Happy Reading!
Delia melenguh saat ada yang menyentuh kepalanya.
"Bukankah sudah ibu bilang, kalau lelah kembali ke kamar, jangan memaksakan diri." ucap Niah membuat Delia sepenuhnya membuka mata.
"Ibu." panggil Delia pelan lalu melirik piring yang berserakan di lantai.
"Apa kau yang memecahkan piring itu?" tanya Niah.
"I-iya bu.. Maaf." cicit Delia pelan sembari mencoba mengingat apa yang terjadi. Kenapa setelah memecahkan piring ia tidak mengingat apapun lagi.
"Untungnya nyonya besar tidak marah. Jika tidak, kita pasti akan mendapat masalah." ucap Niah lalu segera berbalik dan mulai bekerja.
"Biar aku yang bersihkan piringnya." ucap Delia lalu segera berdiri namun sesuatu terasa mengalir di kakinya dan cukup banyak.
"Kembalilah ke kamar dan istirahat." suruh Niah tanpa melihat putrinya.
"I-iya." balas Delia lalu segera berlari pergi dari sana.
Sedang Niah yang sudah membersihkan pecahan piring, segera berbalik untuk mencari bak sampah namun kakinya malah tidak sengaja menginjak sesuatu yang basah dan itu tepat di mana putrinya berdiri tadi.
"Apa Delia pipis?" kagetnya lalu segera mencari pel. Jangan sampai nyonya besar tahu tentang hal ini.
Sedang di luar, ada Sagara yang kini berada di dalam mobil menuju gunung. Meski tak mau namun dia tak bisa menolak perintah mamanya. Karena serigala menyebalkan itu mengancam akan mengusir Delia pergi jika dia tidak pergi ke gunung dan menemukan seekor betina serigala untuk menjadi pasangan.
"Tuan---"
"Diam!" bentak Sagara membuat Anton terpaksa diam. Sepertinya tuan Sagara masih marah tentang kejadian sebelumnya.
"Bukankah kau sudah ku pecat, lalu kenapa hari ini datang lagi?" tanya Sagara.
"Nyonya besar bilang, saya tidak boleh pergi." ucap Anton membuat Sagara mendengus.
"Jika tuan memang mencintai nyonya Delia, maka pertahankan. Tidak perlu dengar perkataan orang lain."
Sagara hanya diam. Jika saja dia sudah menjadi pemimpin bangsa serigala maka segalanya akan berjalan dengan mudah. Manusia manapun pasti bisa dia lindungi. Hanya saja sekarang terlalu gegabah jika mempertahankannya Delia secara terang-terangan, kekuatannya belum sehebat itu. Jika memaksa takutnya malah membahayakan pasangannya.
"Tetua meramal bahwa serigala betina yang baru saja muncul adalah pasangan tuan tapi sebenarnya saya tidak yakin." ucap Anton.
"Kenapa?"
"Karena bangsa serigala hanya punya satu pasangan dan itu untuk seumur hidup. Sedangkan tuan sudah menemukan pasangan sejati, meski adalah manusia tapi saya yakin itu tetap berlaku." jelas Anton.
"Semuanya akan lebih baik jika manusia itu melahirkan seorang bayi serigala yang kuat." ucap Sagara. Itu akan membuatnya dengan mudah diakui sebagai pemimpin bangsa serigala. Dan pasangan manusianya juga akan aman.
"Saya yakin nyonya Delia akan segera hamil, hanya saja---"
"Hanya saja apa?" tanya Sagara cepat.
Anton menggeleng."Tidak tahu apakah nyonya Delia bisa melahirkannya atau tidak."
Sagara mengepalkan jari-jarinya. Serigala hanya punya satu pasangan dan jika pasangannya mati maka serigala yang ditinggalkan akan melajang seumur hidupnya.
"Tapi pengobatan para manusia sangatlah maju, mungkin nyonya Delia bisa bertahan." ucap Anton membesarkan hati tuannya.
"Hm.. Aku juga membaca bahwa manusia meminum obat penguat kandungan. Itu mungkin akan berguna."
"Betul, tuan. Saya juga akan membantu tuan menjaga nyonya Delia." ucap Anton semangat
"Sepuluh meter."
"Apa?" tanya Anton tak mengerti.
"Kau tidak boleh bertemu pasanganku. Jika tidak sengaja bertemu maka harus menjaga jarak minimal sepuluh meter." tegas Sagara membuat Anton menghela napas lalu mengangguk.
Mobil akhirnya memasuki daerah gunung. Begitu tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia lagi, mobil segera berhenti dan Sagara keluar dari mobilnya.
"Tuan, sebaiknya kita berpencar untuk mencari serigala betina itu." usul Anton sebelum naik gunung.
"Tidak perlu." sahut Sagara lalu merubah wujudnya menjadi serigala kemudian bergegas berlari memasuki hutan.
Anton pun juga melakukan hal yang sama dan segera mengikuti tuannya.
Setelah berlari cukup jauh, Sagara akhirnya berhenti dan merubah wujudnya lagi menjadi manusia.
"Apa yang akan kita lakukan di sini, tuan?" tanya Anton. Bukankah mereka harus mencari serigala betina.
"Menunggu." sahut Sagara. Lagipula serigala betina itu yang akan datang menemuinya jadi tidak perlu dicari.
"Tetua bilang kalau serigala betina diincar oleh banyak jantan lain. Jika tuan terlambat maka---"
"Bukankah kau mendukungku bersama pasangaku, lalu kenapa kita harus mencari serigala betina itu?" tanya Sagara.
Anton mendekat dan duduk di samping tuannya."Nyonya besar bilang kita tidak boleh pulang sebelum bertemu serigala betina."
"Lalu?"
"Apa tuan tidak mau pulang?"
Sagara menyeringai. Serigala betina itu akan datang dengan sendirinya, itu pasti.
Dan benar saja, tidak lama setelah itu muncul serigala betina berwarna putih.
"Tuan.." bisik Anton membuat Sagara segera berdiri.
"Tuan, itu adalah serigala yang kita cari." ucap Sagara membuat Anton melotot.
Apa maksudnya? Kenapa dia dipanggil tuan dan kenapa serigala betina itu malah mendekat padanya.
'Tuan, tolong jangan lakukan ini.' batin Anton namun Sagara hanya menyeringai. Salah siapa Anton menggoda pasangannya, anggap saja ini hukuman.
Bersambung