Part 1: Paksaan Suami
"Kenapa nggak sekalian tel*njang?"
Kata-kata itu menggema terdengar menusuk sekaligus menghina.
Napas Nadin tertahan, dalam balutan lingerie, dengan makeup glamor yang disiapkan untuk menyambut suaminya, Nadin hanya bisa termangu, menatap Adam dengan raut tidak mengerti.
Sebagai seorang direktur, suaminya baru saja pulang dari perjalanan bisnis ke luar negeri. Dan sebagai istri pengertian, wajar jika Nadin menyambutnya seperti ini, berharap Adam akan menyukainya. Tapi pria itu justru kelihatan tidak senang, dia hanya menatap Nadin datar tanpa minat.
"Apa maksudnya Adam?"
"Ya ini." Adam mengibaskan tangan ke ranjang yang licin. Juga kamar mereka yang dihiasi bunga-bunga. Tatapan pria itu kelihatan mengejek tidak suka. "Kamu berharap dipakai setelah itu ditinggalkan, masih nggak punya harga diri?"
"Mama sudah bertanya soal cucu, kalau kita nggak melakukan itu, gimana aku bisa tiba-tiba melahirkan?" Nadin mencoba menjelaskan dengan tenang, mengabaikan penghinaan suaminya.
Adam berdecih, menarik-narik simpul dasinya dengan kasar lalu dilempar ke sofa. "Kamu mengejek aku ya?"
Bagian mana dari kata-kata Nadin yang terdengar mengejek? Bukankah Adam yang justru menghinanya dengan mengatakan Nadin murahan?
"Kamu sudah lihat hasil pemeriksaan dan masih berpikir kita bisa mendapatkan keturunan?" bentaknya marah.
Nadin berjengit mundur. "Kita masih bisa mencoba, kamu jangan nyerah gitu."
"Apanya yang mau dicoba? Sudah kelihatan betul hasilnya, aku nggak akan bisa menghasilkan anak!"
Suaminya terdengar getir.
Bagi Nadin, selama empat tahun menikah Adam sangat manis, pernikahan mereka meskipun bukan berlandaskan cinta, tapi selalu diisi dengan rasa saling hormat, komunikasi mereka pun berjalan lancar.
Sampai tiba-tiba vonis itu datang, membuyarkan rumah tangga yang sudah jatuh bangun mereka bina bersama.
Nadin masih menyangkal, karena dokter juga manusia yang bisa salah. Dan pengobatan mungkin akan mengubah segalanya. Terlebih hubungan seksual mereka pun jarang. Adam jarang sekali menyentuhnya, kadang Nadin harus inisiatif meminta, karena bagaimana pun mereka pasutri. Nadin selalu mengalah asalkan mereka bisa mempertahankan pernikahan. Memberikan cucu yang diharapkan orang tua Adam.
Tapi sekarang Adam justru kelihatan semakin menjauh dari Nadin.
"Aku sudah capek, Nadin."
"Ayo kita coba."
"Mau berapa banyak lagi?"
"Jadi kamu maunya gimana?"
Dia pikir Nadin tidak capek? Dia pikir selama ini Nadin senang dengan keadaan mereka? Nadin juga sudah muak ditanya kapan punya anak tiap bertemu keluarga!
Pertanyaan itu lama-lama seperti racun yang menggerogoti tubuhnya hingga menjadi kurus kering.
Namun apa yang bisa diharapkan kalau mereka sama-sama menyerah?
"Ada satu cara," kata Adam tiba-tiba, rahangnya mengeras. "Kamu bisa tidur dengan pria lain yang normal."
Nadin tersentak, mundur selangkah seolah kepalanya baru saja dipukul. "A-pa?"
"Aku tahu ini gila."
Ini bukan gila, tapi sudah tidak waras!
"Kamu masih normal Nadin, kamu masih bisa mengandung."
"Tapi enggak dengan pria lain!"
"Mama menyukai kamu, salama ini kamu sudah dianggap seperti anak sendiri, dia hanya ingin pewaris dari rahim kamu."
Benar, Nadin dulu adalah tetangga Adam, orang tua mereka bersahabat, lalu merencanakan perjodohan jika anak mereka berbeda jenis kelamin.
Saat impian itu terkabul, Triana Hadiputra, Ibunda Adam sangat senang, dia begitu memuja Nadin. Tapi nahas di umur 11 tahun orang tua Nadin justru meninggal karena kecelakaan. Sejak saat itu Nadin pun diasuh oleh keluarga Hadiputra.
Nadin mencoba menjadi anak yang berbakti, tidak menyusahkan, bahkan mendapatkan beasiswa.
Triana semakin bangga, kepintaran Nadin dianggap bisa memberikan keturunan bibit unggul. Dan ketika sudah cukup umur, Nadin dinikahkan dengan putra tunggal mereka. Nadin menerima sebagai balas budi, sedangkan Adam menerima karena tidak ingin orang tuanya kecewa. Mereka terjebak dalam hubungan asing.
"Ada yang namanya inseminasi, ada teknologi yang bisa kita coba, kenapa kamu malah menyerah?" Nadin berseru, suaranya bergetar karena marah.
"Kita sudah cukup berusaha," sahutnya datar. "Mama sudah nggak muda lagi, kita nggak bisa selamanya menunggu hal yang nggak pasti. Ini jalan keluar termudah dan paling cepat untuk kita berdua."
"Aku nggak mau," tolak Nadin segera. "Terserah, kalau kita nggak bisa kasih cucu ke Mama, ya sudah, kita sampaikan saja tentang keadaan kamu ke mereka."
Rahang Adam semakin mengeras. "Kamu mau bikin aku digantung, Nadi?" tanyanya retoris dari balik gigi yang bergemeletuk. "Nggak mungkin kita terang-terangan membahas masalah ini ke keluarga!"
"Tapi permintaan kamu gila. Kamu minta istri sendiri berbuat dengan pria lain, di mana perasaan kamu?"
"Panji bukan pria lain," sahutnya dingin. Itu lebih buruk lagi, mana mungkin Nadin akan berhubungan dengan asisten pribadi Adam? "Kita saling mengenal, kamu tahu dia orang yang seperti apa. Kami sudah mengecek semuanya, dia sehat, bugar dan dalam keadaan siap dipakai."
Jadi dia sudah merencanakan semuanya ya?
Dengan sempoyongan Nadin mundur, merasa kepalanya tiba-tiba pusing, tapi Adam tangkas menyambar lengannya, mencengkeram kuat.
"Dengar," bisiknya penuh kendali. "Kamu hanya perlu melakukannya satu atau dua kali, kalau kamu nggak suka, gunakan obat tidur, biar Panji yang bergerak. Kamu nggak punya pilihan, atau kamu bisa tinggalkan tempat ini tanpa Joana."
Mendengar nama Joana disebut, mata Nadin melebar, dia berkata tajam. "Jangan libatkan Jo dalam masalah ini, Dam."
"Nggak bisa, dia juga bagian dari keluarga Hadiputra." Adam melepas cengkeraman membuat tubuh Nadin tersentak mundur. "Sebulan, itu waktu yang aku berikan sampai kamu berhasil mengandung, akan lebih baik lagi kalau anak itu laki-laki. Sekarang temui Panji." Dia memindai penampilan Nadin tanpa minat. Lalu menarik simpul kimono di pinggulnya hingga terlepas. "Jangan ganti pakaian ini, aku yakin Panji pasti langsung on."
Mata Nadin berembun selagi menatap kepergian suaminya, jas pria itu berkibar saat meninggalkan kamar.
Tega-teganya dia, tega-teganya Adam memperlakukan Nadin tanpa harga diri!
"Bu." Rianti, ART rumah mereka masuk tergopoh-gopoh, air matanya ikut jatuh saat melihat sang majikan bergeming.
"Kamu dengar semuanya, Ri?"
Dia mengangguk. "Ibu nggak perlu melakukan itu, Ibu nggak sepantasnya disentuh dengan orang lain," sedunya.
"Di mana Panji sekarang?"
"Dia di sebelah, Ibu jangan ke sana. Haduh... kenapa Ibu malah nyamperin dia?" Rianti menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuntuti Nadin yang berjalan ke kamar sebelah. "Saya akan membantu Ibu memberikan kesaksian ke Pak Adam kalau Ibu sudah tidur sama Panji, tapi tolong jangan lakuin ini Bu..."
Tangan Nadin mengepal, berdiri di ambang pintu yang tertutup rapat, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Ayo kembali ke kamar Bu..." pinta Rianti memohon.
Nadin sudah menahan diri selama ini, Nadin selalu menghormati Adam, juga keluarga Hadiputra, tapi suaminya selalu semena-mena. Apakah tidak ada sedikit saja rasa peduli di hati Adam untuknya? Apakah Nadin tidak pantas dicintai?
Tanpa sadar sikap pertahanan diri itu jebol, Nadin perlahan merosot di lantai.
"b******k!" desisnya merana.
Namun pintu yang tertutup rapat itu perlahan mengayun terbuka, membuat Nadin seketika mengangkat kepala.
***