Nasib anak tengah

789 Words
Suara anak tengah (Orang rumah terlalu sibuk membanggakan yang sulung dan sibuk menjaga sibungsu) -Pyo Atilasadam Suasana makan malam yang tadinya ceria berakhir dramatis karena tangisan histeris Daffa─adiku, yang tiba-tiba jatuh terlentang. Usianya belum genap 4 tahun, tapi... sumpah, aktif banget ngalahin Shinchan. Kadang aku merasa menyesal telah meminta seorang adik sama Mamah. Seperti malam ini. Daffa sangat senang sekali karena malam ini mati lampu. Mamah meletakan satu-satunya lilin yang tersisa di tengah meja makan. Untuk mendapatkan bayangan yang sempurna dari cahaya lilin itu, Daffa naik ke atas kursi dan mulai membuat bayangan anjing yang sudah ia pelajari dariku. "Cha! Liat Cha...! Aku bisa buat bentuk anjing... Guk! Guk! Guk!" selorohnya girang sekali. Tapi sayang, saat ini seleraku bermain dengan Daffa teralihkan oleh ayam goreng yang biasanya hanya bisa aku nikmati saat lebaran. Ayam goreng ini membuatku menarik kembali semua penyesalanku tentang meminta adik sama Mamah. Tidak bisa di pungkiri, kehadiran Daffa banyak merubah kondisi dan situasi kami. Ayah tidak lagi segalak dan sejahat sebelumnya. Bahkan Mamah di beri modal untuk usaha (itupun setelah Mamah mengeluarkan jurus terakhirnya─meminta cerai). Akhirnya, dengan bermodalkan uang 500.000,- Rupiah, lahirlah usaha pertama ibuku "Warung Nasi Arum". Berbekal pengalaman bertetangga dengan pemilik usaha Nasi Padang, ibuku mulai memasak aneka masakan. Ayam goreng, rendang daging sapi, dadar telor ayam, perkedel dan aneka gorengan selalu jadi menu andalan ibu. Sejak "Warung Nasi Arum" dibuka, kami tidak pernah lagi kekuarangan makanan. Selain dapat keuntungan dari hasil jualan Mamah yang selalu laris manis, kami dapat bonus bisa makan enak dan gak hawatir lagi akan kehabisan beras atau lauk. Sayang sekali di saat suasana mulai membaik, Bima tidak bersama kami. Demi melanjutkan sekolah ke SMP, Bima terpaksa di titipkan di salah satu kerabat Ayah di kota. Kami biasa memanggilnya Bunda. "Cha...! Cha... kemarin kamu bikin elang gimana, deh? Aku lupa, Cha." seru Daffa yang kini sudah berdiri di atas kursi sambil merentangkan kedua tangannya. Bukannya membuat bayangan bentuk elang, Daffa lebih terlihat hendak mengeluarkan jurus terbang dengan satu kaki terangkat yang membuat keseimbangannya mulai oleng. Duh, bakalan jatuh, nih anak. Belum sempat aku beranjak untuk memeganginya, apa yang ada dalam pikiranku terjadi. Gedebuk!!! Daffa jatuh terlentang di lantai, jelas sekali dia kaget sampai matanya melotot. Dalam hitungan sepersekian detik, matanya seketika merapat di susul jeritan histeris. Daffa menangis sejadi-jadinya sambil memegang kepalanya. Sementara aku terlalu kaget dengan kejadian yang sangat cepat itu. Aku masih mematung dengan tangan masih terulur, berusaha menangkap Daffa. "Astaghfirullah... anak Mamah kenapa?" seru Mamah yang tergopoh-gopoh berlari dari dapur dan langsung menggendong Daffa. Mata Mamah melotot ke arahku yang tak bisa berkata apa-apa. Tanpa berkata apapun, Mamah membawa Daffa ke kamar meninggalkan aku yang masih berusaha mencerna kejadian. Samar aku dengar Mamah membujuk Daffa untuk berhenti menangis. Perlahan tangis Daffa mulai reda sampai berhenti sama sekali. Aku duduk sendiri menatap ayam goreng yang masih tersisa. Nuansa remang diruang makan menghadirkan sensasi sunyi yang memilukan sampai ke hatiku. Aku menatap pintu kamar Mamah yang terasa sangat jauh untuk aku gapai. Aku merasa seperti batang lilin. Sementara Bima dan Daffa, mereka api, cahaya lilin. Sebesar apapun usaha dan pengorbananku. Aku tak pernah terlihat. Habis, hilang, meleleh oleh api. Biarpun begitu, api yang selalu dinantikan tanpa peduli batang penopangnya lenyap tak tersisa. Yang aku dapat selalu sisaan mereka. Aku selalu mudah untuk di lupakan, mudah untuk di tinggalkan dan sangat mudah digantikan. Beginilah nasibku, nasib anak tengah. Kadang aku berpikir, mungkin kemunculanku ke dunia ini, sebuah kesalahan. *** "Daffa gak kenapa-kenapa kan, Mah?" tanyaku ketika Mamah keluar dari kamar. Mamah menggeleng, sambil berlalu menuju dapur. Aku mengikutinya. "Mah... yakin Daffa gak kenapa-kenapa?" "Enggak, isnyaAllah... mending sekarang kamu bantu Mamah kupas kentang, biar kita bisa sama-sama cepat istirahat. Udah selesai belum kamu makannya?" aku mengangguk mengiyakan, walaupun masih ada sedikit daging ayam yang belum sempat aku habiskan. Mamah memberiku sekantong plastik hitam berisi kentang. Malam itu kami menghabiskan sisa malam yang redup dan hening sambil memasak untuk kami menjemput rezeki besok pagi. "InsyaAllah, kedepannya akan lebih baik, Cahaya. Setelah kesulitan pasti ada kemudahan." kata Mamah sambil tersenyum dan mengelus punggungku. Aku mengangguk yakin, kali ini sambil mengupas daun bawang. "Setidaknya sekarang Mamah gak perlu sembunyi-sembunyi jual sayuran dan bikin Ayah ngamuk. Kita bisa makan sepuasnya." kataku sambil berusaha tersenyum riang walau mataku sudah sangat perih dan terus berair. Bukan hanya bawang yang membuatku mengeluarkan air mata. Ada kesediahan yang turut mengalirkan tangis disana. "Sudah, kamu cuci tangan sanah! Ini biar Mamah yang lanjutin kupas. Kasin kamu, sampe nangis gitu," kata Mamah sambil terkekeh. "Gak papa Mah, biar aku aja. Pamali, kerja setengah-setengah, heheheh." Aku tidak menghiraukan perintah Mamah. Mamah terkekeh melihatku terisak dan berderai air mata. Mamah, tidak peduli kau lebih mencintai Bima dan Daffa, aku hanya ingin meringankan bebanmu, membahagiakanmu dan membuat kamu selalu tersenyum.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD