Part 4: Teman Tidur

984 Words
"Nadin itu cuma teman tidur." Suara Adam menggema terdengar meremehkan, jemarinya merayap naik ke balik rok yang dikenakan Farah. Lalu berkata di depan wajahnya. "Sedari awal seharusnya dia nggak menjadi keluarga Hadiputra. Mama terlalu membangga-banggakan dia, padahal nggak ada yang bisa Nadin lakukan kalau bukan karena kami." Farah menggeliat di pangkuan Adam, mendorong jemari pria itu. "Jangan ngomong gitu Adam, aku nggak suka kalau kamu terlalu kasar sama Nadin. Semakin kamu melakukan itu, nanti dia malah semakin curiga." "Kamu masih takut sama dia?" "Aku bukannya takut, tapi segan. Gimana pun dulu kami satu universitas. Dia kakak tingkat aku yang paling dihormati." Dan Nadin pula yang merekomendasikan Farah untuk bekerja di Hadiputra Corp, perusahaan pemasok makanan organik paling prestisius, bahkan mempercayakan Farah proyek besar hingga karirnya melejit. "Aku cuma nggak enak aja kalau dia tahu aku begini sama suaminya." Dulu Nadin adalah favorit semua orang. Muda, cantik, berbakat, dan memiliki suami yang menyayanginya. Dulu saking kagumnya dengan Nadin, Farah bahkan tidak berani memandang matanya. Tapi kini, lihatlah di mana dia berada. Duduk di pangkuan suami Nadin dengan tangan pria itu yang tidak berhenti menjamahnya. "Kamu harus baik-baik sama dia, kalian juga harus secepatnya punya anak. Jadi daripada kamu di sini, mending kamu simpan tenaga buat dia nanti malam." Adam meringis mendengar sindiran itu, dia meremas paha si asisten agar tidak beranjak. "Itu sudah diurus." Wajah Farah berubah kecut. "Bukan seperti yang kamu pikirkan. Kenapa kamu minta aku tidur sama dia saat kamu sendiri nggak suka?" "Ya apa hak aku, melarang-larang kamu? Dari dulu aku cuma jadi cadangan. Nggak ada yang benar-benar serius sama aku kecuali buat menikmati tubuhku." "Itu nggak benar, kamu berharga Farah sama halnya seperti perempuan di dalam keluarga Hadiputra, kamu penting. Kamu juga sangat dibutuhkan di sini." Adam merasa menyesal, ketika pertama kali bertemu Farah, dia merasakan adanya gejolak pandangan pertama. Tidak seperti Nadin yang membosankan, baginya Farah jauh lebih ceria, jauh lebih pandai. Dia bahkan bisa menggaet customer dan membuat pendapatan perusahaan meningkat. Perempuan ini memiliki semua dari karakter wanita yang Adam suka. Yang paling membuat adrenalinnya tertantang adalah Farah tidak semudah itu didekati, butuh waktu setahun bagi Adam untuk menempel padanya. Mulai dari mengajaknya makan bersama hingga menghujaninya dengan hadiah. Tentu setelah dapat, Adam tidak akan melepaskannya begitu saja. "Tuh kan, otak kamu sebenarnya mikirin pekerjaan. Aku juga cuma dijadiin bahan untuk menaikkan laba perusahaan." "Maksud aku di sini, ya di sini Farah." Dia membawa tangan gadis itu ke dadanya yang bidang. "Kamu nggak perlu cemas, nggak akan ada yang bisa dilakukan Nadin selagi dia masih bersama Joana." Farah memberengut. "Jujur, aku juga takut kalau kamu berhubungan sama dia. Itu bikin aku gak bisa tidur. Tapi kalian selalu membahas anak jadi aku nggak bisa egois. Tapi aku juga nggak bisa bohong Adam, sakit ngebayangin kamu sama dia." Adam merasa bersalah, Farah banyak menderita selama ini, bukannya membuat wanita ini bahagia. Justru dia membuat Farah merana. "Aku minta maaf, harusnya aku bilang ini dari awal. Aku sudah minta orang lain untuk membantu Nadin mengandung, kamu nggak perlu takut aku akan berhubungan lagi sama dia." "Apa maksud kamu? Kamu malah menyodorkan Nadin untuk pria lain?" Farah menatapnya tidak percaya. Saat Adam mengangguk, mata Farah membulat. "Adam!" jeritnya frustrasi. Namun sadar itu akan didengar oleh karyawan di luar ruangannya. Farah merendahkan suara. "Kamu udah gila? Kalau kayak gitu, kamu malah bikin Nadin semakin curiga. Istri kamu bukan perempuan t***l, Adam. Kenapa kamu malah nekat?" "Kamu sendiri gimana? Kamu nggak mau aku tidur sama dia dan mengandung, tapi kamu juga ketakutan terus. Jangan bikin aku menyesal karena sudah melangkah sejauh ini buat kita, Farah." "Tapi aku kasihan sama Nadin, aku juga bingung sama hati aku sendiri...." Mata Farah mulai berembun. Adam menghela napas panjang. "Oke, kamu nggak perlu khawatir, aku sudah mengikuti saran kamu dengan mengatakan pada Nadin kalau sebenarnya aku mandul, Nadin nggak akan curiga, yang dia tahu adalah aku memang sedang terdesak ingin memiliki anak untuk membahagiakan Mama. Jadi dia nggak akan mengendus hubungan kita." "Kamu...?" Farah sampai kehilangan kata-kata. Dia memang sempat memberikan ide itu, tapi Farah tidak sungguh-sungguh, itu hanya racauan yang keluar dari bibirnya saat mabuk. "Yah..." bisik Adam, menangkup satu sisi wajah kekasihnya. "Saat dia hamil, Mama akan memberikan aku Hadiputra Corp sepenuhnya, dan kita tetap bisa bersama." Lalu dia menempelkan bibirnya di bibir Farah, mengulum lembut. Farah yang masih terdistraksi melepas pangutan mereka, napasnya terengah. "Gimana sama Nadin dan Joana?" "Kenapa sama mereka?" tanya Adam, merambatkan kecupan di garis lehernya. Farah menekan tengkuk Adam, menahan pria itu untuk semakin ke bawah. "Tolong jangan usir mereka Adam, jangan terlalu jahat, Joana masih kecil dan Nadin udah banyak membantu aku." Adam mengangkat kepala, wajahnya merah padam. "Kamu tahu apa yang paling aku suka dari kamu Farah?" tanyanya, membawa wanita itu bangkit, lalu mendesaknya ke meja. "Kamu selalu memikirkan orang lain supaya nggak menderita sementara kamu sendiri terluka. Hati kamu terlalu lembek." "Janji kamu nggak akan menceraikan Nadin?" bujuk Farah lembut, menyentuh kedua rahang pria di hadapannya. Dan pancingan itu berhasil, Adam justru semakin menggebu-gebu ingin menceraikan Nadin. Tapi tidak sekarang, tunggu sampai wanita itu mengandung. "Tentu, Farah." Senyum Farah mengembang lebar selagi Adam memangkas jarak di antar mereka, lalu menyesap bibirnya brutal. Napas keduanya beradu di dalam ruangan itu, Adam selalu bersemangat jika bersama Farah, dia mengangkat tubuh ramping itu ke atas meja, saat akan mendesak, pintu ruangannya diketuk. Farah menahan napas, mendorong d**a Adam mundur. "Adam?" "Biarkan saja." "Kita lanjut lagi di apartemen aku." "Aku butuh sekarang Farah. Setelah dua minggu di LN, memangnya kamu nggak kangen?" Adam jengkel. Kepalang tanggung, hasratnya sudah di ubun-ubun. Dia butuh pelepasan sekarang juga. "Kita bisa puas-puasin di sana, tempat ini terlalu berbahaya. Oke?" Farah mengecup bibir Adam sekilas, lalu melompat turun, membetulkan letak kemejanya. Adam mengeram rendah, dia pun menyentak jasnya lalu berusaha duduk tenang. "Masuk." Pintu mengayun terbuka, Farah sudah berdiri di samping Adam, bersikap seperti asisten teladan. Nadin berderap masuk, pembawaannya yang anggun seketika membuat perut Farah bergejolak. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD