Sesuai janji kemarin, hari ini Reysha datang ke apartemen Asta. Tempat tinggal suaminya itu cukup besar. Semua perabot lengkap, tidak ada yang kurang.
"Setelah menikah nanti kamu bisa mengubah interior apartemen ini. "
Reysha agak kaget dengan ucapan Asta. Baginya apartemen itu sudah bagus, untuk apa di rubah.
"Ayo, aku tunjukin kamar utamanya."
Reysha mengangguk kecil.
Sebelum sampai di kamar utama mereka melewati dapur dan langkahnya terhenti.
"Apa aku boleh lihat dapurnya?" Tanya Reysha.
"Tentu."
Dapur itu bagus, sangat rapi dengan perabot yang lengkap. Reysha kemudian teringat ibunya. Wanita itu pasti suka dengan model dapur seperti ini.
"Setelah menikah, kamu bisa ganti perabotannya sesuai selera kamu. "
"Perabotannya lengkap. Tapi seperti nggak pernah di pakai. "
Asta meringis seakan membenarkan perkataan Reysha.
"Memang. Aku nggak pernah menggunakan dapur. Aku sering makan di luar dan nggak bisa masak juga. Barang yang sering aku kunjungi di dapur ini hanya kulkas."
"Oh."
Selesai di dapur, Asta mengajak Reysha ke kamar utama yang nanti akan menjadi kamar mereka berdua. Di apartemen itu ada tiga kamar tetapi salah satu kamar dibuat Asta menjadi tempat Kerja.
Kamar itu luas dengan ranjang king size yang ber-sprai putih. Jendela besar yang menampilkan pemandangan Kota jakarta, serta walk in closet yang terhubung dengan kamar mandi.
"Kamarnya bagus. " Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Reysha.
"Tadinya aku pikir perlu perubahan. " Timpal Asta.
"Kenapa harus ada perubahan? "
"Takutnya kamu kurang suka. Setidaknya harus menyesuaikan selera kamu. Nantinya kamu yang akan jadi nyonya rumah ini. "
"Tapi kamu harus ingat. Aku disini hanya sementara. Nantinya aku akan pergi. Apartemen kamu bagus jadi nggak perlu di renov apalagi ganti perabotan. "
Asta tersenyum kecil. "Apa kita perlu latihan? "
Dahi Reysha mengernyit. "Maksud kamu? "
"Latihan buat jadi suami istri. " Goda Asta.
"Astaga... Banyak-banyak istighfar. Belum muhrim. "
Asta tidak bisa menahan tawanya.
***
"Kamu cantik banget." Puji Agnes untuk kesekian kalinya.
Hari ini akhirnya tiba. Hari dimana Reysha akan dipersunting oleh Asta. Ternyata waktu dua bulan itu cepat terlewat. Reysha sudah cantik dengan kebaya putih yang dipesan di desainer ternama. Rambutnya di tata sedemikian rupa. Ditambah lagi dengan juntaian rangkaian kuncup melati yang di rangkai.
"Habis ini kamu bakal dapet piring cantik soalnya udah muji aku lebih dari tiga kali."
Agnes terkekeh.
"Emangnya nggak takut kepala aku jadi gede karena terus di puji. "
Agnes kemudian tertawa. "Aku serius, Rey. Kamu itu cantik banget. Manglingi banget. Asta pasti kaget lihat kamu. "
"Mungkin." Pikir Reysha. Dia tidak memikirkan tanggapan Asta akan penampilannya. Yang terpenting baginya adalah melihat keluarganya bahagia. Reysha bisa melihat kebahagiaan ibunya yang senang melihatnya akan menikah. Ibunya sudah terlalu lama menunggu hari bahagia ini tiba. Orang tuanya tidak akan lagi mendapatkan pertanyaan kapan putrinya menikah ataupun sibuk mencarikan jodoh.
Sedari tadi ibunya sudah beberapa kali masuk ke kamar untuk menemuinya. Berulang kali Yani memujinya cantik. Ada rasa senang bercampur haru yang Reysha rasakan saat ibunya mengatakan hal itu.
"Mbak, keluarga mempelai laki-laki udah dateng, " Kata Irsya yang tiba-tiba muncul diambang pintu kamar Reysha.
Sekarang jantung Reysha berdegup tidak senormal biasanya.
Acara pernikahan dari awal disepakati berlangsung di rumah mempelai wanita sedangkan acara resepsi akan di gelar malam harinya di salah satu hotel milik keluarga Asta.
Didalam kamar ditemani Agnes dan Elia, Reysha menunggu dengan hati berdebar. Diluar sana tepatnya di ruang tamu Asta sedang mengucapkan ijab qobul yang kemudian berlanjut dengan kata SAH dari penghulu, saksi dan juga para tamu yang ada disana.
Ada rasa lega yang Reysha rasakan setelah mendengar kata SAH. Ternyata Asta lancar saat mengucapkan ijab qobul. Padahal Reysha punya pikiran jika Asta akan kesulitan mengucapkan ijab qobul sebab pernikahan mereka yang berbatas waktu.
Tidak berselang lama ibu datang ke kamar Reysha. "Waktunya ketemu sama suami kamu. "
Reysha berjalan menemui suaminya di apit ibu dan Harum. Sedangkan Agnes dan Elia berada dibelakang ibu Reysha.
Di tempat duduknya Asta memperhatikan sang istri yang berjalan kearahnya. Reysha memang tampak sangat cantik dengan balutan kebaya. Membuat Asta terpana. Asta memang sadar jika Reysha cantik tapi hari ini istrinya sangat-sangat cantik.
"Kamu cantik, " Kata Asta pelan setelah Reysha duduk disebelahnya.
Reysha menyambutnya dengan senyuman. Dia juga tidak menampik jika Asta terlihat tampan dengan beskap yang dikenakannya.
Acara berlanjut sesuai semestinya. Hingga waktunya Asta dan Reysha berangkat ke hotel untuk melanjutkan acara resepsi pernikahan mereka.
Dalam mimpi pun Reysha tidak pernah berekspresi jika pesta pernikahannya sangat mewah. Diselenggarakan di hotel, dengan dekor yang luar biasa mewah. Pernikahan sepupu-sepupunya bahkan teman-temannya tidak ada yang seperti ini. Reysha yakin keluarga besarnya pasti heboh. Apalagi ibunya pasti akan pamer dan agak berlebihan.
Tamu undangan begitu banyak. Yang jelas bukan tamu undangannya, orang tuanya, atupun Asta. Kebanyakan yang datang adalah tamu Murtopo, kakek Asta. Sebagai pengusaha hebat pastinya teman maupun kolega banyak yang diundang. Ditambah lagi Asta adalah cucu satu-satunya.
Reysha sendiri hanya mengundang beberapa teman. Bukan teman kerja tetapi teman yang penting-penting saja. Reysha termasuk orang yang hanya mempunyai sedikit teman.
"Kamu capek?? " Suara Asta menarik perhatian Reysha.
"Nggak, kok. " Reysha memilih berbohong. Tentu saja dia capek. Kakinya sakit karena berdiri terlalu lama karena tamu yang tiada henti-hentinya antri untuk memberikan selamat. Ditambah lagi dengan senyum lima jari yang tak boleh luput dari wajahnya.
"Kalau kamu capek, duduk aja. Nggak apa-apa, kok. "
"Iya." Meski ingin Reysha memilih menahannya. Dia tidak enak jika harus duduk tapi Asta masih berdiri.
Acara yang seharusnya selesai dua jam ternyata molor satu setengah jam. Kaki Reysha rasanya mau patah tapi sebisa mungkin ia tahan sampai ia berada di kamar tempatnya menginap malam ini.
Malam ini Reysha dan Asta menginap di salah satu kamar hotel yang khusus di sediakan untuk mereka. Ranjang ber-sprei putih itu di taburi kelopak mawar merah dengan handuk yang dibentuk angsa dengan posisi saling berciuman sehingga membentuk bentuk hati.
"Kamu bisa mandi dulu, " Kata Asta setelah melepas tuxedo-nya. "
"Kamu saja yang duluan. " Balas Reysha yang duduk si pinggir ranjang sambil memijat kakinya yang sakit.
"Kaki kamu sakit banget, ya? "
"Sedikit." Sedikit tapi lebih banyak sakitnya.
"Aku pijitin, ya? "
"Enggak usah, enggak usah. " Tolak Reysha cepat. "Lebih baik kamu mandi. "
"Ya udah, kalau gitu aku mandi dulu. Habis mandi nanti aku pijitin kaki kamu."
Reysha memilih tidak menjawab. Dipijit memang enak tapi masalahnya nanti Asta yang akan memijatnya. Berada berdua di kamar ini saja sudah membuat Reysha canggung meski Asta adalah suaminya. Apalagi di pijat sama Asta.
Belum lagi dengan malam pertama mereka. Reysha berusaha tidak membayangkan apa yang akan terjadi nanti. b******a dengan Asta... Astaga... Rasanya nanti pasti akan sulit. Tidak ada cinta diantara mereka. Seharusnya kemarin Reysha meminta tidak ada sentuhan fisik tapi dengan percaya dirinya dia meminta itu. Reysha menatap pintu kamar mandi dengan cemas. Semoga Asta nanti tidak meminta haknya dengan alasan capek. Semoga.
Reysha melebarkan mata lalu membuang pandangan saat melihat Asta keluar dari kamar mandi. Tubuh bagian atas polos dan bawahnya hanya di lilit handuk putih. Tubuh Asta berbentuk walaupun tidak seperti binaragawan. Tampak segar dengan aroma sabun yang menguar dari tubuhnya.
"Kamu, bisa mandi sekarang. " Asta sadar istrinya tampak canggung.
"I-iya." Reysha langsung menuju kamar mandi. Setelah pintu tertutup dia diam beberapa saat. Meyakinkan diri semuanya akan baik-baik saja. Ini sudah pilihannya. Menikah - permintaan sentuhan fisik - mau tidak mau nanti dia harus menurut saat Asta memintanya
Cukup lama Reysha berada di kamar mandi. Dia memang sengaja mengulur-ulur waktu berharap Asta tidur saat dia keluar dari kamar mandi. Sayangnya harapannya tidak terkabul saat keluar dari kamar mandi. Asta masih terjaga. Berada diatas ranjang, bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponsel. Dan anehnya laki-laki itu masih bertelanjang d**a.
"Sudah selesai mandinya? " Asta meletakkan ponselnya diatas meja kecil disebelah ranjang kemudian menghampiri Reysha. Tindakan itu tentu saja membuat Reysha khawatir dan juga waspada.
Asta mengambil handuk yang ada di tangan Reysha kemudian mengandeng tangan istrinya menuju ranjang.
"Duduk lah. Aku bantu keringin rambut kamu. "
Dan bener saja Asta membantu mengeringkan rambut Reysha. Dan yang membuat Reysha tidak nyaman adalah posisi mereka yang berhadapan. Jarak mereka begitu dekat dan hal itu membuat kinerja jantung Reysha sudah berlebihan.
Reysha pun berpikir Asta pasti akan meminta haknya. Mau tidak mau dia harus siap.
"Kaki kamu masih sakit? " Asta menghentikan menggosok rambut istrinya dengan handuk.
"Sedikit." Reysha menyesali jawabannya seharusnya dia menjawab tidak.
"Aku pijit, ya. "
"Nggak usah. " Tolak Reysha.
"Nggak apa-apa. "
Tiba-tiba Asta mengangkat kaki Reysha secara bergantian dan meletakkan di pangkuannya.
"Asta, nggak usah. " Reysha terkejut dengan perlakuan suaminya.
"Nggak apa-apa. Kamu rileks saja. Kamu pasti capek berdiri lama. Kakek terlalu banyak mengundang tamu. "
"Kamu sendiri pasti capek. "
Asta hanya tersenyum kemudian memijit kaki Reysha secara bergantian.
Reysha kemudian menggeser tubuhnya kebelakang untuk mencari posisi yang lebih nyaman.
Pijatan Asta sangat enak. Reysha yakin sebentar lagi dirinya akan tertidur lelap tetapi lama kelamaan Reysha merasa pijatan Asta ada yang aneh. Pijatan suaminya itu bergeser dari tempat yang tidak semestinya. Terus naik ke paha atas. Sudah berani masuk kedalam kimono handuk yang Reysha pakai.
Reysha melihat Asta terus mendekatkan wajahnya ke wajah Reysha. Dan dalam hitungan detik jarak wajah mereka begitu dekat.
Reysha merasa was-was sekarang.
"Kita bisa malam ini, kan? "
Reysha sangat mengerti pertanyaan dari suaminya.