11. Maldive

1074 Words
Ciuman itu hanya sekilas tetapi langsung membuat Reysha membeku. "Aku nggak akan memaksa, " Ucap Asta. "Kalau kamu belum siap." Asta mulai menjauhkan wajahnya. "Aku... Aku siap." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Reysha. Padahal sedari tadi Reysha berharap malam pertama tidak akan terjadi. Asta tersenyum kemudian mendekat kembali untuk mencium Reysha. Yang awal tadi hanya berupa kecupan namun sekarang lebih dalam dan menuntut. Reysha tidak pernah berciuman sebelumnya. Punya pacar selama dua bulan belum membuat Reysha tahu rasanya berciuman. Meski belum pernah merasakan tetapi Reysha sudah sering melihat adegan ciuman dalam drakor atau dracin yang sering ia tonton. Mungkin rasanya kaku tapi Reysha berusaha untuk mengimbangi suaminya. Tangan Asta mulai bergerilya di tubuh Reysha. Sentuhan-sentuhan itu asing di tubuh Reysha namun terasa menyenangkan. Ketika semua terasa mulai panas tiba-tiba Reysha teringat sesuatu kemudian mendorong tubuh Asta sedikit keras. "Ada apa? " Tanya Asta bingung. "It-itu." Reysha berusaha mencari kata yang tepat. Sebelum pernikahan Asta dan Reysha bersepakat jika mereka akan main aman saat b******a. Terutama Reysha tidak ingin ada anak diantara mereka karena pernikahan mereka hanya kontrak. "Itu. Maksud aku itu. Duh, gimana, ya, ngomongnya." Reysha heran dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba menjadi bingung padahal apa susahnya mengatakan ingin bermain aman. "Dulu... Kita sepakat kalau b******a main aman." Butuh beberapa detik sampai Asta mengerti. Laki-laki itu tersenyum kemudian berkata, "Aku ngerti, kok. Kamu nggak usah khawatir. Kita akan main aman." Asta memberi isyarat pada Reysha dengan menunjuk kearah meja dengan dagunya. Reysha menoleh mengikuti isyarat Asta, diatas meja kecil disebelah ranjang ada sebuah kotak kecil. Dari gambar yang ada di luar kotak Reysha sudah mengerti itu adalah alat tempur mereka. "Jadi, kita bisa lanjut lagi, kan? " Tangan Asta menyentuh wajah istrinya. Mereka saling berpandangan sedikit lama kemudian Reysha mengangguk pelan. Asta tersenyum kemudian kembali mencium istrinya dan melanjutkan apa yang tadi tertunda. *** "Pagi." Sapa Asta saat melihat istrinya bangun. Ada rasa malu yang menghinggapi Reysha saat melihat suaminya pagi ini. Mereka masih ada diatas ranjang, polos, dan dekat. Tiba-tiba kelebatan kejadian tadi malam muncul begitu saja tanpa rasa malu. "Pagi." Jawab Reysha yang berusaha bersikap normal. Reysha bangun dari posisi tidurnya. Tak lupa menutupi tubuhnya dengan selimut. "Maaf, aku bangunya telat. Malah kamu yang bangun lebih dulu. " Lanjut Reysha. "Nggak apa-apa. Aku sebenarnya kebangun tadi soalnya kakek telepon terus. " Jelas Asta. "Ada apa kakek telepon terus? Kakek baik-baik saja, kan? " Tampak kekhawatiran di wajah Reysha. "Kakek baik-baik saja, kok. " "Aku kira kakek kenapa-kenapa.. " "Kakek ngajak kita sarapan." "Sekarang jam berapa? " Asta melihat jam digital yang ada di layar ponselnya. "Hampir jam delapan. " "Jam delapan. " Reysha kaget. Ini kali pertama dalam hidup, Reysha bangun sesiang itu. Kalau ibunya tahu dia bisa kena omel panjang lebar ditambah pukulan. Reysha tidak menampik jika tubuhnya lelah. Sudah berdiri berjam-jam diatas pelaminan untuk menyalami para tamu. Belum lagi semalam mereka b******a hingga tiga ronde. "Astaga ini sudah siang. " Reysha berniat turun dari ranjang untuk pergi ke kamar mandi namun gerakannya di tahan. Asta menarik lengan Reysha, membuatnya jatuh kembali ke ranjang dan dengan cepat Asta berpindah keatas tubuh istrinya. "Satu ronde lagi sebelum kita sarapan. " Disusul dengan ciuman dan sentuhan panas yang menenggelamkan mereka untuk kesekian kalinya. *** Reysha merasa malu saat menghampiri Murtopo di salah satu meja restoran. Asta dan Reysha telat datang hampir satu jam karena b******a lagi. "Pagi kakek. " Sapa Asta tanpa rasa bersalah lalu duduk disalah kursi di meja itu tapi sebelumnya dia menarik kursi untuk Reysha duduki. "Selamat pagi kakek." Reysha menyapa kakek dengan rasa sungkan. "Selamat pagi, Reysha." "Kakek jawab sapaan Reysha tapi nggak jawab sapaan aku. " "Siapa suruh kamu datang telat untuk sarapan. Ini sudah jam berapa." "Ah, kakek kayak nggak pernah muda aja. " Balas Asta dengan nada setengah bercanda. Reysha menunduk, malu dengan ucapan suaminya. Bukannya minta maaf malah menyuruh kakeknya mengerti dengan situasi pengantin baru. "Kamu nggak kasihan sama istri kamu jam segini baru diajak sarapan. " Omel Murtopo. "Reysha belum lapar, kek. Iya, kan, sayang? " Asta melihat kearah istrinya. Reysha hanya memaksakan senyum. Rasa lapar memang ada tetapi rasa itu terendam oleh desahan dan kenikmatan yang mereka rasakan. "Dasar anak nakal." Disusul pukulan tongkat di bahu Asta. "Aduh, kek, sakit. " Asta mengadu Sambil mengelus bahunya yang sakit. "Reysha, kalau dia kurang ajar sama kamu, bilang sama kakek, kakek akan hukum dia." Reysha tersenyum. Senang dengan keakraban mereka sekarang. "Kakek udah nggak sayang cucu." "Dasar anak nakal." Reysha senang melihat kedekatan kakek dan suaminya. Kata suami membuat Reysha ingin tertawa. Takdir memang tidak ada yang bisa menebak. Beberapa bulan kemarin dia masih single dan sekarang dia sudah punya suami. *** Perjalanan jakarta - maldives lumayan panjang, sekitar 7-8 jam. Itupun harus transit di bandara Singapura. Tubuh yang lelah karena penerbangan yang panjang langsung terobati saat melihat pemandangan laut yang indah nan luas. Asta dan Reysha mengikuti pegawai resort yang mengantar mereka ke bungalau yang sudah di reservasi oleh kakeknya. Ya, Murtopo memberikan Asta dan Reysha tiket honeymoon ke maldive. "Kakek benar-benar pintar memilih tempat, " Kata Asta yang berjalan disebelah Reysha. Mereka menyusuri jembatan untuk sampai di bungalau mereka. "Tempat ini indah. " Timpal Reysha. Asta menoleh kearah istrinya. "Kamu suka? " "Tentu saja. " Reysha menoleh kearah suaminya dan mereka saling tersenyum. Bungalau yang mereka tempati sama seperti bungalau-bungalau yang tadi mereka lewati. Tempat itu berdiri diatas permukaan laut. Nuansa putih dan coklat kayu menyambut mereka saat memasuki bungalau mereka. Ruang tamu yang minimalis, ranjang king size dengan sprei putih bersih, kolam renang pribadi serta set sofa tidak jauh dari kolam renang. "Wah, ada kolam renangnya juga." Reysha berdiri tidak jauh dari kolam renang. "Mau berenang? " Reysha tersenyum nyengir. "Di keluargaku nggak ada yang bisa berenang." "Padahal rencananya aku mau ajak kamu snorkling. " "Kamu aja yang snorkeling. Aku di kamar aja. " "Di kamar terdengar lebih menyenangkan. " Asta mendekat pada istrinya. Belum juga mendekat Reysha tiba-tiba berjalan. "Mau kemana? " "Mau ambil handphone. " Reysha mencari tasnya yang tadi ia letakkan di ranjang. Asta memandang istrinya. Entah hanya dia yang merasakan atau semua laki-laki yang baru menikah ingin selalu menjamah istrinya. Tubuh Reysha seperti candu baginya, yang selalu ingin ia sentuh lagi dan lagi. Asta menghampiri Reysha yang sedang mengambil foto dengan kamera handphonenya. "Eh-" Reysha terkejut tiba-tiba Asta mengambil handphonenya dan meletakkannya sembarangan. Dan yang lebih mengejutkannya lagi Asta menciumnya. Ciuman yang dalam dan menjalar semakin panas. Yang berujung membuat keduanya terbakar dan berakhir diatas ranjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD