4. Seperti Sebuah Jawaban

1152 Words
Asta membawa Reysha ke sebuah cafe yang tampak masih sepi. Pegawai cafe itu ramah seperti sudah mengenal Asta sebelumnya. "Kamu mau pesan apa? " Tanya Asta pada Reysha setelah menerima buku menu dari pelayanan. "Aku pesan s**u coklat hangat, " Jawab Reysha. "Sarapannya? " Reysha kembali melihat buku menu. "Nasi goreng. " "Kopi satu, s**u coklat hangat satu, sama dua nasi goreng. " Pesan Asta. Pelayan wanita itu pergi setelah mencatat pesanan Asta. "Kamu kerja dimana? " Reysha menyebutkan tempat kerjanya. Sudah dua bulan ini Reysha bekerja di sebuah toko elektronik yang khusus menjual laptop. Sebelumnya Reysha bekerja di sebuah perusahaan makanan. Dia menempati bagian marketing. Sudah tiga tahun Reysha bekerja disana. Awalnya semuanya berjalan baik sampai manager baru datang. Laki-laki paruh baya c***l yang suka menggoda para karyawan perempuan. Perlakuan manager itu sudah dilaporkan ke atasan. Sudah di tindak dan diperingatkan. Anehnya laki-laki itu masih tetap berulah dan membuat suasana kantor, khususnya bagian marketing tidak nyaman. Karena sudah tidak tahan dan berulang kali mendapatkan pelecehan secara verbal akhirnya Reysha memutuskan resign. Keputusannya tentu saja di tentang oleh sang ibu. Tetapi Reysha mendapatkan dukungan dari sang ayah. Seminggu menganggur akhirnya Reysha bekerja di toko elektronik sambil menunggu panggilan pekerjaan dari kantor yang ia kirimi surat lamaran pekerjaan. Tadinya sang ayah menyuruhnya berhenti bekerja saja. Reysha bisa membantu ayahnya mengajar di tempat kursus karate milik keluarganya atau membantu sang ibu mengurus toko kue. Untuk membantu sang ayah mengajar karate masih Reysha lakukan setelah pulang bekerja tetapi kalau untuk membantu di toko kue? Tidak. Reysha tidak mau. Dia lebih memilih bekerja saja meski gajinya jauh saat masih kerja di kantoran. "Aku minta maaf soal yang semalam. " Asta memulai percakapan. "Kakek salah paham. Mengira kamu adalah pacar aku. " "Iya, nggak apa-apa. " Balas Reysha. Hening diantara keduanya. "Reysha." Panggil Asta yang tampak ragu. "Eee... Aku mau minta tolong sama kamu. Tapi... Aku bingung mau mulai darimana." "Ngomong aja. Kalau aku bisa bantu kenapa tidak. " Asta tersenyum mendengarnya. "Terima kasih. " Pelayan mengantarkan pesanan mereka. Asta dengan segelas kopi dan Reysha dengan s**u coklat hangat. "Kakek pikir kalau aku sama kamu itu pacaran. Nanti siang beliau mengajak kita untuk makan siang. Kalau kamu nggak keberatan, kamu mau, kan, kita pura-pura menjadi pasangan? Aku nggak mau tensi kakek naik lagi. Setelah makan siang nanti, pelan-pelan aku akan kasih tau kakek kalau aku sama kamu nggak ada hubungan. " Menolong orang adalah perbuatan baik. Reysha tidak masalah kalau cuma jadi pacar pura-pura. Itupun hanya untuk maka siang nanti. "Nggak apa-apa. Nanti kamu kasih tau dimana tempat makan siangnya. Aku pasti datang. " Asta tidak menyangka jika Reysha akan menolongnya. "Terima kasih, ya, Re. " "Iya, sama-sama. " Dalam diam Reysha berpikir bagaimana bisa laki-laki tampan seperti Asta masih berstatus single. Seharusnya sudah punya gandengan atau juga sudah menikah. "Kamu... Nggak punya pacar? " Reysha memberanikan diri bertanya. "Kalau aku punya pacar, aku nggak mungkin minta bantuan kamu." Asta meringis. "Masa, sih? Rasanya nggak percaya aja. " "Aku serius, Re. I am single. Terus kamu sendiri gimana? Jangan-jangan nanti ada yang marah kalau tau kamu jadi pacar pura-pura aku. " Asta terkekeh. Reysha meringis. "Tenang. Nggak akan ada yang marah. Lagian umur segini juga udah nggak minat buat pacaran. Mau yang lebih serius. " "Menikah." "Ya. Siapa, sih, yang nggak mau menikah. Meski di luar sana banyak yang bilang married is scary. Kalau menurut aku, sih, bukan pernikahannya yang menakutkan tetapi salah pilih pasangan aja. " Asta suka dengan pemikiran wanita didepannya. "Memangnya sampai sekarang belum ada calonnya? " Reysha menggeleng. "Belum ada. Mungkin jodoh aku masih pake seragam abu-abu, mahasiswa, atau jangan-jangan masih pakai popok. " Asta tidak bisa menahan tawa. "Aku sebenarnya juga pengen menikah. Apalagi kakek mendesak terus sampai pusing sendiri. " "Kalau gitu kamu harus terus berusaha. Kamu pastinya mudah untuk menemukan pasangan yang pas. " Asta menggeleng. "Aku nggak bisa sembarangan memilih pasangan." "Pastinya standar kamu tinggi banget." "Bukan itu. " "Lalu? " Asta melihat kiri kanan lalu sedikit mencondongkan tubuh kedepan. "Aku ingin menikah dengan seseorang yang nantinya mau bercerai dengan aku. " "Hah. Maksudnya? " Reysha terkejut. Agak tidak paham juga atau bodoh untuk mengerti. "Aku ingin menikah tapi nantinya akan bercerai. Bahasa kerennya mungkin nikah kontrak." Asta merasa aneh pada dirinya sendiri karena bicara jujur pada Reysha. "Kenapa? Maksud aku... Kenapa harus menikah kontrak. " "Kakek aku ingin aku segera menikah. Beliau mengancam kalau aku tidak menikah akan memberikan semua harta warisan ke panti asuhan." "Mungkin itu hanya gertakan. " "Kakekku selalu serius dengan ucapannya." "Apa kakek kamu nggak sayang sama kamu? Kok tega banget." "Sayang, sih. Cuma pengen aku cepat menikah. Sayangnya calonnya belum ada. " Sapta terkekeh. Entah mengapa Reysha berpikir untuk mendaftarkan diri menjadi istri Asta. Tak apa menikah kontrak setidaknya dia bisa keluar dari rumah orang tuanya. "Kamu sendiri kenapa ingin menikah? Apa didesak oleh orang tua? " "Itu salah satunya. Tapi ada alasan lain." "Apa? " Asta tertarik dengan pembahasan mereka. "Aku ingin segera keluar dari rumah orang tuaku." Dahi Asta mengernyit. "Di keluargaku ada aturan yang tidak tertulis. Jika ingin keluar dari rumah harus menikah terlebih dahulu. Kelihatan konyol, sih, tapi itulah adanya." "Bukankah tinggal bersama orang tua itu menyenangkan? " "Mungkin sebagian merasakan hal itu tetapi ada juga yang tidak." "Kamu nggak bahagia tinggal bersama keluarga kamu? " "Bukannya nggak bahagia, nggak bersyukur. Tetapi... Entahlah. Keinginan untuk keluar dari rumah begitu kuat. Apalagi di usia seperti ini." Asta merasa dirinya dan Reysha bisa saling membantu. Tetapi belum tentu wanita itu setuju dengan pemikirannya. "Kamu nggak masalah jika menikah dengan laki-laki yang nggak kamu kenal dengan baik? " "Kadang hubungan yang terjalin sejak lama tidak menjamin hubungan akan langgeng. Contohnya berpacaran selama sebelas tahun tapi pernikahan hanya berjalan sampai lima bulan. Begitu juga sebaliknya, hanya mengenal beberapa hari, memutuskan menikah dan pernikahan langgeng sampai maut memisahkan. Aneh, kan? " Asta mengangguk pelan. Setuju dengan pendapat Reysha. Cinta memang tidak menjamin suatu hubungan akan bertahan lama. Sebab dalam hubungan jika hanya ada cinta pondasinya tidak akan kuat. Apalagi rasa cinta bisa hilang kapan saja. "Sepertinya kita dipertemukan di waktu yang tepat, " Ucap Asta. "Kita bisa saling membantu. Aku yang nggak ingin kehilangan warisan dan kamu yang ingin keluar dari rumah. Maaf kalau aku terlalu to the point. Tapi aku rasa kita cocok untuk bekerja sama." Reysha tersenyum kecil. Tidak menyangka jika Asta berani mengajaknya bekerja sama. Ini adalah jalan tercepat untuk bisa keluar dari rumah orang tuanya. Kalau menolak Reysha tidak yakin bisa menemukan laki-laki yang tepat yang mau menikahinya. Tidak masalah menjadi janda. Di luar sana banyak janda cerai hidup. Yang terpenting Reysha bisa membuat orang tuanya bahagia karena bisa mewujudkannya keinginan mereka, melihatnya menikah dan tidak berakhir menjadi perawan tua. Terbebas dari pertanyaan menyebalkan yang paling di benci orang yang masih single se-Indonesia. Dan yang terpenting bisa keluar dari rumah orang tuanya. "Sepertinya... Aku bisa, " Jawab Reysha yakin. Keduanya saling tersenyum kemudian saling berjabat tangan. Dan kisah merekapun dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD