7. Calon Mantu

1169 Words
Ibu Reysha sudah seperti mesin setrika karena bolak-balik melihat kedepan rumah untuk menyambut kedatangan calon menantunya. Irsya yang duduk di sofa ruang tamu sambil memegang HP sampai bingung melihatnya. "Ibu nggak bisa diem, " Kata Irsya. "Irsya pusing lihat ibu mondar mandir terus." "Ibu cuma mau ngecek kakak kamu sama pacarnya udah datang belum. " Yani beralasan. "Mbak Reysha, kan, bilang datangnya jam tujuh. Ini baru setengah tujuh ibu. Lagian mbak Reysha nggak salah jalan apalagi salah rumah. " Yani Melirik anaknya sebal. Irsya selalu membantahnya. Pak Rahmat muncul dari dalam rumah. "Ada apa? " "Ibu, tuh, yah, dari tadi udah kayak setrikaan. Mondar mandir lihatin ke luar rumah. Katanya mau lihat mbak Reysha sama pacarnya udah dateng apa belum. Mbak Reysha, kan, bilang bakal datang jam tujuh. Ini baru setengah tujuh tapi ibu udah heboh sendiri. " Yani ingin meremas mulut anak bungsunya yang sedari tadi berkomentar. "Irsya benar, bu. Sebentar lagi mereka akan datang. " Rahmat mencoba meyakinkan istrinya. Sebenarnya ada keraguan dalam hati Yani. Takut jika Reysha hanya berbohong. "Kalau Reysha bohong gimana, yah? " "Reysha nggak akan pernah bohong, bu. Coba ibu ingat-ingat memangnya Reysha selama ini pernah bohongin kita? " Memang tidak pernah namun kadang ketakutan itu muncul. "Kemarin ibu nggak percaya kalau Reysha nungguin Agnes di rumah sakit. Ternyata benar, kan, Reysha di rumah sakit nungguin Agnes. " Tanpa sepengetahuan Reysha, Yani pergi ke rumah sakit untuk mengecek kebenaran tentang Agnes yang dirawat. Sahabat anaknya itu terkejut dengan kedatangan Yani tetapi senang juga karena di jenguk. Asa rasa lega karena tahu putrinya tidak berbohong dan Yani meminta Agnes tidak memberitahu Reysha akan kedatangannya ke rumah sakit. *** Reysha berjangkit saat mendengar klakson mobil. Mobil hitam mengkilat itu berhenti didepannya. Reysha sudah hafal mobil itu karena beberapa kali sudah menaikinya. "Ayo, masuk. " Ajak Asta setelah menurunkan kaca pintu mobil. Reysha mengangguk sekali kemudian masuk kedalam mobil. "Maaf telat. Udah nunggu lama? " "Nggak, kok, " Jawab Reysha. "Ini kali pertama aku mau ketemu sama cakon mertua, bingung mau bawa oleh-oleh apa. " "Buat apa beli oleh-oleh? Ibu sama ayah seneng banget waktu aku bilang kamu mau ketemu sama mereka." "Mereka pasti seneng, lah, mau ketemu sama calon mantu. " Ringis Asta. Reysha tersenyum. "Iya, calon mantu yang udah mereka tunggu-tunggu." Tidak sampai setengah jam akhirnya mobil Asta berhenti didepan rumah Reysha. Rumah itu tidak begitu besar, bergaya minimalis, dengan halaman yang tidak terlalu luas. Seharusnya Asta yang deg-degan karena akan bertemu dengan calon mertua. Ternyata Reysha yang mengalami hal itu. Ini kali pertama Reysha membawa laki-laki yang akan ia kenalkan sebagai calon suami. Dulu Reysha pernah mengenalkan pacarnya pada orang tuanya tetapi dengan sekarang ada yang berbeda. Reysha menoleh saat merasakan sentuhan di bahunya. "Ayo, turun. " Ajak Asta. "I-iya." Reysha meyakinkan diri pertemuan ini akan berjalan dengan lancar. Reysha dan Asta sudah bercerita tentang keluarga masing-masing. Mereka juga sudah merangkai cerita tentang kisah mereka. Kedekatan yang sudah terjalin selama enam bulan dan tidak ada yang tahu. Mereka kemudian sama-sama yakin untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. "Assalamu'alaikum... " Kata Reysha saat berada di dekat pintu masuk. "Waalaikumsalam, " Jawab semua penghuni rumah bersamaan. "Ayo, masuk. " Ajak Reysha. Ibu dan Ayah Reysha keluar dari dalam rumah. Irsya yang ada di ruang tamu langsung menghampiri kakak dan calon kakak iparnya. Reysha mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan diikuti oleh Asta. Yani memperhatikan Asta beberapa saat. Pemuda di hadapannya lebih tampan versi asli daripada foto yang ia lihat di internet. Asta lebih tampan dari sepupu-sepupu Reysha ataupun suami dari sepupu-sepupunya. Asta dan Reysha tampak serasi. Yang satu cantik dan satunya tampan. "Ibu, ayah, kenalin ini Asta. " Reysha memperkenalkan Asta pada kedua orang tuanya. "Om, tante, perkenalkan saya Asta." Asta memperkenalkan diri dengan sopan. "Dari tadi ibu nungguin kedatangan kak Asta sama mbak Reysha, " Ucap Irsya. "Ibu takut kalau mbak Reysha cuma bohong." Mendengar kejujuran anaknya, Yani langsung menutup mulut putra bungsunya dengan tangan sambil tersenyum tidak enak. "Ayo-ayo, silahkan duduk. " Pak Rahmat mempersilahkan tamunya untuk duduk. Diikuti yang lain. Namun sebelum duduk, Asta memberikan bingkisan pada Yani. Tentu saja Yani menerimanya dengan senang hati, apalagi bingkisan itu lumayan besar. Di ruang tamu itu mereka berbincang santai. Rahmat maupun Yani menyukai pembawaan Asta yang tenang, santai namun tetap sopan. Tampak jelas jika Asta adalah laki-laki yang cerdas dan berpendidikan. Rahmat dan Yani masih tidak percaya jika laki-laki muda yang duduk dihadapan mereka adalah calon menantu mereka. Reysha menghidangkan minuman serta cemilan lalu duduk disebelah Asta. Ada rasa bahagia bercampur haru yang dirasakan oleh Yani. Akhirnya hari ini datang juga. Dimana Reysha datang mengenalkan calon suaminya. Akhirnya anak perempuannya sudah menemukan tambatan hatinya. Semoga menjadi pasangan yang selalu bersama hingga maut yang memisahkan. Percakapan di ruang tamu itu kebanyakan membahas hubungan Asta dan Reysha. Yani dan Rahmat ingin tahu bagaimana kisah mereka di mulai. Seperti yang sudah Asta dan Reysha sepakati, mereka menceritakan kisah palsu mereka. Tak lupa juga ber-acting sebagai dua pasang kekasih yang benar-benar saling jatuh cinta. Setelah acara berbincang di ruang tamu, mereka pindah ke ruang makan. Yani sudah menghidangkan makanan spesial untuk tamu yang datang ke rumahnya malam ini. Usai makan malam dan masih di tempat yang sama, Asta menyampaikan niat untuk pertemuan dengan dua pihak keluarga. Serta kemungkinan pernikahan yang akan di gelar dua bulan lagi. *** Reysha baru kembali dari kamar mandi saat melihat sang ibu duduk di tepi ranjang tidurnya. "Kamu nggak hamil, kan? " Tanya Yani dengan tajam. Pertanyaan itu tentu saja mengejutkan Reysha. "Astagfirullah, ibu... Ibu kok ngomongnya begitu. " Timpal Reysha agak kesal karena dituduh sembarangan. "Seharusnya ibu udah curiga dari awal soal hubungan kamu dengan cucu Murtopo itu. Kamu nggak pernah bilang ada hubungan sama laki-laki. Dan kemarin tiba-tiba kamu bilang udah di lamar dan dua bulan lagi akan menikah. Ibu sama ayah berulang kali bilang sama kamu, jaga diri, jaga kehormatan sebagai perempuan, bukannya jadi perempuan gampangan. Bisa-bisanya kamu hamil di luar nikah. " Selalu seperti itu. Ibunya selalu sibuk dengan tuduhan dari pikirannya sendiri tanpa mau mendengarkan penjelasan terlebih dahulu. "Ibu.... " Reysha mencoba menahan emosi. "Ibu harus tau kalau aku nggak hamil. " "Jangan bohong kamu. Bagaimana ibu nggak berpikiran buruk. Pernikahan kalian terlalu cepat. Biasanya paling cepat orang memutuskan untuk menggelar pernikahan itu enak bulan setelah acara pertemuan keluarga. " "Aku nggak bohong, bu." Reysha mencoba meyakinkan ibunya. "Aku nggak hamil. Apa ibu lupa, lima hari yang lalu aku minta pembalut sama ibu soalnya pembalut aku habis. Yani pun ingat dengan perkataan anaknya. " Kamu nggak diapa-apain kan sama Asta? Jangan sampai kamu udah tidur sama dia. " Reysha sering di tuduh yang macam-macam sama ibunya namun kali ini sungguh menyakitkan. "Istighfar, ibu... Sebodoh bodohnya aku, aku nggak akan ngelakuin hal itu. Itu dosa besar ibu. " Ada rasa lega yang Yani rasakan saat mendengar hal itu. Tapi tetap saja mulutnya tidak bisa berhenti bertanya dengan kata-k********r. "Ibu harap kamu nggak bohong. Dosa besar kalau kamu bohongin orang tua." Setelah itu Yani keluar dari kamar Reysha. Sedangkan Reysha terduduk lemas di tepi ranjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD