Ketika aku melihat teman-temanku merayakan hari ayah dan memposting foto bersama ayahnya di sosial media, aku cuma bisa tersenyum melihat mereka berbahagia, sementara aku TIDAK.
-Quotes broken home
Selain Nenek, ada seorang remaja yang turut ikut merawatku sejak aku bayi. Dia adalah pamanku. Katanya usianya saat itu belum genap 15 tahun, tapi sudah mahir merawat bayi yang belum genap 2 bulan. Sekarang paman kerja jauh entah dimana dan hanya pulang setiap satu tahun sekali. Saat lebaran. Aku kangen sekali sama Paman.
Walau sekarang Mamah sudah pulang dari Arab Saudi dan sudah punya rumah sendiri, aku lebih senang tinggal bersama Nenek. Kemanapun Nenek pergi, aku selalu ikut. Tidak terkecuali saat Nenek pergi ke hutan. Sudah pasti aku ikut.
Nenek dan beberapa warga kampung kami yang terbilang miskin karena tidak punya uang lebih untuk beli minyak tanah, sering pergi ke hutan di kaki gunung untuk mencari kayu bakar. Jika beruntung, kami juga bisa pulang membawa jamur yang bisa kami jadikan lauk untuk makan.
"Nek, Paman kapan pulang, ya?" tanyaku memecah keheningan hutan. Nenek menghela napas panjang sebelum duduk berselonjor di tanah. Di sampingnya setumpuk kayu bakar sudah terkumpul dan siap di ikat.
"Gak tau, Nenek juga udah kangen. Kalau ada Paman kamu, pasti Nenek gak harus capek-capek nyari kayu bakar." Jawab Nenek. Sepertinya aku mengajukan pertanyaan yang salah.
Aku duduk bersila di sebelah kaki Nenek yang berselonjor dan mulai memijat pelan kaki Nenek yang semakin ringkih di kikis usia. Nenek tersenyum sambil membuka ikatan sarungnya. Apa kalian tau? Orang dulu, selalu punya saku rahasia di balik kain panjang yang mereka pakai sehari-hari.
"ARBEI!!!!" teriakku, girang melihat isi buntelan kecil alias saku rahasia kain panjang Nenek yang penuh dengan buah arbei. Dalam satu raupan, tanganku yang mungil langsung penuh dengan beberapa buah arbei merah dan montok seperti stroberi.
"Makan... habis itu kita pulang." Aku mengangguk riang sambil melahap buah arbei yang tarasa manis dan segar. Nenek mengikat kayu bakar yang terkumpul menjadi dua ikatan kecil dan besar.
Aku membantu Nenek membawa tumpukan kayu ikatan kecil. Kulihat Nenek sedikit kepayahan saat harus mengambil tas anyaman bambu-nya. Beban kayu di punggungnya pasti sangat berat. Aku bergegas mengambil tas anyaman bambu yang hanya berisi teko seng yang sudah kosong dan beberapa Jamur Bulan yang Nenek temukan di hutan. "Ini aku aja yang bawain ya, Nek."
"Bisa?"
"Bisa dong..." aku menyelempangkan tas, berdiri tegak, menunjukan bahwa aku kuat dan mampu membawa beban kayu bakar dan tas Nenek sekaligus. Nenek tersenyum senang sambil manggut-manggut kemudian berbalik dan mulai berjalan mengikuti jalan setapak menuju arah pulang. Aku mengekorinya, mengikuti langkah kaki telanjang Nenek yang pecah-pecah dan kotor.
Sepanjang perjalanan aku dengar Nenek menyenandungkan puji-pujian dan solawat. Walapun pelan, tapi cukup untuk membuat kepalaku otomatis manggut-manggut seolah menikmati musik dan lagu yang paling indah dan enak di dengar. Pergi ke hutan bersama Nenek selalu menjadi liburan yang menyenangkan buatku. Di tambah dengan puji-pujian dan solawat yang selalu di senandungkan Nenek di sepanjang perjalanan pulang dan pergi, membuatku merasa dekat dengan surga. Indahnya.
***
Sesampai dirumah Nenek, aku akan beristirahat sebentar. Tidur di teras rumah panggung Nenek sambil menatap langit biru berhiaskan awan-awan putih yang menyerupai tumpukan kapas raksasa. Terlihat empuk sekali. Seandainya aku punya 'awan kinton' seperti Son Goku, aku akan bermain di tumpukan awan-awan itu sambil makan arbei.
"Cha, kalau pulang bawa ini ya!" Nenek tiba-tiba sudah duduk di sampingku. Sebuah kantong plastik berwarna hitam, Nenek letakan di atas perutku. Aku bangun memeriksa isi kantong plastik. Jamur Bulan dan Buah Arbei.
"Makasih ya Nek, Mamah pasti suka."
"Yaudah, kamu buruan pulang, nanti kesorean." Nenek mengelus rambutku. Aku beranjak turun dari teras rumah Nenek. Sebelum pergi aku menyalami Nenek. Kembali Nenek membelai rambutku.
"Makasih ya, udah nemenin Nenek nyari kayu bakar." Kata Nenek. Aku mengangguk sebelum berlali kecil meninggalkan Nenek.
***
Aku tiba di rumah Mamah bertepatan dengan adzan Ashar yang berkumandang dari mesjid-mesjid. Kulihat pintu dapur belakang rumah Mamah sedikit terbuka. Tanpa ragu akupun masuk dan ...
"BRAAAAKKKKK!"
Dandang berbahan alumunium, penanak nasi yang biasa Mamah pakai jatuh tepat didepan kakiku. Nasi yang masih aron bercampur air yang terasa hangat mengenai kakiku tumpah berantakan di lantai.
Ayah berdiri tepat beberapa meter di depanku. Napasnya memburu dan matanya melotot ke arahku. Jelas sekali dia sedang marah. Aku memeluk plastik yang berisi buah Arbei dan Jamur Bulan yang aku bawa untuk Mamah.
Begitu melihatku, kepanikan terlihat jelas dari wajah Mamah yang sembab karena menangis. Mamah bergegas beranjak pergi dari dapur menuju ruang tamu.
"Mau kemana kamu? Saya belum selesai ngomong!" teriak Ayah sambil melempar sebuah mata garpu pertanian yang patah ke arah Mamah. Aku terkesiap melihat mata garpu melesat cepat kemudian menancap tepat pada daun pintu menuju ruang tamu. Hampir saja mengenai Mamah.
Untuk beberapa detik, Mamah terdiam kaku. Kesedihan dan ketidakberdayaan bersatu menjadi sebuah tatapan pilu dari Mamah.
"Berani-beraninya kamu jual sayuran milik saya!" bentak Ayah dengan mata nyalang menatap Mamah.
"Kamu gak ngasih saya uang, saya gak ada pilihan, anak-anak perlu makan─"
PRANKKK!!!
Satu kali tendangan, Ayah berhasil memecahkan kendi tempat penyimpanan beras Mamah. Ayah tidak tahu, saat itu bukan hanya kendi beras yang pecah, dia juga menghancurkan hatiku.
Mataku terasa panas dan bersaput, tenggorokanku perih dan napasku tersenggal, sesak. Aku berlari keluar dari dapur dengan napas megap-megap, seperti ikan kehabisan air. Aku menangis, meraung sambil terduduk di tanah.
Mataku melihat kesembarang arah, entah apa yang aku cari. Dalam keadaan kacau, mataku masih bisa menangkap beberapa sosok yang berjalan mendekat ke arah rumah. Aku panik, malu. Beruntung Mamah punya sebuah drum besar yang biasa di pakai untuk menadah air hujan. Dan kebetulan sekali drum itu kosong karena memang sudah beberapa minggu tidak turun hujan. Aku masuk ke dalam drum dan lanjut menangis didalam drum.
Aku selalu takut sama Ayah. Terlebih saat dia marah. Saat dia tidak marah sekalipun aku masih selalu takut dan memilih menghindarinya.
Sebagai pelaku poligami, Ayah membagi hari nya untuk bersama Mamah dan Ibu Suri. Hari Senin sampai Kamis adalah waktunya di rumah Mamah. Ayah akan menghabiskan waktu weekend bersama Ibu Suri dan anak-anak kesayangannya dari Ibu Suri.
Selayaknya seorang pengusaha, Senin sampai Kamis adalah waktu untuk Ayah bekerja. Dia memiliki ladang pertanian yang cukup luas dengan belasan buruh tani yang dia upah mingguan.
Andai saja Ayahku seorang suami yang baik dan adil dalam berpoligami, mungkin nasib Mamah gak seprihatin ini. Setiap hari mamah bekerja di ladang, melebihi para buruh tani yang Ayah pekerjakan. Tapi, jangankan upah. Nafkah saja jarang Mamah dapatkan. Mungkin, kalau Mamah tidak nekat pergi ke Arab Saudi untuk bekerja disana, rumah saja kami tidak akan punya.
Di dalam drum, aku masih menangis sambil memeluk lutut. Sayup terdengar suara bentakan-bentakan Ayah yang disambut tangisan Mamah dan sesekali di iringi bunyi keras dari perabotan yang pastinya di lepar atau di tendang Ayah.
"Itu Pak Guntur lagi ngamuk ya?" dari dalam drum aku dengar seseorang bertanya entah pada siapa. Aku membekap mulutku sendiri menahan rintihan sakit yang terasa menyesakan d**a.
"Kyaknya, iya. Kasian sebenernya sama Bu Arum, tapi mau gimana, bukan urusan kita. Hayuk ah buruan, nanti keburu sore.'' Setelah percakapan itu, aku dengar langkah kaki mereka semakin menjauh.
Di saat-saat seperti ini aku semakin kangen dengan paman. Orang yang dulu selalu menjagaku, melindungiku.
Aku memanggil paman dalam setiap isakan tangisku, berharap dia akan segera datang dan kembali menjagaku dan melindungiku.
***