“Sekecil apapun yang kamu lakukan selalu terlihat berharga di mataku. Kamu tahu? Kamu selalu menjadi prioritas meski mencintaimu membuatku menggenggam banyak duri.” ---- “Vanya, kok lo ke mau Bandung duluan? Kita kan pergi ke acara yang sama,” rengek Tania pada sahabatnya. “Gue kangen Ayah Bunda. Jadi, mau ke rumah dulu. Mau manja-manjaan,” jawab Vanya enteng. “Terus gue sama siapa dong?” Tania mengerucutkan bibirnya. “Sama sopir tercinta lo.” Vanya melirik ke arah Aly. “Ih! Musuhan! Vanya jahat!” Tania merajuk seperti anak kecil yang tengah berebut mainan dengan temannya. “Gak gitu, argh.” Vanya meyakinkan Tania lagi. “Gue kan mau ketemu orangtua gue dulu, Tania. Maaf ya.” “Bodo!” Tania benar-benar merajuk, dan seharian ini ia berjanji tak akan berbicara pada Vanya. Di samping it

