50. Kenaikan Tingkat

1002 Words
Ternyata mendapat kekuatan luar biasa memang tidak semudah perkiraannya. Xuan Yi jelas akan memiliki banyak sekali beban ketika mengetahui bahwa tingkatan ilmu kultivasinya hampir saja menyamai dewa. Seorang pemuda tampan berpakaian polos berwarna putih itu tampak merebahkan diri sembari menatap langit-langit kamar yang tertutupi oleh kelambu tipis berwarna putih. Tentu saja untuk menghalangi nyamuk yang mengigit tanpa dosa. Xuan Yi menghela napas panjang sembari menyangka satu tangannya di kepala untuk dijadikan sebagai bantalan. Sedangkan kedua kakinya saling bertumpu satu sama lain sembari mengetuk-ngetuk sesuai irama. Pikiran Xuan Yi mengarah pada kejadian siang tadi, di mana dirinya tanpa sengaja mengeluarkan sayap seperti Klan Iblis. Tentu saja ia belum mengataknnya pada siapa pun perihal sayap yang keluar seiring peningkatan ilmu kultivasi miliknya. Sejenak pemuda itu mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap tembok sekaligus membelakangi posisi tidur Chang Qi yang berseberangan dengan dirinya. “Sebenarnya, apa yang terjadi denganku?” gumam Xuan Yi pelan. Semakin keras memikirkan hal tersebut tanpa sadar membuat Xuan Yi mengantuk. Akhirnya, pemuda tampan itu pun tertidur pulas seiring dengan pikirannya yang kembali rileks.                                 ~The Battle of Sky Empire~ Keesokkan paginya, suara ayam berkokok membangunkan para murid Akademi Tangyi. Mereka semua tampak bergerak pelan sembari mengusap wajahnya yang terasa berat dan masih mengantuk. Kegiatan itu pula tampak menghiasi suasana pagi Xuan Yi. Pemuda tampan yang kini terduduk di tepi tempat tidur masih memejamkan matanya. Ia terasa sangat berat untuk mengawali pagi ini yang lebih cepat daripada biasanya. Terdengar sebuah ketukan dari luar membuat Chang Qi menyadarkan jiwanya terlebih dahulu. Kemudian, bangkit membuka pintu kamar yang sudah bisa ditebak adalah ulah dari Shen Jia. “Selamat pagi!” sapa Shen Jia tersenyum lebar. “Pagi, Nona Shen,” balas Chang Qi tersenyum tipis, lalu membuka pintu kamar memperlihatkan wajah bengkak Xuan Yi. “Hei, Tuan Muda Gu! Cepatlah bangun!” seru Shen Jia memutar bola matanya malas melihat seorang pemuda yang masih saja terduduk dengan terkantuk-kantuk. Mendengar suara seseorang yang sangat dikenalinya, Xuan Yi pun mengangkat kepala dan tersenyum lemas dengan mata yang tenggelam. Meninggalkan garis lengkungan manis yang membuat Shen Jia tanpa sadar ikut tersenyum. “Baiklah. Aku tahu ...,” sahut Xuan Yi dengan nada yang sedikit dipanjangkan karena malas. Siapa pun pasti akan setuju jika bangun pagi adalah hal yang sulit. Apalagi sampai benar-benar melakukan banyak hal, seperti membersihkan halaman sampai kamar pribadi. Tentu saja tidak mudah melakukan hal tersebut. Apalagi untuk ukuran seorang pemuda seperti Xuan Yi. “Chang Qi, kau harus mengajak pemuda itu untuk bangun dari tempat tidurnya. Karena hari ini kita mendapatkan kelas yang sama, yaitu kultvasi. Sehingga Xuan Yi tidak boleh terlambat. Apalagi sampai melupakannya,” ucap Shen Jia dengan menunjuk Xuan Yi menggunakan dagu mungilnya. Chang Qi mengangguk singkat. “Baiklah. Aku tahu, Nona Shen.” Setelah itu, seorang gadis yang biasa membangunkan dua pemuda itu pun melenggang keluar dengan membawa baskom di tangannya. Ia memang hendak ke danau membersihkan diri sekaligus melakukan banyak hal, termasuk mencuci banyak pakaian dalamnya. Memang sudah banyak sekali pakaian kotor yang tidak ia cuci sejak kemarin mengingat Shen Jia terus saja membersihkan kamar kediaman sampai melupakan barang miliknya sendiri. Ingin sekali ia menyuruh Sang Qi untuk mencuci, tetapi pelayan muda itu jelas tidak bisa melakukannya. Karena harus menuruti perintah dari kediaman Istana Timur yang selalu memberikan perhatian tidak adil pada Shen Jia. Walaupun gadis itu adalah anak kandung dari Yang Mulia Kaisar. Sepeninggalnya Shen Jia yang melenggang pergi sembari menutup pintu kamar kediaman itu pun membuat Chang Qi kembali masuk ke dalam. Ia terlihat menatap Xuan Yi dengan ekspresi tidak percaya. Entah kenapa ia melihat bahwa Xuan Yi benar-benar pemalas ketika pagi melanda. Pemuda itu tidak akan bangkit jika belum terjadi guyuran air dingin tepat di atas kepalanya. Karena rasa kantuk yang menyerang begitu kuat. “Tuan Muda, apa kau tidak ingin pergi membersihkan diri?” tanya Chang Qi menyiapkan barang bawaan yang akan ia gunakan untuk membersihkan tubuh. “Memangnya sekarang pukul berapa, Chang Qi? Kenapa semua orang begitu ribut di sini,” keluh Xuan Yi dengan lemas sekaligus kesal. “Matahari sudah merangkak naik, Tuan Muda. Kita harus segera membersihkan diri agar tidak terlambat datang ke kelas Tetua Besar Xiao,” jawab Chang Qi menghela napas panjang, lalu memberikan baskom berisikan pakaian seragam hanfu khas Akademi Tangyi. Tidak ingin memberikan jawaban kecewa pada Chang Qi. Akhirnya, pemuda bernama Xuan Yi itu pun bangkit dengan merenggangkan tubuhnya sesaat. Entah kenapa rasanya mengantuk sekali sampai Xuan Yi tidak bisa membuka matanya. Padahal di luar sudah terdengar banyak sekali murid yang berbincang ria mengenai kelas spesial penyambutan pelindung negara. Yang diikuti oleh banyak sekali murid, termasuk laki-laki dengan sengaja beberapa kali melintas tepat di depan kamar kediaman milik Xuan Yi. Setelah itu, Xuan Yi pun bangkit dengan menyangga tubuhnya agar tidak terjadi pada Chang Qi. Tentu saja ia hendak melangkah bersamaan dengan Chang Qi menuju danau tempat mereka membersihkan diri. Tidak sedikit pandangan terlihat mengarah pada Xuan Yi. Pemuda tampan itu datang dengan susah payah dibantu oleh Chang Qi. Membuat beberapa pasang mata menatap mereka berdua sinis sekaligus mengejek. “Xuan Yi, Xuan Yi, bagaimana kau akan menjadi pendekar yang hebat kalau membersihkan diri saja masih meminta bantuan,” ejek salah satu murid laki-laki diikuti dengan dua temannya yang terlihat sedikit tampan. Sontak hal tersebut membuat Xuan Yi mengernyitkan keningngnya bingung sekaligus tidak percaya. Karena sikap pemuda itu benar-benar tidak bisa berubah, meskipun sudah banyak ia lalui berasama dengan murid lainnya. “Apa ada urusan dengamu?” sahut Xuan Yi seketika menegakkan tubuhnya dengan memasang ekspresi datar, tetapi tidak dengan bibirnya yang menyungging senyuman miring menyebalkan. Sontak hal tersebut membuat murid yang disinggung Xuan Yi pun merasa tidak terima. Bahkan ia terlihat kesal mendengar penuturan Xuan Yi. Seakan-akan pemuda itu menjadi pusat perhatian bagi semua pemuda di Akademi Tangyi ini. “Hei, Xuan Yi! Perhatikan kata-katamu itu kalau tidak ingin tersesat pada tempatmu sendiri,” celetuk seseorang berwajah kesal sekali sekaligus menatap garang. Ia memang benar-benar tidak bersahabat dengan siapa pun. "Kenapa aku harus memperhatikan kata-kataku sendiri kalau akan ada orang yang mengoreksinya?" balas Xuan Yi tersenyum miring.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD