"Mama?"
Sesosok anak mungil muncul di balik pintu, matanya yang bulat menatap Nadin penasaran. Alis Nadin berkerut bingung.
"Ke-kenapa kamu di sini, Jo?"
"Kenapa Mama di lantai?" tanyanya balik.
Nadin mendongak, bertukar pandang dengan Rianti yang menelan ludah.
"Kamu harusnya nggak di sini." Rasa frustrasi Nadin berubah menjadi amarah, dia bangkit lalu mendorong lembut Joana pada Rianti. "Bawa Jo ke kamarnya, Ri."
Rianti menggigit bibir, sadar betul kesalahannya yang telah lalai menjaga Joana, atau mungkin Ibu Nadin menyadari gelagatnya yang mencurigakan?
"Tapi Bu..."
"Sekarang," sela Nadin tidak ingin mendengar bantahan.
Dia memastikan ART-nya itu patuh, membawa Joana menuruni anak tangga sebelum mendorong pintu terbuka, matanya nyalang memindai kamar lalu menemukan Panji yang sedang menyimpan sabuk celananya.
"Kamu apakan anak saya?" tanya Nadin berang. Panji terlonjak kaget, tidak menyangka majikannya akan berteriak.
Nadin yang selalu manis, penurut, dengan tutur kata lembut dan keibuan kini terlihat siap bertarung dengan siapapun.
"Jawab!" makinya gemetar murka.
Pria tampan itu panik. "Saya nggak ngapa-ngapain, Bu." Namun bahkan ketampanannya langsung pudar karena suaranya yang mencicit ketakutan.
"Jangan berlagak pilon. Sejak kapan kamu membawa Joana ke sini? Dan kenapa kalian bisa berduaan di kamar?"
"Pak Adam yang membawanya Bu, saya hanya disuruh menunggu dan menjaga Jo karena dia nggak bisa tidur."
Pembohong ulung.
Bisa-bisanya seorang anak perempuan berumur enam tahun dijaga tidur oleh pria yang sudah memasuki kepala tiga?
Dalam keadaan demam pun, Nadin tidak sudi membiarkan Joana disentuh orang lain. Suaminya benar-benar b******n tidak berperasaan! Padahal Joana juga anaknya, balita montok yang mereka ambil dari panti asuhan, sebagai upaya 'pancingan' untuk memiliki keturunan.
Namun saat tinggal di rumah keluarga Hadiputra, nasib Joana bukannya membaik, dia justru tertekan karena Mama Triana tidak mengharapkan kehadirannya. Joana diperlakukan seperti objek semata.
Dan sekarang suaminya pun terang-terangan bosan dengan Joana karena Nadin tidak kunjung mengandung.
Nadin maju selangkah, dagunya terangkat, suaranya mendesis tajam. "Berani kamu macam-macam sama Jo, berani kamu menyentuh dia sedikit aja, jangan harap besok kamu masih hidup."
Ini bukan sekadar ancaman, meskipun tidak memiliki kuasa sebesar suaminya, tapi tidak ada ibu manapun yang akan membiarkan anaknya dilukai.
"Sekarang keluar, dan jangan pernah muncul lagi di depan muka saya!"
Panji mengetatkan rahang, sadar harga dirinya sedang diinjak-injak. Tapi dia nurut bergegas meninggalkan kamar.
Bagaimana mungkin suaminya berharap Nadin akan mengandung anak dari pria seperti itu? Atau ini ancaman yang dibuat Adam supaya Nadin menyerah?
Dadanya panas.
Seraya menuruni undakan menuju kamar Jo, Nadin merasa menyesal. Kalau tahu semuanya akan seperti ini, kalau tahu hidup Joana akan ikut terseret kekacauan hidupnya, lebih baik dulu dia menolak rencana Adam untuk mengasuh anak itu.
Belum terlambat untuk pindah, belum terlambat untuk membawa Jo pergi.
"Mama nggak marah, kan?"
Putri kecilnya sudah naik ke atas tempat tidur, jemarinya yang mungil meminta Nadin mendekat. Dengan rasa sayang Nadin menuruti perintah tersebut. "Kenapa Mama harus marah?" Dia menarik anak itu untuk duduk, meski berat Nadin harus tetap melakukan ini. "Om yang di dalam kamar tadi, dia ada pukul kamu, Jo?"
Kepala Joana menggeleng.
"Benar?"
Dia mengangguk.
"Sedikit pun?" desaknya. "Misalnya dia sentuh rambut kamu, cubit lengan kamu, atau narik-narik pakaian kamu? Ada?"
Joana menggeleng lagi.
Napas Nadin terembus berat, dia meminta Jo untuk tidur, tapi hatinya belum merasa lega kalau belum membawanya pergi.
***
Di dalam rumah megah keluarga Hadiputra, bukan rahasia umum kalau suami istri Hadiputra jarang sarapan bersama. Adam sudah bersiap ke kantor pagi-pagi sekali. Dia tidak mendesak Nadin. Sepertinya dia mengerti kalau tidak mungkin bisa memaksa istrinya untuk tidur bersama pria lain di hari pertama.
Jadi dengan lantang dia berkata. "Aku akan kirimkan pria lain setiap malam sampai kamu berhasil mengandung."
Nadin yang sedang melayani Joana di meja makan, menjawab tenang. "Jangan konyol. Lebih baik kamu gunakan waktu kamu untuk mencari asisten baru."
"Nggak ada yang berniat untuk mengganti Panji." Suaminya menyahut datar. "Jadi sebaiknya kamulah yang mulai berpikir jernih tentang pernikahan kita."
Nadin jengkel, ingin rasanya dia menusukkan pisau pemotong roti ini ke jidat suaminya, tapi Nadin menahan diri demi menjaga mental Joana, tidak mungkin dia berkelahi di depan sang putri. Jadi sambil melempar senyum terpaksa, dia menatap Joana. "Jo udah sarapannya, kan? Sama Mba Rianti dulu ya? Kamu harus siap-siap sekolah sekarang."
Joana yang temperamennya selalu manis, menerima perintah itu dengan patuh. Dia merosot di kursi dan menaiki undakan.
Namun Adam menyela. "Joana, biar Papa yang antar kamu ke sekolah."
Rahang Nadin mengeras.
Adam selalu tahu caranya membujuk. Sejak diumumkan kalau mereka akan menjadi orang tua asuhnya. Joana berbinar-binar. Mungkin seumur hidup dia mendambakan perlindungan Papa. Sehingga tanpa perlu dibujuk-bujuk, Joana langsung akrab dengan Adam.
Joana tidak paham, yang dia pahami adalah sekarang dia punya Papa. Anak sepolos itu harusnya tidak dimanipulasi dengan tarik ulur kasih sayang.
Nadin tidak tahan lagi, dia berdiri, membuat kursinya terdorong ke belakang. "Bukannya Papa ada rapat penting dan nggak bisa telat? Kalau gitu, biar Mama yang antar Joana. Ayo sayang."
Tanpa meminta persetujuannya, Nadin membawa Joana ke mobil. Menyetir sendiri. Namun dari kaca jendela Adam menunduk dan berbisik.
“Joana pasti senang memiliki pengasuh baru, mungkin selain Rianti?” Lalu dia tersenyum pada putri mereka. Senyum yang Nadin tahu betul penuh ancaman.
Selama perjalanan Nadin berusaha berkonsentrasi. Mereka sampai di sekolah tepat waktu. Sebagai karyawan di kantor yang sama dengan Adam namun berbeda divisi. Nadin pun harus pergi bekerja, jadi dia memacu mobil dalam kecepatan stabil.
Pikirannya bercabang, memikirkan Adam juga putrinya. Namun tiba-tiba dari belakang kendaraan Nadin terasa disundul keras. Nadin terlonjak, kepalanya nyaris menumbur setir sementara bunyi klakson terdengar memekakkan telinga.
Jantung Nadin berdegup gila-gilaan.
"Mba?" seru pria di luar. Mengetuk kaca jendelanya brutal. "Anda nggak pa-pa?"
Sial, apanya yang nggak pa-pa?
Mata Nadin mengerjap, dia membuka pintu mobil, emosinya yang dari semalam tidak stabil membuatnya meledak-ledak.
"Gimana bisa begini?" tanyanya mengibaskan tangan ke bumper belakang mobilnya yang remuk.
Pria muda bersetelan jas rapi yang menabraknya itu meringis. "Maaf Mba, saya nggak sengaja."
"Gimana kalau tadi saya telat ngerem? Saya juga bisa nabrak yang di depan."
Dari dalam mobil hitam, sepasang mata tajam tengah memerhatikan mereka. Melihat adanya keributan, Kael memutuskan untuk turun.
Sosoknya yang jangkung dalam balutan jaket kusut, kacamata, dan topi baseball kontan menarik perhatian Nadin.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Kael tenang. Aroma parfumnya yang maskulin tersapu angin, membuat Nadin mengernyit. Untuk alasan yang tidak Nadin pahami, perutnya tiba-tiba menegang.
***