Tiba-tiba suasana di dalam mobil hening, tidak lagi terdengar ocehan Varo. Apa yang terjadi dengan anak itu? Ekor mataku melirik tubuh mungil yang sepertinya sudah masuk ke alam mimpi. "Ah, ternyata ia hanya tertidur. Syukurlah," gumamku sembari menghela napas lega. Aku menggendong Varo masuk kedalam rumah, tidak tega rasanya membangunkan jagoan kecil itu. Langkah kakiku terhenti ketika melihat banyak orang di ruang keluarga. Tampak Dad, Mom dan Sisil asik bercengkrama. Mereka bertiga seketika menatapku dengan pandangan menelisik. Seakan berperan sebagai detektif dan aku adalah tersangkanya. "Loh, anak siapa itu? Jangan bilang karena anak itu lucu, lantas kamu menculiknya?" tanya Sisil penuh kecurigaan. Manik netraku mengerling. "Sembarangan! Ini anak Racka. Paham?" ucapku cemberut.

