8. Kesepakatan

1206 Words
Jam sembilan pagi Reysha mendapat kiriman pesan dari Asta yang mengajaknya bertemu selesai bekerja. Dengan cepat Reysha membalas pesan Asta. Bukan karena senang mendapat pesan dari lelaki itu. Sekarang Reysha sedang memegang ponsel jadi tidak ada salahnya membalas dengan cepat. Beda lagi kalau Reysha sibuk melayani customer. Selalu tepat waktu. Itulah yang Reysha tangkap dari Asta. Baru juga Reysha keluar dari tempat kerjanya, bertepatan dengan kemunculan mobil Asta. "Always on time, " Kata Reysha setelah masuk kedalam mobil. "Aku sudah terbiasa, " Balas Asta. "Meski di Indonesia terkenal dengan jam karet. " "Mereka yang akan rugi sendiri. " Keduanya tertawa pelan. "Jadi kita mau kemana? " "Ke tempat dimana kita bisa bicara dengan nyaman. Banyak yang harus kita bahas. " "Oke." Asta menjalankan mobilnya. Selama di perjalanan mereka berbincang. Bahkan tentang hal random yang mereka lihat di jalan. Asta mengajak Reysha ke restoran dining room. Seumur hidup ini kali pertama Reysha datang ke tempat seperti itu. Tempat seperti itu tidak cocok untuk Reysha. Uangnya terlalu berharga jika di hamburkan disana. Selain mahal, ternyata Asta juga reservasi tempat itu terlebih dahulu. Pemandangan kota langsung menjadi suguhan setelah salah seorang pegawai restoran mengantar Asta dan Reysha ke salah satu meja yang ada di lantai dua. "Pemandangannya bagus dari sini." Reysha melihat keluar cendela. "Kamu suka? " Tanya Asta. "Iya." Reysha kembali menatap keluar cendela. Semburat warna orange terpampang di langit. Menandakan matahari akan pulang ke peraduannya. Asta memperhatikan Reysha yang menatap keluar cendela. Wanita itu menarik sudut bibirnya seakan itu adalah kali pertama ia melihat sunset. Pantulan cahaya sore membuat Reysha tampak cantik meski dilihat dari samping. "Kita bicara setelah makan, ya? " Asta menarik perhatian Reysha. Reysha kembali menghadap Asta. Reysha tidak keberatan dengan usul Asta. Makan dulu lebih baik daripada bicara. Yang tidak disangka Reysha ternyata makanan mereka sudah datang. Padahal seingat Reysha, mereka belum memesan apa-apa. "Maaf kalau menunya nggak sesuai. Tadi aku menyuruh sekretaris aku buat reservasi disini. Dia tahu menu favoritku. Jadi dia pesankan sekalian. Tapi tenang saja, kamu bisa pesan menu lain kalau kamu nggak suka sama makanannya." Hanya orang yang tidak suka daging yang akan menolak steak premium yang jelas mengugah selera. Reysha yakin menu di hadapannya sekarang pasti seporsi harganya bisa menembus satu juta lebih. Mungkin untuk Asta makanan seperti ini termasuk murah bahkan murahan. Tapi bagi Reysha itu sangat-sangat mahal. Untuk orang yang gajinya minus UMR Jakarta makan makanan seperti ini untuk sekali makan sama saja dengan bunuh diri. "Aku suka, kok. " Hanya orang gila yang menolak daging wagyu premium didepan mata. "Syukurlah, kalau kamu suka. " Reysha menyunggingkan senyum kemudian menyantap makanannya. *** "Jadi kita mau bicara apa? " Reysha mengawali. "Ini tentang rencana pernikahan kita, " Jawab Asta. Reysha mengangguk samar. "Bukannya kita sudah sepakat untuk menikah. " "Benar. Kamu tau, kan, pernikahan kita hanya satu tahun. " "Iya. Aku tau. " "Nah, dalam satu tahun pernikahan itu pastinya kamu ingin ada batasan diantara kita. " "Batasan? " Reysha mengernyit. Tidak mengerti maksud Asta. "Ya, batasan. Seperti kita tidur di kamar terpisah. Tidak ada sentuhan fisik selama pernikahan. Dan tidak mengurusi urusan masing-masing. " Sekarang Reysha paham. "Ini ada beberapa batasan yang aku minta selama kita menikah. " Asta mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya. Reysha membuka map dan membaca isinya. Disana tertulis beberapa list seperti : 1. Tidak boleh menjalin hubungan dengan orang selama pernikahan berlangsung 2. Tidak boleh membocorkan kesepakatan mereka pada pihak manapun 3.Tidak boleh ikut campur dengan masalah masing-masing 4.Pulang tepat waktu 5. Tidak boleh membuka ponsel tanpa seijin pemiliknya. Persyaratannya yang diajukan Asta sangatlah mudah untuk Reysha. Reysha tidak punya pikiran untuk dekat dengan laki-laki manapun selama mereka menikah. Rahasia mereka akan aman karena Reysha bukan type orang yang ember. Dengan senang hati Reysha tidak akan mengurusi masalah orang lain. Termasuk Calon suaminya. Pulang tepat waktu bisa Reysha lakukan karena kebiasaannya memang seperti itu. Pulang kerja langsung pulang. Kalau tidak ibunya bisa mengomel sepanjang hari. Tidak pegang handphone pasangan. Tidak masalah karena Reysha bukan orang yang kepo. "Aku setuju. " Reysha dengan senang hati menyetujuinya. Batasan yang diberikan Asta terlalu mudah untuknya. "Kamu tidak ingin menambahi? " Reysha tampak berpikir. "Aku ada tambahan." "Katakan." "Setelah menikah aku ingin tetap bekerja. Bekerja di tempatku bekerja sekarang. Masih melatih anak-anak karate, dan membantu ibu di toko kue. " "Tentu saja." Reysha tersenyum. "Tapi kamu harus tau batasan. " "Tidak masalah. " "Ada tambahan lagi? " "Sepertinya enggak. " "Kamu yakin? " Reysha tampak berpikir lagi. "Ah, ada." "Apa? " "Jujur saja... Aku nggak bisa masak. Jadi jangan suruh aku masak setelah menikah. Apalagi minta menu hidangan yang aneh-aneh. Meski pernikahan kita cuma satu tahun tapi aku akan belajar memasak. Setidaknya masak mie. " Cengir Reysha. Reysha sebenarnya bisa memasak tetapi hanya menu-menu sederhana. Asta ikut tersenyum. "Tenang saja, aku nggak akan suruh kamu masak. " "Yeeyyy... Doaku dikabulkan Tuhan. Aku nggak mendapat suami patriarki. " Asta tertawa kecil. "Ada lagi? " "Hhmmmm... Apa ya? " Reysha tampak berpikir lagi. "Bagaimana dengan soal sentuhan fisik. " Tubuh Reysha agak menegang mendengarnya. Reysha sampai lupa akan hal itu. Sentuhan fisik akan terjadi setelah pernikahan. Malam pertama dan kelanjutan hubungan mereka sampai setahun kedepan. Reysha bisa saja meminta tidak ada sentuhan fisik selama pernikahan mereka dan mereka bisa tidur di kamar yang terpisah. Reysha yakin Asta akan mengabulkannya namun rasanya ada yang menganjal di hati. Reysha tahu benar jika pernikahan bukan sesuatu yang bisa dibuat permainan. Pernikahan itu sakral dan suci. Berjanji pada Tuhan dan juga keluarga besar untuk menjadi pasangan yang akan bersama selamanya. Tapi jika tidak ada pernikahan kontrak ini, Reysha tidak akan bisa keluar dari rumah untuk hidup mandiri dan Asta akan kehilangan hak warisnya. Walaupun pernikahan ini hanya sementara, Reysha ingin merasakan pernikahan yang sebenarnya. Mempunyai pasangan, hidup berdua, melakukan kontak fisik tanpa menimbulkan perasaan menyenangkan yang biasanya membuat semua rencana menjadi berantakan (seperti di film-film). Sekarang pertanyaannya adalah apakah Asta mau jika diantara mereka terjadi kontak fisik seperti pasangan suami istri lainnya. Reysha menatap Asta yang duduk di depannya. "Aku nggak keberatan kalau terjadi kontak fisik. " "Kontak fisik yang kita lakukan nanti bukan sekedar bergandengan tangan." Asta berharap Reysha mengerti maksudnya. Seharusnya Reysha mengerti sebab mereka sudah sama-sama dewasa. "Aku mengerti maksud kamu. Aku nggak keberatan dengan kontak fisik yang akan terjadi diantara kita. Meski pernikahan ini hanya sementara, setidaknya aku ingin merasakan pernikahan yang sesungguhnya. " Jawaban Reysha diluar perkiraan Asta. Biasanya dalam film Pasangan nikah kontrak tidak akan melakukan kontak fisik dan pastinya akan tidur dengan kamar yang terpisah. Dan kebanyakan kedua pasangan akan saling jatuh cinta. "Aku nggak masalah kalau kamu keberatan." Lanjut Reysha. Seharusnya yang berkata seperti itu adalah Asta. Tapi yang ada malah kebalikannya. "Aku nggak keberatan. " Asta cepat-cepat menanggapi. Reysha tersenyum kecil. "Tapi... " Ada sesuatu yang menganjal di pikiran Asta. "Ada apa? " "Bagaimana... Kalau nanti kamu hamil? " Reysha tertawa kecil. "Banyak cara untuk mencegah kehamilan. Ada KB suntik, pil KB, k****m, KB alami biasanya sistem kalender, atau trik cabut singkong. " Asta tidak menyangka jika Reysha paham banyak tentang cara mencegah kehamilan. Yang Asta tahu hanyalah k****m. "Aku punya teman yang kerja di bidang kesehatan. Dia pernah kasih tau cara mencegah kehamilan" Terang Reysha. Asta mengangguk samar. "Jadi kamu hanya ingin bekerja selama pernikahan kita? " "Ya, hanya itu. "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD