3. Midnight

1084 Words
Bagi sebagian orang rumah sakit adalah tempat yang menakutkan apalagi saat tengah malam. Reysha yang tidak bisa tidur memilih keluar dari ruangan Agnes di rawat. Agnes sendiri sudah terlelap dari tadi. Jam tangan Reysha menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Pastinya jam seperti ini rumah sakit sepi kecuali di ruang IGD. Lorong rumah sakit tampak sepi. Tampak perawat yang standby di tempat jaga. Ada juga keluarga pasien yang duduk atau tidur di kursi besi yang ada didepan ruang rawat pasien. Reysha turun ke lantai bawah. Tak ada tujuan pasti, dia hanya mengikuti langkah kakinya. Didepan Reysha ada sebuah taman kecil, ada air mancur kecil disana. Suara gemericik air terasa menenangkan. Membuat Reysha akhirnya duduk di kursi besi yang tidak jauh dari sana. Semestinya Reysha takut berada ditempat sepi yang mulai jarang dilewati orang. Bisa saja Reysha bertemu hal ghaib yang bisa muncul kapan saja. Tetapi kesunyian itu malah membuatnya tenang. Tidak ada suara bising dari orang-orang yang bertanya tentang pasangan, pernikahan, serta suara ibunya yang terus mengomel, menyalahkannya, dan menuduhnya yang bukan-bukan. Reysha menoleh saat merasa kursi disebelahnya seperti ada yang menduduki. "Hai." Sapa orang itu. "Hai." Balas Reysha. "Kamu nggak lari? " Tanya lelaki itu. "Kenapa aku harus lari? " "Mungkin saja aku hantu yang sedang menyamar." Reysha tertawa kecil. "Hantu nggak akan menapakkan kakinya di lantai. " "Oia? " "Iya. Dan hantu nggak akan menyapa dengan sopan. " Asta ikut tertawa. Tadinya Asta ingin membuang sampah di depan ruang rawat kakeknya. Tidak sengaja pandangannya menangkap Reysha yang duduk sendirian. Asta bisa saja berpikir yang ia lihat adalah hantu yang menyerupai Reysha tetapi pikirannya berkata tidak. "Kenapa belum tidur? " Asta bertanya. "Belum ngantuk. " Balas Reysha. "Kamu sendiri? " "Sama. Sepertinya nggak ada yang bisa tidur di rumah sakit. " "Itu cerita lama. " Asta terkekeh mendengarnya. "Teman kamu sakit apa? " "Usus buntu. " "Oh. " "Kalau kakek kamu sakit apa? " "Kadar gulanya tinggi. " "Oh." Hening diantara keduanya. "Gimana kabar Delia? " Reysha tidak suka keheningan yang terjadi diantara mereka. "Aku sama dia udah nggak sama-sama lagi. " "Maaf, aku nggak tau. " Setelah lulus kuliah Reysha dan Delia memang sudah jarang bertemu ataupun berkomunikasi sampai sekarang. "Aku pikir kamu masih sama Delia. " "Kami udah lama putus. " "Aku udah lama nggak komunikasi sama dia jadi nggak tau kalau kalian udah nggak sama-sama lagi. " Bertemu mantan pacar teman dan hanya sekedar kenal membuat Reysha ataupun Asta bingung harus mengobrol apa. "Teman kamu di rawat di lantai ini juga? " "Enggak. Teman aku di rawat di lantai lima." "Dia pasti cariin kamu kalau kamu tinggal. " "Dia udah tidur. Kalau tidur udah kayak kebo." Reysha terkekeh. "Kalaupun nyariin, dia pasti telepon aku." Asta mengangguk mengerti. Terdengar dehaman yang membuat Asta dan Reysha menoleh ke sumber suara. Tampak seorang laki-laki tua berdiri tidak jauh dari mereka, memakai kacamata, dan menggunakan tongkat. "Kakek, " Kata Asta terkejut saat melihat kakeknya disana. Dia juga berdiri dari tempat duduknya. "Kakek ngapain disini? Seharusnya kakek istirahat. " Pandang Murtopo bergeser pada Reysha. Tidak lama kemudian beralih ke cucunya. "Ngapain kalian pacaran malam-malam disini? " Pertanyaan itu tentu saja membuat Asta terkejut sedangkan Reysha bingung. "Kakek di-" Asta ingin menjelaskan. "Nama kamu siapa? " Pandangan Murtopo kembali pada Reysha. "Saya? " Reysha menunjuk dirinya sendiri kemudian bangkit dari duduknya. "Nama saya Reysha. " "Reysha. Nama yang cantik. Ini pertama kalinya saya melihat pacar Asta." "Pacar." Ulang Reysha bingung. Pandangan Reysha kemudian mengarah pada Asta. "Kakek, Reysha ini bu-" Asta mencoba menjelaskan. "Besok ajak pacar kamu makan siang sama kakek. Sepertinya besok kakek sudah bisa pulang karena sekarang kakek merasa sehat." Ucapan kakeknya membungkam Asta untuk menjelaskan segala kebenaran. Sekarang mau jujur jadinya serba salah. Ia ingin kakeknya sehat tetapi juga tidak mau bohong. Reysha bukan siapa-siapa. Wanita itu hanya teman mantan pacarnya. Merekapun tidak dekat. Hanya sekedar saling kenal. "Kakek pergi dulu, ya. Sampai jumpa besok, Reysha. " Kalimat itu ditujukan pada Reysha. Reysha hanya diam. Masih bingung dengan apa yang terjadi. Murtopo berjalan menuju kamarnya di rawat. Setelah agak jauh Asta mengarahkan pandangan pada Reysha. "Reysha, maaf, ya. Aku bisa jelasin semuanya." Reysha memang butuh penjelasan. "Asta... " Panggil Murtopo sambil berjalan. "Iya, kek. " Balas Asta agak keras supaya kakeknya mendengarnya. "Aku aku jelasin semua besok. Kita ketemu disini besok, jam enam pagi." Asta mengucapkan kalimat itu sedikit agak cepat." "Iya." Reysha menyetujui. Reysha memperhatikan Asta yang berlari kecil menyusul sang kakek. Asta sendiri berusaha menuruti permintaan kakeknya. Meski kadang rasa kesal, marah, jengkel selalu muncul karena lelaki tua itu. *** Pagi itu mendung saat Reysha sudah rapi dengan pakaian kerjanya. "Udah rapi aja," Kata Agnes yang tampak baru bangun tidur. "Semalam pasti nggak bisa tidur, ya? Makanan jam segini sudah rapi. " "Bisa tidur, kok. Bangunnya lebih pagi soalnya takut telat sampai tempat kerja. Tau sendiri gimana macetnya jakardah. " Reysha tidak bercerita pada Agnes bahwa dia akan bertemu dengan Asta. "Iya, juga, sih. By the way, ibu kamu nggak marah kamu nginep disini? Aku nggak enak kalau ibu kamu marah-marah sama kamu gara-gara kamu nemenin aku disini. " "Enggak, kok. Tenang aja. " Reysha tidak perlu menceritakan yang sebenarnya. Membuat marah ibunya memang kesalahan tetapi membantu teman yang sedang kesusahan itu juga penting. Biarlah ibunya lebih marah-marah lagi saat dia pulang nanti, toh, dimarahi ibu sudah menjadi santapan Reysha setiap hari. "Aku berangkat dulu, ya. Sekalian cari sarapan. Nanti aku kesini lagi habis pulang kerja. " "Iya. Makasih banyak, ya, Re. " "Iya. Aku pergi dulu. " "Hati-hati." "Siiip." Reysha mengangkat jempol kemudian menuju pintu. Reysha menemukan Asta duduk di kursi semalam yang mereka tempati. Laki-laki itu juga sudah rapi dengan setelan kerjanya. "Hai." Sapa Asta saat melihat Reysha. "Hai." Balas Reysha. "Maaf baru datang. Maaf juga kalau sudah membuat kamu menunggu. " Seingat Reysha tadi dia keluar dari kamar Agnes jam belum menunjukkan pukul enam. Asta menggelengkan kepala. "Kamu nggak telat, kok. Aku aja yang datang terlalu cepat. " Asta memperhatikan penampilan Reysha. "Mau berangkat kerja? " "Iya." Asta kemudian berdiri dari posisi duduknya. "Apa kita bisa cari sarapan dulu? Sambil membahas yang semalam. " Reysha mengangguk. Jujur saja dia butuh sarapan untuk memulai hari. "Kamu mau kita sarapan di kantin rumah sakit atau di luar? " "Aku ikut kamu saja." Rasanya tidak enak jika Reysha yang menentukan tempat. Reysha bisa apa kalau Asta memilih kantin rumah sakit meski Reysha tidak begitu suka. Ternyata dugaan Reysha salah. Asta tidak mengajaknya sarapan di kantin rumah sakit. "Kamu tunggu aku di lobby depan. Aku mau ambil mobil dulu di parkiran." "Iya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD