bc

HIDDEN STORY [SISI LAINKU]

book_age18+
8
FOLLOW
1K
READ
others
dark
drama
tragedy
heavy
serious
spiritual
like
intro-logo
Blurb

Hidden Story [Sisi Lainku] menceritakan tentang Cahaya Aruna yang menuturkan kisah perjalanan hidupnya kepada Muthia, teman satu kontrakannya.

Penuturan itu bermula dari olok-olokan Muthia yang mengatakan bahwa Aruna memiliki gen pelakor, karena ibunya yang berstatus istri kedua.

Ditemani dua mangkok mie ramen, mengurailah kisah perjalanan hidup Aruna. Mulai dari masa kecilnya yang pilu, masa remaja yang kacau karena muncul ketertarikan ke sesama jenisnya dan masa pendewasaan yang akhirnya mengantarkannya ke tanah rantau dan bertemu Muthia.

chap-preview
Free preview
Dua porsi mie ramen
Jika ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari mana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang-orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang. -Adhitya Mulya Muthia (roommate-ku), dia tipe gadis milenial yang up to date banget dengan pemberitaan di media sosial. Salah satu hal positif menjadi roommate-nya adalah; aku tidak perlu pusing-pusing ngabisin waktu buat nyari tau hal-hal yang lagi happening atau viral saat ini. Karena Muthia punya kebiasaan bercerita tentang apa aja yang baru ia ketauhi, tidak terkecuali informasi-informasi yang dia dapat dari internet. Mendengarkannya bercerita sudah lebih cukup dari pada melihat berita ataupun infotainment. Aku dan Muthia sedang asik menikmati hari minggu yang cerah nan sejuk. Walaupun kami tinggal satu rumah dan dengan kegiatan yang sama (sama-sama fokus natap layar), tapi kami tertarik dengan hal yang berbeda. Muthia yang antusias dengan kehidupan para selebritis, tengah ngepoin akun media sosial seorang artis yang di kabarkan menggoda suami orang dan mengakui saling mencintai dengan suami orang itu. “Gak tau diri banget nih cewek begini,” gumamnya. Aku menoleh sekilas, ocehan Muthia selalu berhasil mendistraksi fokusku. Tapi kuputuskan tidak peduli dan kembali fokus pada film Shah Rukh Khan yang kini tengah menari di rinai hujan. “Teteh, hati-hati lo! Temen kerja lo kan laki semua, udah pada nikah pula.” Serunya. “Hubungannya ama gue apaan emang?” tanyaku dengan mata tak lepas dari layar leptop, dari Shah Rukh Khan. “Hehehe, gak ada sih. Cuma sekarang di kita, nih, lagi musim pelakor. Hati-hati lo kena virusnya dan jadi pelakor.” Kali ini kata-katanya mengalihkan perhatianku dari si ganteng Shah Rukh Khan. “Lo jangan cuma ngingetin gue! Ingetin juga diri lo!” sergahku tak terima dengan kata-katanya. “Dih, dia ngambek. Gue kan bilang gini karena lo ada turunan, Teh” “Astaga!!! Lu bener-bener, ya. Kali ini beneran nih, gue ngambek!” Aku bergegas menutup layar leptop lalu pindah ke ruang tamu menjauh dari roommate gila seperti Muthia. “Teh… woy, kok lo pergi, sih?” panggilnya yang sengaja aku abaikan. “Gue mau masak ramen ah, lo mau gak?” teriak Muthia, yang seketika meluluhkan kekesalanku padanya. “Mau!” teriakku. “Masak sendiri!!!” “Si mon… nyong” gerutuku. Rasanya kekesalanku meningkat sepuluh kali lipat. *** Kepulan uap dari kuah ramen membentuk siluet serupa tarian balet. Meliuk-liuk indah, keluar dari permukaan mangkok, lalu hilang di udara. “Bengong aja lo! Kesambet aja lo, gue dah repot. Makan! Udah di masakin juga.” Muthia yang nyebelin itu emang suka tiba-tiba baik. Aku rasa, dia punya kepribadian ganda. “Gue minta maaf ya, Teh… Gue gak maksud nyinggung soal Mamah, lo.” Kata Muthia sambil menatapku penuh penyesalan. Kacamata yang pas di wajah mungilnya memantulkan bayangan diriku yang terlihat menyedihkan. Kata orang wajahku itu tipe wajah sendu. Seneng duit, he he. Dari tiga bersaudara, akulah satu-satunya anak perempuan dan paling mirip dengan Mamah. Khususnya wajah. Kalo ada yang bilang, aku dan Mamah seperti pinang di belah dua, 99% aku akui itu benar. Pantulan wajahku dari kaca mata Muthia mengingatkanku pada masa kecilku dulu bersama Mamah. Indah tapi kelam, membahagiakan tapi penuh air mata. “Kita udah berapa lama, deh, bareng-bareng?” tanyaku pada Muthia. Untuk beberapa saat Muthia tertegun, aku tau dia menatapku dari balik kaca matanya yang berembun. “Lo masih marah, ya? Mau pindah? Gak bareng gue lagi?” kepanikan jelas terlihat dari rentetan pertanyaannya. “Bukan gitu, mungkin ini waktunya kita melakukan percakapan dari hati ke hati kaya deep talk gitu,” kataku ragu. “Gue minta maaf, Teh….” Muthia melepas kacamatanya dan menatapku penuh harap. “Lu gak salah. Emang nyatanya Mamah gue istri ke dua,” aku tersenyum pada Muthia, berharap dia yakin bahwa aku memang gak sama sekali tersinggung terlebih lagi marah padanya. “Yang lu tau tentang Mamah, hanya sebatas dia istri ke dua. Tapi, lu gak tau bagaimana kehidupan dia sebagai istri ke dua, perjuangan dia dan alasan kenapa dia jadi istri ke dua,” lanjutku. Aku menunggu reaksi Muthia, tapi dia bergeming seolah berubah menjadi manikin hantu. Hanya matanya yang bergerak memperhatikan gerakan tanganku mengaduk kuah ramen. Aku seruput kuah ramen yang masih terasa panas. Rasanya gurih dan pedas. Masakan Muthia emang gak pernah gagal. “Enak banget…” seruku. Tanpa sadar, aku manggut-manggut, saking menikmati kelezatan kuah ramen. Muthia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Kalau gitu, ceritalah, Teh. Ceritakan tentang Mamah, Teteh. Gue gak akan nge-judge, suer.” Muthia mengangkat dua jarinya seperti pose setiap kali dia selfie. “Sebetulnya, ada yang lebih penting untuk lu tau. Ini soal gue,” “Apaan?” tanya Muthia tanpa menatapku karena fokus mengaduk mie ramen. “Gue gak yakin lu bakal siap dengernya. Bisa dibilang, ini sisi lain gue.” Kataku sedikit ragu. “Selama lo bukan psikopat atau klepto, gak masalah buat gue.” Tatapan Muthia yang tiba-tiba fokus ke arahku, menandakan keseriusan dalam ucapannya. “Gue gak suka cowok. Gue lesbian,” tuturku dengan sikap waspada menunggu reaksi Muthia. Tidak ada ekspresi kaget pada wajahnya. Hanya matanya yang bergerak ke kiri, lalu ke kanan, terus ke bawah, sampai akhirnya kembali menatapku. Dia terlihat berpikir keras. “Berarti, lo aman, Teh. Gak mungkin jadi pelakor. Tapi, ada kemungkinan jadi pebinor, hahaha.” Dia tertawa. Gue lagi coming out lho ini, bukan lagi ngaku kalo gue kudisan. “Kok, lu santai banget? Emang, lu gak masalah tinggal bareng ama gue? Lu gak takut ama gue?” kini, aku yang panik. Reaksi Muthia berbeda dengan teman-temanku yang lain. Biasanya, pengakuanku selalu di sambut dengan reaksi kaget luar biasa yang berujung rentetan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan sampe ke ceramah panjang kali lebar yang berujung dengan penghakiman bahwa gue ahli neraka, titik. “Kan, gue bilang… selain psikopat atau klepto, gak masalah buat gue. Lagian, selama kenal lo. Gak ada yang aneh dari lo, Teh.” Jawabnya santai. “Gue jadi gak sabar pen denger cerita, lo.” Katanya sambil menunjuk-nujukku dengan sumpitnya. “Surprise me!” “Abisini ini dulu, ya.” Aku mengangkat mangkok dan menyeruput kuah yang kelezatnya membuat aku tak rela berbagi. Muthia mengangguk pelan, senyum merekah dari bibirnya sebelum ia kembali menikmati mie ramennya. “It’s okay to not be okay, Teh.” Katanya yang lebih terdengar seperti bergumam. Selain kelezatan, dua porsi mie ramen kali ini menjadi awal semula yang mengalirkan kisah tentangku. Tentang sisi lain kehidupanku. Tantang wajah asliku yang selama ini aku simpan di balik topeng. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.9K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook