.
"Kok beli dua?" tanya Zahira.
"Yang satu buatmu," ucap Rafael.
Zahira membelalakkan matanya. "Mma … ksudmu?" tanya Zahira terbata.
"Yang satu buat adikku, yang satu ini buatmu karena sudah mau menemaniku."
"Apa kau tidak bercanda?"
"Aku serius."
"Aku tidak per-" ucapan Zahira terpotong karena Rafael memasangkan kalung liontin bertabur berlian ke lehernya.
"Cantik," puji Rafael setelah selesai memasangkan kalung di lehernya.
"Rafael ak-"
"Terimalah Zahira, itu tanda terima kasih ku karena sudah mau direpotkan olehku," sela Rafael.
"Kau sama sekali tidak merepotkanku," lirih Zahira menatap Rafael lekat-lekat.
"Kalung ini sangat cantik untukmu. Jadi tolong terimalah pemberianku," pinta Rafael.
"Terima kasih," ucap Zahira dengan mata yang berkaca-kaca.