Hanya karena aku cukup kuat menahan rasa sakit, bukan berarti aku layak mendapatkannya.
-diedit.com
Ibu, aku memanggilnya Mamah. Wajahnya tertunduk lesu, sesekali dia melihat ke samping, keluar kaca jendela mobil. Pantulan cahaya matahari dari jendela ruko-ruko yang dilewati mobil membuat kilatan-kilatan badai kesedihan dimatanya yang berkaca-kaca.
Aku duduk di bangku paling belakang, hanya mampu menatap punggungnya yang ringkih. Ingin sekali memeluknya dan mebawanya lari dari kondisi yang menyiksanya dan menyiksaku saat ini. Tapi tangan dan tubuhku terlalu mungil untuk mampu melakukannya.
Di bangku kemudi, Ayah terlihat cuek. Dia menaikan volume radio yang walaupun sudah maksimal tetap tidak mampu meredam kencangnya suara Ibu Suri─ istri pertama Ayahyang sejak mobil melaju, tidak berhenti memaki Mamah dengan bengisnya dari bangku samping kemudi.
Ayah menghentikan laju mobilnya dan turun dari mobil disusul Ibu Suri. Tidak lama kemudian, Mamah turun. Aku mengekorinya, tangaku yang mungil memegang erat ujung bawah bajunya. Rasa takut dan sedih bercampur jadi satu membuat aku semakin kuat berpegangan pada bajunya.
Tanpa melihat sekitar yang ramai, Ibu Suri kembali beraksi memaki Mamah. Kali ini dengan kata-kata yang lebih kasar, nama-nama binatang bertebaran dari mulutnya yang ranum di balut lipstik merah pekat. Anehnya, Mamah hanya tertunduk diam. Membiarkan dirinya dimaki dicaci dan dihina di tempat ramai sampai jadi tontonan banyak orang. Bahkan Mamah tidak menangis. Matanya yang tadi di mobil sempat berkca-kaca, kini terlihat kering dan tegar.
Dari sekian banyak orang yang menonton, diantaranya ada yang tidak perduli hanya melihat sekilas lalu pergi. Ada pula yang terhibur, diam dan fokus menonton kami dengan seringai puas karena dapat tontonan gratis.
Malang nian ibuku, tubuhnya kurus di balut baju lusuh kebesaran. Berbeda sekali dengan Ibu Suri yang seperti keluarga bangsawan. Pakaiannya mewah, riasaannya menawan dan cantik. Tangan dan jemarinya penuh dengan emas berkilauan. Wajar jika aku menjulukinya 'toko mas berjalan'. Melihat ketimpangan sedemikian rupa, tidak akan ada yang mengira bahwa mereka adalah dua wanita yang di madu, karena lebih terlihat seperti seorang majikan dan pembantu. Dan aku, aku seperti anak pembantu.
Aku menatap Ayah penuh amarah. Aku benci laki-laki itu. Dia diam saja seolah tidak terganggu. Atau, setidaknya dia bisa merasa kasihan kepadaku dan Mamah.
Tanpa memperdulikan istri-istrinya dan aku, anaknya. Ayah berlalu pergi masuk ke sebuah restoran khas masakan Padang dan membiarkan live drama berlangsung yang kini penontonnya lebih ramai dari hiburan topeng monyet.
***
"Maneh tong pipilueun asup, teu sudi aing kudu dahar ngariung jeung maneh!"1 Ibu Suri menghardik Mamah sebelum akhirnya dia berjalan cepat menyusul Ayah yang terlihat sudah duduk nyaman di dalam restoran.
Setelah Ibu Suri pergi, Mamah menatapku dan tersenyum. Sungguh senyum yang dipaksakan. "Cahaya, aya cilok enak tuh di ditu, kamu pasti suka."2 Kata Mamah, masih sambil tersenyum. Entah dia berusaha menghiburku atau menghibur dirinya sendiri. Aku tidak ingin menambah bebannya dengan menolak. Aku mengangguk setuju.
Mamah menuntunku menuju deretan aneka penjual kaki lima yang mangkal di emperan toko-toko. Orang-orang yang menonton kami terlihat kecewa dan dengan sendirinya mereka bubar. Si abang tukang cilok terlihat kikuk melihatku dan Ibu semakin mendekat ke arahnya, dia termasuk salah satu orang yang fokus menonton kami tadi. "Bu, Cahaya alim cilok."3
"Cilok wae nya Cahaya, Ibu gak mau makan berat seperti Ayah kamu dan Ibu Suri,"4 Mamah terlihat panik sekaligus menahan kesal, kali ini terlihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Cahaya oge alim emam sama Ayah sama Ibu Suri, tapi Cahaya alim cilok, mau tahu itu aja,"5 aku menunjuk tukang tahu Sumedang yang mangkal di barisan paling ujung.
Cepat-cepat Mamah mengusap matanya yang berkaca-kaca dengan lengan bajunya yang panjang kemudian mengangguk mantap dan menuntunku menuju tukang tahu Sumedang.
Tidak apa-apa ya Mah, kita berjalan sedikit jauh. Dari pada harus membeli dagangan tukang cilok yang tadi tertawa puas melihat Mamah di maki-maki. Batinku.
***
Ku sandarkan kepalaku di paha Nenek. Walaupun Nenek sedang mengaji, sepertinya Nenek tidak pernah terganggu dengan tingkahku itu. Lantunan ayat-ayat Al Qur'an yang Nenek baca seakan mengalir lembut masuk kedalam gendang telingaku. Tangan Nenek yang selalu hangat mulai membelai lembut kepalaku, memberikan sensasi kantuk yang memaksa mataku terpejam.
Nenek adalah duniaku. Banyak yang bilang, sejak aku usia bayi dua bulan, Nenek lah yang merawatku. Mamah terpaksa harus menitipkan aku di Nenek untuk bekerja di Arab Saudi Katanya demi merubah ekonomi kami yang sulit.
Nenek pernah bercerita betapa prihatinnya diriku. Bayi usia dua bulan, yang dengan terpaksa harus mengemis ASI ke ibu-ibu lain yang menyusui, karena tidak mampu membeli s**u formula untuk bayi. Jika hari itu tidak ada yang mau membagiku ASI, Nenek akan membuatkan aku air tajin.
Beberapa orang dewasa yang baru bertemu dengaku dan mengaku tau diriku sejak aku bayi sering tiba-tiba berdecak takjub ketika melihatku.
"Ckckck gak nyangka" kalimat itu selalu jadi kalimat pembuka basa-basi yang dibarengi tatapan berbinar. Seakan aku ini hal langka yang mustahil bisa terjadi.
"Kamu udah makin gede, ya. Rambut kamu tumbuh bagus. Sekarang kamu cantik, seperti Mamah kamu," kalimat awal biasanya bagus. "Padahal, kalau ingat dulu, kepala kamu botak penuh bisul besar-besar, badan kamu kurus seperti gak di urus. Gak nyangka kamu bisa hidup sampai sekarang. Dikira tuh, kamu gak akan panjang umur." Nah, kalimat selanjutnya selalu seperti ini. Mereka tau banget cara menerbangkan perasaan orang sekaligus menjatuhkannya sampai ke jurang terdalam.
Biasanya aku akan berusaha tersenyum untuk menghargai mereka yang katanya manusia dewasa. Nyatanya ucapan mereka tidak beda dengan anak kecil yang masih pantas duduk di bangku TK. Sok polos.
"Shadaqallahul'Azhim..." ucap Nenek mengakhiri bacaan Al Qur'an nya. Aku yang sudah mulai terbuai kantuk dan hampir tertidur, terpaksa harus beranjak. Nenek tersenyum lembut menatapku. Dengan tertib, Nenek membereskan perlengkapan solat dan ngaji nya.
"Nenek, aku mau tanya..."
"Tanya apa? Kalo Nenek bisa jawab, pasti Nenek akan jawab." Kata nenek yang kini beranjak keluar kamar. Dengan antusia aku mengikuti Nenek yang ternyata menuju dapur. Nenek membuka tudung saji dan mengambil sepiring kue getuk. Makanan kesukaanku.
Lampu sentir tua yang selalu setia berdiri kokoh di tengah meja, memancarkan cahaya kekuningan ke seluruh ruangan.Suara merdu penyiar radio idola Nenek tak pernah lelah menghangatkan suasana malam kami. Aku lihat Nenek dengan wajah sendunya tersenyum sendiri mendengar guyonan penyiar radio.
"Kamu tadi mau nanya apa?" tanya Nenek sambil memberikan sepotong kue getuk padaku.
"Nenek, kenapa Mamah mau jadi istri kedua nya Ayah?"
"Uhuk..uhuk..uhuk" Nenek tiba-tiba terbatuk-batuk, sepertinya Nenek tersedak kue getuk. Dengan sigap aku memberikan segelas air teh hangat yang memang sudah Nenek siapkan di meja sebagai teman kami makan kue getuk.
Setelah minum dan reda batuknya, Nenek berdehem beberapa kali sambil bergeser lebih mendekatiku. Telapak tangan Nenek terasa hangat mengelus pundakku.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya soal ini?" tanya Nenek dengan tatapan tenang tapi fokus ke dalam mataku. Aku menunduk, berpikir apakah ada yang salah dengan pertanyaanku.
"Mamah kamu itu anak yang baiiik sekali, dia tidak pernah mengeluh, selalu nurut. Mau melakukan apa saja untuk membantu nenek," Nenek mulai bercerita, matanya sudah tidak lagi menatapku. Kini tatapannya jatuh pada lampu sentir tua yang mungkin jauh lebih tua dari usia Mamah.
Andai saja lampu itu bisa bicara, mungkin Nenek akan menyuruh lampu itu yang bercerita.
"Dulu, Nenek pernah ngajak Mamah kamu untuk mengunjungi seorang kerabat jauh. Orang-orang memanggilnya Wak Nyai. Beliau dari keluarga terpandang. Wak Nyai meminta Mamah kamu untuk menemaninya. Wak Nyai hidup sendirian, suaminya sudah meninggal dan beliau tidak memiliki anak," mata Nenek menerawang melihat bayangan tumpukan kue getuk yang seperi siluet gunung. "Di sanalah Ayah kamu bertemu Mamahmu. Ayahmu adalah keponakannya Wak Nyai." Nenek menghela napas panjang seakan ada beban berat di dadanya.
"Seandainya Nenek dan almarhum Kakek kamu tau akan seperti ini, mungkin dulu kami tidak akan menerima lamaran Ayah kamu untuk Mamah kamu." Di akhir kalimat, Nenek terisak. Bibirnya bergetar menahan tangis.
Aku bersimpuh dipaha Nenek dan memeluk pinggangnya. Telapak tangan Nenek yang selalu hangat mulai mengelus punggungku.
"Inilah yang di namakan takdir, Cahaya." kata Nenek lirih, sepertinya Nenek berhasil menahan tangisnya. "Dulu, Mamah kamu bisa saja menolak untuk menemani Wak Nyai dan tidak bertemu ayah kamu." Lanjut Nenek.
Merasa Nenek sudah lebih tenang, aku beranjak duduk kembali. Nenek tersenyum dan mengelus lembut kepalaku.
"Dulu, Ayah kamu tiba-tiba datang menemui Nenek dan almarhum Kakek. Dia bilang mau menikahi Mamah kamu. Kami tau, saat itu Ayah kamu sudah menikah. Tapi, kami hanya orang kampung yang bodoh dan miskin. Ayah kamu bilang, pernikahannya hampir berakhir dan menuju perceraian." Nenek meremas kue getuk digenggamannya, jelas sekali ada penyesalan juga ketidakberdayaan yang Nenek rasakan.
"Ayahmu pandai sekali meyakinkan kami. Tanpa bertanya dulu kepada Mamah kamu, kakek kamu langsung menikahkan Mamah kamu dengan Ayahmu." Air mata menganak sungai di pipi nenek. Turun perlahan melewati setiap lekukan keriput pipi Nenek.
"Saat itu usia Mamah kamu belum genap 14 tahun⸺"
"Kenapa Mamah mau, Nek?" potongku, tak sabar.
"Tentu saja, Mamah kamu menolak. Tapi, entah apa yang di masukan oleh Ayah dan Kakek kamu kedalam air minum Mamah kamu. Setelah minum itu, Mamah kamu menurut saja." lanjut Nenek. Kali ini nenek tidak sanggup menahan tangisnya.
Begitupun aku, aku mulai terisak. Kue getuk yang biasanya terasa manis entah kenapa kali ini menjadi pahit dan sulit untuk aku telan.
***
Terjemahan dari bahasa daerah :
1) Kamu jangan berani-beraninya masuk, gak sudi aku makan bareng sama kamu
2) Cahaya ada cilok enak tuh di situ
3) Bu, Cahaya gak amu cilok
4) Cilok aja ya
5) Cahaya juga gak mau makan sama Ayah sama Ibu Suri, tapi Cahaya gak mau cilok
Sumber gambar : fotografer.net