Part 3: Sopir Santun

1039 Words
"Anda terluka, Ma'am?" Melihat wanita di depannya diam saja, Kael mengulangi. Dibesarkan dalam keluarga disiplin tinggi, biasanya Kael lebih suka mengendarai mobilnya sendiri karena tidak ingin bergantung dengan orang lain. Namun hari ini adalah pengecualian, setelah semalam tidak pulang, Kael meminta Angga untuk menjemput. Sebuah kehormatan besar bagi Angga karena baru seminggu bekerja tapi sudah diberikan kepercayaan untuk mengantar sang bos ke kantor. Sepanjang jalan Angga tidak henti-hentinya berceloteh untuk menghilangkan rasa gugup, yang dibalas sepatah dua patah kata oleh Kael. Alhasil konsentrasinya terbelah hingga kendaraan oleng dan menyundul mobil seorang wanita. Tapi semua makin buruk saja ketika atasannya itu turun tangan langsung ke jalan. "Pak, biar saya yang urus semuanya, Bapak di dalam saja," pintanya gusar. Keringat dingin mulai merembes di punggungnya dari balik lapisan jas. Tapi Kael sudah terlanjur keluar. Dan tidak ada yang bisa memerintahnya. "Kamu baik-baik saja?" Sang bos justru mengabaikan Angga dan menegur wanita itu, yang masih tidak merespons. Nadin mengerjap, seakan baru tersadar dari keterkejutan, dia mundur selangkah sambil melirik kendaraannya sendiri. "Kamu yang menyetir? Mana mungkin saya baik-baik aja kalau mobil saya remuk." Sebenarnya mobil itu tidak separah yang Nadin katakan, tapi dia kesal, gara-gara insiden ini, Nadin harus terlambat datang ke kantor. "Tolong tanggung jawab. Waktu saya habis karena kalian." "Oke, saya panggilkan bengkel ya," sahut Kael tenang, Angga semakin ketar-ketir, khawatir dia akan dipecat karena teledor, terlebih selama ini Kael terkenal perfeksionis, masalah ini bisa membuatnya diblacklist! "Tapi pertama-tama," lanjut pria itu. "Saya mau minta maaf terlebih dulu. Ini murni kesalahan kami yang nggak berhati-hati. Nggak ada alasan apapun yang bisa membenarkan tindakan kami. Dan kalau dilihat dari benturannya..." Kael berjalan mendekat, mengetuk bumper mobil Nadin. "Kemungkinan ini penyok, selagi nggak ada masalah di dalam, harusnya ini masih bisa dipakai berkendara. Tapi tetap berbahaya. Kalau kamu lagi buru-buru, kamu bisa ikut dengan kami, biar kami membantu kamu ke tempat tujuan." Angga tercengang karena bosnya yang terkenal irit bicara, mau meminta maaf, dia pun buru-buru menunduk dan melakukan hal yang sama. "Maaf Mba." Nadin menelan ludah, emosinya yang semula berada di ubun-ubun seketika mereda. "Kamu terluka?" lanjut Kael. Nadin menggeleng. "Syukurlah," sahutnya menatap layar ponsel. "Saya sudah hubungi bengkelnya, dia akan segera datang ke sini." Selesai. Semudah itu? Nadin pikir mereka akan berdebat, lalu saling menyalahkan. Adam juga pasti tidak akan suka jika mobil pemberiannya remuk, dan sejenak itu mempengaruhi emosi Nadin karena sejujurnya Nadin merasa cemas dengan reaksi Adam nanti. "Berapa lama kira-kira?" tanyanya. Kael mendorong kacamata di hidung bangirnya. "Mungkin nggak sampai dua jam, kamu nggak usah khawatir, tinggalkan saja nomor telepon kamu, biar saya bantu atur. Mereka bisa antar ke rumah kalau mobilnya sudah selesai diperbaiki. Jadi kamu nggak perlu repot-repot menunggu." Nadin menggigit bibir, memindai penampilan Kael. Dia kelihatan tampan tapi sudah jelas pria ini hanya sopir. Mungkin juga tidak punya uang. "Terima kasih, Anda sangat beruntung Pak," katanya sambil mengulurkan kartu nama pada Angga. "Nggak semua sopir mau bertanggung jawab, tapi Bapak berkacamata ini adalah pengecualian." Angga terperangah, Jadi dari tadi wanita ini menganggap Kael sebagai sopir? Dengan hati-hati, Angga melirik sang bos, wajah Kael berubah muram, kilatan berbahaya tampak jelas di matanya karena baru kali ini ada orang yang tidak mengenalinya. Memang di antara mereka Kael yang mengenakan pakaian kusut kelihatan tidak meyakinkan. Angga berdehem, buru-buru mengoreksi. "Maaf, saya bukan—" Namun Kael mencegah, bibirnya naik membentuk senyum yang dipaksakan. "Terima kasih kembali," sahutnya tenang. "Kamu mau ikut dengan kami?" "Nggak pa-pa, saya naik taksi aja." "Oke." "Tolong kamu juga hati-hati, karena kamu sudah berani mengakui kesalahan dan tanggung jawab, jangan cemaskan masalah pembayaran. Kamu cukup bayar setengah aja," kata Nadin murah hati. Angga melongo, bisa-bisanya dia meragukan seorang Mikael Moeis, pemilik hotel bintang lima di Jakarta! "Mba itu nggak perlu—" "Maaf tadi saya juga sudah kasar, Pak." Nadin justru semakin salah paham. "Mobil Anda juga sepertinya penyok, berikan saja tagihannya nanti ke rekening saya, biar saya yang menggantinya." Sudut bibir Kael berkedut. Wanita ini... sepertinya dia sangat terkesan dengan kelembutan Kael, dan berbalik bersikap manis. "Oke." "Siapa nama kamu?" tanyanya. Kini gantian Kael yang memindai penampilan Nadin. Rok span, kemeja chiffon rapi, rambut hitam panjang ikal. Kulit pucat, kelihatan membosankan. Kael tidak akan meliriknya walau hanya sekilas jika mereka bertemu di keramaian, tapi entah kenapa ada yang mencubit hatinya setiap kali mendengar Nadin bicara. Pembawaannya yang gemulai, membuat sisi maskulin dalam diri Kael terbit. Melihat bosnya diam saja seperti terpesona, Angga mengambil alih. "Sebenarnya Mba, beliau adalah—" "Angga," potong Kael, lalu membentangkan senyum ramah. Tangannya terulur. "Nama saya Angga, Dan ini Mikael, bos saya." Angga melotot, apa-apaan bosnya ini? Nadin menjabat tangan itu, kuat. Tangan Nadin yang mungil kelihatan kontras dengan milik Kael yang kekar. Kontak itu hanya berlangsung beberapa detik tapi rona merah dengan cepat menjalar di pipinya. Buru-buru Nadin menarik diri. "Saya Nadine. Kalau gitu saya duluan, ya." Angga hanya bisa menggeleng ketika melihat bosnya tidak berkedip, memerhatikan Nadin tersenyum sambil melambai mencegat taksi terdekat. "Pak?" tegurnya. "Mari silakan..." Sedangkan Nadin merasa lega, hidupnya memang berantakan, tapi bukan berarti dia harus menyulitkan hidup orang lain. Kalau suaminya ingin Nadin memiliki anak minimal pria seperti Angga-lah yang harusnya Adam tawarkan. Sopan, tampan, manis. Bukannya pria b******k yang hanya berani menakut-nakuti anak kecil. Tunggu... Pemikiran itu membuat Nadin tertegun. "Sebentar Angga." Dia berbalik tepat saat Kael sedang membuka pintu mobil. Nadin maju beberapa langkah, mendekati pria itu, jantungnya berdetak tidak keruan begitu berdiri di hadapannya. Menatap matanya yang hitam pekat. "Kalau kamu nggak keberatan, saya punya penawaran yang lebih menguntungkan." Kepala Kael meneleng. "Katakan." "Kamu nggak perlu membayar ganti rugi asalkan bisa datang besok malam." Nadin mengangsurkan kembali kartu namanya. "Temui saya di Moeis Tower." Kakinya sedikit berjinjit untuk berbisik tepat di samping telinga Kael, darah laki-laki itu seketika berdesir hebat. "Hubungi ke sana, hanya kita berdua." Ada kilatan aneh di mata Kael saat menatap kartu nama itu, membiarkan Nadin mundur sampai menghilang ke dalam mobil taksi yang dipesan. Begitu melompat masuk ke mobilnya sendiri, Kael segera melepas topi dan kacamatanya, wajahnya berubah suram. "Kamu sudah dengar, Ga?" Angga meliriknya dari sun visor. "Iya, Pak." Salah mengenalinya sebagai sopir, menghinanya dengan meminta datang ke hotel. Wanita ini terlalu percaya diri. Kael menjentikkan kartu nama tersebut, benda itu melayang lalu mendarat di kursi depan. "Cari tahu lengkapnya siapa dia." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD