Semua keluarga besar Reysha heboh saat tahu Reysha akan menikah. Ditambah lagi calon suaminya adalah Asta Mahendra Murtopo. Mereka tidak menyangka Reysha mendapatkan pasangan se-keren dan se-kaya itu. Mereka pun kepo dengan kisah Asta dan Reysha. Reysha tidak kerepotan untuk menjawab semua pertanyaan dari keluarga besarnya sebab sang ibu sudah siap bercerita panjang lebar tentang kisah asmara anaknya.
Lamaran resmi pun telah berlangsung. Keluarga Asta yang terdiri dari Asta, kakek, dan beberapa keluarga dekat datang ke rumah Reysha.
Keluarga besar Reysha yang cukup banyak tidak ada yang mau ketinggalan. Mereka semua ikut hadir. Lebih tepatnya ingin memastikan jika yang akan menjadi besan mereka adalah benar-benar keluarga Murtopo. Pemilik perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini.
Di acara lamaran resmi itu disepakati jika pernikahan Asta dan Reysha akan digelar dua bulan lagi.
"Setau aku kamu nggak pernah bilang lagi dekat sama cowok manapun. Eh, Tiba-tiba lamaran aja, " Kata Agnes setelah acara lamaran selesai. "Dan yang nyebelin, dia ganteng bangetttt... Kamu nemu cowok itu dimana coba? Udah ganteng, tajir pula. Aku juga mauuu... "
Reysha tidak bisa menahan tawanya. "Asta ganteng banget, ya? "
"Banget-banget-banget. Kira-kira dia punya saudara kembar, adik, sepupu, atau kakak nggak, sih? "
"Sayangnya nggak punya. Asta itu anak tunggal."
"Yaaahhh..." Agnes langsung lemas. "Tapi kalaupun dia punya kembaran belum tentu kembarannya mau sama aku. " Agnes tertawa.
Reysha pun ikut tertawa. Bagi Reysha, Agnes itu teman yang lucu. Moodnya itu swing, cepat berubah. Dari yang sedih jadi ketawa, begitu sebaliknya.
"Sumpah, Re, kalian itu cocok banget. Kamu cantik dan dia ganteng."
"Masa, sih? Perasaan biasa aja. Asta nggak seganteng yang kamu bilang. "
"Kayaknya mata kamu bermasalah. "
"Mata aku normal, kok. "
"Mana ada mata normal yang bilang kalau Asta itu biasa aja. Dia itu ganteng banget. Kayak aktor Korea yang main drama... Apa, sih, judulnya... " Agnes berusaha mengingat. "Ah, lupa judulnya tapi dia ganteng banget. Mirip sama Asta."
Reysha tertawa saja melihat tingkah teman baiknya.
"Reysha... " Panggil ibu yang berdiri diambang pintu kamar Reysha.
"Ya, bu, " Jawab Reysha.
"Bantu ibu beres-beres. "
"Iya, bu."
Yani pergi meninggalkan kamar putrinya.
"Nes, aku tinggal dulu, ya. Kamu bisa santai disini sambil nunggu aku selesai beres-beres."
"Nggak usah, deh. Aku balik aja."
"Kok malah balik, sih? "
"Iya, lagian udah lama aku disini." Agnes sadar kalau dia adalah tamu terakhir yang masih tersisa di rumah Reysha. Rombongan keluarga Asta sudah pulang, begitu juga dengan keluarga Reysha. "Aku pamitan sama ibu dulu. Kalau nggak pamit dia bisa ngomel-ngomel. "
Reysha dan Agnes tertawa. Keduanya kemudian ke luar kamar bersama.
***
Kata orang dua bulan itu cepat untuk persiapan pernikahan tetapi bagi Reysha semuanya biasa-biasa saja. Kemarin saat lamaran kakek Asta bilang jika pesta pernikahan akan di tanggung dari pihak beliau. Keluarga Reysha hanya perlu menyiapkan diri. Meski ada rasa tidak enak karena tidak berkontribusi apa-apa, mereka tetap mengiyakan.
Yang paling antusias dengan pernikahan Reysha adalah ibunya. Wanita paruh baya itu sibuk dengan dress code untuk keluarga inti dan keluarganya yang lain. Reysha sendiri hanya sibuk mengurus gaun pernikahan. Suara klakson mobil mengagetkan Reysha. Mobil hitam mengkilat sudah berhenti didepannya. Reysha sangat mengenal mobil itu bahkan interior didalamnya.
Sore ini Asta menjemputnya lagi. Bukan untuk membahas masalah pernikahan dan atributnya. Asta biasanya mengajaknya makan dan berbicara santai.
"Kita mau kemana? " Tanya Reysha setelah masuk kedalam mobil.
"Kita akan pergi sedikit jauh. " Asta mulai memutar kemudi.
"Kemana?"
"Ke tempat dimana ada sunset, hembusan angin, dan makanan seafood."
Pikiran Reysha langsung tertuju pada pantai. "Pantai.'
" Ya, pantai."
"Aku suka pantai."
"Bagus kalau kamu suka."
Reysha tersenyum senang.
Hembusan angin laut yang sepoi-sepoi menyambut mereka saat keluar dari mobil. Sejenak Reysha diam sesaat memandang kearah laut lepas dimana matahari berwarna oranye yang akan tenggelam ke peraduannya.
"Ayo." Ajak Asta yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.
Tempat makan itu berada persis di tepi pantai. Tempatnya nyaman dengan pemandangan yang cantik. Ditambah lagi dengan menu yang khusus menyajikan makanan seafood.
"Aku harap kamu nggak alergi seafood, " Ucap Asta saat mereka menunggu pesanan mereka.
"Tenang, aku nggak ada alergi seafood, kok. Tempat ini bagus. Kamu pasti sering kesini? "
"Baru dua kali kesini. Dua kalinya sama kamu."
Di otak Reysha sudah muncul pemikiran jika Asta ke tempat ini pertama kali pasti bersama Delia, mantan kekasihnya.
"Pertama kali kesini itu dua minggu yang lalu sama client."
"Oh." Ternyata dugaan Reysha salah.
"Makanannya enak jadi aku ajak kamu kesini."
Reysha tidak mau baper apalagi besar kepala.
"Besok kamu ada acara?"
Besok adalah hari minggu. Hari libur untuk para manusia yang bekerja.
"Enggak ada. Kenapa? "
"Aku mau ajak kamu ke apartemen aku. Aku belum pernah ajak kamu kesana. Nanti setelah menikah kita akan tinggal disana. "
Reysha tahu itu. Setelah pernikahan mereka akan tinggal satu rumah. Dan keinginan Reysha akan terwujud bisa keluar dari rumah orang tuanya.
"Iya."
"Oia, ada yang harus kamu tau juga. Setiap minggu kita harus menginap di rumah kakek. Itu peraturan yang kakek buat jadi kalau nggak di turuti beliau pasti marah. "
"Nggak masalah."
"Apa keluarga kamu juga menerapkan aturan seperti itu? Maksud aku menginap setiap minggu. "
"Nggak ada. Paling kita disuruh berkunjung. Nggak harus setiap minggu. Bisa sebulan sekali atau lebih. Mereka pasti ngerti, kamu pastinya sibuk. "
Asta mengangguk mengerti.
Pesanan mereka datang. Melihat hidangan seafood dari udang, kepiting, kerang, ikan laut yang dibalut dengan bumbu yang pas membuat Reysha menelan ludahnya. Hidangan di meja mereka sungguh banyak. Reysha yakin mereka tidak akan bisa menghabiskannya.
"Apa ini nggak terlalu banyak? " Reysha sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan meja dan suaranya sedikit di pelankan.
Asta menahan senyum melihat tingkah Reysha. Asta kemudian melakukan hal yang sama yang dilakukan Reysha. "Kalau kurang kita bisa pesan lagi. " Canda Asta.
"Hah? "
Asta benar-benar tidak bisa menahan tawanya. Reysha terlihat lucu.
Selesai makan Asta dan Reysha berjalan di tepi pantai. Langit mulai gelap dan sebentar lagi matahari akan benar-benar tengelam.
"Matahari tenggelam lagi. " Reysha menghentikan langkah. Dia menghadap kearah lautan yang luas.
"Matahari akan selalu melakukan tugasnya. Terbit kemudian tengelam lagi. " Timpal Asta yang berdiri disebelah Reysha.
"Aku masih nggak nyangka kalau sebentar lagi akan menikah."
"Aku juga. "
"Padahal aku udah hopeless sama percintaan. "
"Kapan kamu terakhir pacaran? "
"Empat tahun yang lalu. Pacaran baru dua bulan tapi ternyata di selingkuhi sama teman kerjanya. " Gelap langit menyamarkan wajah Reysha yang tiba-tiba murung. "Kamu sendiri kenapa nggak cari yang baru setelah putus dari Delia? "
"Pernah mencoba tapi entahlah, kurang cocok. Aku lebih memilih menyibukkan diri dengan bekerja. Itu lebih baik dari pada harus melakukan pendekatan dengan orang baru. Ya, kalau cocok. Kalau nggak? "
"Kalau boleh tau kenapa kamu putus dengan Delia? "
"Kami sebenarnya nggak ada masalah. Tiba-tiba aja dia minta break dan nggak lama kemudian dia sebar undangan pernikahan."
Reysha kasihan dengan Asta. Diselingkuhi memang menyakitkan tetapi ditinggal tanpa kejelasan juga menyakitkan. "Kamu pasti patah hati banget. "
"Patah hati, iya. Sedih juga iya. Tapi hal itu membuat aku sadar aku nggak diinginkan oleh Delia. Sedih berkepanjangan hanya buang-buang waktu. Aku dan dia emang nggak jodoh."
"Jodohnya, kan, aku. " Canda Reysha sambil menyenggol bahu Asta.
"Jodoh express." Asta membalas menyenggol bahu Reysha.
"Cerainya juga express."
Keduanya saling tertawa.