Aku belajar sabar dari rasa kecewa, belajar tegar dari rasa sedih, dan belajar kuat dari rasa sakit.
-Jane Janah
Setiap pulang sekolah, aku dan Bima─kakakku akan mencongkel jendela kamar kami yang memang biasa tidak di kunci untuk masuk rumah lewat jendela itu. Saat jam-jam pulang sekolah Mamah memang tidak ada dirumah. Mamah sibuk mengurus perkebunan Ayah yang berhektar-hektar luas nya. Tapi sayang, jerih payahnya mengurus kebun tidak pernah ia nikmati.
Begitu musim panen, semua hasil penjualannya di pegang Ayah dan Ibu Suri. Bahkan sekedar untuk makan saja, Mamah harus meminta setengah mengemis dulu kepada Ayah, baru Ayah mau kasih.
Begitulah nasib Mamah, seorang istri kedua yang berasal dari keluarga miskin dan hanya mendapat predikat bodoh karena pasrah saja di perlakukan selayaknya b***k oleh Ayah dan istri tua nya. Tidak terkecuali keluarga Ayah. Mereka tidak jahat, tapi tidak juga bersikap baik kepada Mamah.
Terlihat jelas, keluarga Ayah tidak pernah menyukai Mamah. Aku bisa merasakannya. Mereka juga tidak menyukaiku. Tapi, sepertinya mereka menyukai Bima. Beruntung, Bima laki-laki dan wajahnya sangat mirip dengan Ayah. Beda denganku yang mirip sekali dengan Mamah.
Sebagai anak perempuan, kesan cantik dan menggemaskan sangat jauh dariku. Mamah tidak punya uang untuk mendandaniku selayaknya anak perempuan. Bahkan semua bajuku adalah lungsuran. Dari Catra─anak kedua Ayah dan Ibu Suri, turun ke Dewa─anak ketiga Ayah dan Ibu Suri, lalu ke Bima. Barulah setelah 3 generasi dan belel, baju itu turun kepadaku.
"Cha, laper gak?" Tanya Bima yang kini sudah mengganti baju seragamnya dengan kaos oblong dan celana pendek. Aku berlari ke dapur ke meja makan. Tidak ada tudung saji disana, hanya ada boboko kecil berisi nasi yang mungkin cukup untuk aku dan Bima.
"Mau makan apa Ka Bima? Tidak ada lauk atau sayur." Aku kembali ke kamar dengan langkah gontai.
"Kamu ganti baju dulu, nanti Kakak buatkan sesuatu yang enak." Bima memiliki karakter yang selalu tenang dan santai, seperti tidak pernah ada kesusahan dalam hidupnya. Andai saja aku bisa sesantai dia menjalani kehidupan ini.
Kudengar pintu dapur terbuka, kini aku tau apa yang akan Bima buat. Memang cuma itu keahliannya, membuat 'kuah sambal'. Dan dia selalu bangga dengan menu andalannya itu, katanya menu itu yang membuat kelompoknya juara Tata Boga. Yah, harus aku akui, di saat kepepet begini, dari pada makan dengan garam doang, kuah sambel Bima jauh lebih baik.
Di halaman belakang rumah, Bima memiliki satu pohon cabe rawit yang ia rawat seperti Malika. Itulah penyelamatku dan Bima ketika kita lapar dan gak punya lauk atau sayur.
Bima kembali ke dapur dengan membawa 6 butir rawit segar. Karena sudah sangat hapal kondisi ini, aku sudah menyiapkan ulekan dan cobek lengkap dengan garam juga penyedap rasa.
Dan, tadaaaa!!! sambel sudah jadi. Bima menambahkan air hangat, jadilah 'kuah sambel' lezat siap di santap dengan nasi dingin. Aku rasa selama ada 'kuah sambel' dan nasi, hidup kami tidak terlalu buruk.
***
Musim libur sekolah telah tiba. Selain menemani Nenek mencari kayu bakar, kegiatanku yang lain adalah berpetualang bersama teman-teman. Tapi tidak hari ini. Hari ini adalah hari Jumat. Setiap hari Jumat Mamah tidak pergi ke ladang. Dan, Ayah tidak dirumah. Ah, menyenangkan rasanya kalau Ayah tidak ada.
Mamah sedang sibuk mengurus pekerjaan rumah. Nyuci baju, nyetrika dan banyak lagi. Sementara Bima memonopoli TV bekas yang Ayah bawa dari rumah Ibu Suri. Jadilah aku bermain sendiri di teras rumah, menggambar pemandangan hutan di kertas kalender bekas.
Ya, aku sangat suka menggambar. Kata teman-temanku, aku jago menggambar.
"Neng, Amang titip dagangan Amang ya disini, Amang mau jumatan dulu." Seorang lelaki paruh baya tiba-tiba sudah berdiri di depan teras rumah. Belum juga aku jawab boleh atau tidak, laki-laki itu sudah meletakan keranjang dagangannya di teras rumah. "Makasih ya Neng," katanya lalu bergegas pergi menuju mesjid yang tidak jauh jaraknya dari rumahku.
Setelah berusaha untuk tidak penasaran dengan isi dagangan si Amang, akhirnya aku coba kembali fokus menggambar. Tapi sial, semilir angin tenpa permisi membawa aroma lezat dagangan si Amang melewati hidungku dan cepat sekali di respon oleh perutku yang memang sudah meronta-ronta minta di isi.
Aku lihat ke kiri, liat ke kanan dan liat sekitar. Sepi. Aku dekati keranjang dagangan si Amang-amang, perlahan aku buka tutupnya. Aroma lezat semakin menyeruak memenuhi penciumanku. "Tahu sumedang," bisikku pada diri sendiri.
Aku liat lagi ke kiri, liat lagi ke kanan, liat lagi ke sekitar. Sepi banget. Dengan cepat aku masukan 4 potong tahu sumedang kedalam mulutku. Mulutku penuh dengan tahu, sampai aku kesulitan mengunyah.
"Ngapain kamu Cha?" tiba-tiba Bima muncul tepat di belakangku. Aku bekap mulutku yang masih penuh tahu.
Plakk!
Tamparan Bima membuat tahu sumedang yang belum sempat aku kunyah, sebagian muncrat dari dalam mulutku.
"Maling tahu, ya, kamu?" aku menggelengkan kepala cepat.
"Ah iya, kamu maling, tahu!" aku menggeleng-gelengkan kepala lebih cepat lagi.
"Mah... Mamah... Cahaya maling tahu, Mah..." Bima berlari kedalam rumah, meninggalkan aku yang kini panik. Dengan segala upaya, akhirnya sisa tahun sumedang yang masih ada dalam mulutku berhasil aku kunyah dan telan.
Aku bergegas hendak mengejar Bima kedalam rumah, tapi Mamah sudah bediri di depan pintu dengan tatapan marah ke arahku. Tangannya membawa pedang mainan yang terbuat dari bambu. Mainan milik Bima.
"Ma...Mah.. a.. akuu..." aku terbata-bata sambil mundur perlahan, takut dengan pedang mainan Bima. Dari bambu lho, keras lho itu.
PLAKKK!!!!
"Aw, sakiittt, Mah!" aku mengelus lenganku yang dipukul keras dengan pedang mainan yang terbuat dari bambu tebal.
"Kenapa, Cha! Kenapa kamu berani mencuri?!" teriak Mamah di susul hantaman pedang bambu yang tepat mengenai punggung ringkihku.
PLAKKK!
PLAKKK!
PLAKKK!
"KITA MEMANG MISKIN CAHAYA, TAPI BUKAN BERARTI KITA BOLEH MENCURI!!!!." Suara Mamah melengking tinggi, diantara rintihan dan tangisanku yang mengaduh dan memohon ampun.
Mamah tidak peduli dan terus memukuliku, lagi dan lagi. Tangan, punggung, paha, punggung lagi, punggung lagi dan terus menghajar punggung karena aku sudah tersungkur di lantai.
Setelah pedang mainan milik Bima terbelah dan ambyar, Barulah Mamah berhenti memukulku.
Mamah terduduk lemah di lantai, tangannya bergetar hebat. Matanya yang tadi menatap nyalang seakan ingin menerkamku mulai berkaca-kaca. Kesedihan bercampur dengan kekecewaan menjadi satu dalam tatapannya.
Aku masih terisak, menahan diri supaya tidak menangis kejer. Rasa sakit di sekujur tubuhku sungguh hebat, sampai aku tak kuat walau hanya untuk bergerak. Kulihat Mamah bangkit perlahan, aku memejamkan mataku bersiap menerima pukulan lagi. Tapi beberapa detik aku tunggu tidak ada pukulan susulan dari Mamah. Aku beranikan diri membuka mata, ternyata Mamah sudah masuk kedalam rumah.
Pelan-pelan aku berusaha bangkit. Dengan langkah tertatih, aku pergi meninggalkan rumah. Satu orang yang aku ingat di saat-saat seperti ini. Nenek.
Nenek selalu bilang 'Ibu adalah madrasah pertama untuk setiap anak'. Aku memiliki seorang guru killer di Madrasah pertamaku. Sebaiknya aku tidak melakukan kesalahan lagi.
***
Dalam kondisi sekujur badan yang sakit, perjalanan kerumah Nenek terasa sangat lama dan jauh. Beberapa kali aku harus berhenti dan bersembunyi di belakang rumah warga, aku selalu malu ketemu orang, apalagi saat menangis seperti sekarang.
Dengan segenap sisa tenaga, akhirnya aku sampai di rumah Nenek.
"Nenek.... " tangisku sambil menghambur ke pelukan Nenek yang sedang menjemur baju di halaman rumahnya.
"Kenapa, Cha?" seru Nenek sambil berbalik memelukku.
"Aduh... sakit, Nek!" rengekku sambil menahan tangan Nenek yang sempat menepuk punggungku.
"Ada apa?!" Nenek mulai terlihat panik sambil memeriksa punggungku. "Astaghfirullah, ini kamu di apain? Siapa yang melakukan ini? Ayah kamu?"
Tangisanku semakin menjadi, "Mamah..." kataku sambil terisak isak.
"Ya Allah... ayok masuk ke dalam, Nenek obatin." Nenek menuntunku masuk kerumah.
Perlahan Nenek buka bajuku yang basah karena keringat dan darah. Nenek terlihat geleng-geleng gak percaya melihat detail lukaku. Nenek membasuh luka-lukaku perlahan dengan air hangat. Aku meringis menahan sakit. Semakin lama rasa sakitnya makin menjadi.
Setelah di rasa bersih, Nenek membaluri luka-lukaku dengan kunyit yang sudah di haluskan. "Kok bisa, Mamah kamu mukulin kamu sampai gini, kamu salah apa?" Tanya Nenek.
"Aku lapar, aku mencuri, tahu Sumedang." Kataku, masih dengan terisak.
"Astaghfirullah Cahaya... pantas saja Mamah kamu semarah ini," Nenek kembali geleng-geleng kepala. "Mencuri itu dosa, Cahaya. Jangan pernah kamu lakukan lagi. Mau kamu lapar, mau kamu sesuah apapun, jangan pernah mencuri." Nenek menarik napas panjang, kemudian perlahan memakaikanku baju bersih. Ada beberapa bajuku yang sengaja aku tinggal dirumah Nenek. Karena aku sering mengingap dirumah Nenek.
"Sekarang kamu istirahat dulu ya, kamu pasti capek udah nangis." Kata Nenek. Aku mengangguk patuh, kemudian masuk ke dalam kamar Nenek. Aku mencoba untuk tidur, tapi jangankan berbaring, untuk duduk saja pantatku terasa sangat sakit. Aku memutuskan berjongkok memeluk lutut. Hanya posisi ini yang terasa nyaman dan tidak sakit.
***